Top Ad 728x90

Thursday, July 2, 2015

Pada Tiga Negara Dalam Tiga Cerita

Cerita Humor, Cerita Mimpi, Mimpi Ke Korea Selatan, Mimpi ke Venesia, Mimpi ke Monte Carlo, Negara-negara yang ingin dikunjungi, Kelebihan Korea, Kelebihan Venesia, Kelebihan Monte Carlo, Mengapa ke Korea, Mengapa ke Monte Carlo, Mengapa ke Venesia, Gondola yang bernyanyi, Sungai indah di Venesia, Balapan di Monte Carlo,

Ah, ini bukanlah kisah negeri dongeng…

Mendayu-dayu dahulu sebelum benar-benar beranjak ke tepian. Bermimpi-mimpi dahulu walaupun tak pernah jadi kenyataan.

Asyik!

Sebuah mimpi. Berakar dari mimpi. Adanya mimpi karena alam bawah sadar menginginkan “sesuatu” itu menjadi kenyataan. Kata si Mbak Centil Syahrini, sesuatu yang ada di dalam benaknya hanya tentang dia! Kataku, sesuatu itu ya sesuatu – sebuah teori nggak penting.

Dan… mimpi itu realita, kawan. Kata Bang Ikal – Andrea Hirata – mimpi itu harus diraih. Kata Bang Giring Nidji bermimpilah karena dunia itu mendengar!

Wow!!!

Aku sedang bermimpi.

Jatuh dari tempat tidur. Tersungkur. Guling terbakar obat nyamuk bakar. Nyamuk berterbangan di kuping kiri-kanan. Gatal-gatal di bagian kaki dan lengan. Si nyamuk mencari aman saja dengan mengisap darah di tengah malam buta.

Hey! Bukankah dia mengajakku ML! Making love. Denganku?

Semenarik itukah?

Padahal, aku sedang berada di salah satu distrik mewah Gangnam, tempat para selebriti Korea berpose di depan managemen mereka.

Padahal, aku sedang mendengar pendayung gondola bernyanyi dengan suara seraknya di antara sungai berdesir, Venesia.

Padahal, aku sedang menyaksikan mobil-mobil balap sedang saling kejar di tikungan menikung antara daratan dan lautan. Sekali kesalahan, bisa terjung bebas ke lautan yang dipenuhi boat-boat mewah milik mereka – entah dari mana – asalnya di Monte Carlo.

Oh, bantal guling yang terbakar obat nyamuk. Apa pula aku masih mengandalkan obat nyamuk bakar di tengah dunia berteknologi tinggi. Apa pula nyamuk masih saja hidup padahal orang-orang telah menumpasnya dengan beragam cara. Apa pula aku tak langsung tidur lagi.

Melanjutkan mimpi…

Seoul-kah itu?
Pada suatu ketika tak tentu. Ibu kota Korea Selatan telah menjadi sebuah hal termenarik untukku kunjungi. Alih-alih karena ingin belanja, pengaruh drama-drama yang kutonton sangat dominan. Setiap drama yang kutonton tidak hanya melahirkan sisi melankolis semata namun juga kemewahan kota besar ini. Gedung-gedung mewah. Mobil jalan teratur. Ada lampu merah buat kendaraan. Ada lampu merah buat manusia. Kunci pintu pakai kode. Telepon genggam merek dalam negeri sebesar telapak tangan.

Orang-orang menari di mana-mana. Mereka bangga memamerkan kedigdayaan Dinasti Joseon. Mereka berlomba-lomba mengikuti audisi di salah satu managemen besar, berharap suatu saat jadi artis dan akan berkelimpangan harta.

Aku ingin… ingin ke sana!

Untuk?

Mejeng saja sebentar di kawasan padat Gangnam. Atau ke pelabuhan internasional Busan. Atau sebentar saja ke Pulau Jeju. Atau ikut saja audisi siapa tahu aku lolos jadi obat nyamuk yang selalu ribut dalam setiap drama. Siapa tahu aku seberuntung Lee Min Ho. Siapa tahu aku setenar Rain. Siapa tahu aku bisa mengikuti jejak Won Bin. Siapa tahu aku bisa menarik seindah Taecyeon. Siapa tahu aku bisa seimut Jang Dong Gun di usia empat puluhan. Siapa tahu aku…

Ya, begitulah. Korea Selatan itu sangat menipu. Apa-apa tentang mereka jadi maju saja. Mau teknologi. Mau hiburan. Aku gagal move on dari salah satu produsen telekomunikasi Korea karena; tak ada karena, cukup kepuasan saja. Aku tak bisa berpaling dari drama Korea karena; mereka punya ide segila-gilanya, tonton saja Misaeng kalau tidak percaya.

Korea Selatan ya Korea Selatan. Mandiri dan tuli. Aku suka dengan mereka karena daerahnya dibalut antara teknologi tinggi dengan budaya yang tetap dijaga. Di saat kecepatan internet dunia mereka pegang teguh di posisi nomor satu, mereka tetap memakai hanbook di dalam drama maupun acara besar lainnya.

Datang ke Korea Selatan, tak cuma melongo dengan K-Pop dan K-Drama. Tapi, melihat kebudayaan mereka yang mendunia dalam waktu singkat!

Dan mampir di Seoul Central Mosque; adalah keharusan karena aku seorang muslim.
Korea Selatan
Republic of Korea
Air Terjun di Korea
Busan-Korea Selatan
Seoul-South Korea
Laut Nabi Musa Korea Selatan
Istana Kerajaan
Korea Bersalju
Gemerlap Korea Selatan
Sungai Cheongyecheon Korea Selatan
Aih! Si nyamuk itu!

Tidak enak memang terbangun dari tidur. Belum lagi mimpi indah yang Cetar Membahana gaya bahasa dan tubuh nona Syahrini. Ah, dia lagi dia lagi!

Tarik selimut…

Venesia aku datang!!!
Please deh, jangan terlalu berlebihan. Venesia tak suka sama orang yang goyang ngebor Mbak Inul Daratista. Tahu kenapa? Karena gondola akan nyelam ke dasar sungai!

Yah. Gondola itu. Perahu yang katanya bisa bernyanyi. Perahu yang bisa membawaku keliling kota Venesia yang semerbak angin sungai. Kota terapung di Italia ini memang memiliki sejuta pesona. Semula aku cuma terfokus pada Seoul saja – aduh ini mimpi kedua lho Seoul sudah terlupa. Baiklah. Venesia itu aku dapat pertama kali dalam film yang dibintangi Angelina Jolie dan Jhonny Dep. Tahulah film apa? The Tourist.

Venesia. Seluruh negeri berair. Aku ingin segera melepas pakaian dan nyempung ke dasar sungai. Tahu-tahu asa salmon berwarna keemasan nyangkut di ujung jari. Mana tahu ada keluar dari air dalam itu aku langsung bisa berbahasa Perancis – gracias ­­– dan aku terdampar menjadi aktor kawakan dalam film dongeng tak bertuan.

Tak sanggup aku bayangkan berdiri dengan pedang teracung di atas gondola yang goyang-goyang. Aku akan mengelilingi seluruh kota. Memerintah dengan bijaksana….

Eh, eh, gondola itu goyang. Aku terjatuh…
Venesia-Italia
Negeri di atas air Venesia
Sunset di Venesia
Aku terdampar di depan Hotel de Paris. Apa? (ambil gaya Maria Mercedes dalam Telenovela).

Inikah Monte Carlo itu?

Aku di Monte Carlo!

Ya Tuhan!

Tak menyesal aku menonton film yang dibintangi Selena Gomez dengan judul Monte Carlo. Lihatlah aku sekarang. Di Monte Carlo akan menyaksikan arena balap kelas dunia. Jalan berliku. Lautan lepas. Pengunungan Alpen yang jauh dipandang. Kapal-kapal menyangkut di tepi pantai.

Monte Carlo tak lain adalah daerah yang dipuja-puji oleh Monako. Daerah ini hampir sama dengan Macau, Hongkong. Arena judi menjadi halal dan semerbak harum di meja berputar. Kasino terbesar adalah Place du Casino. Tempat para mereka yang gemar bermain “kartu” menghabiskan simpanan uang.

Aku? Ya. Jingkrat-jingkat saja ala K-Pop. Bisa pulang pergi dan motret sana-sini sudah lebih dari cukup.
Monte Carlo - Italia
Monte Carlo
Monte Carlo Night
Monte Carlo Bay
Hotel de Paris - Monte Carlo
Arena Balap Mobil-Monte Carlo, Monako
Benarlah. Ini tulisan berasa di atas mimpi!

Ayo bangun dan mandi! Siapa tahun nyamuk nakal telah memerawaniku….

5 komentar:

  1. Duuuuuh...enaknya bertualang ke tiga negara. tempatnya bagus-baguuuuuuu dah.
    Apa ini bai? Lomba ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Tulisan ini krn iri sm org yg udh prnah ke tiga negara ini :)

      Delete
    2. Iya. Tulisan ini krn iri sm org yg udh prnah ke tiga negara ini :)

      Delete
  2. Replies
    1. Hahaha, hanya sebuah mimpi, Beby. Boleh-boleh saja bukan?

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90