Top Ad 728x90

Friday, July 3, 2015

Portugal dan Sebuah Janji Pada Martunis

Martunis Dikontrak Sporting Lisbon, Sporting Lisbon Klub Besar Portugal, Portugal Menetapi Janji pada Martunis, Martunis anak angka Christiano Ronaldo (CR7) main di klub Eropa, Nomor Punggung Martunis 28 Sama dengan Christiano Ronaldo (CR7), Portugal Tidak Ingkar Janji, CR7 Tepati Janji, Martunis anak Tsunami, Martunis pemain bola Aceh, Martunis, Martunis, Martunis, Sepakbola Indonesia Tanda Tanya, Sepakbola Indonesia Penuh Harapan, Martunis Calon Pemain Bola Dunia, Video Martunis di Sporting Lisbon, Martunis diterima dengan baik di Sporting Lisbon



Martunis itu siapa?

Pasti pertanyaan itu muncul; jika tidak membaca ulang sejarah. Tsunami di Aceh pada akhir 2004 tidak hanya membuat pilu semata. Beragam kisah lahir setela musibah besar yang meluluhlantakkan sebagian besar Aceh. Martunis – satu di antara korban tsunami lain – termasuk yang beruntung mendapat kesempatan hidup kembali setelah lebih kuran dua belas hari terkatung-katung di lautan lepas. Martunis yang berusia sepuluh tahun kala itu memang tergolong anak yang mendapat mukjizat tak terkira. Lepas dari maut di laut, sosoknya menjadi pembicaraan di media massa, lebih tepatnya media massa asing yang meliput keberadaan bocah ini. Media massa asing tersebut menyiarkan kedahsyatan yang dialami Martunis – mungkin – tanpa berpikir panjang akan nasib anak Aceh ini selanjutnya. Berita mengenai Martunis yang selamat setelah lama di atas air, menjadi sorotan dunia. Tidak hanya sebuah keberuntungan, tetapi karena pakaian yang melekat pada dirinya juga menjadi kecaman tajam persepakbola dunia.

Martunis mengenakan baju sepakbola kebanggaan negara Portugal!
Martunis Before and After Tsunami - Telegraph
Di situlah poin penting sehingga Martunis kecil dielu-elu di seluruh negeri yang bertahta di tanah Eropa tersebut. Portugal kemudian memberikan perhatian khusus kepada Martunis kecil dengan mengundangnya – beserta Ayah – sebagai tamu kehormatan ke Portugal. Tidak berhenti sampai di sana, pesepakbola dunia yang telah harum namanya lantas menggandeng Martunis sebagai anak angkat. Christiano Ronaldo (CR7) memang dikenal dermawan di beberapa aspek kehidupan, ditandai dengan memberikan dana hibah kepada golongan tertentu dalam jumlah besar.

Portugal dan CR7 juga memberi sebuah janji jika Martunis besar nanti; mengundangnya bermain bola di Eropa!

Benarlah sebuah janji itu. Sekarang ditepati. Martunis yang kini berusia 18 tahun telah digandeng oleh klub besar Portugal yang turut membesarkan CR7 menjadi pemain andal dunia. Sporting Lisbon dikenal sebagai klub yang melatih para bintang dunia sehingga mampu berkiprah dengan baik di ajang kompetisi dunia. Entah kebetulan atau memang disengaja, Martunis juga mendapatkan nomor punggung 28, sama dengan nomor punggung yang disematkan pada CR7 sewaktu masih di Sporting Lisbon. Banyak yang berharap; keberuntungan juga memihak pada Martunis. Angka yang tertera di belakang badan hanyalah sebagai pengenal saja, lebih dari itu kerja keraslah yang menentukan nasib si anak tsunami ini.
Martunis di Klub Sporting Lisbon, Portugal - Telegraph
Aceh boleh berbangga.

Namun, jangan lupa bahwa yang menepati janji itu adalah mereka yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan ini. Sering kali ada anggapan yang mengatakan orang nonmuslim itu adalah kafir. Orang nonmuslim itu begini dan begitu. Pada kasus Martunis – di bulan Ramadhan pula – selayaknya kita berkaca bahwa sebuah janji adalah utang dan harus ditepati tepat pada waktunya.

Portugal dan CR7 menepati janji mereka pada batas waktu yang telah ditentukan, yaitu saat Martunis berusia 18 tahun. Karena pada masa itu kasarnya Martunis telah mengantongi identitas diri sendiri maupun telah bebas masa tanggung jawab orang tua padanya. Begitulah ibaratnya orang barat mengatur batas seorang remaja menjadi dewasa; sudah punya KTP atau SIM atau bisa tinggal di rumah sendiri dan lain-lain.

Kasus Martunis menyamarkan kasus lain yang selalu mengatasnamakan kemurtadan saat berhubungan dengan kaum nonmuslim, di Aceh ini. Dua hal yang tumpang-tindih namun tak pernah dikaji lebih lanjut di mana tidak semua orang datang ke Aceh karena misi agama, dan jika pun orang Aceh itu berpindah kenyakinan maka di situlah letak kedangkalan keyakinan orang Aceh tersebut terhadap agamanya, bukan Aceh secara keseluruhan.

Martunis dijanjikan bermain oleh Portugal di negeri mereka setelah batas umur dewasa. Portugal menetapi janji dan langsung memboyong Martunis ke sana. Jika pun Portugal berniat memurtadkan Martunis, sudah dari kecil tak dikasih balik lagi ke Aceh.

Niat orang jangan pernah dinilai negatif sebelum bentuk itu terbentuk nyata. Bahkan, terkadang orang yang menilai negatif sering kali ingkar janji. Portugal tidak membual mimpi manis atau bermain banting meja saat sidang sepakbola tak kunjung usai. Portugal berani bersikap karena mereka ingat sebuah janji. Terlepas Martunis akan bermain “sangat bagus” atau malah sebaliknya, mereka tetap akan melatih Martunis dalam batas kontrak yang telah disepakati.

Mengutip sebuah status di media sosial, “Main sajalah di negeri orang, Martunis. Jangan pula kasih tahu Portugal tentang kisruh sepakbola negeri kita. Malu kita dibuatnya, pesepakbola kita sudah beralih profesi jadi penjual batu akik!” demikian kira-kira.

Janji manis hanya ucapan di mulut saja. Keegoisan pegiat sepakbola negeri ini tak pernah kunjung usai. Janji-janji terus didengungkan. Dan lupa bahwa pesepakbola bukan lagi sebagai sekadar hobi melainkan perkara sesuap nasi.


Ada baiknya Portugal menepati janji mereka. Tak tahu pula nasib Martunis jika CR7 mengabaikannya. Cita-cita pesepakbola Indonesia tak pernah seindah itu. Saya pun berharap, “Belajar saja di Portugal, Martunis. Selama mereka melatih dan memakai jasamu, lakukan maunya itu. Tiada yang tahu klub besar dunia sedang berada di garis nasib yang kau tuai sejak 12 hari mengapung di dasar laut dulu!”
Martunis dan Christiano Ronaldo (CR7) - Inagist.com
Martunis di Sporting Lisbon, Portugal - Youtube

4 komentar:

  1. Martunis ganteng banget yak.. :D

    Ah.. Semoga ia masih memiliki iman untuk tetap memercayai Islam. Aamiiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Beby. Kita doakan bersama-sama ya :)

      Delete
  2. Saya tergugah dengan kisah hidup seorang Martunis. Setidaknya bab ini mengobati sakit hati kita pada sepakbola di negeri kita sendiri. Saya sedih sekaligus bangga. Semoga Martunis suatu saat bisa mengembalikan kejayaan sepakbola Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas Firman. Nasib Martunis memang begitu adanya, terombang-ambing dilautan, ditendang PSSI namun ia lebih beruntung bisa belajar di negeri orang. Saya rasa, sebaiknya dia tidak pulang saat menjadi pemain profesional kelak, karena pesebakbola Indonesia tetap akan mati suri maupun mementingkan perut si ini si itu sebelum sampai melahap hijau Piala Dunia.

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90