Top Ad 728x90

Sunday, July 19, 2015

Tolikara Yang Menghancurkan Kepercayaan

Tolikara, Tolikara Papua, Pembakaran Masjid di Tolikara, Nasib Umat Islam di Tolikara, Reaksi Umat Islam Tolikara, Anggapan Umat Islam Melihat Tolikara, Umat Islam Minoritas Tolikara, Reaksi Pemerintah Terhadap Tolikara, Masjid Tolikara Yang dibakar, Siapa Pelaku Pembakaran Masjid di Tolikara, Apa hukuman pelaku pembakaran masjid di Tolikara

Tolikara, Papua - Pheterweya
Tolikara yang telah hancur. Berada di Papua yang bergunung. Muslim yang terbengkalai. Islam yang tersudut. Islam terluka namun malah disudutkan dengan isu pengeras suara. Islam yang jadi korban namun pelaku kejahatan hanya disebutkan segerombolan orang, padahal nyata sekali segerombolan orang itu mereka yang menganut kepercayaan lain, diperintahkan dengan surat keputusan, gagah sekali dengan kaum mayoritas.

Tolikara mengulang kembali krisis kepercayaan yang telah terjadi di Papua maupun Poso di masa lalu. Agama yang sebenarnya urusan hati dengan Tuhannya dipertaruhkan dalam keegoisan. Agama dijadikan kambing hitam untuk membunuh, menjarah, menghancurkan dan melakukan tindak asusila lain yang kemudian menyesal tak terperi. Di mana-mana, agama selalu menjadi kebutuhan untuk menghancurkan atau bahkan dicampakkan ke dalam kubangan teroris yang tak berperikemanusiaan. Padahal, agama itu tak terlihat, hanya dirasa oleh jiwa-jiwa yang butuh pencerahan. Agama tidak mengerjakan kejahatan, hanya kebetulan pelaku kejahatan memiliki kartu identitas yang beragama.

Saat rumah ibadah dihancurkan. Kaum minoritas dibungkam. Kaum mayoritas berkuasa – sebenarnya telah berkuasa. Di situlah kemenangan kejahatan adidaya.

Masjid di Tolikara dibakar mereka yang media pun tak sudi menyebut namanya. Pembakaran yan terjadi di hari kemenangan menyisakan peri tak kunjung usai sampai tahun-tahun mendatang. Kisah ini mengulang perihnya hidup sebagai minoritas di suatu tempat. Kisah ini menyebabkan rasa percaya lenyap seketika. Setelah kisah ini terselesaikan. Kisah itu tak pernah akan dilupa.

Islam akan menjadi agama yang begitu menakutkan di Tolikara, Papua. Karena Islam yang tidak mengajarkan kedengkian tetapi dihancurkan karena alasan mengganggu ketentraman.

Islam akan luntur di negeri Papua karena masyarakat setempat tidak lagi mengedepankan bahwa kerukunan beragama telah diajarkan sejak dini. Pendidikan dasar yang telah diajarkan kepada anak-anak mereka sunggup sebagai pemanis jalan mendapat sarjana maupun pekerjaan. Keberagaman telah terjadi tetapi luput dari pandangan mereka yang mau berpikir.

Status muslim akan menjadi satu-satunya alasan untuk mendiamkan diri maupun merahasiakan identitas. Jika sebuah status menjadi ketakutan tersendiri dalam bergaul maupun mendapatkan pekerjaan dalam rangka menyambung hidup, maka beribadah pun akan terbengkalai.

Anak-anak muslim akan sulit sekali bergaul karena mereka akan dicemooh. Di tengah rasa ingin membuat nyaman dan hidup tentram anak-anak justru mengalami trauma berlebih. Musibah yang terjadi karena direncanakan, di hari semua orang berbondong-bondong di satu tempat, anak-anak yang semula ceria malah menangis mencari perlindungan. Dendam dan ketakutan akan mereka simpan sampai ke ubun-ubun. Sampai pada satu titik untuk membenci masyarakat mayoritas yang telah mengganggu kesenangan mereka.

Perlindungan dari mana masyarakat minoritas di Tolikara. Saat terjadi pembakaran masjid, di kampung yang jauh dari Jayapura, saat semua muslim sedang melaksanakan shalat hari raya, saat itu pula mereka tidak dilindungi.

Papua yang juga diisi manusia. Masihkah ada tempat bagi muslim di sana?
Pembakaran Masjid di Tolikara - MetroTV

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90