Top Ad 728x90

Monday, August 3, 2015

,

Saya Bukan Nasabah BNI

#69TahunBNI, BNI, Bank Negara Indonesia, Lomba Blog BNI, Transfer Uang BNI, Mudahnya Transaksi di BNI, Mudahnya Transfer Uang dari dan ke BNI, Pelayanan BNI Terbaik, BNI Melayani Negeri Kebanggaan Bangsa, Keuntungan BNI,

Siang hari yang terik, setelah diskusi panjang lebar dengan Fardelyn Hacky, saya memantapkan diri untuk mengubah alamat blog dari domain gratis ke domain berbayar. Semula, saya masih ragu karena belum begitu yakin untuk tetap semangat ngeblog. Kemudian, saya berani membuat tekad; ngeblog itu berbagi apa saja, sehingga orang mengetahui apa saja, dan menerima manfaat kapan saja!

Saya membuka website penyedia layanan blog berbayar yang direkomendasikan sahabat saya tersebut. Saya memasukkan alamat blog yang akan dibeli. Menunggu beberapa saat lalu keluar alamat yang saya minta. Saya beruntung karena alamat tersebut belum dibeli orang lain. Lebih tepatnya karena alamat yang saya minta adalah nama saya sendiri bukan alamat yang umum, wajar-wajar saja tidak ada peminat alamat ini!

Setelah mengikuti prodesur dari penyedia layanan blog berbayar tersebut, saya lantas memilih metode pembayaran transfer melalui bank. Salah satu pilihan bank yang tersedia adalah Bank Negara Indonesia (BNI). Tak lama setelah saya menyetujui persyaratan untuk membeli sebuah domain, email dari penyedia layanan blog berbayar itu masuk ke alamat email saya. Metode transfer yang saya pilih adalah dengan mengirimkan sejumlah uang untuk mendapatkan domain yang saya beli ke nomor rekening BNI milik penyedia layanan blog berbayar tersebut. Saya bergegas, karena limit waktu yang diberikan lebih kurang 24 jam untuk melunasi pembayaran, saya mematikan laptop, meninggalkan warung kopi berfasilitas internet gratis di Kota Meulaboh, Aceh Barat, lalu menuju kantor BNI yang beralamat di Jalan Imam Bonjol.

Sesampainya di BNI di jalan lintas menuju Banda Aceh ini, saya langsung masuk ke dalam gedung itu dan disapa oleh seorang satpam muda. Satpam yang lupa saya lirik namanya itu menanyakan perihal kedatangan saya di siang yang masih sepi nasabah.

“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” tanya satpam muda itu dengan ramah.

“Siang, Bang. Saya mau transfer uang,” saya menyebutkan keperluan dengan tersenyum.

“Transfer ke bank apa, Bang?” tanya satpam itu lagi.

“BNI,” sebut saya cepat. Kemudian saya mengeluarkan smartphone dari kantong celana, membuka email dengan cepat dan memperlihatkan isi email yang berisi nomor rekening yang akan saya kirimkan uang kepada satpam muda itu yang masih setia berdiri di samping saya.

“Silakan ambil nomor antriannya terlebih dahulu,” ujar satpam muda itu sambil menarik nomor antrian dari mesin yang ditempatkan di samping slip setoran dan penarikan. Saya mengambil nomor antrian dari satpam muda itu. “Silakan langsung ke teller, Bang!” katanya dengan tegas – seperti memerintah. Saya tidak merasa diperintah namun sebuah ketegasan yang nyata dalam senyumnya. Saya ragu melangkah ke kursi yang telah disediakan, menunggu nomor antrian dipanggil dan memulai transaksi dengan teller di depan sana.

“Saya tidak perlu menulis di slip setoran, Bang?” saya bertanya dengan ragu-ragu.

“Sesama BNI tidak perlu. Perlihatkan atau sebutkan saja nomor rekening BNI tujuan pada teller,” jawab satpam muda itu dengan mantap.

“Baik, terima kasih,” saya meninggalkan satpam muda itu yang tak lama kemudian langsung menyapa nasabah lain yang baru masuk ke kantor itu.

Saya menunggu dipanggil oleh teller yang tampak segar di depan sana. Kursi tunggu ini pun nyaman sekali untuk diduduki. Ruangan berpendingin ini lebih terasa sejuk dibandingkan di luar yang panas sekali. Pengharum ruangan sesekali disemprot secara otomatis entah dari sudut mana.

Saya menghitung dalam hati. Tak lama lagi nomor antrian saya dipanggil. Karena belum pernah saya mengirim uang tanpa menulis di slip setoran, saya cukup harap-harap cemas dengan apa yang akan saya alami nanti. Padahal, itu cuma keraguan yang tak perlu disiratkan.

Nomor antrian saya dipanggil. Saya menuju nomor teller yang telah disebutkan oleh suara perempuan dari pengeras suara itu. Dulu – karena bodohnya – setiap kali saya mendengar suara dari pengeras suara di bank besar, saya selalu berpikir tentang raut wajah perempuan yang memanggil nomor antrian saya itu. Cantikkah dia? Atau yang paling lucu, apa perempuan itu tidak lelah bekerja sebagai pemanggil nomor antrian tiap saat, tiap hari selama hari kerja, dari pagi sampai sore? Kebodohan yang kemudian saya sadari bahwa itu hanya suara otomatis yang terus diulang-ulang setiap hari.

“Selamat siang, Bapak. Ada yang bisa saya bantu?” sapa teller laki-laki muda ganteng itu dengan sangat ramah, sambil membungkukkan sedikit badannya, tak lebih ramah dari satpam yang menyapa saya di depan pintu masuk.

“Selamat siang. Saya mau transfer uang ke BNI, Bang,” sahut saya sambil memperlihatkan layar smartphone ke depan teller muda yang masih berdiri itu.

“Baik. Mohon sebutkan saja nomor rekeningnya ya, Pak,” kata teller muda itu sembari duduk kembali di kursinya. Jari lentiknya begitu cekatan menekan huruf atau angka di keyboard. Saya menyebutkan nomor rekening BNI tujuan. Tak lama teller muda itu memastikan kembali nomor rekening yang saya sebutkan benar dan nama terang pemilik rekening telah sesuai. Saya membenarkan.

“Nama terang Bapak?” tanya teller muda itu lagi sambil mendongak sesaat dengan kening berkerut. Saya menyebutkan nama dan setelah itu mesin printer di samping teller muda itu mencetak bukti transfer uang tersebut. “Mohon tanda tangan di sini, Pak,” teller muda itu berdiri dan memberikan slip setoran yang baru diprint ke hadapan saya. Saya membubuhkan tanda tangan di atas nama terang dan mengembalikan kembali slip setoran kepada teller muda itu yang menunggu dengan sabar.

“Terima kasih telah menggunakan BNI, Bapak,” ujar teller muda itu sambil menyerahkan selembar bukti setoran kepada saya.

“Terima kasih kembali,”

“Masih ada yang perlu saya bantu, Bapak?”

“Oh, terima kasih,”

“Baik. Terima kasih Bapak telah percaya kepada BNI!”

“Sama-sama.”

Saya jadi kikuk sendiri. Teller muda yang ganteng itu masih berdiri melihat saya menjauh darinya. Padahal teller itu harus menekan tombol khusus di mejanya – entah benar di situ letaknya – untuk membuat mesin otomatis pemilik suara emas itu memanggil kembali nomor antrian berikutnya. Sesampai di pintu keluar pun saya tercengang mendapati satpam yang semula menerima saya membukakan pintu.

“Terima kasih,” katanya sambil tersenyum tak kalah ramahnya dari pertama saya melihatnya sebelum transaksi.

“Sama-sama. Mari…,” saya membungkukkan badan dan meninggalkan kantor BNI.

Padahal, saya bukan nasabah BNI. Namun saya diperlakukan dengan baik dan hormat oleh semua karyawan bank ini. Jika dihitung-hitung, apa untungnya mereka memberikan pelayanan lebih kepada saya yang hanya mentransfer uang tak lebih dari dua ratus ribu rupiah. Dan, terhitung tanggal 19 Maret 2015 saya berhak mendapatkan alamat domain berbayar setelah mentransfer uang dari BNI ke nomor rekening tujuan BNI.

Karena saya bukan nasabah BNI, saya merasa BNI itu…

Pertama; memberikan pelayanan istimewa kepada semua orang – nasabah dan non nasabah– yang datang ke BNI. Sikap tidak pandang bulu ini membuat saya nyaman dan enggan beranjak dari sana. Pelayanan ramah seperti ini jarang sekali bisa didapat di berbagai bank, apalagi di siang hari saat lelah telah tiba.

Kedua; proses transaksi cepat. Transaksi yang tidak berbelit-belit dan teller memastikan dengan benar transaksi yang dilakukan nasabah termasuk hal penting dalam sebuah bank. Saya merasa aman setelah teller mengulang kembali nomor rekening tujuan dan pemilik rekening dengan benar. Saya sempat mengira tanpa bukti fisik (menulis transaksi di slip yang telah disediakan), saya akan mendapat kesalahan yang belum pasti ada.

Ketiga; kantor yang nyaman. Memang, fasilitas bank berbeda-beda. Namun, kantor BNI yang saya tuju ini benar-benar sangat nyaman. Tidak sumpek sama sekali. Fasilitas yang nyaman sangat penting untuk sebuah bank karena lama nasabah antri dipanggil untuk bertransaksi bisa beragam. Beruntung saya antri sebentar, bagaimana jika antrinya sampai berjam-jam?

Keempat; karyawan yang ramah. Dua orang yang menyapa saya di BNI cukup ramah sekali. Mulai dari satpam yang menuntun dan mengarahkan sampai teller yang membantu proses transaksi. Keramahan demikian tentu tidak mudah dilakukan setiap hari kerja dari pagi sampai sore. Saya salut dengan karyawan BNI yang menerima saya dengan baik.

Kelima; kesopanan. Dua orang yang saya temui di BNI, memperlihatkan sikap sopan yang tak terkira. Saya bisa bayangkan bagaimana lelahnya mereka bekerja. Saya yakin sekali mereka tulus dan bukan boneka. Keyakinan itu didasari dari hasil yang saya peroleh dari transaksi di hari itu.

Saya memang bukan nasabah BNI. Berkunjung dan bertransaksi sesaat bersama BNI membuat saya aman dan nyaman. Bukankah dua hal ini sangat dibutuhkan?
*** 

6 komentar:

  1. Aku pernah jadi nasabah BNI. waktu masih kuliah.
    Good luck ya Bai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kampus kami waktu itu belum kerjasama dngn BNI. Sekarang ini baru mulai krjasamanya. Makasih Eki. Yuk ikut :)

      Delete
  2. Replies
    1. Iya kak. Puas rasanya stlh transaksi :)

      Delete
  3. Iya juga tuh kak, saya juga dulu pas mau daftar wisuda juga mesti transfer ke rekening BNI dan harus ke BNI meskipun aku bukan nasabah BNI tapi pelayanannya tak pandang bulu, tetap sama ramahnya sama nasabah dari bank lain. :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Punya pengalaman serupakah? Wah, terima kasih telah berbagi :)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90