Top Ad 728x90

Thursday, October 29, 2015

, ,

Cerita Cinta Pernikahan di Aceh Bersama Samsung Galaxy Tab S dari Blibli.com

Cerita Cinta Pernikahan di Aceh Bersama Samsung Galaxy Tab S, Cerita Cinta Pernikahan di Aceh, Adat Pernikahan di Aceh, Foto Pernikahan di Aceh, Review Samsung Galaxy Tab S, Keunggulan Kamera Samsung Galaxy Tab S, Samsung Galaxy Tab S Super Jernih, Kamera Samsung Galaxy Tab S Super Jernih, Lomba Blog Blibli.com, Review Handphone terbaru, Review Blibli.com,


Sebuah pernikahan; penuh cinta, bahagia, canda tawa, renungan masa depan…

Tak ada kenangan pernikahan tanpa sebuah jepretan kamera. Bagaimanapun hasilnya, bidikan kamera saat merayakan kebahagiaan itu akan dikenang sepanjang masa. Momentum berharga ini akan menjadi pertanyaan sampai ke anak cucu. Karena apa? Dari pernikahan ini pula generasi penuh dedikasi akan lahir, beragam kemelut rumah tangga diselesaikan dengan berbagai sudut pandang, pendewasaan hidup telah dimulai, sebaik-baiknya cobaan menjalani perbedaan setelah mendua, serta berbagai makna lainnya.

Mengapa hari pernikahan wajib diabadikan?

Dikutip dari Internasional Design School, dua pakar fotografi mengemukan pendapat mereka mengenai pentingnya hasil bidikan kamera.

“fotografi sebagai media berekspresi dan komunikasi yang kuat, menawarkan berbagai persepsi, interpretasi dan eksekusi yang tak terbatas!” – Ansel Adams –

“bagi saya, fotografi adalah sebuah seni observasi. Ini tentang menemukan suatu hal yang menyenangkan di tempat biasa. Saya telah menemukan bahwa hal tersebut tak ada hubungannya dengan hal-hal yang kamu lihat, dan semua harus dilakukan dengan caramu melihat mereka!” – Elliott Erwitt –

Menarik atau tidak sebuah momentum, saya mesti memotretnya. Begitu pula dengan masa yang tak pernah kompromi. Pernikahan di saat ini tentu saja berbeda dengan pernikahan di masa mendatang. Jika dahulu, wanita di Aceh masih menggunakan sanggul untuk tempat melekat mahkotanya, saat ini telah menggunakan jilbab sebagai penutup kepala sebagaimana kewajiban muslimah sejati.

Dua foto yang saya hadirkan ini mewakili segenap keinginan dalam merengkuh kebahagiaan dalam pernikahan. Setiap foto berbicara atas segala sesuatu. Walaupun diambil dengan sudut pandang “biasa” saja namun foto tetaplah menyampaikan segenap perasaan.

Foto pertama tentang mempelai wanita yang menunggu mempelai pria dengan sabar. Tradisi di Aceh mengenal antar linto di mana mempelai pria diantar ke rumah mempelai wanita dengan berbagai adat-istiadat. Mempelai wanita tidak diperkenankan keluar dari singgasananya sebelum mempelai pria masuk ke dalam rumah. Mempelai wanita menunggu di atas singgasananya dengan penuh sabar dalam balutan pakaian adat Aceh yang ribet.

Mempelai wanita menggunakan semua pernak-pernik pakaian adat Aceh modern. Seyogyanya, pakaian mempelai wanita diidentifikasikan dengan pakaian Cut Nyak Dien. Seiring perkembangan zaman, pakaian tersebut terus dimodifikasi agar terlihat dengan istimewa dan berbeda. Baju yang berat ditambah dengan aneka aksesoris yang menambah berat pakaian yang melekat di tubuh ratu sehari ini. Mempelai wanita yang cantik jelita ini juga menggunakan mahkota khas Aceh yang cukup berat di kepalanya.

Tak hanya sabar menanti kedatangan rombongan mempelai pria– mempelai pria tepatnya – namun juga sabar menahan berat pakaian yang dikenakannya. Biasanya, di pagi hari mempelai wanita mengunakan setelan pakaian “sederhana” untuk menerima tamu. Lepas dari dhuhur, mempelai wanita baru menggenakan pakaian adat lengkap dalam waktu cukup lama. Rombongan mempelai pria akan sampai mendekati ashar bahkan ada yang lepas ashar. Mempelai wanita menunggu dengan harap-harap cemas.
Mempelai Wanita di Aceh - Bai Ruindra
Bidikan kamera Samsung Galaxy Tab S mewakili kegundahan hati mempelai ini. Senyumnya dipenuhi tanda tanya, matanya seakan-akan ingin segera melihat sosok gagah di depan pintu sana, suaranya lebih serak karena lelah menanti. Namun, begitulah pernikahan di Aceh. Dalam lelah mempelai wanita tetap dijadikan ratu sehari, senyum tak pernah pudar dari dirinya. Semua kebutuhannya dicukupi oleh banyak orang. Dia adalah istimewa karena hanya dia yang paling cantik di hari itu.

Senyum yang mengibuli di foto pertama sirna sudah saat mempelai pria bersanding dengannya. Mempelai pria melangkah dengan tegap memasuki rumah. Pakaian kebanggaan masyarakat Aceh – setelan Teuku Umar – dikenakannya dengan rapi. Momentum paling bahagia itu adalah saat suguhan sesuap nasi di depan banyak orang. Keduanya tertawa lepas. Penat telah usai. Lelah tak akan ada sebentar lagi. Tinggal mereka berdua yang merayakan kebahagiaan di masa mendatang!

Tiada yang bisa menandingi bahagia mereka di foto kedua ini. Mempelai wanita dan mempelai pria sama-sama mengumbar keindahan dalam diri mereka. Momentum inilah yang tak akan bisa didapatkan di lain kesempatan. Bukan hanya perkara pakaian adat yang berat dan ribet, namun ada makna tersirat yang tidak bisa saya jabarkan.
Kebahagiaan Pengantin di Aceh - Bai Ruindra
Begitu pentingnya sebuah foto!

Foto tetap bisu sebagai gambar. Foto akan berbicara dengan caranya sendiri. Makna yang tersimpan dalam sebuah foto tetaplah sama dari berbagai sudut pandang. Saya membaca kebahagiaan dari dua foto ini, Anda pun demikian. Berbeda halnya dengan saya mengatakan “sepasang pengantin baru sedang bahagia.” Saya bisa menambah bumbu-bumbu pemanis, Anda pun bisa menambah lebih banyak bumbu saat menceritakan cerita saya kepada orang lain.

Foto tidak pernah menipu. Inilah hasilnya, akan abadi sepanjang masa!

Kedua foto ini adalah untuk review tablet Samsung Galaxy Tab S. 

2 komentar:

  1. wah, baju pengantin mempelai di aceh berwarna sekali ya mas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mas Fahmi, cerah begitulah, hehehehe

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90