Top Ad 728x90

Sunday, October 25, 2015

, , , ,

Sapiah yang Merindu Panggilan dari Tanah Suci

Sange tudung saji khas Aceh, Kisah Inspiratif dari Aceh, Kisah Inspiratif tentang Haji, Kisah Inspiratif Perjalanan Haji, Biaya Haji dari Aceh, Kerajinan Tangan Khas Aceh, Umat Islam wajib naik haji apabila mampu,

Sange (tudung saji khas Aceh) - Bai Ruindra
Siapa yang tidak rindu tanah suci?

Semua umat Islam akan merindukannya. Tanah suci tak lain tempat Islam bermula dengan segenap harapan dan cita-cita dalam rangka memperbaiki akhlak manusia serta mendekatkan diri pada Ilahi. Di tanah suci pula, kisah nabi yang telah diutus memberi contoh terbaik kepada umatnya. Banyak pelajaran yang lahir dari tanah suci sehingga umat Islam mendamba ke sana. Anjuran Islam sendiri telah mewajibkan bagi umatnya yang mampu untuk berhaji. Perencanaan ibadah haji sejak dini sangatlah dianjurkan karena masa muda masih kuat untuk perjalanan jauh maupun menunaikan rukun dan wajib haji dengan penuh keyakinan.

Namun, tidak selamanya umat Islam memiliki jalan lurus dalam memenuhi panggilan haji. Banyak sekali rintangan yang dihadapi sehingga perjalanan ke negeri Arab terhalangi. Salah satu penyebabnya adalah biaya perjalanan haji yang tidak sedikit. Semakin lama disetor biaya perjalanan haji, semakin lama pula nomor antrian panggilan didapat. Tak bisa dipungkiri bahwa pendaftar haji dari Indonesia memiliki masa tunggu yang cukup panjang. Tiap tahun bertambah saja umat Islam yang mampu melunasi biaya perjalanan haji. Jika dikalkukasikan dengan usia, saat sudah tua baru melunasi biaya perjalanan haji entah kapan bisa berangkatnya.

Semua orang punya rencana. Sapiah pun demikian. Perempuan Aceh ini begitu mendamba haji karena baginya itulah cita-cita terakhir di usia senja. Wasiat dari mendiang suami yang meninggal lima belas tahun lalu, bahwa dirinya harus melunasi biaya perjalanan haji sesegera mungkin. Sesuatu yang mustahil bagi perempuan yang lahir tanggal 1 Juli 1956 karena dirinya bukanlah seseorang yang memiliki penghasilan tetap. Ia mulai memikirkan pekerjaan yang tidak begitu rumit, sesuai dengan kemampuannya, dan dapat menghasilan lebih besar keuntungan supaya dapat melunasi biaya perjalanan menuju Mekkah.

Hanya itu saja niatnya, bekerja untuk berhaji!

Mulailah Sapiah menekuni pekerjaan sebagai pengrajin sange (tudung saji khas Aceh). Sange biasanya digunakan untuk menutup hidangan jamuan besar (kenduri). Sange terbuat dari daun layah, sejenis pandan yang hidup liar di dalam hutan. Daun layah yang telah dikeringkan kemudian dianyam menggunakan bili (jenis tanaman belukar) dengan metode khusus sehingga membentuk sange. Bagian permukaan sange dilekatkan rotan supaya lebih kokoh. Usaha yang ditekuni Sapiah semenjak tahun 2006 perlahan-lahan mulai menghasilkan. Semakin hari semakin banyak orang yang membeli sange darinya. Sange yang dihasilkan Sapiah merupakan karya industri rumah tangga dalam skala kecil. Sapiah tidak memiliki modal untuk mempromosikan sange­­-sange tersebut dalam skala lebih besar. Permintaan sange dari orang-orang yang telah mengetahui dirinya sebagai pengrajin pun tidak selalu dalam jumlah besar. Dalam sebulan Sapiah bisa menjual 15-20 buah sange ukuran kecil, sedang dan besar. Masing-masing ukuran tersebut dihargai Rp.10.000 Rp.20.000 dan Rp.30.000. Apabila masuk musim Maulid Nabi Muhammad saw., antara bulan Rabiul Awal sampai Rabiul Akhir, Sapiah akan membuat sange untuk ukuran lebih besar dari biasanya yang dihargai sampai Rp.60.000 perbuah. Hal ini karena di Aceh memiliki tradisi kenduri besar-besaran dalam rangka memperingati hari lahir Rasulullah saw. Bekerja seorang diri dan bukan termasuk perusahaan besar, Sapiah tidak memiliki pembukuan yang jelas. Kepada saya, Sapiah menyebutkan bahwa penghasilan bersihnya dalam sebulan antara Rp.700.000 sampai dengan Rp.1.000.000 dan tidak rutin. Jika musim maulid, penghasilannya bisa mencapai angka Rp.3.000.000. Ia mulai menabung dari hasil penjualan sange tersebut.

Sapiah tinggal bersama anak bungsu dan suaminya, rumah itulah satu-satunya warisan yang diwariskan kepada mereka. Ia pun kerap membantu kebutuhan rumah tangga anak perempuannya yang telah berusia 38 tahun. Tak mungkin pula ia selalu berharap kepada menantu yang bekerja sebagai petani membawa pulang bekal tiap hari. Ia sadar bahwa dirinya memiliki penghasilan yang bisa disisihkan untuk membuat asap tetap mengepul tiga kali sehari dari dapurnya.

Lembar demi lembar rupiah telah mengunung di kamarnya. Ia pun menunaikan kewajibannya melunasi biaya perjalanan haji tujuh tahun lalu. Ia telah mendapatkan nomor tunggu keberangkatan ke tanah suci pada tahun 2017. Cukup lama ia bersabar untuk mendengar panggilan itu. Jika tak ada halangan, dua tahun lagi ia akan dipanggil menuju baitullah. Cita-cita yang cukup lama ia pendam. Ia dapat menghela napas panjang karena impiannya akan segera terwujud. Ia kerap panas dingin mendengar saudara, tetangga maupun orang-orang di sekitarnya dipanggil terlebih dahulu. Ia masih punya sabar untuk menunggu. Sabar yang panjang sekali seperti usahanya mengumpulkan lembar demi lembar rupiah dalam mewujudkan cita-citanya.

Perjalanan sabar Sapiah tidak mudah. Ia menceritakan berbagai kesulitan untuk dapat melunasi biaya perjalanan haji. Ia pernah hampir menyerah karena semakin ditabung, uang itu seakan-akan semakin menipis. Saat kopi habis, tak ayal ia akan menarik selembar dari tabungannya. Saat iuran listrik menunggak, ia harus rela mengeluarkan selembar lagi dari tabungannya. Saat ke pesta di kampung ia pun harus ikhlas memberikan selembar kepada anak bungsunya. Lembar-lembar yang ia keluarkan bisa lima puluh sampai seratus ribu rupiah. Selembar saja berkurang ia tidak bisa menggenapkan sejumlah biaya perjalanan haji yang telah ditetapkan untuk wilayah Aceh.
Sapiah sebelum mengalami stroke - Bai Ruindra
Sange yang dihasilkan oleh Sapiah - Bai Ruindra
Kepada saya yang masih muda, Sapiah berpesan…

Rencanakan haji sejak dini
Usia yang semakin bertambah membuat Sapiah tak lagi sehat. Pesannya ini cukup beralasan karena Sapiah sendiri mengalami beberapa gangguan kesehatan. Sepuluh tahun terakhir, pendengaran Sapiah telah tidak sempurna lagi. Berbicara dengannya harus dengan suara lebih keras dibandingkan dengan orang lain. Memang, Sapiah telah membeli alat bantu pendengaran namun enggan ia gunakan karena cepat habis baterai dan alasan swing di telinga. Bahkan, saat saya menulis artikel ini kesehatan Sapiah bertambah buruk. Sebulan yang lalu, Sapiah mengalami stroke sehingga badan sebelah kiri mati rasa. Proses penyembuhan terus dilakukan. Namun matanya berlinang mengutarakan sebuah cita-cita yang belum tercapai. Ia takut sekali jika dipanggil ke tanah suci dengan kondisi tidak sehat.

Jika diizinkan berandai-andai, Sapiah ingin mengulang ke masa muda untuk dapat berusaha lebih giat lagi. Rencana ke tanah suci sejak dini akan ia lakukan. Perjalanan ke tanah suci tidak semudah berjalan ke kampung tetangga. Ia membutuhkan biaya besar agar tanah Arab bisa dijejaki. Jika di masa muda telah menabung dan melunasinya segera, ia bahkan bisa menunaikan haji bersama suami.

Sebuah penyesalan yang berarti. Mengapa saya tidak merencanakan perjalanan haji sekarang juga?

Lunasi perjalanan haji selagi mampu
Sapiah berkata, masa muda adalah masa mencari uang sebanyak-banyaknya. Tidak ada salahnya menyisihkan sedikit hasil keringat untuk ditabung sebelum dilunasi biaya perjalanan haji.

Ucapan Sapiah benar adanya. Perjalanan haji semakin hari semakin meningkat dan masa tunggu semakin panjang. Saya tidak tahu sampai kapan bisa terus berkarya dan menghasilan uang. Saya bukanlah pegawai yang memiliki gaji bulanan. Saya bukan pula pengusaha kaya yang gampang sekali mengeluarkan biaya besar untuk melunasi biaya perjalanan haji. Saya masih gali lobang tutup lobang. Ada beras belum tentu ada lauk. Ada garam belum tentu ada gula. Ada minyak belum tahu apa yang mesti digoreng.

Makna kata mampu pun seakan-akan sangat sensitif sekali. Tiada yang tahu pula, saya akan mampu bekerja sampai usia berapa. Bisa juga saya mengalami kisah seperti Sapiah saat didera banyak penyakit. Bahkan, untuk makan saja selama pemulihan harus disuapi orang lain. Bagaimana saya mencari uang lagi untuk melunasi perjalanan haji? Sapiah telah melunasinya, ia tinggal menunggu panggilan. Sakitnya akan berkurang dengan izin-Nya dan dengan usaha serta doa.

Jangan menunda-nunda perjalanan ke tanah suci
Saya sering mengatakan, saat ini belum mampu ke tanah suci. Bahkan, alasannya masih buram sekali. Tidak adalah penjelasan khusus mengapa saya menunda-nunda ke tanah suci.

Jangan menunda-nunda!

Perkataan Sapiah menyimpan banyak makna. Pertama, usia bisa berakhir kapan saja. Kedua, sakit tak pernah bisa dielak. Ketiga, kondisi keuangan tidak selamanya stabil. Tiga alasan ini pula mengapa haji tidak boleh ditunda. Selagi kesehatan masih mendukung dan materi cukup tidak ada salahnya meluruskan niat untuk segera menunaikan biaya perjalanan haji.

Kisah Sapiah hanya segelintir dari mereka yang sedang menunggu panggilan ke tanah suci. Namun, usaha Sapiah mendapat tempat tersendiri dalam hati saya. Tidak mudah mengumpulkan biaya perjalanan haji yang besar – mencapai 30 juta rupiah untuk calon jamaah dari Aceh – di usianya yang tak lagi muda. Niat dan rencana yang matang mengantarkan Sapiah ke satu tujuan; mampu melunasi biaya perjalanan haji!

Saya? Apa yang ditunggu?

Entahlah. Perjalanan haji selalu terbersit dalam hati kecil paling dalam. Rencana demi rencana yang enggan saya utarakan karena malu jika tidak terlaksana, atau bahkan terkesan memamerkan kepada orang lain jika saya sanggup melunasi biaya perjalanan haji di usia muda.

Apakah Anda mempunyai rencana tersembunyi ke tanah suci?

8 komentar:

  1. Replies
    1. Terima kasih mbak Tira, semoga kita bisa memetik manfaat ya...

      Delete
  2. Mngharukan sekali. Ngontes lg bai???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berbagi cerita sekalian ngontes Mutia. Ayo kita terus berbagi :)

      Delete
  3. Replies
    1. Saya berharap bisa dipetik manfaatny ya :)

      Delete
  4. Semoga Sapiah tetap diberikan kekuatan, btw tulisannya bagus.. :D

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90