Top Ad 728x90

Monday, November 2, 2015

,

Kurikulum Pendidikan yang Baik untuk Anak Usia Dini

Kurikulum Pendidikan yang Baik untuk Anak Usia Dini,

 
Pendidikan Anak Usia Dini - Bai Ruindra


Tak bisa dipungkiri bahwa pendidikan sangat menentukan perkembangan seorang anak. Pendidikan yang wajar, pemikiran anak akan berjalan sebagaimana mestinya. Pendidikan yang tidak wajar - cenderung dipaksakan - mengantarkan anak ke dalam kegalauan panjang bahkan sampai usia dewasa. Karena apa? Pendidikan yang dipaksakan demikian ini pula yang membuat anak salah pilih jurusan saat kuliah misalnya, yang berakibat kesalahan fatal pada masa depannya. Masih syukur jika perkuliahan benar dijalani, namun jika pendidikan terbengkalai siapa yang mesti disalahkan. Tidak hanya itu, urusan pekerjaan menghadang dengan sendirinya setelah pendidikan sarjana usai. Apabila salah "jurusan" maka bisa tamat riwayat anak karena bingung mau ke mana dan apa yang harus dilakukan. Belum lagi kondisi saat ini yang mana ruang pekerjaan semakin sempit, ditolak oleh perusahaan atau tidak lulus pegawai negeri menjadi ketakutan tersendiri bagi mereka yang tidak memiliki kreatifitas tinggi.

Dari mana memulai pendidikan yang baik itu?

Semua orang paham betul bahwa pendidikan terbaik terjadi sejak dini. Pada masa ini pula anak-anak menunjukkan keinginan mereka. Anak yang berbakat main bola akan senang sekali menendang bola bahkan akan menangis sejadinya jika orang tua tidak membeli bola. Anak yang hobi memasak akan menunggu sampai ibunya menghidangkan makanan di atas meja. Anak yang memiliki jiwa seni berlebih akan cukup senang menari atau bernyanyi.

Dalam keluarga, pendidikan yang baik telah terbina namun berubah drastis begitu masuk ke dunia pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan umum yang berpatokan pada kurikulum dari pemerintah malah membuat keinginan anak simpang siur. Anak harus belajar banyak pelajaran walaupun mereka tidak meminatinya. Anak harus ikut keinginan kurikulum – guru hanya mengajar sesuai kurikulum – walaupun diubah tiap kali. Anak harus mencapai nilai batas minimun jika ingin lulus mata pelajaran dimaksud. Jika tidak lulus, bagaimana tindakannya? Tidak naik kelas atau hukuman lainnya seperti mengulang ujian (remedial). Padahal anak yang pintar menulis puisi belum tentu bisa menurunkan persamaan rumit matematika.

Maka, kurikulum yang baik itu harus memiliki aspek ini...

Mengarah pada bakat dan minat
Lihat terlebih dahulu bakat dan minat seorang anak. Sejak diantarkan orang tua mereka ke sekolah, anak telah menunjukkan bakat dan minat terhadap suatu hal. Dari permasalahan ini pula seorang guru yang berpatokan pada kurikulum mengarahkan anak ke bakat dan minat tersebut. Penting sekali mengarahkan anak pada bakat dan minat mereka karena kemajuan mereka terletak pada pemahaman di kemudian hari. Anak yang dipaksa belajar suatu mata pelajaran namun tidak disukainya, otomatis menjadi pelengkap saat bersekolah. Contoh kecil saja, dunia hiburan Korea Selatan benar-benar menyeleksi bakat-bakat seni sejak kecil lalu dididik sampai debut. Hasilnya, dalam waktu cepat sekali pertumbuhan dunia hiburan negeri gingseng diakui dunia. Bakat-bakat lain terlihat dari dunia teknologi, tak mudah Samsung atau LG berdiri kokoh sebagai raksasa teknologi yang disegani secara global jika sejak dini pendidikan mengenai ini dijalankan dengan maksimal.

Tidak mengekang
Pendidikan yang mengekang adalah pendidikan di mana guru sebagai tokoh utama. Guru sangat perkasa dan tak bisa dibantah. Apa yang dikatakan guru adalah benar. Keputusan guru tidak boleh disanggah. Kondisi yang seperti ini membuat anak tidak berani mengeluarkan unek-unek mereka. Anak-anak tidak santai dalam belajar karena apa-apa yang mereka kerjakan takut salah. Ketakutan demikian membuat anak susah berkembang karena tidak berani mencoba. Padahal, proses coba-coba inilah yang membawa keberhasilan. Tak ada teori relativitas Albert Einstein tanpa proses coba-coba berkepanjangan. Tak ada pula bola lampu berpijar tanpa kegagalan dari Thomas Alva Edison.

Membiarkan hobi berkembang
Hobi bisa menjadi pekerjaan? Ini sudah menjadi rahasia umum saat ini. David Beckham memulai sepakbola karena sebuah hobi, akhirnya menjadi pesepakbola disegani di dunia bahkan termasuk orang terkaya di dunia. Hobi menulis bahkan bisa menjadi selebriti seperti Raditya Dika atau Asma Nadia.

Pendidikan yang "layak" saat ini adalah pendidikan yang membiarkan hobi anak berkembang. Hobi dimulai dari bakat dan minat sejatinya pasti akan menghasilkan sesuatu. Anak yang dididik melalui peminatan sejak dini tidak akan keluar dari bakat maupun minat. Anak hobi tentang sesuatu maka akan dilakukan dengan segenap jiwa.

Disiplin
Kunci sukses adalah disiplin. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan deadline lomba menulis, misalnya. Jika ingin menjadi penulis sukses seperti JK. Rowling tentu saja mengatur rutinitas menulis dengan bijak.

Anak yang telah dilatih kedisiplinan sejak dini akan mudah mempraktekkan di kemudian hari. Disiplin tidak perlu - cuma - diajarkan secara lisan. Disiplin itu berkaitan dengan tingkah laku. Orang mendengungkan disiplin belum tentu melaksanakannya. Orang yang tidak berbicara disiplin bisa saja telah melaksanakan kedisiplinan dalam kesehariannya.

Kurikulum yang berlaku saat ini, baik-baik saja jika mengandalkan nilai berupa angka. Namun, kurikulum ini tidak akan baik jika menginginkan hasil akhir berupa sikap, kematangan pola pikir dan pendewasaan hidup.

6 komentar:

  1. Intinya bahwa kurikulum itu membuat anak merasa nyaman dalam belajar yah mas, tapi terkadang disiplin dan tidak mengekang itu menjadi antitesis, karena disiplin sering dirasakan seolah mengekang atau tidak memberikan kebebasan kepada anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mas Rudhy, sejatinya pendidikan yang baik akan membawa perubahan besar. Mari kita doakan bersama supaya pendidikan Indonesia semakin baik ya 😀

      Delete
  2. saya save tips2na mas, nuhun pisan yaa..bermanfaat banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mari Mbak, terima kasih banyak ya 😀

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90