Top Ad 728x90

Wednesday, November 11, 2015

, ,

Senja, Nahkoda dan Kail Pancing di Ujung Karang

Senja, Nahkoda dan Kail Pancing di Ujung Karang, Wisata di Aceh Barat, Tempat Nongkrong di Aceh Barat, Tempat Nongkrong di Aceh, Warung Kopi di Aceh, Pelabuhan Kapal di Aceh Barat, Pelabuhan Kapal di Aceh, Pelabuhan Kapal Barang di Aceh Barat,

Matahari yang tertutup kabut - Bai Ruindra
Senja yang sebentar lagi lewat, terkadang membuat saya enggan beranjak dari warung kopi. Karena ya begitulah. Warung kopi telah menjadi candu yang tiada tandingannya bagi kami anak muda Aceh.

Sore yang sedikit mendung itu – saya kira tak akan turun hujan – dengan langkah penuh semangat saya mengitari kota kecil kami. Meulaboh hanyalah kota kecil yang saya ingin sekali menjadi metropolitan; memiliki bioskop, taman hiburan, mall, bahkan gedung bertingkat yang hanya bisa kami lihat melalui layar televisi.

Tempat hiburan yang menarik selain warung kopi memang sedikit sekali dan kurang menarik. Satu-satunya tempat paling menarik di sore hari adalah Pelabuhan Ujung Karang. Jika beruntung akan ada kapal barang membongkar atau memuat muatan. Aktivitas sore di sini cukup menarik sekali karena akan ada senja yang pamit, nahkoda kapal yang sekali-kali merapatkan kapalnya di pelabuhan, dan kail pancing para pemancing yang menunggu datang ikan dengan sabar!

Tiga hal ini saja lebih dari cukup untuk saya nikmati!

Senja selalu mengantarkan kerinduan pada lara yang entah bagaimana saya definisikan. Senja menggetarkan aura teramat dalam untuk mengelabui hidup yang semakin rumit. Senja pula yang membuat saya bersabar untuk mengucap salam pada hari berikutnya.


Ada apa di senja? Adalah bibir pantai yang mengantarkan pemandangan biasa bagi kami di pesisir. Apalagi kalau bukan matahari terbenam. Matahari pamit begitu saja jika tak ingin dinikmati indahnya. Matahari yang pergi meninggalkan jejak “panas” di sepanjang waktu yang saya lalui. Tak mungkin saya mengulang kembali kisah yang sama di hari berikutnya. Kisah hari ini adalah kenangan, kisah keesokan harinya adalah misteri.
Matahari merah di senja Meulaboh - Bai Ruindra
Senja yang pamit meninggalkan nahkoda kapal yang menanti waktu untuk kembali mengarungi lautan luas. Nahkoda – entah siapapun dia – merobek pandangan untuk melihat gelap kulitnya selama bertarung melawan arus laut lepas. Nahkoda yang menunggu jadwal berlayar tampak santai menikmati udara daratan. Sekonyong-konyong mereka tak akan pernah lagi melihat daratan yang sama karena lautan lepas menghalau dengan segenap marabahaya.
Kapal dan Nahkoda yang menunggu berlayar di Pelabuhan Ujung Karang, Meulaboh - Bai Ruindra
Kail pancing adalah kisah berikutnya yang sulit dilupakan begitu saja. Tiap senja, ada saja orang yang memancing di pelabuhan ini. Penuh sabar mereka menunggu ikan memakan umpan. Berharap bahwa senja itu adalah terbaik bagi peruntungan mereka. Siapa yang tahu ikan sebesar betis tiba-tiba menarik kail menjauh ke dasar laut. Itulah saatnya pemancing untuk bertarung sekuat tenaga. Kekuatan penuh, benang terkuat telah digunakan, sekali hentak ikan akan mendarat ke darat. Benang yang tak kuat, akan putus di udara dan ikan cuma melambai saja sebelum terjun kembali ke dasar laut. Tak pernah ada yang tahu ikan yang sama akan memakan umpan serupa. Toh, ikan yang taringnya sakit terkena kail akan lari terbirit-birit meninggalkan arena menyeramkan itu.
Kail pancing yang sabar menjemput ikan - Bai Ruindra
Sambil menikmati tiga hal ini, saya membeli sebungkus kacang rebus. Selain kacang rebus, jagung rebus dan jagung bakar bisa menjadi teman menanti waktu berlalu dan pengisi perut kosong.
Para penjual di Pelabuhan Ujung Karang, Meulaboh - Bai Ruindra

Senja, nahkoda dan kail pancing hanya segelintir sabar menunggu malam gelap. Di ujung barat Aceh. Bagaimana dengan kotamu? 

8 komentar:

  1. Replies
    1. Terima kasih Irawati, mari berbagi juga 😀

      Delete
  2. Sunset-nya keren banget. Sunset susah banget dicari kalo di Jakarta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, semoga ke depn Jakarta memiliki sunset terindahnya ya 😁

      Delete
  3. Kak ... jadi nama nahkoda nya siapa aja yg merapat di pelabuhan ??? sempet kenalan ngak ??? #Dibahas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aih! Benar-benar lebay ini :)
      Belum sempat kenalan ni karena takut diajak melaut soalnya saya mabuk kapal laut, hehehe

      Delete
  4. Dan aku pertama kali nyamperin blog ini langsung jatuh cinta sama orangnya, eh, maksudku tulisannya. hehehe.
    Lumayan dapat inspirasi bacaan baru kala nulis jalan jalan buat media.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Ups!
      Udah kegeeran duluan ini Mbak Zulfa. Terima kasih ya telah mampir. Salam hangatn:)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90