Top Ad 728x90

Tuesday, December 8, 2015

, ,

Cowok Fobia #Cerpen

Cerpen Remajah


Sudah masanya aku punya kekasih yang mau mendengar kelah-kesah keremajaanku. Fisikku punya segala yang dimaui cewek seluruh sekolah. Mulai dari kelas sepuluh sampai kelas duabelas, cewek-cewek pasti akan teriak histeris mendapatiku melewati kelas mereka. Atau saat aku main basket di lapangan depan kelas sebelas. Cewek-cewek pada berkerumun hanya untuk melihat aksiku di lapangan. Yang tidak kalah heranku, di antara para cewek ada pula cowok yang tak kalah cerianya melihatku.

Sebagai cowok, aku sangat macho. Sebagai cowok, aku memiliki tubuh dengan tinggi satu meter tambah delapan puluh centimeter. Sebagai cowok, dadaku sangat bidang, jalanku tegap, otot-ototku terbentuk karena olahraga rutin. Sebagai cowok, aku memiliki kulit mulus tak tercoret sedikit pun. Sebagai cowok, aku terlahir dengan paras rupawan, rahang kuat, saat kusenyum lesung pipit menjatuhkan setiap pandangan dalam pelukanku.

Dan, sebagai cowok aku sudah lupa berapa surat bersampul merah jambu kuterima dari cewek-cewek kelas sepuluh. Aku juga tidak ingat lagi berapa banyak pesan singkat di ponselku dari cewek-cewek kelas duabelas. Aku juga lupa berapa banyak cewek-cewek yang ingin berteman denganku di jejaring sosial. Kukonfirmasi, akunku membludak dengan akun-akun tidak jelas, tidak kuterima pertemanan mereka aku dimaki-maki habis-habisan.

“Sok kegantengan!”

“Jual mahal!”

“Kusumpahi jomblo sampai mati!”

Sampai ada yang tulis, “Jangan-jangan kamu suka sama cowok ya?”

Kupilih jalan pintas, terima saja akun-akun dengan gambar profil aduhai. Pesan-pesan mereka pun akhirnya kudiamkan saja tanpa pernah kubalas walau pun aku sedang online. Cewek-cewek itu hilang satu persatu. Tinggal aku yang merasa kehilangan. Ponselku sepi dari pesan manja dan panggilan nomor asing. Jejaring sosial milikku malah tidak pernah lagi ada yang tulis di dindingnya.

Awalnya aku tidak mau ambil pusing. Waktu terus berputar, aku pun sampai di kelas duabelas. Teman-teman cowok sudah punya pasangan masing-masing. Aku yang sangat sempurna dibandingkan mereka dari segi apapun malah tertinggal satu langkah.

“Malam minggu ini ada pesta di rumah Rini,” kata Andi.

“Pesta apa?” tanyaku ingin tahu. Masalahnya, sejak kelas sepuluh sampai kelas duabelas Rini tidak pernah bertegur sapa lagi denganku karena kutolak cintanya.

“Lho, bukannya Rini sudah kasih undangan?” Andi balik bertanya.

“Belum,”

Andi seperti memikirkan sesuatu.

“Belum ya?”

Aku mengangguk.

“Kemarin dia umumin di kelas kok, datang ya! Jangan lupa bawa pacar!”

Aku tersendak. Padahal tidak sedang minum atau makan.

“Biasanya ulang tahun Rini selalu ada kejutan, kayak pasangan termesra mungkin. Ayolah, kamu harus move on dari kondisi sekarang!”

“Ke mana?” tanyaku polos.

Andi malah ngakak.

“Aku nggak suka ke mana-mana,”

Kulihat Andi mengambil posisi di depanku. Dengan raut serius Andi memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku yang diperhatikan seperti itu sangat tidak nyaman. Mukaku memerah. Mataku berkedip berulang kali. Badanku mulai berkeringat. Suaraku sudah hilang entah ke mana. Pikiranku tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku seakan sudah tidak berada di bumi.

Andi memegang tanganku. Aku makin tak karuan. Tanganku berubah jadi dingin seperti es.

“Tenanglah! Aku tidak akan memakan tubuh gempalmu!”

Andi tahu aku sudah tidak konsentrasi dengan apa yang akan dikatakannya. Sejak dulu hanya Andi yang tahu kondisiku. Andi sangat paham fisikku yang kuat namun batinku tidak. Sejak SMP Andi sudah terbiasa melihatku menyendiri.

“Tinggalkan buku-buku yang sedang kamu baca, tugasmu sekarang berinteraksi dengan lingkungan. Teori-teori di buku tidak ada guna jika kamu tidak bicara dengan banyak orang. Kamu cowok yang tidak ada duanya, otakmu encer, tubuhku idaman setiap cewek. Cewek-cewek pada nungguin ucapan cinta darimu!”

Bibirku sudah membiru. Padahal di kelas hanya ada aku dan Andi.

“Jangan takut. Obat fobiamu bukan obat-obatan dari dokter, obatmu adalah orang-orang di sekelilingmu. Berapa banyak kamu minum obat, rasa takut akan tetap datang jika kamu tidak berhubungan orang-orang!”

Aku sudah sangat gemetar. Mataku menelusuri setiap sudut ruangan. Sebentar lagi teman-teman sekelas akan masuk. Aku sudah tidak siap menerima suara-suara bising itu.

“Tidak ada yang bisa mengobatimu selain keberanianmu! Rugi saja kamu jadi cowok kalau masih begini!”

Kata-kata terakhir Andi sangat menyudutkanku. Andi tidak tahu apa-apa tentang penyakitku. Bagiku ini penyakit bawaan, aku akan ketakutan pada orang banyak. Bahkan pada Andi yang sudah lama kukenal aku takut setengah mati saat dia memegang tanganku. Dia tidak sadar aku gemetaran begitu dia menarikku mengingat sebuah keburukan dalam diriku. Aku belum siap beradaptasi dengan lingkungan yang menatapku setiap detik.

Bel berbunyi. Aku gundah. Andi malah terdiam. Andi menyulut emosiku menjadi tidak stabil malah tidak mengubrisku lagi. Bagaimana ini, apa yang harus kulakukan, teman-temanku pasti akan menertawakanku, teman-temanku pasti akan mengejekku, teman-temanku pasti akan mengatakan aku tidak laku-laku, teman-temanku pasti akan membuat keributan di samping tempat dudukku.

Tiba-tiba wajahku sudah sangat berkeringat. Kutarik kedua tanganku ke bawah meja. Kugenggam erat-erat, bibirku yang gemetar kugigit kuat-kuat. Kulihat teman-temanku berlarian masuk ke dalam kelas, suara tawa mereka menggema bagai lengkingan halilintar di terik matahari, derup langkah kaki mereka bagai goyangan gempa berkekuatan di atas 10 skala richter.

“Lihatlah, tidak akan terjadi apa-apa!” ujar Andi sambil berlalu ke bangkunya di belakangku. Andi tidak akan tahu pucatku dari belakang sana. Andi sama sekali tidak mengenalku sedari dulu.

Satu persatu langkah kaki teman-temanku memasuki kelas. Ada yang merengut. Ada yang masih tertawa. Ada yang menekuk wajah ke lantai. Ada yang membanting tas ke meja dengan keras. Ada yang teriak-teriak. Ada yang nyanyi dengan suara sumbang. Ada yang membetulkan lengan baju.

Tiba-tiba sebuah teriakan membuat jantungku berhenti sesaat. Apa yang Andi katakan baik-baik saja tidak akan pernah terjadi. Teman-temanku pasti akan mengatakan yang tidak-tidak, mereka pasti akan menertawakanku yang tidak keluar kelas.

“Halo!” suara Rini mendiamkan berbagai aksi teman-temanku. Gigiku sudah gemerutuk. Aku tidak kuasa menatap Rini di depan kelas. Rini pasti akan mengada-ada cerita lamaku yang menolak cintanya. Rini pasti akan mengatakan aku cowok tak pantas dipacari. Rini pasti akan mengarang cerita bahwa aku cowok yang tidak bisa menerima kekurangan cewek manapun. Tahu apa Rini tentangku?

“Halo-halo!” teriak Rini sekali lagi.

“Wow!” kur teman-teman. Kecuali aku. Dari belakang Andi menendang kursiku, hampir saja aku tengkurap ke depan jika saja tidak ada meja dengan tumpukan buku di atasnya. Andi benar-benar membuatku tidak berdaya.

“Aku mau ingatin ya, jangan lupa malam minggu ke rumah. Eit! Nggak ada yang datang sendiri!”

“Yang tidak punya pacar bagaimana, Rin?” suara Andi lagi. Ujung-ujungnya pasti aku yang jadi masalahnya. Andi sangat senang dengan penderitaanku.

“Harus dong!”

“Harus?”

“Iya!”

Kelas jadi hening.

“Aku lagi sendiri, Rin! Kalau harus bawa pacar aku absen ke rumahmu ya!” ucapan Andi malah ditertawakan seluruh kelas. Kutahu, Andi terkenal sebagai cowok playboy. Mana mungkin Andi tidak memiliki pacar?

“Kamu lagi kosong ya?” tanya Rini. Entah bagaimana reaksi Andi, mungkin dia hanya mengangguk saja. Rini yang berdiri di depan kelas lalu menghamparkan pandangan ke seluruh kelas, termasuk padaku yang sudah tidak menunduk lagi. Jangan-jangan Rini akan menanyakan pendapatku!

“Nggak semua kita punya pacar, Rin! Maksudku, dulu mungkin ada, mungkin sekarang sudah nggak!” kata-kata terakhir Andi dibenarkan beberapa temanku lain.

Rini mempertimbangkan pendapat Andi.

“Baiklah. Tapi, yang nggak ada pasangan jangan cemburu sama yang punya pacar ya!” putus Rini diiringi suara protes dari seisi kelas.

Tak lama, guru matematika masuk kelas. Aku sudah mulai sedikit tenang. Kelas sudah sepi dari suara-suara bising. Andi kembali menendang kursiku, sebuah buku jatuh.

“Rileks!” ujar Andi mengedipkan mata saatku mengambil buku dan melirik ke belakang. Mungkin aku harus berterima kasih pada Andi. Mungkin juga aku harus mengajaknya berkelahi di lain waktu.

Kuhamparkan pandanganku ke seluruh kelas. Teman-temanku diam. Semua terpengkur. Kutahu, inilah ketakutan sebenarnya. Pada pelajaran matematika. Pada guru matematika. Siapa yang bicara siap-siap ke depan kelas mengerjakan soal-soal. Terakhir, aku yang lebih berani maju ke depan kelas dengan tangan sedikit gemetar menjawab soal dengan benar.

*** 

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90