Top Ad 728x90

Monday, December 7, 2015

,

Inilah Kisah Pilu Seorang Waria Tua

Kisah Hidup Seorang Waria, Kehidupan Waria


“Hidup ini adalah pilihan!” ujarnya menerawang jauh.

Perempatan jembatan dini hari itu menjadi saksi bisu asap rokok yang mengepul tak karuan. Saya sempat terbatuk-batuk, namun tidak berani mencegah “seseorang” yang berdiri memangku besi jembatan, untuk membuang puntung rokoknya – bahkan membuang semua rokok di dalam saku celananya. Seseorang yang menjadi sorotan karena tingkah-polah tak karuan dari pribadinya, seseorang yang enggan menyebutkan nama aslinya karena dianggapnya telah tak berfungsi, seseorang yang memulai perih begitu panjang sampai tak pernah ada suka dalam hidupnya, seseorang yang disebut dalam kehidupan normal sebagai waria!

Benar. Wanita pria atau waria. Saya tidak tahu mengapa pelafalan ini begitu melekat pada pria yang bersifat keperempuanan. Padahal, ada pula wanita yang bersifat kelaki-lakian namun tak ada sebutan khusus. Sudahlah kawan, saya tidak sedang bercerita mengenai dongeng sebelum tidur. Cerita ini tentang Angel, seseorang yang telah saya sebutkan sebagai sosok tak perlu hadir di dunia ini – kata beberapa pendapat orang penting dalam kultur sosial dan agama waria ini akan berada di antara langit dan bumi apabila mereka telah tiada. Bukankah waria ini juga manusia? Dan dalam hidup ini kita mengenal surga dan neraka, tak ada istilah di antaranya. Bagaimana menjelaskan soal ini?

Angel sungguh nama yang bagus sekali. Nama ini barangkali diambil dari sebutan “malaikat” dalam bahasa Inggris. Tahukah kamu, kawan? Angel yang sedang menyulam emas di antara dunia yang tak lagi perawan adalah sosok yang jauh dari cantik bahkan ganteng. Oh, ayolah. Angel sama sekali tak mau saya lekatkan istilah sifat-sifat pria kepada dirinya. Angel tetaplah seseorang yang ingin disebut cantik walaupun dadanya sangat bidang, suaranya lebih berat, jakun menonjol di lehernya, payudaranya hasil suntik silikon, dan tentu saja mempunyai penis dan testis.


Saya pernah tahu waria di tempat lain yang mengibuli pandangan. Cantik-cantik pula! Walaupun kadang terlihat sifat kelaki-lakian dalam diri mereka saat dirundung emosi. Kita pun tak pernah lupa pada sosok Dena Rahman yang telah terang-terangan dengan status warianya. Namun Angel sangat jauh dari kesan cantik dan seksi. Angel sama sekali tidak menarik untuk dikencani bahkan untuk ditiduri sekali saja – mungkin. Biarpun demikian, Angel tetap “laris” manis untuk orang-orang yang tak sanggup menyewa waria cantik.

“Naluri saya wanita, dek!” ujar Angel seperti merajuk. Celana jeans yang dikenakannya malam itu tampak lusuh sekali di bawah temaram lampu jalanan. Kemeja kebiruan yang melekat ditubuhnya seakan-akan tak pernah dicuci. Wangi tubuhnya seperti harum kuli bangunan yang baru saja pulang memikul beban. Di tangan kanannya tampak tas jinjing yang isinya adalah peralatan salon (make-up). Rambutnya ikal diikat sebahu. Wajahnya tampak kusam walaupun make-up tebal menutupi seluruh wajahnya dengan gincu merah di bibirnya. Bau minyak wangi murahan bercampur dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.

“Saya cuma bisa nyalon, dek,” ujarnya perih sekali. Saya paham. “Saya nggak tahu kerja apalagi. Saya nggak punya ijazah. Saya kerja di tempat lain banyak diejek orang. Saya jalan saja orang-orang ngejek terus, gimana saya mau makan kalau nggak nyalon.Nyalon maksudnya adalah keliling kota untuk mencari pelanggan. Ada yang mau dirias, ada yang tidak. Kebanyakan menolak karena hasil make-up darinya tidak sebagus make-up waria lain di salon besar.

“Apa pernah terpikir kerja di tempat lain?”

Nggak ada yang terima saya, dek. Saya jalan diejek, saya ngomong diejek juga. Semua orang nggak terima karena saya banci!

Lima menit kemudian hanya terdengar helaan napas kami. Lampu sorot memercikkan cahaya ke sungai.

“Di sana banyak waria mencari pelanggan!” tunjuk Angel ke arah seberang sungai sebelah kiri. Di bawah pohon yang sepi. “Banyak pria mencari waria dengan bayaran murah!”

Saya mendengus. “Kenapa tidak mencoba ke sana?”

Angel terkekeh. Lambat-laun cerita sudah berbeda. Angel tak pernah diterima di golongannya sendiri. “Bahkan, dunia waria juga mencampakkan saya!”

Karena rupa jelek?

Saya terkekeh seorang diri begitu waktu tak lagi bersama Angel. Pria yang “memaksa” saya menyebutnya waria dibandingkan pria itu – katanya – akan mencari pelanggan. Saya tidak tahu pelanggan apa. Apakah untuk salonnya atau untuk memuaskan napsu dirinya plus harga tak lebih lima puluh ribu rupiah.

Masih tersisa sedikit kenangan Angel di dalam hati saya. Entah bagaimana saya menjabarkannya. Kegalauan yang terpendam. Kekecewaan yang entah Angel utarakan kepada siapa. Kebingungan yang berujung tangisan tak berakhir.

Angel seperti benar berada di antara langit dan bumi. Di dunia ini – bahkan – sama sekali tidak ada yang mau menerima kedudukan Angel sebagai “waria”. Mungkin saja karena Angel berpenampilan seperti wanita. Mungkin juga salah karena fisik Angel tidak setegap seperti orang lain yang berjenis kelamin pria. Mungkin juga salah karena jenis kelamin Angel adalah pria. Belum tentu juga Angel sejahtera apabila dirinya terlahir sebagai seseorang dengan jenis kelamin wanita.

Angel bertahan dalam kekurangan yang dimilikinya. Berusaha supaya sesuap nasi terkunyah oleh mulutnya dan tergiling oleh ginjalnya. Langkah kakinya yang kian ringkih tanpa tahu ditujukan ke mana. Saat langkah itu semakin lunglai, sanak famili saja tidak mau menerima kedudukannya. Saat dirinya tak sanggup lagi menyapu bedak di wajah orang lain, rejekinya sekonyong-konyong telah lenyap dari muka bumi. Saat “goyangan” tubuhnya tidak lagi selihai waria lain, jumlah booking-an bisa berkurang bahkan hilang sama sekali.

“Saya juga mau bahagia, dek!” kalimat ini masih tersimpan rapi dalam ingatan saya. Entah di mana saya tempatkan ucapan Angel sebagai penutup penjamuan malam kami. Bahagia seperti sangat absurd sekali. Sulit saya definisikan karena bahagia bagi Angel belum tentu sama dengan bahagia yang saya mau. Satu hal yang mesti saya garisbawahi bahwa bahagia itu sifat naluriah – manusiawi.

Kehidupan Angel sebagai waria yang telah berumur mengajarkan banyak hal kepada saya. Pekerjaan yang tidak tetap. Penghasilan yang kadang ada kadang tidak. Arah hidup yang tidak terlihat. Kemolekan tubuh tidak lagi dirasa seiring perkembangan zaman. Waria yang lebih “kenyal” hadir tiap saat. Di masanya, Angel barangkali berjaya. Di masa kini, Angel hanya tinggal nama dan tertatih mencari bekal sebagai penyambung hidup. Caci maki yang diterima Angel membuatnya lebih tegar menjalani hidup yang dibilangnya tidak memihak. Hari-hari yang dijalani Angel lebih hampa dibandingkan hari-hari yang dijalani orang lain yang bahagia. Entah bahagia mana lagi yang dimaksudnya.


Sifat gaharnya tidak cukup menutupi kelembutan dalam dirinya. Biar Angel tidak mengejek orang, orang lain justru menempatkannya sebagai manusia tak berharga. Penghargaan seperti apa yang diinginkan Angel? Saya tidak tahu. Persepsi saya, menghargainya sebagai manusia sudah lebih dari cukup!

4 komentar:

  1. Merugi ya orang yang belum kenal angel tapi sudah cepat menjudge dan menjatuhkan.

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Kita doakan bersama mbak semoga diberi keberkahan...

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90