Top Ad 728x90

Wednesday, December 23, 2015

, , ,

Kejenuhan dan Rasa Bergelora Ingin Terbang Jauh

Resensi Buku Trinity The Naked Traveler 1 Year Round The World Trip Part 1, #TNTrtw, Sosok Trinity, Trinity Traveler Tangguh, Tips dan Trik Traveler dari Trinity


“negara tanpa orang jelek!”

Kutipan manis yang dijadikan judul sebuah artikel di dalam buku Trinity, The Naked Traveler (1 Year Round The World Trip Part 1) #TNTrtw terbitan B First - Bentang Pustaka, Yogyakarta.

Apa sih yang menarik dari buku ini? Padahal, jika dilihat dari cover, judul dan ramah-tamah lain, buku Trinity hanyalah curahan hati traveler galau yang tak tahu dilarikan ke mana. Benarkah demikian? Ternyata, ada hal lain yang lebih menarik dari sekadar kehabisan uang di negeri orang, bahkan sampai bersiteru dengan petugas imigrasi di bandara berbagai negara, sampai nangis-nangis darah nggak bisa masuk ke salah satu negara karena alasan VISA tidak diterima, atau salah mengambil antrean waktu berbelanja di supermarket yang memisahkan lansia dengan anak muda, atau keluguan si Yasmin yang menggunakan sabun mandi sebagai lotion, atau….
Buku Trinity #TNTrtw Part 1 - Photo by Bai Ruindra
Trinity termasuk penulis – travel blogger – yang paling populer di Indonesia. Sekilas, tulisannya di buku Part 1 ini memang sangat ringan sekali. Gaya anak muda yang sedang menceritakan kisah haru, suka dan duka kepada sahabatnya sepulang dari negeri asing. Namun, banyak kisah yang mengharukan bahkan lebih bermanfaat dibandingkan tutorial dari buku travel yang diterbitkan lebih detail. Trinity mengemas setiap kisah – pengalamannya – dengan kocak sehingga saya terbuai akan romantisme bahkan deg-degan saat penulis ini mengutarakan pengemudi mengendarai bus secara ugal-ugalan.

Negara tanpa orang jelek – saya ulangi lagi padahal nggak penting sih – merupakan salah satu artikel favorit saya. Artikel ini juga merupakan daya tarik pembaca selain kisah orang-orang berunderware ria di bibir pantai Brazil. Saya bisa membayangkan bagaimana wanita gemuk ini – maaf mbak ya – sampai megap-megap melihat cowok-cowok ganteng di Amerika Latin, terutama Brazil. Pemanis buku ini hadir apa adanya karena memang begitulah kenyataan di negara yang menjadikan sepakbola sebagai Tuhan itu. Kemasan kata yang diremas sekonyong-konyong menggambarkan bokong wanita di bibir pantai bersama keluarga mereka bahkan mertuanya. Perbedaan budaya dan strata sosial digambarkan dengan jenaka oleh Trinity sehingga saya tidak “membaca” sedang didikte bahwa kehidupan kita sangat jauh berbeda dengan mereka di sana. Kebudayaan Brasil – misalnya – yang tanpa malu bertelanjang dada bagi cowok ke mana-mana suka dan hanya mengenakan pakaian dalam saja bagi cewek di area terbuka, tak lain sebuah peradaban yang terjadi di sana. Seandainya Trinity memiliki postur tubuh seksi dan tinggi semampai seperti model di acara Miss Universe atau MissWorld sekalipun, wanita ini tentu akan berpikir panjang untuk berjalan-jalan dengan “underware” saja di depan umum. Catatan penting adalah budaya ketimuran yang kita pegang sangat jauh berbeda dengan mereka di Amerika.


Kisah-kisah lain yang coba dihadirkan Trinity di dalam bukunya adalah “panduan” bagi seorang traveler. Banyak “catatan kaki” yang ditemukan di dalam buku ini mengajarkan saya untuk tidak lalai saat berpergian, tidak lupa menyiapkan segala sesuatu walaupun hal itu sangat kecil sekali, memahami kultur daerah tujuan sehingga tidak ditipu banyak orang sampai pemilihan penginapan dan penghematan biaya lainnya, termasuk berburu promo tiket pesawat. Walaupun di kemudian hari nahas juga seperti harus membeli tiket lagi karena ketinggalan pesawat dan lain-lain, itulah suka dan duka yang tak pernah bisa dilupa.
Negeri Tanpa Orang Jelek - Photo by Bai Ruindra
I Cry for You, Argentina - Photo by Bai Ruindra
Trinity memulai kisah karena “jenuh” terhadap pekerjaan yang mengekangnya selama ini. Duduk manis sebagai mbak-mbak kantoran membuat wanita ini ingin segera terbang jauh ke negeri terasing. Wajar saja sebuah ambisi dicetuskan sampai meninggalkan pekerjaan yang telah menjanjikan gaji tetap. Saya pun merasakan ambang batas kejenuhan tersebut apabila rasa nyaman tak lagi dirasa. Keliling dunia adalah pilihan – walupun saya belum memikirkannya untuk saat ini. Dunia yang terbentang luas menghadirkan beragam kisah seperti orang membeli minyak wangi dalam jumlah besar, merek dagang yang berbeda, penghematan biaya dengan memasak sarapan pagi, sampai hal-hal kecil yang tak terduga dirangkai begitu “mewah” oleh Trinity.

Kepakan sayap Trinity dalam buku #TNTrtw Part 1 ini tidaklah gampang. Keliling dunia satu tahun penuh merupakan tantangan tak biasa. Tangis, tawa, bahagia berbaur menjadi satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Buku ini tidak hanya sebagai panduan perjalanan semata namun sebuah kesegaran dalam industri perbukuan Indonesia yang dihiasi oleh novel-novel romantis. Setelah membaca buku ini, saya ingin segera mengepakkan sayap ke dunia terasing. Entah untuk apa di sana. Tetapi saya ingin.
Trinity - Twitter @TrinityTraveler

Ibarat burung yang terbang jauh, suatu saat pasti akan kembali pulang ke sangkar. Trinity telah pulang kembali ke negeri di mana carut-marut terus terjadi. Bukankah menarik untuk mengikuti jejaknya? 

6 komentar:

  1. keren, dimana kita dapat menemukan bukunya? maksudnya beli

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, buku yang bagus. Di toko buku banyk lho :)

      Delete
  2. Kayaknya keren deh bukunya. Ntap!

    ReplyDelete
  3. Aku belum beli yang ini. Beli OL aja ah males ke tobuk. TFS ya udah lama nunggu seri yang #TNTrtw ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk Mbak Lina, ceritanya seru dan menarik :)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90