Top Ad 728x90

Tuesday, December 29, 2015

, ,

Janji Muara Kuin Pada Dukuh dan Panyambangan

Pasar Terapung Muara Sungai Kuin, Kalimantan Selatan, Pasar Terapung Terkenal di Banjarmasin, Dukuh, Panyambangan, Jukung, Bapanduk, Destinasi Wisata Kalsel,

Akhir 2014, dalam sebuah pejamuan tak terduga saya bertemu dengan seorang pria Banjar. Logatnya yang kental sekali membuat saya kebingungan mengartikan maksud perkataannya. Pria Banjar ini tampak sangat hati-hati memilih kata. Ucapannya selalu bermuara pada rasa syukur kepada Tuhan atas apa yang telah diterimanya. Celoteh kami berujung dari pertanyaannya mengenai Aceh yang menerapkan hukum Islam dan keingintahuan saya terhadap negeri Borneo. Pria ini antusias mendengar setiap kata yang keluar dari mulut saya. Tak pelak, saya pun tergiur dengan ceritanya tentang masyarakat Banjar yang alim agama. Saya semakin tertarik untuk mengetahui lebih banyak mengenai peradaban Banjar dan aktivitas mereka di Kalimantan.

Abdul Hadi duduk ditemani secangkir teh hangat di pelataran Malioboro, Yogyakarta. Berhadapan dengan saya yang sedang mengaduk-aduk kopi yang hampir dingin. Hiruk-pikuk di sekitar tidak membuat kami berhenti membagi cerita. Saya mengambil kesempatan untuk bertanya banyak hal karena ada alasan saya ingin sekali ke Kalimantan!
Pasar Terapung Muara Sungai Kuin, salah satu destinasi wisata Kalimantan Selatan yang ingin saya kunjungi sejak kecil. Photo by rigaah.wordpress.com
“Sejak dulu saya ingin ke Kalimantan karena Pasar Terapung!” mata Hadi tampak membulat, mungkin juga perasaan saya saja karena malam semakin beranjak larut.
“Apa yang menarik dari Pasar Terapung?” tanya Hadi.

“Eksotik!” jawab saya lugas. “Abad digital yang semuanya serba instan, masih ada lho pasar tradisional seperti itu. Saya ingin melihat, merasakan dan menikmati bagaimana proses jual-beli di atas air. Tidak mudah melakukan transaksi di antara tubuh tidak seimbang dan konsentrasi berkurang karena takut tenggelam ke sungai. Saya juga tidak habis pikir bagaimana wanita di sana begitu kuat dan telaten mendayung perahu sekecil itu yang dipenuhi barang dagangan.”

Dukuh dan Panyambangan sudah terbiasa berdagang di muara, sejak kecil pun ada yang melakoninya.” Hadi menggarisbawahi bahwa Pasar Terapung telah menjadi salah satu Destinasi Wisata Kalsel. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Kalimantan Selatan hanya ingin melihat eksotisme Pasar Terapung. Kalimantan sendiri menyimpan banyak Pasar Terapung sehingga daerah ini dijuluki sebagai daerah seribu sungai.

“Apa itu Dukuh dan Panyambangan?”
Dukuh itu gelar untuk pedagang wanita yang memasarkan dagangan sendiri atau milik tetangga di Pasar Terapung. Panyambangan adalah gelar untuk pembeli yang membeli dagangan dari Dukuh untuk dijual kembali!”
Saya terkesima. Bahkan, sebelum semuanya menjadi lebih menarik, istilah penamaan saja telah membuat saya tak ingin berangkat dari hadapan Hadi. Pria Banjar itu dengan senang hati memberikan “arahan” kepada saya yang awam dan terbelalak mengenai Pasar Terapung. Dari kecil saya telah tahu banyak tentang Pasar Terapung di Kalimantan, namun tak pernah kesampaian untuk menjejaki langkah ke sana.
Dukuh dan Panyambangan sedang terlibat transaksi di Pasar Terapung Muara Sungai Kuin - Photo by baliphotographyguide.com 
Masjid Sultan Suriansyah di Muara Sungai Kuin, salah satu masjid yang wajib saya kunjungi apabila ada kesemptan ke sini - Photo by dhannysurya.blogspot.com
Kata Hadi, salah satu Pasar Terapung yang terkenal ada di sungai Barito tepatnya muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Butuh waktu lebih kurang lima jam perjalanan darat dari kediaman Hadi untuk dapat menjangkau pasar tradisional tersebut. Benar-benar tempat yang jauh bagi saya dan tentu sangat “primitif” jika dilihat dari satu sisi. Tak berhenti sampai di situ, Hadi semakin membuat raga saya terbang di atas hutan Kalimantan bersama burung Cendrawasih karena Pasar Terapung ini tak lain pasar pagi, layaknya pasar-pasar sayur di mana-mana. Aktivitas di Pasar Terapung ini tergolong singkat dan hemat waktu. Para dukuh mulai berdatangan selepas salat Subuh dan dipastikan belum selesai pukul tujuh pagi dagangan mereka telah ludes. Jika ingin melihat aktivitas di atas sungai itu tentu saja saya harus menyetel waktu lebih cepat, atau menginap saja di muara sungai Kuin.
“Kamu akan menyaksikan keringat bercucuran di bawah sinar ultraviolet!”
Saya berdecak kagum. Hadi menggoda saya melalui barisan kalimat yang sangat mujur. Kalimat ini membawa khayalan tingkat tinggi kepada saya yang telah lama mengidam-idamkan Pasar Terapung. Sunrise yang menukik di antara riak air muara sungai Kuin, para dukuh yang menawarkan dagangan mereka, para panyambangan yang menawar dengan harga murah, sayur-mayur segar tampak bercahaya diterpa matahari pagi, jukung – sebutan untuk perahu dalam bahasa Banjar – diparkir tak teratur oleh para dukuh dan panyambangan, transaksi demi transaksi terjadi dalam waktu cepat, matahari yang menanjak semakin panas, dan tentu saja transaksi bapanduk yang masih menjadi primadona.

“Kenapa harus barter?” tanya saya galau. Mungkin karena seumur hidup saya belum pernah melakukan transaksi secara barter atau bapanduk.

“Inilah keistimewaan Pasar Terapung!” kata Hadi. Saya kok fokus pada perahu, aliran sungai, dan barang dagangan saja? Padahal bapanduk merupakan salah satu ciri khas Pasar Terapung. Para dukuh dan panyambangan melakukan bapanduk hampir di setiap transaksi. Wajar jika melihat pisang ditukar dengan sayur-mayur – misalnya.
Dukuh sedang mendayung jukung di Pasar Terapung Muara Sungai Kuin - Photo by Elly Nurul Janah via kompasiana.com
Ah, tidak sabar saya menjelajah Destinasi Wisata Kalsel setelah mendengar cerita Hadi. Terlahir sebagai masyarakat biasa, tanpa sengaja Hadi telah mempromosikan daerahnya secara cuma-cuma. Pertemuan tidak sengaja ini ternyata telah membawa Hadi sebagai duta wisata. Pasar Terapung di muara sungai Kuin akan saya jejaki setelah Garuda Indonesia terparkir dengan mulus di Banjarmasin. Maskapai penerbangan anggota SkyTeam ini akan memberikan pelayanan terbaik mereka untuk wisatawan yang ingin menjelajah Borneo, termasuk Kalimantan Selatan. Rencana boleh saja telah saya goreskan dalam sebuah catatan penting. Urusan berangkat atau tidak ke Pasar Terapung hanya tinggal menunggu waktu dan kemudahan rejeki.
Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia yang melayani rute penerbangan ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan - Photo by garudamiles.com
Pasar Terapung di negeri Borneo, tunggulah sesaat lagi!
Referensi:
Pasar Terapung Sungai Kuin https://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Kuin
Provinsi Kalimantan Selatan http://www.kalselprov.go.id/

*** 
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Wisata Kalimantan Selatan. Tertarik dengan lomba ini, klik banner di bawah ya!
lomba blog wisata kalsel

20 komentar:

  1. wah aku sudah ke sana, memang pasar terapung itu sensasinya luar biasa, tapi aku mah tertipu saat beli sawo. Di dalam kearnjang , aku beli saja satu keranjang. eh sawo yg ada di bawah kebanyakan busuk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah... kudu hati-hati ya Mbak Tira. Terima kasih telah berbagi ya :)

      Delete
  2. Dari dulu penasaran sama Pasar Terapung. Pasar Terapung yang ada di tempat wisata dekat rumah (Bandung) juga sepertinya gak sama nih sama Pasar Terapung Kalimantan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga sangat penasaran Mbak Orin, dari kecil lihat di tv rasanya kok aneh banget ya orang jualn di atas sungai.

      Delete
  3. Moga lekas bisa ke sana mas bai, pasar terpung memang unik , menarik, dan bikin siapa saja ingin ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Saya doakan Mas Tri juga bisa ke sana ya :)

      Delete
  4. Akhirnya ikut juga. Saya dulu pernah sekali ke pasar terapung di kalimantan selatan ini, emang unik banget, orangnya pada di atas kali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas Amir. Hanya sebuah keinginan ini :)

      Delete
  5. Assallammuallaikum Kanda Bai..jujur saya suka dengan artikel yang abang suguhkan ini..saya selaku Anak Banjarmasin turut bang abang mengupas habis tentang Ragam Banjar...salam persaudaraan slalu dari saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumussalam Mas Icah. Salam hangat dari Aceh ya, semoga kita bisa bersua di Pasar Terapung jika waktu mengizinkan saya ke sana :)

      Delete
  6. Kuin sekarang sudah mulai di tinggalkan dan semoga lok baintan tetep berjaya & lestari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengar-dengar begitu Mas Cum, semoga mendapat perhatian pihak terkait ya :)

      Delete
    2. Kuin masih eksis hingga skrg,, cuma pedagang nya saja yang berkurang. saya baru dr sana 2 minggu lalu..msh ada sekitar 30 an sampan/jukung & klotok yang jualan disana.

      Delete
  7. foto pasar terapung yg di share, semua nya salah..itu pasar terapung Lok Baintan, bukan pasar terapung Muara Kuin. kedua dua nya berada di sungai yg berbeda.

    dan pasar terapung Muara Kuin cuma 30 menit dari Banjarmasin, berada di sekitar area pelabuhan tanker, perusahaan kayu ( sawmill ) dll, bukan 5 jam jauh nya..dan tidak lah primitif.

    foto wanita sedang mengayuh, itu bukan lah jukung ( sampan ), tapi itu klotok bermesin. jukung pedagang pasar terapung adalah kecil dan tdk bermesin.

    mohon jika menulis ttg suatu daerah, hrs observasi dulu. agar tidak menimbulkan salah informasi ke khalayak ramai.

    selamat blog nya menang kontes ya..

    salam jalan2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mas Nas, terima kasih ya masukannya. Oh ya, keterangan setiap gambar ada di bawahnya kok, disadur dr sumbernya :)

      Delete
  8. menyadur foto orang juga harus di cek kebenaran nya, bener nggak foto dan lokasi nya. foto yg kamu sadur itu bukan foto pasar terapung Muara Kuin, tapi itu foto pasar terapung Lok Baintan.

    ReplyDelete
  9. Keren mas, selamat udah juara 1, perlu banyak-banyak minta ilmu nih. Semoga dalam waktu dekat bisa main ke Banjarmasin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, terima kasih Mas Iqbal. Semoga suatu saat saya bisa main ke sana ya :)

      Delete
  10. makasih bos infonya dan salam sukses

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90