Top Ad 728x90

Sunday, December 6, 2015

, , , ,

Sepucuk Rayuan dalam Sepiring Kerak Telur

Humor tentang Cinta di Kota Tua, Kisah Cinta di Kota Tua, Kerak Telur di Kota Tua, Kriteria pria Aceh, benarkah Pria Aceh kuat agama,


Masih di Kota Tua yang panas, saya dan Citra duduk manis setelah menghabiskan sepiring Kerak Telur dan Toge Goreng. Sebenarnya Kerak Telur itu kami makan sepiring berdua karena saya tidak habis menyantapnya. Saya ngos-ngosan menghabiskan Kerak Telur yang banyak untuk ukuran saya yang tidak banyak malah. #alah.

Kerak Telur di Kota Tua Saksi Bisu "Perjodohan" Banten dengan Aceh - Bai Ruindra
Toge Goreng yang dipesan Citra - Bai Ruindra
Penjual Kerak Telur di Kota Tua - Bai Ruindra
Kerak Telur dan Toge Goreng telah habis kami santap, kami cerita ini dan itu serta menyusun rencana ke tempat berikutnya. Sambil menunggu waktu kami diskusi soal kisah cinta yang gagal Sabari di buku Ayah dari Andrea Hirata, lalu buku-buku Trinity yang menawan karena kisah keliling dunia, kisah melankolis Ahmad Fuadi dalam Negeri 5 Menara, diksi dan kekayaan intelektual Dee dalam Gelombang, sampai tokoh-tokoh bersemak dalam buku Ayat-Ayat Cinta Habiburrahman El-Shirazy.

Belum usai kami tertawa haha hihi, seorang ibu meminta tempat duduk di depan kami. Beliau telah celingak-celinguk ke tempat lain namun telah penuh oleh pengunjung lain. Kami menyilakan perempuan yang berusia sekitar 50-an itu duduk bersama kami. Tidak tahunya, tak berselang lima menit seorang gadis ikut nimbrung bersama kami, gadis itu tak lain rekan dari perempuan yang mengenalkan namanya Fatimah. Gadis itu memanggil Ibu Fatimah dengan sebutan ummi.

Ummi Fatimah memulai perbincangan yang membuat waktu kami tertambat di sana lebih kurang setengah jam lebih.

“Abang ini dari Aceh tho?” gaya khas Ummi Fatimah yang masih saya ingat sampai sekarang. Kata Mas berubah menjadi Abang begitu mengetahui kami dari Aceh. Ummi Fatimah bercerita pernah ke Aceh dan suaminya baru saja pulang dari Aceh dalam rangka Pekan Olahraga Mahasiswa. Ummi Fatimah tak lain seorang guru yang sangat bersahaja, guru agama yang anggun, tutur kata yang lembut, sifat keibuan yang terlihat kentara sekali dengan pembawaannya, dan terlihat cukup senang berbicara dengan kami dua lajang dari Aceh!

Ummi senang sekali lho dengan anak laki-laki yang paham agama!”

Mungkin, mendengar Aceh yang telah menerapkan hukum Islam, Ummi Fatimah lantas berkesimpulan bahwa kami berdua benar-benar sangat paham sekali Islam. Padahal jika dibandingkan dengan orang-orang Aceh lainnya, saya merasa tidak ada apa-apanya. Barangkali karena di Aceh, Islam telah menjadi makanan sehari-hari, ke mana-mana adalah orang Islam, azan berkumandang lima kali sehari semalam, bulan puasa begitu istimewa, hari raya meriah sekali, dan berbagai alasan lain. Mungkin juga di daerah Ummi Fatimah yang terdapat banyak perbedaan, anak muda yang berbicara tentang Islam jadi begitu menarik sekali.

“Sudah menikah?”

Serentak saya dan Citra menjawab belum. Dalam hati saya telah dipenuhi bunga-bunga asmara segera ingin berlalu dari situ, karena soalan pernikahan itu sungguh rumit di Aceh ini. Saya menjabarkan beberapa alasan kepada Ummi Fatimah mengenai adat pernikahan di Aceh yang membuat beliau ternga-nga.


Aih! Inilah rayuan itu. Ummi Fatimah memulai sepucuk rayuannya dengan kalimat lanjutan. “Mau ndak pulang ke Banten?”

Saya dan Citra tersenyum simpul saja. Ibarat punguk merindukan bulan, pembicaraan ini menjadi simalakama. Bukan urusan menikahnya yang mudah namun jarak yang menjadi penghalang. #alasan.

Ummi Fatimah mengarahkan pandangan kepada gadis di sampingnya – saya lupa namanya siapa. #eh.

“Kamu mau ndak pulang ke Aceh?” gadis itu tertawa. Ujarnya kemudian, “Ummi ini ada-ada sajalah…,”

Mesiu senapan telah dilontarkan sekuat tenaga. Kesempatan telah dibuka selebar-lebarnya. Memang tidak terlihat si gadis menolak maupun mengiyakan, namun kisah lanjutan dari sepenggal ucapan Ummi Fatimah menggetarkan hati siapa saja yang mudah dibuai. “Dari pada abang ini mencari wanita Aceh yang mahal di mahar lebih baik kamu mau saja ndak sama pria Aceh yang kuat agamanya!”

Kepala saya tiba-tiba mau pusing. Gara-gara sepiring Kerak Telur, pucuk-pucuk asmara barangkali akan tercipta. Ummi Fatimah tak henti memuji kami berdua di depannya, seakan-akan beliau telah mengenal kami cukup lama. Di akhir pembicaraan, beliau meminta nomor handphone untuk melanjutkan silaturahmi. Rayuan Ummi Fatimah memang berlanjut di beberapa pesan singkat yang beliau kirimkan kepada kami. Saya dan Citra cekikikan di dalam bus TransJakarta. Saya tidak melupakan niat baik Ummi Fatimah kepada kedua lajang yang entah kapan kawin ini. Rayuan Ummi Fatimah untuk “meminang” salah seorang gadis di daerahnya menjadi tanda tanya terbesar dalam hidup saya sampai kini. Apakah ada gadis di luar Aceh yang mau menikah dengan saya? Pertanyaan yang kepo terhadap diri sendiri. Apabila saya utarakan pada Citra waktu itu, traveler ini pasti akan terpingkal-pingkal.

Sepucuk rayuan yang tak disengaja di Kota Tua. Tentang jodoh. Tentang pertemanan. Tentang penilaian. Tentang daerah masing-masing. Juga tentang silaturahmi sesama muslim.

17 komentar:

  1. Saya juga pernah ke Kota Tua namun tak menikmati kerang telornya sebab kurang cocok di lidah saya Mas.
    Dijajakin saja dulu Mas itu sama gadis Bantennya he3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, kebetulan ini Mas Ihwan kami mampir dan ketemu dengan si gadis banten :)

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. Kalau Jodoh pasti dipermudah.....ini ada tanda2 kemudahan dari ummi

    ReplyDelete
  3. wah gadis banten, seperti apakah dia???? manis??? senyumnya menawan hati????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seseorang yang beruntung Mbak Tira. hehehe :)

      Delete
  4. Menohok banget tuh pertanyaan mas, udah menikah belum? kalau saya jawab, belum ini lagi nunggu anak perempuan ibu, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, saya sih tidak berani menjawab demikian :)

      Delete
  5. Kalau kerak telor, nggak pernah nolak. suka banget. Tapi toge goreng? entah, ya, waktu beli rasanya masam masam gimana gitu, kayak sudah kedaluarga. nggak cucok sama rasanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya nggak rasa Mbak Zulfa, tahu-tahu udah habis dibabat teman saya itu, hehehe

      Delete
  6. saya juga ketemu jodoh di kota tua. sekarang kami sudah menikah hampir sepuluh tahun.
    kebetulan 'gadis banten' itu adalah temen saya. semoga dia juga seberuntung saya. menemukan orang yang yang tepat di waktu yang tepat di tempat yang sama dengan pengalaman saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Mari saling mendoakan ya. Pengalaman yang sangat berharga mas :)

      Delete
  7. Dulu pernah mau beli kerak telur, tapi karena antrinya banyak jadi diurungkan niatnya dan sampai sekarang lum mencicipi itu -_-

    ReplyDelete
  8. Cieee, Mas Bai...
    Dapat jodoh di Kota tua Jakarta? *Uhuk, insha allah...
    Kalau memang jodoh takkan kemana, ya. :D
    *Fokusnya cuma dijodoh. WKkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soal jodoh begitu wah memang Mbak Nur, mana tahu kan waktu berkata lain :)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90