Top Ad 728x90

Tuesday, January 19, 2016

, , ,

Ketukan Nurani Perempuan dalam Langkah Gagah

Nurani perempuan dalam tubuh laki-laki, kisah waria yang tersakiti, kisah waria di Aceh, pilunya kisah waria, kehidupan gelap waria, LGBT, LGBT, LGBT, Kisah LGBT, LGBT Haram,

Ilustrasi - medicalnewstoday.com
Hidup sempurna adalah keinginan semua orang. Saya pun demikian. Hidup bahagia bersama orang-orang yang saya dicintai dan mencintai saya apa adanya. Namun hidup yang kita inginkan tidak selamanya memihak pada keinginan. Adakalanya hidup berbalik seratus delapan puluh derajat dari harapan dan cita-cita. Sejak kecil, saya sudah merasakan bahwa hidup saya tidak akan pernah baik.
Saya tidak pernah berburuk sangka pada Tuhan yang sudah menghadirkan raga dan nyawa saya di dunia. Tuhan tentu punya rencana tersendiri untuk saya dalam mengarungi bahtera kehidupan. Gayung yang saya ayunkan di tengah lautan tak akan pernah berhenti, saya harus terus menarik ulur waktu agar perahu yang saya tumpangi tidak karam.
Terlahir dalam keluarga yang serba kekurangan membuat saya tidak bisa berkutik. Keluarga menuntut agar saya selalu mendiri semenjak dini. Ayah yang meninggal sejak saya kecil membuat saya sadar bahwa harapan hidup lebih sejahtera sudah gelap. Kami hidup di rumah sederhana, bersama Ibu dan kakak-kakak dan abang-abang saya. Sebagai bungsu saya pun tidak pernah merasakan kasih sayang dari kelima saudara saya. Kami semua seakan hidup sendiri-sendiri, kakak tertua kemudian pindah ke rumah kontrakan lain setelah menikah. Abang kedua sibuk dengan aktivitas di salah satu radio swasta di Banda Aceh. Abang ketiga sibuk dengan dunia sendiri; bahkan saya menganggap dia tak berkehidupan, setiap saat hanya di kamar, tanpa mencari kerja atau berteman dengan siapapun. Kakak keempat dan kelima juga sudah bekerja di hobi mereka masing-masing.
Tinggallah saya yang masih amburadul mencari jati diri tanpa ada yang temani. Berharap banyak pada kelima saudara saya sangat tidak elok diartikan dengan kata-kata. Waktu yang kemudian saya sadar sangat berharga saya habiskan bersama Ibu di Peunayong, kebetulan Ibu membuka toko kelontong di sana. Pulang sekolah saya habiskan waktu bersama Ibu, malamnya saya pun bersama Ibu menunggu saudara yang lain pulang. Jika sudah sangat larut, saat kami tak sanggup menunggu kami memilih tidur saling berpelukan.

Jejak Tsunami
Musibah tsunami di akhir Desember 2004 selalu menyisakan isak di setiap nafas seluruh Aceh. Begitu pun yang saya alami. Dalam musibah besar itu kami kehilangan Ibu dan toko kelontong peninggalan Ayah di Peunayong. Semuanya hancur lebur. Saya yang tidak tahu banyak masalah harta kekayaan orang tua kemudian ikut bersama keempat saudara mencari kontrakan. Saya pun tidak bertanya mengapa kami sampai pindah padahal kami masih punya rumah. Di kemudian hari saya baru sadar bahwa harta milik kami itu sudah diambil kembali oleh kerabat dekat Ayah. Sungguh naif mereka yang melakukan itu, mereka lupa bahwa Ayah dan Ibu masih punya kami sebagai hak milik yang sah peninggalan orang tua kami. Kami tak pernah mencari lagi, membuat masalah jadi masalah adalah perkara yang dihindari oleh saudara saya lainnya.
Luka tsunami ternyata membuat saya semakin larut dalam sedih, tsunami yang mengambil semua harta benda serta Ibu tak pernah membuat saya kembali ceria. Saya tertinggal sekolah dan berdiam diri di rumah. Baru tahun 2006 saya ikut ujian persamaan untuk mendapatkan ijazah setara SMA. Punya ijazah ternyata tidak cukup, saya tidak mendapatkan pekerjaan layak. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, hidup di keluarga kami nafsi-nafsi. Walau Abang nomor dua masih hidup bersama kami, namun gajinya tak lebih dari membayar kontrakan, beli beras, rekening listrik dan keperluan rumah tangga lain. Untuk uang jajan sehari-hari, saya harus mengais sendiri di sisa tsunami yang berserak!
Kemampuan saya yang pas-pasan menjadikan saya tidak mudah mendapatkan pekerjaan. Setelah lama mencari kemudian barulah saya mendapat pekerjaan yang tidak bagus; menurut banyak orang. Saya menjadi penjaga wartel (warung telepon) di kawasan Ulee Kareng. Wartel saya ini berjarak satu kilometer dari Warung Kopi khas Aceh, Kopi Ulee Kareng.
Saya pun bekerja dari pagi sampai sore. Tahun 2006 wartel masih populer di Aceh karena belum banyak orang yang menggunakan telepon seluler. Dalam sehari ada saja orang yang menggunakan wartel. Soal gaji, cukuplah untuk kebutuhan saya sehari-hari.
Dari wartel ini pula saya memulai semua yang selama ini saya pungkiri. Bermula sejak seorang polisi sering menjadi pelanggan setia wartel. Lama-kelamaan saya perhatikan polisi ganteng itu selalu menggunakan wartel hampir setiap hari. Saya jadi heran, siapa yang dia telpon setiap hari. Kami pun memulai percakapan panjang. Saya mengenal dia sebagai polisi ganteng yang sangat baik. Hari-hari pun kami lalui bersama, dia – sebut saja Wahyu – setiap siang mengantarkan nasi untuk kami santap berdua.
Sebulan lamanya kedekatan kami berujung pada hal yang tidak terduga. Wahyu mengajak saya jadian. Naluri saya yang sejak kecil memang menginginkan kedekatan yang nyata dengan laki-laki, langsung mengiyakan. Saya pun bangga bisa berhubungan sangat erat dengan polisi ganteng idaman semua perempuan. Rekan kerja saya pun meledek dengan iri, setiap saat Wahyu datang dan mengantar saya pulang rekan kerja saya selalu merengut. Saya cuek saja, karena Wahyu sudah jadi milik saya apa yang harus orang lain kejar. Memang, tidak sebanding saya dengan Wahyu, namun dari cara dan tatapan matanya saya yakin Wahyu tidak akan melepas kebersamaan kami.
Semakin lama saya mengenal Wahyu semakin tahu karakter polisi ganteng itu. Kadang Wahyu memakai kekerasan fisik bila dia sangat cemburu. Saya malah sangat penasaran, daya tarik saya jauh di bawah standar, sedangkan daya tarik Wahyu di atas rata-rata. Wahyu tetap saja polisi keras kepala, jika melihat saya berjalan dengan laki-laki lain tak pernah sekalipun Wahyu menampakkan sikap hormat. Wahyu akan mengusir dan bahkan mencaci maki teman laki-laki saya. Tak segan Wahyu menampar pipi saya di waktu lain melihat saya kembali berboncengan dengan teman laki-laki lain. Akhirnya, teman laki-laki saya pun selalu menolak saat saya ajak ke mana-mana. Alasan mereka tentu takut bermasalah dengan polisi. Benarlah, polisi menjadi penguasa di atas segala. Wahyu membuktikan keperkasaannya, tidak hanya diranjang namun di alam lingkungan nyata ketika berhadapan dengan banyak mata.
Hubungan saya dengan Wahyu tentu tidak akan bertahan selamanya. Akhir 2007, saat telepon seluler sudah membayangi kehidupan anak muda Aceh, wartel pun sepi. Lambat laun wartel gulung tikar, termasuk wartel saya. Karena saya sudah tidak di wartel dan tidak bekerja lagi, Wahyu membeli sebuah telepon seluler untuk memudahkan komunikasi kami walau sebenarnya Wahyu sudah tahu rumah kontrakan saya.
Saya menjadi semakin bebas semenjak telepon seluler menemani waktu saya. Banyak nomor baru masuk, minta kenalan dan bertemu muka. Tanpa sepengetahuan Wahyu saya pun larut dalam gemerlap malam Banda Aceh. Dunia yang sebelumnya tidak saya ketahui ternyata lebih silau di mata saya. Saya bertemu dengan banyak orang, berteman dan pacaran! Saya akui, salah telah salah karena menduakan Wahyu, namun saya pun tidak selamanya salah. Wahyu juga akan menikah dengan perempuan idamannya. Semenjak ada perempuan itu dalam kehidupan kami, Wahyu sering beralasan saat kuajak jalan, padahal sebelumnya tiada malam tanpa kami lewatkan bersama. Saya yang kesepian menerima semua ajakan pertemuan terselubung.
Pertengahan 2008, Wahyu menikah. Hati saya benar-benar perih, perempuan itu beruntung bisa dinikahi Wahyu, laki-laki idaman setiap perempuan! Ganteng, polisi, berbadan tegap berotot, putih mulus bagai patung Yunani, anak orang kaya dan dia sendiri pun sudah kaya! Semua ada dalam diri Wahyu!
Saya tak keberatan Wahyu menikah, itu jalan hidupnya. Saya dan Wahyu akhirnya putus baik-baik. Wahyu meminta maaf karena sudah membuat kecewa di hati saya. Dalam hati saya menyesal sudah menduakan Wahyu dengan banyak laki-laki. Wahyu pun meminta hubungan kami dilanjutkan saja walau dia sudah beristri, saya tidak menolak. Saya melihat mata Wahyu berkaca-kaca, polisi ganteng nan gagah itu menangis di depan saya. Saya juga menangis, di dalam hati, saya harus terlihat tegar di depan Wahyu. Jika tangisan saya meledak, artinya hubungan kami akan terus berlanjut dan dia akan mengabaikan istrinya. Dalam peluk terakhir saya merasakan damai dalam hangatnya tubuh laki-laki idaman ini. Saya harus melepas, karena saya harus!

Menjadi “Perempuan”
Bebas dari Wahyu rasanya saya seperti terbang ke mana-mana. Saya melupakan Wahyu walau rasanya tidak mudah. Semua tentang Wahyu saya buang jauh-jauh, karena sampai kiamat menjelang pun saya tidak akan bisa satu atap dengan polisi ganteng itu.
Di bulan pertama berakhiran ber, saya memulai hidup baru. Teman saya Aldi mengajak ikut bergabung dengan salah satu LSM. Saya pun bergabung dengan mereka dan mendalami ilmu yang belum pernah saya temui di bangku sekolah mana pun. Teman-teman LSM senantiasa menerima saya apa adanya, tanpa menganggap saya kurang dan tidak pula memuja saya lebih. Kami sama-sama menerima bahwa kehidupan kami memang sudah begini adanya. Keterlibatan saya di LSM ini bukanlah sebagai anggota penting, hanya anggota asal ada nama saja, jika ada kegiatan dipanggil dan jika tidak ada saya bebas melakukan kegiatan lain.
Kehidupan saya semakin kacau, Abang kedua yang sudah menjadi tulang punggung keluarga menikah, disusul kakak keempat dan kelima. Setelah menikah mereka memilih hengkang dari rumah kontrakan. Tinggallah saya bersama Abang nomor tiga yang tak punya kerja dan teman. Abang nomor dua memang sengaja menyewa rumah kontrakan agar kami bisa berkumpul dalam waktu tertentu, terutama di kedua lebaran baik Idul Fitri maupun Idul Adha.
Rumah kontrakan kami yang biasanya ramai, sunyi dari obrolan dan tentu saja kosong isi dapur. Beras memang selalu tersedia dari hasil sedekah Abang kedua. Namun untuk lauk saya harus memutar otak, tidak mungkin setiap waktu saya harus menggoreng telur.
Di 2009 saya menerima ajakan Aldi, coba-coba kerja di salon temannya. Saya yang tidak terbiasa menyalon selalu kaku memperlakukan pelanggan. Setengah tahun saya bertahan setelah itu didepak oleh pemilik salon yang selalu memandang rendah bawahannya. Apalagi penampilan saya waktu itu belum sama dengan penampilan pemilik salon dan pekerja lain. Saya masih mengenakan celana jeans dan kaus oblong seadanya, tanpa pula riasan di wajah.
Setelah tak punya pekerjaan saya kembali merana. Simpanan saya nyaris tidak pernah ada. Semua kebutuhan sehari-hari terbeban pada saya yang bekerja, Abang nomor tiga santai saja di kamar tanpa merasa ada beban berat di hidupnya. Saya kadang protes dengan sikapnya yang tidak mau berubah. Dia malah balas protes saya yang kerja di salon, katanya pekerja salon bukan orang baik-baik. Apa bedanya dengan dia yang hanya ngerem di kamar saja?
Saya tidak mau berdekat panjang lebar dengannya, lebih baik saya terima ajakan keluar malam dari nomor berbeda yang selalu mengajak kencan. Saya pun berganti pacar seminggu sekali, bosan dengan yang ganteng saya pilih yang standar, jenuh dengan yang putih saya cari yang hitam bagai malam. Rutinitas ini membawa kegembiraan tersendiri bagi saya yang tak pernah mendapatkan lagi bahagia dalam keluarga.
Siapapun laki-laki yang saya ajak berkencan selalu menyisipkan uang dalam saku saya. Aldi, yang sudah lama berkecimpung di dunia malam bersepatu high heels turut memberi saran. Di akhir 2009 saya pun mengubah penampilan menjadi berbeda. Saya bersolek, bercelana lebih ketat – tepatnya celana jeans perempuan, baju kaus oblong model perempuan, dan wig. Aldi mengajari saya banyak hal, termasuk cara menggaet pelanggan di tengah malam buta!
Waktu terus berlalu, saya pun semakin menjadi-jadi di dini hari. Waktu kerja saya lewat jam 12 malam dan berakhir di subuh. Saya pun heran dengan banyaknya pelanggan yang datang silih berganti. Umur mereka mulai dari remaja sampai orang tua. Mungkin mereka tidak puas dengan pemberian istri sehingga harus mencari servis di pekat malam. Anak-anak SMA? Entahlah, kota Banda seperti ini bagaimana dengan kota besar lain?
Penampilan saya sudah berubah, rambut pun sudah saya panjangkan sampai sebahu. Gaya yang biasanya gemulai kini sudah sangat keperempuanan. Busana yang biasanya cenderung standar sekarang sudah berani menggunakan rok mini dan tangtop. Semua butuh proses sehingga saya berani menampilkan sisi perempuan yang saya punya untuk dinikmati laki-laki jalang di tiap malam. Mereka datang, saya menyerang, beberapa lembar lima puluh ribu saya embat.
Tak lama menjadikan saya terkenal. Tempat mangkal kami sudah mengenal keelokan paras dan lekuk tubuh saya. Banyak pelanggan yang datang hanya menjumpai saya. Jika teman lain mau menerima tawaran sepuluh ribu, saya sudah terbiasa dengan angka seratus ribu.
Hal ini tidak selalu berlangsung demikian. Banda yang terkenal dengan syariat Islam, membuat kami kocar-kacir saat razia. Sisi perempuan yang sudah saya bangun sejak bermake-up tebal menjadi kembali garang saat mencopot sepatu hak tinggi. Terjaring razia sama saja kami tidak bisa lagi mencari nafkah beberapa bulan ke depan. Kami akan disetrap oleh pihak berwenang dan dikasih hukuman.
Kehidupan saya pun tidak selamanya di angka seratus ribu. Jika tidak ada pelanggan saya akan gigit jari, jika ada bisa sampai berlembar seratus ribu. Semenjak penegakan syariat Islam makin gigih, saya pun sudah curi waktu keluar malam. Beberapa teman terjaring razia dan tak kembali dalam waktu lama, mungkin mereka kapok karena dipukul sampai babak belur, mereka lebih memilih berdiam diri di salon kecantikan dan merias pelanggan.
Dan saya? Dengan kemampuan tata rias seadanya, kembali ke salon tentu tidak mudah. Teman-teman saya tidak bisa menerima dengan senang hati, mereka siap menerima jika saya punya kelebihan lebih, bukan bermodal penampilan yang serba perempuan seperti sekarang. Saya pun kembali mengalami masa sulit, malam-malam indah di tempat mangkal saya lupakan. Sekarang saya menerima orderan dari telepon masuk, jika ada.
Merenung hal ini, saya merasa alangkah baiknya jika saya benar-benar terlahir sebagai perempuan. Seandainya kehidupan ini tidak terpisah jenis kelamin. Seandainya saya bisa melangkahi kodrat. Seandainya saya…
Mungkin saya akan dinikahi Wahyu, mungkin juga tidak. Wahyu menyukaiku karena aku laki-laki.
Mungkin saya akan menikah dengan laki-laki lain, jika saya benar-benar perempuan!
Mungkin saya akan menikahi perempuan, jika saya benar-benar laki-laki dan tidak lemah serta berjiwa perempuan begini!
Tuhan punya kuasa atas ciptaanNya. Saya bahkan tidak tahu maksud Tuhan melahirkan saya sebagai laki-laki, padahal jiwa saya sangat perempuan!
***
Terima kasih Abel untuk semua cerita!
Baca juga Catatan Seorang Istri yang Tertular HIV dari Suami

4 komentar:

  1. Tuhan melahirkan umat nya dengan tujuan mulian, hidup selalu penuh cobaan dan kalo kita sanggup emlewati nya Insya Allah surga balasan nya.

    Cobaan dia adalah jiwa wanita yg terperangkap dalam tubuh lelaki, semoga dia kembali kejalan lurus mempertahankan kodrat nya sebagai mana dia di lahirkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Semoga saja dimudahkan jalanya ya Mas :)

      Delete
  2. menarik ya, tiap waria hampir memiliki kisah-kisah yang sama. tapi di cerita itu, si peran utamanya tidak berfikir untuk melakukan operasi kelamin, padahal tidak sedikit waria yang terbenak ingin melakukan operasi. Suatu jalan keluar ku rasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hati orang tidak ada yang tahu, bisa ada bisa juga tidak.

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90