Top Ad 728x90

Tuesday, January 12, 2016

, , , ,

Lima Nilai Edukasi dari Drama Korea

Lima Nilai Edukasi dari Drama Korea, Nilai Edukasi dari Drama Korea,

Jo Ji Sub dan Shin Min Ah - dramaswithasideofkimchi.wordpress.com
Pertelevisian Korea Selatan selalu menarik untuk diperbincangkan. Memang, kebanyakan orang melihat sisi “ganteng” atau “cantik” bahkan “operasi plastik” dari tokoh dalam sebuah drama. Padahal, sisi yang tak tersentuh tersebut justru lebih menarik untuk diperbincangkan.
Kenapa ya aktor Korea itu tinggi-tinggi?
Pertanyaan ini tentu saja sulit sekali dijawab oleh pisau operasi plastik. Urusan wajah mungkin saja kamar operasi menjadi sisi gelap sebelum terang. Namun untuk fisik yang bagus – atletis aka sixpack – maupun tinggi menjulang nggak bisa didapatkan dari operasi plastik semudah membalik telapak tangan. Solusinya adalah berolahraga rutin yang diperlihatkan oleh hampir semua drama. Olahraga ini merupakan salah satu nilai edukasi yang tiada tanding dari sebuah drama negeri gingseng.

Olahraga
Telah lumrah jika drama Korea dibumbui dengan lari pagi. Kesibukan orang-orang di kota besar tersebut dimulai dengan lari pagi yang memperlihatkan udara sejuk, gedung-gedung tinggi, jalanan yang rindang di bawah pohon, arena lari yang khusus disediakan oleh pemerintah setempat dan sesaknya pelari pagi. Satu sisi, drama Korea menunjukkan begitu megahnya kehidupan negara mereka, di sisi lain memperlihatkan bahwa olahraga sangat penting terutama lari di pagi hari. Drama-drama populer seperti It’s Okay That Love, Oh My Venus, Oh My Ghost sampai drama-drama yang belum saya tonton – mungkin saja – akan memperlihatkan hal yang sama.

Selain lagi pagi, olahraga lain yang seringkali ditonjolkan oleh aktor dan aktris pendukung adalah permainan bisbol. Nggak cuma di lapangan saja, aktivitas malam hari juga menampakkan bahwa kehidupan sehat selalu dibawah bayang-bayang masyarakat Korea Selatan. Contohnya A Gentlemant’s Dignity yang lebih fokus pada kisah laki-laki berumur 40 tahun yang belum menikah, sangat sering memainkan bisbol sebagai gaya hidup sehat mereka.

Bahasa Sopan
Sejauh ini, selama saya menonton film dan drama dalam negeri sampai barat, bahasa yang paling sopan saya dapatkan di drama Korea. Memang ada segelintir bahasa yang kurang sopan namun lebih banyak sisi sopannya dibandingkan tidak. Bahasa sopan – dialog – berbarengan dengan bahasa tubuh yang juga tak kalah sopan. Coba perhatikan saat sang tokoh saling tegur sapa, baik tua dengan yang muda maupun sebaya, mereka tetap membungkukkan badan dan memelankan suaranya.

Bahasa sopan lain yang jarang sekali kita temukan di drama seri dalam negeri adalah sebutan. Menurut saya, ini sangat penting sekali. Jika di drama dalam negeri, sebutan lu gue wajar sekali mau umur sama atau lebih tua dan lebih muda. Nah di drama Korea, seorang laki-laki muda tetap akan memanggil laki-laki di atasnya dengan sebutan hyung dan noona untuk perempuan lebih tua darinya. Seorang perempuan lebih muda akan memanggil perempuan lebih tua darinya dengan sebutan eonie dan oppa untuk laki-laki lebih tua darinya. Hal ini sepele, namun apakah ini sungguh sangat sopan?

Tidak Merokok
Minum soju – arak khas Korea – adalah wajar dan legal di sana. Soju tak ubah dengan air putih di kita. Namun soal rokok, sepanjang saya menonton beberapa drama populer dengan rating tinggi dan diputar di beberapa negara termasuk Indonesia, tidak menemukan aktor merokok. Ada memang segelintir drama seperti School 2015; Who Are You yang mengisahkan anak bandel namun tidak secara terang-terangan memperlihatkan sisi mereka sedang merokok. Secara tidak langsung, efeknya cukup besar kepada penonton karena sisi ini tidak main-main. Rokok di mana-mana dilarang hanya saja perokok yang bandel ingin tetap membakarnya.

Jarang Ada Kekerasan Fisik
Jangan bandingkan dengan drama seri Indonesia yang tiap malam berantem. Drama Korea bisa dikatakan “tak ada” kekerasannya. Pemukulan yang dilakukan aktor karena ada sebab dan sebentar saja bahkan ada hanya dalam satu episode saja. Contoh seperti ini lebih positif dibandingkan dengan drama yang tiap detik berantem saja bahkan dengan monster khayalan. Kekerasan fisik di drama Korea dibuang menjadi kekerasan dalam bentuk “suara” yang juga tidak serta-merta berulang kali bahkan tiap saat. Suara-suara keras yang dikeluarkan oleh aktor maupun artis karena ada sebab-akibat. Misalnya orang tua terhadap anaknya, kakak terhadap adiknya, sepasang kekasih maupun sama peran antagonis yang selalu ingin menang sendiri.

Cerita Masuk Akal
Kok drama Korea hanya 12 episode saja? Sering kali kita mendengar ocehan ini. Padahal jika dilihat kesuksesannya bisa lebih sukses dibandingkan drama yang ribuan episode. 12 atau 24 episode namun fokus pada inti cerita adalah nilai jual tersendiri dari drama Korea. Tidak ada tawar-menawar soal kesuksesan tersebut. 12 episode jika sukses ya sukses. Boys Before Flowers berapa episode coba? Atau Full House yang ceritanya mutar-mutar di rumah itu saja telah mengantarkan para pemain ke jajaran tingkat tinggi. Walaupun episode sedikit namun mereka bahkan lebih kaya raya dibandingkan dengan ribuan episode – hapus soal urusan nilai tukar rupiah.

Cerita yang masuk akal tak lain kesuksesan tersendiri dari drama Korea. Cerita masuk akal ini ditunjang oleh pemain yang tidak satu kecamatan. Cukup lima orang itu saja, misalnya, tetapi emosi kita bisa diaduk sejadi-jadinya. Tokoh antagonis membuat kita ingin mencincang tubuhnya. Tokoh baik-baik ingin segera kita peluk karena seringkali menangis. Emosinya dapat. Pesan yang disampaikan juga dapat. Mau pilih yang mana?

Nilai edukasi dalam sebuah drama sering sangatlah penting. Apakah drama seri Indonesia mau melakukan ini? Atau fokus pada cerita bertele-tele dan dunia takhayul semata? 
Catatan Seorang Istri yang Tertular HIV dari Suami
Lebih Baik Bertanya Daripada Ditinggal Pesawat

20 komentar:

  1. Korean drama lebih bernilai sih daripada sinetron indonesia

    ReplyDelete
  2. Setuju banget sama postingan ini!

    ReplyDelete
  3. Aku penyuka drakor banget. Iya banyak nilai edukasi di film-film drakor.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, banyak manfaat nonton ini drpd produk dlm negeri.

      Delete
  4. Setuju...setuju..setuju...saya juga pencinta drama korea. Drama korea yg disebutkan diatas sudah saya nonton semua kecuali Oh My Venus seh yang belum tamat. Tetapi lebih dari itu, drama korea juga selalu menampilkan tentang budi pekerti, sikap tulus yang mengalahkan kecantikan fisik, dan tentu saja keindahan negeri ginseng itu. Tetapi lebih dari itu saya paling suka dengan semangat pantang menyerah yang selalu ditampilkan tokoh utama saat mengejar mimpi mereka. Itu yang membuat saya selalu merasa iri. hehehehehe. Kunjungi blog saya juga ya di http://samaratulqalbi.blogspot.co.id

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama masih ada yang beredukasi ngapain pindah ke lain hati hehehe

      Delete
  5. Setuju semuannya *sebagai pecinta korean drama*
    Disetiap drama korea pasti selalu ada scene olahraga ataupun jalan2 sehat hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, sisi positif dr tayangan gk blm didapat dr drama yg rating tinggi di negeri kita.

      Delete
  6. setuju sama semua yang ditulis di atas Bang :)
    drama korea memang gak ada matinya *jempol*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya terkadang heran dari mana mereka dapat ide menarik itu.

      Delete
  7. Aku kok gak ngerti sama sekali ya drama korea. Gak tau kenapa. Suka bingung kalau diajak ngobrol sama orang-orang ngebahas drama korea. Apalagi kalau cewek2 udah nyebutin nama2 bintangnya yang susah banget diucapin hehehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Mas ditonton salah satu dri pilihan di atas, mana tahu tertarik menonton yg lain :)

      Delete
  8. wah aku bukan penggemar drama korea yg jelas sih pastinya lebih bagus dari sinetron kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih bermanfaat saja mbak Tira dibanding produk dalam negeri :)

      Delete
  9. betul, cerita di drama korea lebih realistis walo kadang rada lebay dgn menampilkan pria maha sempurna. buat aku sih seneng2 aja nontonnya selama pemainya keceh keceh hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, sempurna bange ya mbak dari karakter sampai fisik :)

      Delete
  10. Biasanya kekerasan fisik kalau dramanya tentang chaebol atau perebutan kekuasaan dan lebih sering dilakukan sama "orang suruhan atau kepercayaan" tapi ada juga drama korea yang memang banyak atau menggunakan kekerasan fisik, biasanya sih kalau genre drakornya lebih ke action dan historical. Disana juga banyak drakor yang 50 sampe 100 episode tapi nggak beribu-ribu juga kayak TBNH atau berseason sepanjang jalan kenangan, hehehee

    Tapi ya tetep aja drama korea lebih bagus dan lebih baik dari sinetron indonesia walau hidup tak seindah drama korea #eh #curhatcolongan :D

    Postingannya bagus dan salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak salah lagi, drama korea memang lebih mendidik dibandingkan dari negeri sendiri :)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90