Top Ad 728x90

Sunday, January 3, 2016

, , ,

Menyimak Kasus Cukur Rambut Anak Usia Sekolah

Kasus Cukur Rambut Siswa, Siswa Dicukur Rambut oleh Guru, Benarkah Tindakan Guru Mencukur Rambut Siswa,

Kedisiplinan ini telah berlangsung sejak lama!

Anda pernah mengecap bangku sekolah? Apabila Anda bersekolah sebelum era HAM berjaya, maka aksi cukur-mencukur rambut sudahlah menjadi hal wajar sekali. Namun begitu mereka yang pandai-pandai itu berdiri atas dasar Hak Asasi Manusia dan sejenisnya, maka sedikit saja Anda berlaku centil terhadap anak (siswa) maka akan diganjal hukuman penjara!

Kasus yang kembali mencuat setelah 19 Maret 2012 adalah Guru Honorer SDN Penjalin Kidul V, Majalengka, Jawa Barat. Aop Saopudin mencukur rambut empat siswa kelas III secara acak karena terlalu gondrong untuk seorang pelajar sekolah dasar. Nahasnya, salah seorang anak melapor kepada orang tua dan orang tua anak ini balas mencukur rambut guru malang tersebut bahkan mempidanakannya. Aop menerima vonis sebagai tersalah karena melanggar hak hidup tenteram seorang anak; diskriminasi, penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan terhadap anak didik. Aop kemudian diganjar 6 bulan hukuman percobaan dan tidak dibenarkan melakukan pidana, apabila berbuat pidana maka langsung dibui selama 3 bulan penjara! (detik.com, 03/01/15).
Siswa sedang serius belajar menggunakan tablet - okezone.com
Amankah menjadi guru saat ini?
Ditengah semaraknya kasus guru “dianiaya” oleh siswanya, profesi ini terasa tidak lagi berharga dibandingkan dengan sebutan “pahlawan tanpa tanda jasa”. Saya masih ingat, guru matematika membentur kepala atau memukul tangan dengan rol karena tidak bisa perkalian. Efeknya, perkalian dasar bahkan rumit kemudian dihapal dengan mudah karena rasa “takut” terhadap hukuman dari guru tersebut. Saya bahkan selalu mendoakan semoga kuburan beliau dilapangkan!
Guru tidak hanya sebatas sebagai pengajar di depan kelas. Pengajaran etika jauh lebih banyak dibandingkan teori IPA, Matematika, IPS bahkan ilmu-ilmu lainnya. Pagi sampai siang – sebagian sampai sore – adalah waktu anak bersama guru-guru mereka. Orang tua menitipkan anak ke sekolah sebagai pengganti dirinya mendidik dan mengajarkan pelajaran. Guru kemudian dikenal sebagai orang tua kedua setelah orang tua sedarah.

Lantas, berhakkah seorang guru berlagak preman seperti komentar-komentar nyaring di media sosial? Saya terlalu kecewa membaca komentar-komentar bising di media sosial yang seakan paham betul bahwa guru adalah tersalah terhadap keputusan kasus. Seperti memperlihatkan bahwa mereka tidak pernah sekolah. Ini baru terjadi di satu sekolah dan dipublikasikan media. Di sekolah-sekolah lain, entah di pelosok mana, aturan ini tetap berlaku.
Siswa stress saat belajar - kompasiana.com
Kapan?
Urusan cukur-mencukur itu tidaklah terjadi dalam sehari saja, kawan! Ada aturan main sebelum seorang guru bertindak. Semua punya aturan baku yang tak boleh dilanggar. Mulai dari kedisiplinan sampai kerapian. Tuntutan sekolah dalam kedua hal ini wajar saja karena di masa inilah pembentukan etika anak dimulai sampai mereka tumbuh dewasa. Anak condong melakukan perubahan sesuai kebiasaan di dalam kehidupan sekolahnya. Pengaruh negatif akan membawa anak ke arah yang merugikan mereka.
Salah satu aturan baku di sekolah – saya yakin di semua sekolah menerapkannya – adalah rambut tidak gondrong. Aturan ini sejalan dengan nilai-nilai kesopanan maupun agama yang diajarkan di sekolah. Walaupun aturan rambut tidak gondrong tidak tertuang secara tertulis namun pada hari Senin, hampir selalu dinasehati supaya rambut dipotong rapi. Sesekali razia rambut gondrong wajar saja karena guru menerapkan arti kedisiplinan sesuai dengan perkataan dengan perbuatan.
Salahkah guru Aop mencukur rambut siswanya?
Tidak ada sekolah bahkan guru yang membenarkan tindakan tersebut. Aturan sekolah yang menerapkan kedisiplinan tak lain untuk membuat siswa terdidik dengan benar secara batin dan fisik. Tindakan yang telah dilakukan Aop bukan tidak mungkin telah melalui proses panjang sehingga berbuntut pencukuran. Guru telah menegur, memberi arahan, bahkan berkali-kali di Senin pagi dalam upacara bendera ditegaskan mengenai kedisiplinan dan kerapian. Lantas anak berlaku semau gue itulah hasil yang telah diterima dari sekolah tanpa menyeleksi mana ilmu bermanfaat dan tidak untuk diemban. Aksi lapor-melapor ke orang tua karena anak tidak siap menerima kondisi didikan (pelajaran) dari sekolah dan orang tua pun tidak siap dan sigap. Orang tua yang egois langsung ke sekolah karena si anak manja telah menerima tindakan tidak senonoh. Lupakah orang tua bahwa mereka telah menyerahkan anak untuk dididik?

Ikut campur orang tua terhadap urusan sekolah sangat disayangkan!
Sedikit saja orang tua membela, maka anak akan keras kepala. Sepatah kata saja orang tua “membentak” guru di depan anak, maka sampai kapanpun anak tidak akan percaya lagi kepada guru dan akan mempercayai orang tua. Jika demikian, untuk apa orang tua menitipkan anak untuk dididik di sekolah?

Orang tua berada di luar pagar sebuah sekolah. Kata kasarnya, mau anak mati dipukul guru karena sebuah kesalahan fatal, orang tua hanya bisa diam. Ingatkah Anda bahwa dari pagi sampai siang guru menjaga siswa dengan sepenuh hati. Ada siswa yang sakit, belum berganti menit temannya memanggil guru maka obat seadanya langsung diberikan. Jika parah, guru dengan rela meninggalkan kelas untuk mengantar siswa ke puskesmas terdekat bahkan ke rumah orang tuanya. Siswa dilarang keluar pagar sekolah karena ada alasan. Siswa diminta langsung pulang setelah jam sekolah karena ada alasan. Tanya kenapa? Apabila terjadi sesuatu dengan siswa di jalan, bukan orang tua yang pertama dicari, namun sekolah di mana!

Kondisi orang tua yang mencukur balik dan mempidanakan Aop terlalu kritis menjadi orang tua, atau belum saatnya menjadi orang tua. Ada faktor untuk menilai anak sebelum mencari kesalahan orang lain. Sudahkah kita berkaca bahwa anak kita sendiri yang salah? Pernahkah kita mengulang waktu untuk merenung masa lalu saat-saat masih sekolah? Aturannya tetap sama. Mau kurikulum berubah berulang kali. Mau Menteri Pendidikan Anies Baswedan atau Muhammad Nuh. Mau presiden Jokowi atau SBY. Kedisplinan tetap berakar pada satu kata; sama.

Jika tidak mau anak diganjar aturan sekolah, ambil kembali dan didik sendiri! 
Terlalu keras saya menuangkan kalimat ini? Kembali lagi apa tujuan Anda mengantarkan anak ke sekolah. Tidak ada sekolah yang mencatat aturan buruk untuk diterapkan pada kedisiplinan anak. Tiap sekolah mempunyai aturan tertulis dan tidak tertulis yang patut dipatuhi turun-temurun. Tiap sekolah mempunyai kemauan untuk melahirkan anak-anak berprestasi bukan berpenampilan buruk dan awut-awutan. Sekolah bahkan mengajarkan anak untuk menikmati masa muda keemasan yang tak akan pernah terulang kembali.

Ada pula komentar, apa salah rambut gondrong?
Tidak ada yang salah. Hanya saja penerapannya belum tepat. Lepas dari sekolah silakan mau gondrong, mau gundul, mau warna-warni itulah identitas yang dinilai oleh masyarakat. Apabila masih sekolah, patuhi aturan baku yang tertulis karena Anda sedang membawa nama sekolah bukan diri sendiri. Terlebih, saat kejadian memalukan terjadi di dalam masyarakat sekolah adalah pilihan terbaik untuk ditanya.

“Cewek remaja itu kok sudah hamil?”

“Sekolah di mana dia?”

“Rambut anak cowok itu sebahu dan bau dekil!”

“Sekolah di mana dia?”

Sekolah sama dengan pendidikan. Pendidikan sama dengan moral. Moral sama dengan agama. Agama sama dengan apa?


Pilihannya, kembali kepada Anda mau dibawa ke mana generasi terbaik negeri ini. Jika sedikit saja masalah terjadi telah lapor polisi dan katanya melanggar HAM tanpa melihat kronologinya. Generasi selanjutnya adalah generasi manja yang maunya enak saja. Hasilnya? Selalu ingin makan enak dengan uang turun dari langit!
Buku adalah sumber segala ilmu - malili-tekno-software.blogspot.com
Baca juga Kurikulum Pendidikan yang Baik Untuk Anak Usia Dini

16 komentar:

  1. Meski gak pernah dicukur sama guru (ya iyalah kan cewe rambut panjang gpp :D ) tapi biasanya guru tuh memperingati dulu sebelum sembarangan nyukur. Kalau udah diperingati gak ada perubahan baru dicukur paksa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak. Walaupun ada yang refleks tetapi guru tetaplah mengambil tindakan setelah jenuh melihat sifat anak.

      Delete
  2. Saya nggak tau kasus ini tapi saya setuju kalau orang tua tidak boleh ikut campur secara membabi buta. Toh ada forum orang tua yang bisa dimanfaatkan untuk menjembatani komunikasi dengan gury.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Keputusan tergesa-gesa berakibat tidak baik untuk pendidikan Indonesia ke depan.

      Delete
  3. aku guru dan kalau ada yg melanggar itu passti sudah ada teguran dari guru yg mengajar, pasti lapor wali kelasnya. Masih belum lapor guru BP dan belum dilaksanakan perlu ada sanksi. Cuma kalau aku lihat anak sekarang itu manja dan cepat mengeluh. Kena tegur guru saja gak terima , lapor ortu malah gurunya yg dijelek2in. Kadang jadi guru serba salah ya. Lama2 kalau ortu selau ikut campur bisa2 guru nanti hanay mengajar saja tidak mendidik karena takut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua ada aturan jelas sebelum hukuman diberikan. Sebagai guru tentu lelah sekali menghadapi anak-anak yang tidak mau berubah.

      Delete
  4. Hakim yg memutuskan bersalaah juga edan, tp alhamdulillah kebenaran selalu benar. Semangat mengajar lagi kang aop

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayak gk pernah sekolah aja ya Mas Cum. Klu dimanjain terus nggak ada efek jera ni.

      Delete
  5. Ini tadi di TVone dibahas mas. Alhamdulillah hakim memihak kebenaran. Saya dahulu pas SMP juga pernah kena cukur, soalnya rambut agak panjang,hehe. Sekarang mah, kayaknya dikit2 orang tua langsung bertindak. padahal masih belum tahu mana yang salah. semoga ini bisa menjadi pelajaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mas Sandi. Guru seperti tidak ada harga lagi di mata orang tua. Kalau begini buat apa coba anak di sekolahkan?

      Delete
  6. Replies
    1. Wah.... terlambat informasi ini, hehehe :)

      Delete
  7. jadi guru itu tanggung jawabnya berat *tjurhat mantan guru :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berat sekali Mbak Kania, sayangnya apa-apa guru yang disalahkan. Waktu prestasi anak naik guru nggak dpat imbalan apa-apa. Waktu anak menang olimpiade misalnya, guru bangga orang tua malah nggak berterima kasih kepada guru yang mengajarkannya.

      Delete
  8. zaman sekolah dulu sering langganan razia rambut
    tapi gak sampe acara lapor-lapor segala

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah beda anak dulu sama sekarang ya :)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90