Top Ad 728x90

Wednesday, February 17, 2016

, , ,

Cinta di Langit Sumatera dan Jawa

Cinta Di Langit Sumatera dan Jawa, Cinta Pecah, Cinta Orang Tua Kepada Anak, Cinta Anak Kepada Orang Tua, Anak Durhaka, Orang Tua Durhaka, Anak Jahat, Orang Tua Jahat, Anak Gila Harta, Orang Tua Gila Harta, Cinta orang tua dan anak, Kasih sayang orang tua dan anak,

Cinta yang pecah - mobiter.net
Kehidupanku sudah lengkap, suami dan anak-anak serta pekerjaan mapan membuatku tak kurang suatu apapun. Ternyata Tuhan berkehendak lain, bahagia batinku terusik saat kasih sayang yang sangat aku inginkan hilang begitu saja. Aku sadar, aku tak butuh lagi kasih sayang dari orang tuaku. Aku sudah berkeluarga dan punya kehidupan berbeda dengan orang tuaku. Sebagai anak, aku masih perlu melakukan hal-hal tertentu untuk orang tuaku.

Layaknya kedekatan seorang anak dengan orang tua akan berlangsung sampai akhir zaman. Apalagi orang tuaku, khususnya Ibu punya pengaruh besar dalam masyarakat. Ibuku terkenal sebagai seorang terpandang di kota kecil kami. Ibuku merupakan seorang alim ulama yang punya pengajian rutin setiap minggu. Ibuku pula penampung permasalahan yang dialami oleh warga sekitar, kadang masalah keluarga orang lain Ibuku berperan sebagai penengah. Ibuku benar-benar sudah mendapat kedudukan yang tinggi di sisi manusia. Di sisi Tuhan tidak ada yang tahu. Ibuku masih manusia biasa, di luar orang menganggap Ibuku istimewa dalam segala, bagiku Ibuku tak lebih dari seorang perempuan yang tidak peka terhadap kehidupan kami, anak-anaknya.

Aku lahir dalam keluarga yang cukup ramai. Kami tujuh bersaudara, empat perempuan dan tiga laki-laki. Kedua orang tuaku berasal dari Jawa Timur, sudah lama merantau ke Aceh ditandai dengan semua kami lahir di Aceh. Kakak tertua sekarang sudah berumur empat puluh tahun lebih, dan adik bungsu kami baru saja tamat SMA tahun ini. Ayahku memang bukan bertransmigrasi ke Aceh waktu itu, sebagai PNS Ayah siap ditempatkan di mana saja. Kebetulan waktu itu Ayah ditempatkan di Meulaboh maka tanggung jawab itu harus dipenuhi. Awal kisah perkenalan Ayah dan Ibu pun tidak pernah aku tanyakan, sebagai anak kedua dalam keluarga besar aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temanku. Lulus di SMA Meulaboh aku pindah ke Malang, kuliah di sana sebelum kembali ke Meulaboh awal 2004.

Di masa aku masih gadis, kehidupan keluarga kami biasa-biasa saja. Konflik sekecil apapun dapat dihalau dengan mudah oleh Ayah dan Ibu. Baru akhir-akhir ini aku merasa janggal dengan sikap Ibu yang sangat berlebihan menilai kedudukan kami. Terutama padaku, Ibu seakan memandang sebelah mata apa pun yang kulakukan. Salah satu sebab, dan ini tidak pernah terucap dari ibuku karena aku menikahi laki-laki Aceh asli. Apa salahnya? Lagi pula Ayah Ibu tidak mungkin lagi kembali ke Jawa dan memulai kehidupan baru di sana. Semua anggota keluarga kami menetap di Meulaboh, kecuali kakak tertua yang memilih pindah ke Jawa dan bekerja di sana bersuami Jawa pula. Sedangkan adik-adikku yang lain, tak jauh beda denganku menghabiskan masa kuliah di Jawa sebelum pulang lagi ke tanah kelahiran. Aku menikah dengan laki-laki Aceh karena aku tidak akan pindah tempat tinggal selain di sini. Kehidupanku sudah sangat berkecukupan di tanah bekas tsunami ini.
Konflik Pertama
Sebagai orang tua wajar rasanya Ibuku membutuhkan kasih sayang dari anak-anak mereka. Ibu yang sudah tua perlu kami perhatikan setiap waktu. Tidak hanya aku yang punya kewajiban menjadikan Ibu bahagia. Kami yang tinggal di Aceh selalu menyempatkan waktu berkunjung ke rumah Ibu setiap akhir pekan. Acara keluarga yang kurasakan sering kami lakukan itu lama-kelamaan terasa sangat berbeda. Ibu selalu banyak maunya, minta ini itu, lain waktu diam saja di kamar, hari lain bahkan tak mengubris kami yang sudah capai-capai menyiapkan waktu berkumpul bersama keluarga.

Ibu selalu mencari masalah dengan kami, terutama denganku. Aku termasuk perempuan yang tomboi di masa remaja, berakhir saat kuputuskan melepas masa gadis. Aku sering berperang mulut dengan Ibu karena di mataku selalu benar apa yang kukatakan dan di mata Ibu selalu benar yang beliau utarakan. Sikap tidak mau kalah ini kemudian terlarut-larut sampai ke hari-hari tak tentu. Setiap kali aku datang, Ibu selalu mencari celah mencari perang denganku.

Sesuai kesepatan yang sudah ditetapkan tanpa syarat dan persetujuanku, setiap awal bulan aku harus melunasi kewajibanku sebagai anak. Hak wajibku tak lain adalah sekian persen dari gajiku harus masuk ke kantong Ibu. Aku terima keputusan itu tanpa bantahan. Aku harus terima. Tiap bulan aku selalu tepat waktu memberikan amplop kepada Ibu, sering pula aku melebihkan beberapa lembar tambahan diluar persen yang sudah disepakati.
Di mata Ibu, aku tetap saja masih salah. Menurut Ibu, aku tak pernah mengirimi uang jajan kepada kedua adikku yang kuliah di Jawa. Dua orang adikku memutuskan kuliah di Jawa, tinggal yang bungsu belum mau melanjutkan pendidikan dengan berbagai alasan. Kirim uang untuk adikku di Jawa diluar kesepakatan yang sudah Ibu gariskan, aku pun tidak perlu melapor jika sudah mentransfer beberapa lembar merah bergambar gedung DPR-MPR dengan Soekarno-Hatta ke adikku. Ibu tetap saja menagih, sering pula Ibu meminta beliau saja yang mengirimkan jatah ke kedua adikku tersebut.
Aku yang tidak mau didikte mulai berontak. Kuabaikan mau Ibu dan kujalani mauku. Ibu makin gesit dengan jurusnya menghadangku, perang dingin antara kami berdua akhirnya tidak bisa mereda walau Ayah sudah ikut campur. Herannya, selalu aku yang menerima limpahan rahmat amarah seorang perempuan yang kusebut itu. Aku harap maklum, adik-adikku yang lain tidak punya kelebihan rejeki seperti diriku. Aku patut bersyukur, aku PNS dan suami PNS. Gaji kami sudah lebih dari kebutuhan sehari-hari. Mengirimi untuk kedua adikku dan jatah untuk Ibu? Tentu tidak bisa kupenuhi keduanya tiap bulan.

Perang yang tak pernah berakhir itu kemudian reda saat suamiku menegur sikapku. Masih untung aku mempunyai suami yang sangat mengerti semua keinginanku. Suamiku sangat paham kondisi yang kualami. Karena suami pula aku mengalah pada Ibu. Kuikuti mau Ibu dan kuserahkan jatah bulanan untuk beliau serta jatah untuk kedua adikku di Jawa. Terkadang, saat Ibu meminta lebih dari jatah yang sudah ditentukan aku rela menahan malu meminta gaji suami. Dengan itu, hidup kami dalam sebulan bisa hanya makan seadanya tak akan seenak saat di rumah Ibu.

Masalah uang selalu jadi rumit. Aku tidak pernah berprasangka kepada Ibu, apalagi perempuan itu sudah melahirkan dan membesarkanku. Masalah yang datang bukan membuatku semakin percaya akan kealiman Ibu sebagai perempuan shalihah yang selalu mengajar agama. Aku terima Ibu mempergunakan uang yang kukasih tiap bulan untuk keperluannya sendiri dan anggota keluarga lain yang masih tinggal bersama beliau. Yang aku tidak terima, Ibu tak pernah jujur padaku dan pada suamiku yang rela berkorban untuk menenangkan hati beliau. Aku bahkan sangat takut murka terhadap orang tua, sehingga tidak mencari tahu apa yang dilakukan Ibu dengan uang pemberianku. Aku ikhlas. Aku senang jika Ibu bahagia.

Bahagiaku terenggut saat kuterima telepon dari adikku di Jawa. Aku pun menggugurkan rasa percayaku pada Ibu. Adikku sangat jarang mendesak kiriman uang dariku, kecuali saat benar-benar genting. Waktu itu adikku benar-benar sangat butuh. Yang satu perlu beli buku suruhan dosen, satu lagi akan studi lapangan. Dari sinilah perkara ketidaktahuanku terkuak. Ternyata semua uang yang kukasih ke Ibu untuk ditransfer ke kedua adikku tak pernah mereka terima. Mereka hanya mendapat jatah biasanya, yaitu jatah dari Ayah untuk mereka masing-masing tak ada tambahan lagi.

Kupukul kepala dengan ponsel yang masih panas saking lamanya kubicara dengan adikku dari Jawa. Ibu benar-benar. Jika kutanya masalah ini pada Ibu tentu akan membuat pertengkaran semakin panjang. Aku semakin tidak tenang menjadi anak durhaka. Sisi lain aku kasihan pada kedua adikku, Ibu pun tak ubah. Tiap bulan selalu minta jatah, akan marah jika kukasih terlambat dua hari. Kuminta jatah untuk kedua adik biar kukirim saja, Ibu malah mengatakan aku tidak percayai sebagai orang tua.

Aku seperti jadi tulang punggung keluarga sendiri, padahal mereka tahu aku punya keluarga kecil dan aku bukan anak tertua! Suamiku mengajarkan sabar. Sabarku berbatas waktu pada saat semua terkuak, kedua adikku di Jawa mencari tahu masalah ini. Dari mereka kuketahui Ibu sering mengirim uang untuk kakak tertua kami di Jawa.

Kakakku patut disalahkan. Kakakku ini melepas tanggung jawab semua terhadap keluarganya. Bahkan kedua adikku yang kuliah di Jawa tidak diizinakan tinggal di rumahnya, melainkan di rumah nenek kami yang sudah renta. Yang tidak bisa kumaafkan kelakuan kakakku yang mencuri jatah kedua adikku dari Ibu. Tega-teganya kakakku bersekongkol dengan Ibu masalah ini. Ibu pun mau saja mengirim uang pemberianku kepada kakakku, padahal kami sama-sama tahu kakakku sudah jadi manager sebuah perusahaan nasional di sana. 
Perhatian Ibu
Begitulah perhatian Ibu terhadap kakak tertua kami. Apa pun tak boleh menyentuh hati kakak kami itu. Kesalahan sekecil apapun yang dilakukan kakak kami selalu dibela Ibu mati-matian, dan Ayah diam saja. Kasih sayang Ibu nyata tercurah hanya kepada kakak tertua kami. Ibu seperti sangat senang dengan prestasi yang sudah didapatkan kakak kami, belum lagi suami kakak kami keturunan darah biru Jawa dan bekerja sebagai pengusaha. Ibu pasti sangat senang dengan kemapanan keluarga kakak kami, sehingga kami diabaikan.

Aku sudah terlanjur kecewa dengan sikap Ibu padaku. Kejadian pertama yang kurasa bahwa Ibu benar-benar tidak menyayangiku saat kelahiran putra kedua kami. Kondisiku yang tidak memungkin proses persalinan normal, akhirnya harus operasi. Dan tahu apa yang terjadi? Hanya beberapa menit saja Ibu lalu lalang di rumah sakit. Selebihnya Ibu langsung punya dengan berbagai alasan.

Tinggallah aku bersama suami, sesekali keluarga suami menjenguk. Aku paham rutinitas padat adik-adik suami. Seandainya kedua mertuaku masih ada mungkin aku tidak terabaikan begini. Ibu tak pernah datang lagi setelah hari aku dioperasi. Ayah sesekali menjenguk dan melihat kondisiku yang semakin membaik buru-buru pulang takut kena teguran keras Ibu. Ayah pun tak bisa berkutik dengan tingkah polah Ibu, padahal Ayah sama posisinya dengan Ibu sebagai alim ulama di kota kecil kami.

Mungkin Ibu memang punya banyak kesibukan dengan mengisi banyak pengajian dan ngaji anak-anak. Namun sikap Ibu langsung berubah saat kakak tertua minta beliau datang ke Jawa. Waktu itu kakak tertua akan melahirkan anak keempat mereka. Alasan Ibu datang ke Jawa karena kakak tertua harus ada pendamping mengingat anak-anaknya masih kecil-kecil.

Dan aku? Anakku juga masih balita saat aku melahirkan anak kedua. Kakakku bisa sedikit tenang, mertuanya masih lengkap dan berada dekat dengan mereka. Ibuku tak datang mertuanya pasti akan merawat dan menjaga kakakku. Aku bahkan sangat alpa pada kedua orang tua suamiku yang sudah tiada.
Genap sudah yang kupikirkan. Perhatian Ibu hanya untuk kakak tertua kami. Belum cukup sampai di sana, tanpa sepengetahuan kami Ibu selalu menghabiskan waktu menelpon kakak tertua menceritakan banyak hal. Masalah apapun yang dirasakan Ibu pasti akan diketahui kakakku. Kakakku tak segan pula memaki-makiku yang diketahuinya telah menyia-nyiakan Ibu. Kakakku tidak akan tahu selama dia tidak lihat apa yang kualami, dan adik-adiknya alami selama ini.
Kakakku sangat jauh di Jawa, hubungan dengan Ibu hanya lewat telepon. Sedangkan kami sangat dekat dengan Ibu, permasalahan apapun yang dialami Ibu pasti kakak tertua yang terlebih dahulu tahu. Ibu tidak pernah cerita apa-apa tentang yang dirasakannya pada kami yang dekat.

Suamiku pernah bertanya satu hal, “Sudah jarang ya Umi telepon?”

Aku yang sedang tidak bisa fokus menerima celaan bertubi-tubi dari kakak dan Ibu menjawab dengan penuh emosi, “Mana ada waktu Ibu telepon jika tanpa keperluan!”

Benar. Ibu akan telepon jika Ibu butuh bantuanku. Awal bulan saat telat kukasih jatah gajiku untuknya. Saat ibu butuh kado ke pesta pernikahan. Saat isi kulkas kosong. Saat rekening listrik bengkak. Saat pulsa telepon genggam habis. Saat-saat butuh suntikan dana itulah Ibu akan lari padaku. Di saat senang, Ibu akan cekikikan bersama kakak tertua kami di telepon tanpa batas waktu.

Perhatian Ibu sudah jelas kepada kakak tertua kami, denganku memang sering bertengkar. Dengan adik-adikku yang lain bukan tidak pernah mengalami hal yang sama, adik-adikku cenderung menuruti kemauan Ibu tanpa bantahan sekali pun. Lagi pula, ibu juga tidak akan meminta pertolongan dari adikku terlalu berat dari kepadaku 
Rumahku Bukan Rumah Ibuku
Aku sudah punya rumah sendiri, teman-temanku dan teman-teman suami sering datang berkunjung ke rumah. Pintu rumah kami pun selalu terbuka untuk tamu yang ingin singgah, walau sekadar minta air putih saja di hawa panas.

Hal yang paling menyesakkan bagiku bukan karena banyak teman yang singgah ke rumah, hal itu karena Ibuku tak pernah menginjakkan kaki di rumahku. Semenjak kuputuskan bangun rumah sendiri Ibu sudah menjaga jarak denganku. Permusuhan yang Ibu bangun tidak jelas alasannya apa. Ibu menganggapku seperti musuh dalam selimut yang patut dibasmi.

Aku membangun rumah bukan pula untuk membangga-banggakan pada semua orang aku sanggup. Rumah yang kubangun bersama suami untuk kami berteduh dan anak-anakku terhindar dari marabahaya. Seharusnya pikiran Ibu bisa mencapai taraf lebih tinggi menilai kesuksesan anaknya.
Orang-orang tidak pernah curiga dengan Ibuku. Orang-orang terlampau paham dengan kondisi Ibuku yang sangat sibuk. Ibuku menghabiskan waktu untuk ceramah agama di majelis-majelis perempuan. Logikanya, mana mungkin ada waktu Ibuku berkunjung ke rumahku?
Ibu adalah hal terindah yang pernah dimiliki oleh semua orang, jika sudah menyakiti hati Ibu maka tiada ampunan Tuhan terhadapnya. Sebaliknya, jika seorang Ibu menyakiti hati anaknya bagaimana?

Bagaimana denganku yang terlampau kecewa dengan sikap Ibu?

***

8 komentar:

  1. kisah yang menyentuh, dari hampir mirip dengan yang saya alami

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga dimudahkan langkah Mbak Rizky :)

      Delete
  2. kisahnya menyentuh...banyak juga yang mengalami seperti itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Ika, semoga bisa mencerahkan :)

      Delete
  3. Ah Ibu suka ke majelis ta'lim tapi kok begitu, ya.Ibu, tolong lah jangan buat anakmu resah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah konsep manusia tak ada yang sempurna...

      Delete
  4. Macam-macam memang masalah keluarga. Semuanya ujian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak. Semoga yg menjalaninya tabah ya!

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90