Top Ad 728x90

Sunday, February 14, 2016

, , ,

Inilah Pentingnya Ruang Publik di Sebuah Kota

Pentingnya Ruang Publik di Sebuah Kota, Ruang Publik tempat rekreasi, Ruang Publik menjaga kota kondusif, Ruang publik menandakan kota sehat, Ruang Publik adalah Kota Sehat, Kota Sehat karena ada ruang publik, Penghijauan di Ruang Publik, Ruang Publik Bagi Individu yang Konsumtif


Setiap sudut kota seharusnya mempunyai fungsi tersendiri!

Saya selalu merasa kurang nyaman begitu melihat salah satu sudut kota yang semak dan tak terurus. Jika dipantau ke sekeliling tempat yang dimaksud, bangunan megah bisa saja berdiri dengan kokoh, bahkan terdapat jalan teraspal yang melingkari tempat berbelukar ini. Pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa sudut kota ini dianaktirikan?

Kota yang baik adalah tempat yang nyaman bagi seluruh penghuninya. Setiap manusia tak lain adalah individu yang konsumtif. Dari segi ekonomi jelas sekali setiap individu membutuhkan sesuatu yang segar dan baru semisal pakaian, alat komunikasi dan lain-lain. Namun, sifat konsumtif tersebut tidak semuanya berlaku secara ekonomi saja. Kebutuhan akan udara segar, tempat yang sejuk, pikiran yang nyaman, hati yang tentram justru masuk ke dalam bagian konsumtif tersirat yang sangat dibutuhkan oleh semua orang.

Menciptakan kondisi konsumtif yang berhubungan dengan perasaan tidak mudah di tengah gempuran gedung-gedung pencakar langit. Udara segar tidak lagi bisa didapat saat knalpot kendaraan tak pernah henti. Ketenangan hidup terabaikan saat suara bising merajalela. Tempat yang sejuk tidak teridentifikasikan lagi saat pohon-pohon ditebang sesuka hati. Pola pikir tidak lagi jernih ketika asap maupun debu memerihkan mata dan menyesakkan dada.

Saya – kita – butuh tempat mengekspresikan diri dari segala kemungkinan. Kebutuhan yang beragam mesti disalurkan pada tempat yang sesuai. Kebutuhan tempat ini diperlukan untuk bersantai, berolahraga, mencari inspirasi, berdiskusi, mengenang sejarah, beribadah maupun lain-lain. Tempat tersebut adalah ruang publik yang menarik dari letak maupun gaya pembangunannya. Kata publik mengacu pada tindakan cuma-cuma atau tidak memerlukan biaya untuk mengaksesnya, dan bisa diakses oleh siapa saja tanpa memandang gender maupun usia. Kata menarik memang sangat sulit diartikan karena berkaitan dengan kemauan individu secara personal. Kata menarik lebih kepada rasa betah atau tidaknya seseorang saat berada di ruang publik yang telah diciptakan di sebuah kota. Ruang publik begitu penting bagi kelangsungan kehidupan sosial dan budaya. Kebutuhan sosial terjadi saat interaksi antar sesama individu yang saling membutuhkan. Kebutuhan budaya terjadi ketika ruang publik menyuguhkan informasi mengenai kota mulai dari sejarah sampai peradabannya.

Kebutuhan akan adanya ruang publik tertuang dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Ruang publik dimaksud dapat berupa Ruang Terbuka Hijau atau Ruang Terbuka Non Hijau. Ruang terbuka hijau berupa taman-taman atau sejenisnya, sedangkan ruang terbuka non hijau berupa bangunan-bangunan penting yang berkenaan dengan sejarah maupun kebiasaan masyarakat kota. Pemerintah mengatur mengenai ruang publik karena di sana kebutuhan alamiah mengalir deras. Udara segar tentu tidak akan didapatkan di dalam gedung bertingkat. Dinginnya alam berbeda dengan dingin di ruang berpendingin ruangan. Arena olahraga di dalam gedung tidaklah sama dengan di lapangan. Pemandangan di tempat terbuka tentu lebih menyegarkan mata dibandingkan di ruangan tertutup, walaupun telah dihiasi dengan wallpaper indah maupun bunga hidup yang diganti setiap hari.

Siahaan menjelaskan bahwa ruang publik yang ideal setidaknya menjawab hal mengenai gambaran umum dan identitas suatu kota, aktivitas dan destinasi menarik di dalam kota, ketenangan, fleksibel, tata bangunan yang menarik minat, dan kemudahan akses. Pendapat ini membenarkan kedudukan ruang publik di tengah-tengah masyarakat yang butuh informasi lebih mengenai sejarah dan kebudayaan suatu daerah. Ruang publik yang terdapat di suatu kota tidak hanya dijejaki oleh masyarakat sekitar saja tetapi wisawatan. Wisatawan justru menjadikan ruang publik sebagai tempat paling menggiurkan untuk dikunjungi. Individu yang konsumtif sangat membutuhkan ruang sebagai arena melampiaskan keingintahuan mereka.

Saya memang belum menikmati ruang publik semenarik Kota Tua di Jakarta atau kawasan Dago di Bandung. Ruang publik yang saya nikmati berulang kali ada di Banda Aceh saja. Bagi saya, kehadiran ruang publik di kota ini cukup menarik minat karena mengandung unsur agama, sejarah, budaya, kesehatan, dan ekonomi. Proporsi ruang publik di Banda Aceh cukup tepat sasaran karena memiliki peran masing-masing.

Masjid Raya Baiturrahman
Saya memasukkan Masjid Raya Baiturrahman ke dalam ruang publik karena siapapun itu bisa mengakses masjid bersejarah ini. Masjid Raya Baiturrahman selalu saja dipenuhi beragam ras tiap waktu, kecuali malam hari. Setiap pengunjung yang datang ke sini tidak hanya menunaikan ibadah saja melainkan bersantai di halaman berumput. Pengunjung bebas mengabadikan foto dari berbagai sisi masjid ini secara gratis. Aturannya hanya satu, mengenakan pakaian sopan jika memasuki area rumah ibadah ini.
masjid raya baiturrahman aceh
Masjid Raya Baiturrahman termasuk dalam ruang publik yang ramai dikunjungi orang tiap waktu - Photo by Bai Ruindra
Museum Tsunami Aceh
Tempat ini termasuk ruang publik yang tak bisa diabaikan begitu saja di Aceh. Bangunan yang dirancang oleh Ridwan Kamil termasuk salah satu bangunan termegah dan memuat saksi bisu tsunami. Pengunjung bebas mengakses informasi di dalam Museum Tsunami secara gratis. Pengunjung juga bebas bersantai di halaman, di dalam museum maupun di pelataran sambil menikmati air mengalir dan ikan-ikan berkejaran dari dalam kolam.
museum tsunami rancangan Ridwan Kamil yang megah
Kemewahan Museum Tsunami Aceh rancangan Ridwan Kamil termasuk ruang publik yang layak dikunjungi secara gratis - glory-travel.com
saksi tsunami
Salah satu bukti keganasan tsunami Aceh - Photo by Bai Ruindra
Kapal Apung
Satu-satunya ruang publik yang diciptakan secara tidak sengaja dan karena musibah adalah Kapal Apung atau PLTD Apung di Punge, Banda Aceh. Kapal Apung ini termasuk ruang publik yang begitu menarik untuk dikunjungi. Tidak hanya kapal yang terletak di antara pemukiman penduduk saja yang bisa dinikmati, taman-taman yang dibangun di halaman kapal ini justru menyejukkan mata dengan bunga warna-warni. Dari atas Kapal Apung kita bisa menikmati padatnya pemukiman penduduk di sekitar.
kapal apung bekas tsunami di aceh
PLTD Apung merupakan saksi tsunami yang merupakan ruang publik yang telah menjadi museum "pelayaran" di Aceh dan bisa dikunjungi tiap hari sesuai waktu yang telah ditentukan - hikayatbanda.com
Hutan Kota
Salah satu ruang publik yang ramah lingkungan di Banda Aceh adalah Hutan Kota yang terletak di Tibang. Hutan Kota yang dibangun berkat kerjasama dengan salah satu bank swasta menjawab tantangan mengenai kebutuhan udara segar di tengah perkotaan. Selain bunga-bunga yang selalu dibiarkan mekar, pohon-pohon lain selalu dijaga untuk tetap asri. Penghijauan di Hutan Kota sangat bagus untuk pernapasan dan bisa menenangkan pikiran dikala kalut. Angin sepoi-sepoi di antara pemandangan sejuk membuat tempat ini cocok sebagai bagian dari mencari inspirasi.
hutan kota
Jempatan di Hutan Kota BNI Banda Aceh yang menjadi favorit di kalangan mahasiswa karena tempat ini gratis dikunjungi sesuai waktu yang berlaku - Photo by Bai Ruindra
jenis bunga di hutan kota
Bunga yang ditanam di Hutan Kota BNI menambah sejuk ruang publik ini - Photo by Bai Ruindra 
Lapangan Blang Padang
Ingat olahraga, Lapangan Blang Padang jawabannya. Tidak hanya untuk berolahraga saja di lapangan ini, sejarah kelam tsunami dan perang di negeri kita juga menjadi saksi bisu di sana. Lapangan Blang Padang telah disulap menjadi bagian terpenting dalam ruang publik di Banda Aceh. Arena olahraga terdiri dari lapangan luas untuk bermain bola kaki, serta arena lari yang melukiskan nama-nama negara yang telah membantu Aceh kala tsunami. Di lapangan ini masih berdiri dengan kokoh monumen pesawat Dakota Seulawah RI-001 yang merupakan sumbangan masyarakat Aceh kepada Indonesia masa lalu.
lapangan blang padang banda aceh
Arena lari di Lapangan Blang Padang Banda Aceh yang mengukir nama-nama negara yang telah terlibat membantu Aceh semasa tsunami 2014 - maythiaputri.blogspot.com
Pesawat pertama Indonesia Seulawah RI-001 yang "terbengkalai" di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh - wikipedia.org
Warung Kopi
Salah satu ruang publik berjiwa ekonomi adalah warung kopi. Kenapa saya masukkan ke dalam artikel ini, karena Anda belum sah ke Aceh jika belum duduk di warung kopi!

Barangkali saya terlalu berlebihan mengenai ini, tetapi benarlah itu wajib. Selain citarasa kopi Aceh yang khas, duduk di warung kopi di Banda Aceh saat ini memiliki kesenangan tersendiri. Apalagi kalau bukan internet gratis. Cukup bayar secangkir kopi saja, saya bisa duduk di warung kopi dari pagi sampai malam bahkan sampai paginya lagi jika buka 24 jam. Dengan modal secangkir kopi, saya bisa akses internet sepuasnya dari laptop, smartphone atau tablet sekaligus. Saya pun bisa mengisi daya laptop, smartphone atau tablet tanpa biaya tambahan.

Warung kopi termasuk ruang publik yang tiada matinya di Banda Aceh (Aceh pada umumnya). Dari warung kopi – modal secangkir kopi – muncul ide-ide tentang masa depan; membangun organisasi, tukar pendapat mengenai tata cara mendirikan usaha, pertemuan jodoh, bahkan menyelesaikan tugas akhir kuliah. Ruang publik yang satu ini juga mudah diakses saking banyaknya dan sebagian malah buka 24 jam.
Warung kopi bagian terpenting dari ruang publik di Aceh karena beragam aktivitas dimulai dari sini - pamungkas.net
Dan, mengapa ruang publik itu sangat penting?
Karena setiap individu butuh sesuatu yang sulit saya jabarkan. Sama halnya dengan saya butuh referensi sejarah. Saya butuh tempat ibadah yang aman dan nyaman. Saya butuh arena olahraga sambil berinteraksi sosial. Saya butuh tempat dengan dihiasi bunga-bunga. Saya butuh warung kopi berfasilitas internet gratis untuk menyelesaikan dan memposting artikel ini.
Ruang publik dibutuhkan sebagai gaya hidup sehat. Sebagai gaya hidup di era teknologi tinggi. Sebagai gaya hidup yang entah apapun itu.
Ruang publik diperlukan karena tidak selamanya yang kaku itu enak dilakoni. Ruang publik tidaklah teramat kaku karena atmosfer yang dihadirkan akan berbeda. Saat olahraga di Lapangan Blang Padang di minggu pagi, mana tahu akan bertemu dengan orang Korea. Saat bersantai di teras Museum Tsunami, bisa saja bertemu dengan orang Belanda. Saat mengelilingi taman di Hutan Kota, siapa tahu ketemu dengan orang Sunda. Saat keluar dari Masjid Raya Baiturraman, mungkin saja orang Arab minta selfie dengannya. Saat menaiki tangga di Kapal Apung, bisa saja bersalaman dengan nahkoda kapal persiar dari Amerika. Saat duduk santai di warung kopi, tahu-tahu dapat email dengan isi sebuah tulisan akan dimuat media massa nasional.

Tiada yang tahu. Ruang publik tetap berada pada komposisi sebenarnya. Sekecil apapun ruang publik di sebuah kota, pastilah mempunyai manfaat di suatu masa. Percaya atau tidak, saya telah merasakannya.

Referensi:
Edy Darmawan. 2007. Peranan Ruang Publik dalam Perancangan Kota. Dokumentasi. Diponegoro University Press, Semarang. (Online, akses 27 September 2015). 
Rony Gunawan Sunaryo, dkk. Posisi Ruang Publik dalam Transformasi Konsepsi Urbanitas Kota Indonesia. Jurnal. Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. (Online, akses 27 September 2015).
James Siahaan, Ruang Publik: Antara Harapan dan Kenyataan. Jurnal. (Online, akses 27 September 2015).

5 komentar:

  1. di kota saya juga ada ruang publik, alun" paling bagus se-Indonesia, satu"nya alun" yg ada freswel.nya hehehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga dapat digunakan maksimal ya Mas :)

      Delete
  2. wah bagus2 semuanya, jadi pingin ke aceh

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90