Top Ad 728x90

Saturday, February 13, 2016

, ,

LGBT versus Valentine yang Membunuh Media Sosial

LGBT versus Valentine yang Membunuh Media Sosial, LGBT, Valentine, LGBT Haram, LGBT Halal, Valentine Haram, Valentine Halal, Facebook LGBT, Facebook Valentine, Twitter LGBT, Twitter Valentine, Google LGBT, Google Valentine, LGBT Trending Topic Facebook, LGBT Trending Topic Twitter, LGBT Trending Topic Google,

lgbt populer di facebook, twitter, google
Simbol LGBT yang mendunia - tcd.ie
Dosa besar apabila membicarakan suatu isu dalam rentang waktu terlalu sering. Di dunia nyata saja isu tersebut akan menjadi bomerang dan diingat walaupun tidak dibicarakan lagi. Di dunia maya suatu isu bahkan menjadi BOM bunuh diri yang dilempar secara tidak sengaja. Semakin sering dibagikan, sering ditulis dalam status, isu ini akan abadi tanpa disadari atau disadari sekalipun. Sebuah isu akan terindeks melalui “kode unik” menurut ilmu pasti internet dan disimpan sepanjang masa selama internet masih bisa diakses.

Memang, isu yang saat ini berkembang seakan diabaikan dan dianggap wajar dibicarakan. Bahkan, mereka yang mengaku “alim” saja telah terkena BOM waktu ini dengan membombardir yang merunut sebuah pembenaran. Alasan memerangi malah menjadi sebuah dukungan bersifat pasif. Niat update status untuk memberikan stegmen perubahan kepada orang lain bahwa yang sedang heboh itu adalah perkara salah, ternyata berdampak lebih parah dari itu. Orang-orang awam akan mencari tahu, kemudian memahami setengah-setengah dan lantas akan mempraktikkan jika enak. Orang-orang yang sedang berada dalam lingkaran ini sangat membutuhkan dukungan untuk mengenakkan kembali yang enak tersebut.
Siapa yang tidak tergiur dengan yang enak-enak itu?
LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) merupakan isu enak. Renyah seperti kerupuk kentang baru digoreng. Manis seperti apel baru dipetik. Juga pahit seperti kopi tanpa gula. Valentine juga tak kalah enaknya. Kedua isu ini selalu dikaitkan dengan kasih sayang padahal sebuah kampanye untuk menggerakkan nurani melakukan seks bebas. Para pejuang HAM yang berada di garis terdepan sampai titik penghabisan akan membela isu ini. Alih-alih memberi pemahaman berarti malah menshare isu ini tiap waktu di media sosial bahkan pada lingkungan mereka bersosialisasi.
valentine versi google
Valentine versi Google hari ini - google.co.id
google merayakan valentine
Google merayakan Valentine - google.co.id
google bagian terpenting mempopulerkan Valentine
Google bagian terpenting mempopulerkan Valentine - google.co.id
LGBT dan Valentine telah masuk ke isu krusial di media sosial. Facebook dan Twitter merupakan dua raksasa social media yang membunuh media massa yang masih lurus. Saat media massa memberitakan LGBT dan Valentine sebagai sebuah ketidakwajaran maka pendapat di media sosial tak bisa dibendung. Share pendapat dari para ahli dibeberkan dengan membawa serta kemanusiaan di dalamnya. Semua ikut campur mulai pakar psikologi, kesehatan sampai agama dengan saling melengkapi pendapat masing-masing. Para pakar berperang dengan pendapat pro dan kontra yang membuat pembaca bingung mencernanya.
Pembaca tidak semua benar menelaah sampai menyimpulkan masalah. Media sosial yang cenderung aktif menjadi daya tarik untuk mencari tahu lebih banyak. Pengguna media sosial cukup mengeklik tagar LBGT atau Valentine dan mencuit satu kata saja maka isu ini akan meledak tanpa bisa dihentikan.
Pengguna media sosial sendiri yang meledakkan BOM bernama LGBT dan Valentine. Jika share media sosial dibungkam maka isu ini tak akan pernah cepat naik ke permukaan. Isu LGBT sudah sangat lama berkembang, hanya saja belum disinari matahari dengan panas membara. Isu Valentine bahkan terlupa jika media (termasuk media massa) tidak mendengungkan berulangkali tiap Februari. Saya tidak tahu. Mereka tidak tahu jika tidak populer di media sosial karena ranah ini adalah bagian terpenting dari gaya hidup masa kini. Bahkan di pelosok yang tercakup jaringan 2G saja bisa mengakses internet dengan mudah!

Momentum inilah yang ditunggu-tunggu oleh pegiat kedua isu. Terkenal itu tidak gampang. Dikenal mudah saja namun akan divonis “jahat” di lain waktu jika berada di luar garis kebiasaan. LGBT dan Valentine sekarang telah dikenal cukup luas karena peran media sosial yang membesar-besarkannya. Valentine diidentikkan dengan kasih sayang yang rela memberikan semua hal untuk pasangannya, termasuk pasangan belum sah dalam pernikahan. Padahal kasih sayang itu adalah milik semua hari, bukan hari itu saja!

Facebook dan Twitter memasukkan “rumus” untuk menaikkan sebuah isu menjadi populer. Semakin banyak dibagikan maka semakin cepat terkenal. Tanpa perlu embel-embel pakar teknologi pun semua pengguna media sosial mengerti hal ini. Berapa kali LGBT duduk manis di trending topic – bahkan terindeks oleh mesin pencari Google. Hal ini menandakan bahwa isu ini sedang hangat, baru keluar dari oven padahal hampir gosong dikukus sekian lama.

Banyaknya tokoh masyarakat yang menggunakan media sosial untuk “berdakwah” adalah hal positif. Sayangnya sebagian tokoh yang cukup terkenal ikut mencuit mengenai LGBT dan Valentine di status mereka. Dengan kata lain sekali cuitan tokoh ini saja akan terbaca oleh indeks Facebook, Twitter dan Google. Memang tokoh terkenal dengan petuah mereka tidak berniat untuk ikut campur dan ingin menghalau isu ini. Fatalnya sebuah status tokoh hebat bisa dishare berulang kali oleh penggemarnya sehingga hashtag LGBT maupun Valentine terbantu naik ke trending kembali dengan seketika.
Siapa yang rugi dalam kedua isu ini? Siapa yang menang? Siapa yang tertawa terbahak? Media sosial tak berdampak apa-apa karena apapun isu yang sedang berkembang adalah ranah “bisnis” mereka. Isu semakin populer, artinya media sosial semakin aktif digunakan banyak orang.
Sepandai-pandainya menyimpan durian pasti akan tercium juga. LGBT dan Valentine telah lama disimpan rapat hingga saat ini membludak karena bantuan media sosial. Pernahkah tersadar untuk berhenti mencuit mengenai kedua hal ini?

***
Baca juga Sepucuk Harapan Dari Penderita Kanker Dalam I Am Hope The Movie
Baca juga Dosa Besar Halalkan Februari Merah Jambu Di Aceh

4 komentar:

  1. Setidaknya sekarang jadi makin hati-hati memperhatikan pergaulan anak-anak. Masih banyak ortu tradisional yg ga ngerti apa itu LGBT. Bahkan pengguna fb aja ada yg ga tau kepanjangan LGBT

    ReplyDelete
    Replies
    1. Satu sisi tidk baik krn akan membludak di dunia maya. Sisi lain bagus untuk edukasi. Isu ini sebenarnya tidak baik diangkat ke permukaan.

      Delete
  2. Dalam Islam itu ada istilah Khunsa (Berkelamin ganda) dan itu tidak masuk dalam katagori LGBT, kalau memiliki Biaya silakan Operasi, kalau emang tidak merasa nyaman dibilang Transgender. Padahal Transgender itu identik dengan para waria, bukan yang mengalami kelamin ganda. Yang LGB saya benar-benar tidak setuju, tapi yang trans,,,,, itu perlu evaluasi lebih lanjut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang dibenarkan jika khunsa, lihat kondisi fisiknya condong ke perempuan atau laki-laki.

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90