Top Ad 728x90

Friday, February 5, 2016

, ,

Sepucuk Harapan dari Penderita Kanker dalam I Am Hope The Movie

Sepucuk Harapan dari Penderita Kanker dalam I Am Hope The Movie, Film Kanker I Am Hope the Movie,

iam hope the movie
Pelukan hangat lelaki tua kepada anaknya yang menderita - iamhopethemovie.com
Semua orang berhak untuk hidup!

Itu sudah pasti. Nggak ada jawaban lain setelah pertanyaan tentang hidup dan mati. Demikian juga untuk urusan mereka yang hidupnya kurang beruntung. Hidup dalam penyakit tak mudah dilakoni. Kehidupan mereka tentu berbeda dengan kehidupan kita yang baik-baik saja. Bahkan kehidupan mereka yang hidup dalam penyakit seperti menjalani kehidupan abnormal. Mulai dari makan diatur, ke mana-mana nggak boleh, melakukan aktivitas berat akan membuat tubuh cepat lelah, ngopi bareng teman dibatasi, semuanya serba salah. Bagaimana jika semua ini dilakoni sejak kecil?

Mia menjadi bagian dari mereka yang kurang beruntung. Kisah Mia terekam dalam I Am Hope The Movie yang mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 18 Februari 2016.

Jauh sebelum kisah Mia menitikkan airmata Anda di depan layar kaca, kisah Munih juga datang tak jauh berbeda. Munih adalah mertua sepupu saya yang menderita kanker payudara sepuluh tahun terakhir. Awalnya Munih tidak memedulikan gatal-gatal sampai benjolan di payudaranya. Perlahan namun pasti rasa sakit itu terus dirasa sampai Munih benar-benar down. Namun apa mau dikata, semenjak suaminya menikah dengan adiknya sendiri, Munih tinggal bersama anak bungsunya yang belum mapan. Ia merahasiakan keganjalan dalam hidupnya sekian lama karena tak mau merepotkan anaknya. Ia terus melakukan aktivitas sebagai seorang guru honor tanpa mengeluh rasa sakit dalam diriya. Tiap kali merasa payudaranya sakit tak tertahan, ia akan mencari kamar kosong dan menangis sesunggukan. Itu adalah obat teramat mujarab baginya.

Waktu tak pernah bisa diajak kompromi. Dua tahun belakangan, kondisi kesehatan Munih benar-benar jatuh ke titik terendah. Ia tak bisa lagi menyembunyikan rasa sakit kepada orang lain karena tiap waktu sakit itu begitu menyiksa. Wajahnya kian pucat dan tubuhnya tak mampu lagi mencerna makanan dengan baik. Paksaan dari anaknya untuk ke rumah sakit ia jalani dengan berlinang air mata. Ke rumah sakit juga menyiksa dirinya dan keluarganya.

Tanpa ampun, dokter meneriaki waktu yang dibuang Munih secara sengaja. Kanker payudara di dalam dirinya telah sampai puncak tertinggi untuk disembuhkan. Saya tak berani mengatakan tingkat keganasan secara medis karena kondisi Munih sungguh sulit dilihat. Munih kemudian dioperasi dengan segala keterbatasan dalam dirinya. Operasi yang dilakukan berjalan normal namun tubuh Munih tak demikian. Pulang dari rumah sakit tubuhnnya melemah. Munih kembali dirujuk ke rumah sakit untuk melakukan kemoterapi. Sayangnya, kemoterapi yang dijalani Munih tidak berjalan mulus karena tubuhnya seakan-akan tak bisa merespon lagi apa yang terjadi di sekitar.

Munih bertahan, karena ia tak bisa mencabut nyawanya sendiri. Usia lima puluh tak mungkin diulang kembali ke titik awal saat ia merasa gatal-gatal di payudara. Benar dirinya salah karena terlambat berkemas. Benar dirinya tak peka karena takut merepotkan orang lain. Hingga akhirnya, impian demi impian itu usai karena ia tak mempunyai harapan untuk survive. Sakitnya, suaminya yang telah ia ceraikan, pekerjaannya yang belum jelas walaupun puluhan tahun honor, anaknya yang belum menikah. Entah bayang apalagi yang tidak bisa sirna dalam diri Munih.

Munih tetap tertatih pada harapan yang entah di mana. Harapannya kini hanya untuk melihat anaknya bersanding di pelaminan. Doa seorang ibu yang barangkali tak akan lagi bernyawa setelah hari bahagia itu tiba.

Munih dan Mia, dua wanita, dua dunia, dua harapan yang berbeda. Munih hidup di alam nyata. Mia hidup dalam sebuah film yang skenarionya ditulis oleh Adilla Dimitri dan Renaldo Samsara. Namun keduanya memiliki benang merah yang sama. Mereka berdua sama-sama ingin hidup, ingin membahagiakan orang lain!

Impian Mia menjadi balerina terkubur karena penyakit yang sama dengan ibunya telah terkandung di badan. Sang Ibu meninggal karena menderita kanker ganas. Vonis dokter menjadikan Mia patah arah dan mengaburkan mimpi-mimpinya, termasuk mengadakan sebuah pertunjukan teater.
Aku Mia, seorang pemimpi! – Mia dalam I Am Hope –
Mimpi tak pernah pudar walaupun sakit telah diderita. Mia bangkit untuk mengobati luka di hati dan raganya. Ia menjalani kemoterapi untuk menyembuhkan kanker di dalam tubuhnya. Ia menulis naskah teater Rama Sastra  dalam buaian rasa sakit tak terperi. Ia tak mau terlena dengan waktu yang membuang percuma sisa hidupnya.
Karena di mana ada keberanian, di situ ada harapan – Mia dalam I Am Hope –
Benar. Keberanian melawan waktu yang tak bisa dipecahkan misteri yang terkubur di dalamnya. Mia mengumpulkan segenap keberanian untuk mengadakan sebuah pertunjukan teater walaupun dirinya tak bisa berpikir dengan jernih. Entah siapa perempuan bernuansa pelangi yang selalu datang menyemangati jiwanya yang terlanjur terluka. Kehadiran David pun membawa angin segar dalam hidup Mia untuk terus berbenah mengarungi samudra nan luas.
Tiap kali kamu takut, kamu harus lihat ke langit – potongan kalimat Mia dalam I Am Hope –
Apakah Mia takut? Tampaknya tidak. Sakit yang ia derita hanya segelintir penghalang untuk Mia mencapai mimpi-mimpi indah. Ketakutan dalam dirinya adalah saat dia tak mampu berbuat sesuatu untuk kebaikan.
Nikmatin hidup – David dalam I Am Hope saat Mia bertanya kepadanya apa yang ia lakukan dalam keseharian –
Benarkah hidup ini harus dinikmati saja? Jawaban santai David hanya sepenggalan harapan untuk maju lebih beberapa langkah dibandingkan orang lain yang cuma selangkah.
film indonesia tentang kanker
Ketegangan Mia dan David - iamhopethemovie.com
Cerita Mia adalah cerita kita. Akhir dari sebuah cerita Mia tentu tak mengenakkan, walaupun telah melakukan kemoterapi tubuhnya tetap akan melemah sampai akhirnya tak mampu lagi menggerakkan semua sarafnya untuk berpikir jernih. Sampai pada titik itu, Mia tak akan mampu lagi menulis naskah teater bahkan bermimpi untuk menggapai cita-cita yang lain. Tak pernah bisa ditipu bahwa penderita kanker kekebalan tubuhnya semakin hari akan semakin menurun. Mia akan menemui masa itu. Tetapi sebelum masa itu tiba, dialog demi dialon Mia dengan perempuan bernuansa pelangi tak lain sebagai penghibur dan harapan untuk terus berjuang melawan keperihan. Jika pun Mia telah tiada dalam I Am Hope, itulah akhir perjalanan perih seorang penderita kanker. Tak ada tawar-menawar. Walaupun kita yang sehat bisa saja lebih cepat, namun Mia lebih menderita secara perlahan-lahan.

Tatjana Saphira akan menghadirkan Mia sebagai sosok kuat dalam melawan kanker. Cuplikan I Am Hope The Movie menggambarkan betapa perihnya kehidupan Mia di masa-masa sulit. Fachry Albar kemudian datang membawa kesegaran dan motivasi untuk Mia terus berjuang dalam diri seorang David. Tokoh-tokoh lain seperti Fauzi Baadila, Tio Pakusadewo, dan pemeran pembantu lain menawarkan suguhan manis lainnya untuk film yang disutradarai oleh Yudi Datau dan diproduseri oleh Adilla Dimitri. Alkimia Production menghadirkan tema berbeda untuk dinikmati bersama. Jika Mia telah tiada, penggalan kisahnya paling tidak akan memotivasi generasi akan datang untuk memperjuangkan mimpi-mimpi mereka meskipun halangan demi rintangan menghadang. Mia hadir dalam kisah tidak semanis madu, tetapi akhir mimpinya membawa semangat tak terbayangkan sebelum berujung bahagia.

Film ini hadir untuk tidak melupakan penderita kanker di sekitar kita. Sebuah lembaga bernama Gelang Harapan mendermakan kebaikan mereka untuk para penderita kanker. Gelang Harapan merupakan lembaga yang dibangun oleh Wulan Guritno dan kawan-kawan dalam menyegarkan harapan para penderita kanker. Semangat Wulan sama dengan semangat Mia dalam berjuang melawan kanker. Inilah waktu yang tepat untuk merealisasikan ini. Demikian juga Uplek.com yang menyediakan kolom khusus untuk film ini.

Siapkan sapu tangan, tegarkan hati menyaksikan Mia dalam I Am Hope!

9 komentar:

  1. Replies
    1. Mulai 18 Februari Mbak Tira, selamat menonton ya :)

      Delete
  2. Penasaran ya.. ga sabar nunggu filmnya mas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga penasaran bagaimana akhir kisah Mia ini mbak Ira :)

      Delete
  3. Nonton teasernya udah mengharu biru nih :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget. Filmnya nanti akan lebih seru :)

      Delete
  4. Berhak untuk hidup dan punya pasangan ... tapi aku jomblo trus ngak boleh hidup #MulaiNgelantur #GagalFokus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, selalu gagal fokus ni Mas Cum. Tapi bnr lho, semua berhak punya pasangan. Hahaha :)

      Delete
  5. The next time I read a blog, I hope that it doesnt disappoint me as much as this one. I mean, I know it was my choice to read, but I actually thought youd have something interesting to say.
    cara mengobati infeksi kulit

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90