Top Ad 728x90

Sunday, February 21, 2016

, , ,

Syair Ayat-Ayat Cinta yang Memudar Hampir Senjakala

Syair Ayat-Ayat Cinta yang Memudar Hampir Senjakala, Resensi Ayat-Ayat Cinta, Ayat-Ayat Cinta 2, Buku Islami Paling Bagus,


resensi ayat-ayat cinta
Ayat-Ayat Cinta 2 - Photo by Bai Ruindra
Aisha mungkin masih ada atau telah tiada – suara hati Fahri.

Ayat-Ayat Cinta 2 dimulai dengan getaran asmara seorang suami kepada istrinya. Cinta yang belum bisa digantikan dengan yang lain. Keperihan selalu hadir ketika ingin mengganti kedudukan wanita tercinta dengan wanita lain, walaupun bayangan semesta menghadirkan pesona-pesona wanita tak terkira.

– alangkah manis bidadariku ini, bukan main elok pesonanya, matanya berbinar-binar, alangkah indahnya, bibirnya, mawar merekah di taman surga – puisi Fahri kepada Aisha di musim salju kota Freiburg.

Sabda cinta Fahri belumlah usai. Ia masih mengarungi bahtera kesucian cinta sebelum menemukan akhir dari semua. Habiburrahman El Shirazy menawarkan pesona lain dalam Ayat-Ayat Cinta 2. Pesona ini justru menjadi cambuk dalam melahirkan novel setebal lebih kurang 696 halaman. Tak cukup sehari untuk menghabiskan buku ini. Tak ada padang pasir di novel ini. Tak ada Fahri yang tinggal di flat kecil Kairo. Tak ada pula mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang ramai seperti di Ayat-Ayat Cinta sebelumnya. Sekadar mengulang memori, saya hadirkan untuk Anda soundtrack Ayat-Ayat Cinta untuk mengulang sedikit kenangan.

Apakah cinta Fahri kepada Aisha tetap sama? Getaran nada lagu dari Rossa memang menyisakan sejuta pesona antara Fahri dan Aisha, waktu itu. Namun kebahagiaan tersebut sirna begitu membuka Ayat-Ayat Cinta 2. Tak ada Aisha yang mengalunkan cinta kepada Fahri. Hanya Fahri yang selalu mendamba cinta dalam dirinya. Fahri belum beranjak dari butiran cinta untuk Aisha walaupun waktu hampir membuatnya pudar.

Bukan tidak ada wanita lain datang mengenalkan diri atau dikenalkan kepadanya. Fahri masih belum mampu berpaling sebelum Aisha benar-benar sempurna hilang atau sempurna datang kembali. Perasaan bersalah Fahri tak bisa diganti dengan Aisha yang lain biarpun anggun seperti bidadari, kaya hampir bisa membeli seluruh dunia. Fahri yang salah membiarkan Aisha menjemput bahaya ke Palestina, melintasi Israel yang angkuh kepada dunia.

Itulah nyata. Fahri melepas kepergian Aisha ke Palestina untuk sebuah penelitian novelnya. Aisha berangkat ke Palestina bersama wartawan Amerika, Alicia. Pada November 2007 itu Aisha dan Alicia dengan gagah menepi ke Tepi Barat. Fahri terlalu egois dengan persiapan sidang akhir Ph.D di Uni-Freiburg. Aisha melayang. Tak kembali. Kabar perih datang dengan ditemukannya jasad Alicia yang hampir membusuk.
 
Kutipan Ayat-Ayat Cinta 2 - Photo by Bai Ruindra
Hati Fahri terlanjur membeku untuk memulai dari awal. Cinta itu benar-benar tidak mudah. Tiap saat adalah Aisha. Bahkan, gesekan biola Keira saat memainkan nada Viva La Vida sekonyong-konyong tangan Aisha yang menggesekkannya. Keira – si tetangga sombong dan anti Islam – teramat sering memainkan biola, bahkan di tengah malam buta. Ingatan Fahri akan Aisha terngiang tak bisa dibuang. Hati Fahri teramat perih. Satu hela napas saja tentang Aisha bisa membuatnya terkapar, bagaimana dengan sebuah nada yang teramat panjang untuk ia tutup telinga mendengarnya.

Paksaan untuk menikah lagi datang dari Ozan, orang terdekat dengan Aisha. Ozan bersama Paman Aisha, Eqbal mengenalkan Hulya yang bersaudara dekat dengan Aisha dengan perawakan hampir sama. Syaikh Utsman, guru talaqqi dari Mesir juga menyarankan hal serupa dengan mengenalkan Salma.

– Sekali nafsu itu kau manjakan, maka nafsu itu akan semakin kurang ajar dan tidak tahu diri! Jangan pernah berdamai dengan nafsu! Sekali kau berdamai, maka nafsu itu akan menginjak harga dirimu dan menjajahmu! Jangan beri kehormatan sedikit pun pada nafsumu. Perlakukan dia sebagai makhluk hina, pengkhianatan yang tidak boleh diberi ampun! – nasihat Syaikh Utsman Abdul Fatah.

Bagaimana Fahri memanjakan nafsu sedangkan ia belum tahu nasib Aisha. Permainan emosi Fahri lebih condong kepada salah langkah seperti sebelumnya. Aisha hilang di Palestina karena dirinya. Ia masih berharap Aisha kembali dengan selamat dan mereka bisa kembali membina rumah tangga bahagia. Orang lain memang menilai Fahri terlalu egois untuk membujang walaupun banyak wanita yang cocok untuknya. Paman Hulusi yang tiap saat bersamanya malah tidak menyarankan Fahri kembali menikah karena pria setengah baya ini paham betul kondisi Fahri. Paman Hulusi teramat sering mendapati Fahri menangis saat mengingat Aisha.

– Jika telah tiada akan lebih tenang. Karena belum ada kepastian, harapan itu selalu ada! – anonim.

Pada sebuah kenangan bersama Aisha, puisi Kekasih karya Paul Eluard membuat keduanya terlena semakin lama.

– agar dapat melukiskan hasratku, kekasih, taruh bibirmu seperti bintang di langit kata-katamu, ciuman dalam malam yang hidup, dan deras lenganmu memeluk daku, seperti suatu bertanda kemenangan mimpiku pun berada dalam benderang dan abadi – Paul Eluard, penyair Prancis abad ke-19.

Kenangan-kenangan bersama Aisha terus hadir dan tidak bisa dibuang oleh Fahri. Walaupun ia telah “menyendiri” ke Edinburgh, Skotlandia, Aisha hadir begitu saja dalam ingatannya. Sedikit saja ada yang sentil perihal Aisha, ia akan terlarut dalam sedih. Wajar saja Fahri bersedih karena Aisha bukanlah meninggal namun hilang di negeri zionis.

Perjalanan Fahri terus menanjak di tangga The University of Edinburgh. Fahri dipercaya oleh Profesor Charlotte sebagai pengajar tetap di kampus tersebut. Artikel-artikel ilmiah Fahri terus dipublikasikan dalam bentuk jurnal, tidak hanya di kampusnya namun juga di Turki dan di negara lain. Tidak hanya dipercaya menjadi pengajar, Fahri juga menjadi pembimbing tesis mahasiwa Cina, Ju Se yang tak lain temannya Heba, putri Tuan Taher, seorang wanita cantik yang diam-diam mengagumi Fahri.

Kang Abik mengaduk pembaca sampai ke titik sabar tertinggi. Perlahan-lahan permasalahan diangkat sampai benar-benar meledak. Hulya yang semula hanya menyukai dari jarak jauh telah mulai nekad mencuri start. Berbekal biola milik Aisha, Hulya ikut kompetisi biola dunia di Italia bersama Keira. Hulya mendapat juara kedua dan Keira juara ketiga. Sebelumnya, Fahri membantu Keira untuk dapat ikut kompetisi atas bantuan karyawannya, Nyonya Suzan dan Madam Varenka, seorang pelatih biola dunia. Keira yang membenci Islam karena ayahnya meninggal akibat bom orang Islam menganggap Fahri sebagai biang teror. Tabiat Keira diwarisi kepada Jason yang ikut-ikutan membenci Fahri – muslim. Jason lebih cepat berubah dibandingkan Keira karena sikap lembut Fahri. Keira yang tidak mengetahui bahwa malaikat penyelamat hidupnya adalah Fahri kembali menodong dengan serentetan peluru. Emosi Keira membludak saat mengetahui Jason ingin memeluk Islam.

Kedekatan Fahri dengan para tetangga semakin nyata. Brenda yang berhutang budi telah ditolong semakin baik kepada Fahri. Nenek Caterina – seorang Yahudi – tak pernah menyangka Fahri begitu baik kepadanya. Berulangkali Fahri menolong Nenek Caterina, mengantar ke tempat ibadah, membagikan makanan bahkan menyelesaikan masalah dengan anak tiri Nenek Caterina yang seorang tentara Israel. Perlahan-lahan pengetahuan Fahri mengenai Yahudi semakin membaik, termasuk satu kata dari orang Yahudi yang selalu disematkan kepada umat Islam. Amalek. Kata tersebut lebih hina dari binatang dan Fahri menerima ejekan tersebut dengan lapang dada.

Pertemuan dengan Hulya pun semakin tidak bisa dibendung. Hulya lebih berani karena baginya Aisha telah tiada.

– Kenapa sunnah Nabi terhalang oleh sebuah kerinduan tak jelas yang berlebihan? Bukankah berlebih-lebihan itu tidak baik dalam ajaran agama kita? Maafkan jika pesan ini mengganggu – pesan Hulya kepada Fahri.

Tak hanya Hulya yang berani menantang Fahri, Ibu menitipkan pesan lebih bermakna dan dalam. Ibu tentu tidak ingin Fahri berlama-lama merenung nasib hidupnya yang tidak kunjung membaik.

– Pertama, mencarinya sampai ketemu. Kalau sudah segala cara kau gunakan untuk mencarinya tapi tidak juga ketemu, itu adalah takdir. Kau harus cari Aisha yang lain! – Ibu kepada Fahri.

Resensi Ayat-Ayat Cinta - Photo by Bai Ruindra
Fahri telah mencari, berulangkali namun hasilnya nihil. Kang Abik menghadirkan sosok sabar yang teramat dalam dari seorang Fahri. Memang tidak mudah namun Fahri menunggu kepastiaan mengenai Aisha karena Ayat-Ayat Cinta itu tak pernah ada selagi Aisha belum kembali.

– Tidak sempurna ibadah seorang ahli ibadah sampai ia menikah! – Ibnu Abbas.

Apakah ibadah Fahri tidak berguna? Fahri pasrah pada keadaan dan terus menunggu sebelum perkataan Ibu membentuk rona bahagia kembali ke keadaan sebenarnya.

– Hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna; istri itu pakaian bagi suami dan suami pakaian bagi istri – Ibu kepada Fahri.

Fahri meminang Hulya karena Aisha tak kunjung tiba. Namun keputusan Fahri kali ini teramat salah. Kesalahan yang serupa pernah ia lakukan saat melepas Aisha. Kesalahan Fahri setelah menikahi Hulya karena beragam kejadian sebelumnya tidak terbaca oleh Fahri. Sabina telah menancapkan peluru secara diam-diam. Sabina mengejar Fahri ke manapun langkah gagah itu berjalan. Sabina mengemis di mana Fahri ada. Sabina yang buruk rupa sampai masuk media massa dan online karena dianggap sebagai penganggu kota nyaman tersebut. Fahri kemudian menolong Sabina dan menjadikannya pembantu rumah tangga. Tak cuma sampai di situ, Sabina bahkan memasak dengan cita rasa Aisha. Sayangnya, Fahri hanya curiga seadanya. Fahri tidak peka. Fahri terlampau bahagia bersama kedudukannya sebagai orang kaya, orang terpandang, dosen terkemuka, alim agama, dan suami setia pada Hulya. Pernikahan Fahri dengan Hulya teramat bahagia untuk diganggu. Fahri menolong orang tanpa pamrih. Uang tak lagi berharga di matanya. Ia membiaya kuliah Misbah yang hampir terbengkalai. Jason dapat bersekolah bola karena beasiswa penuh dari Fahri. Keira menang dua kompetisi biola dunia karena uluran tangan Fahri. Dan Nenek Caterina bisa kembali ke rumahnya setelah Fahri membeli rumah tersebut. Hulya membuat Fahri lupa kepada Aisha. Hingga suatu ketika, Aisha kembali dengan selamat, dalam balutan orang lain yang begitu dekat dengan Fahri.

Fahri adalah manusia sempurna. Kang Abik menjadikan Fahri tanpa cacat sedikitpun. Fahri yang sering menangis apabila mengingat Aisha hidup dalam pujian orang banyak. Bahkan debat bersama Yahudi dan Nasrani yang dipandu oleh Profesor Charlotte dimenangkan Fahri secara sempurna. Fahri alim ulama yang menguasai ilmu dunia sampai ke detailnya.

Apakah Fahri masih sempurna sebelum Paman Hulusi menegurnya?

– Saya melihat ada kesombongan dalam diri Hoca, semua mau diselesaikan dengan uang. Masalah Keira diselesaikan dengan uang. Sabina dengan uang. Nenek Caterina dengan uang. Semua dengan uang. Tapi apa hasilnya? Hanya kemubaziran belaka! Inilah jadinya kalau Hoca terperangkap cara kapitalis! – Paman Hulusi kepada Fahri.

Kang Abik menghadirkan Ayat-Ayat Cinta 2 di tengah gempuran novel populer. Ayat-Ayat Cinta lahir dengan segudang ilmu agama yang sulit dilewatkan begitu saja. Melalui Fahri, Kang Abik telah “berdakwah” dengan sempurna. Petikan hadis, ayat al-Quran bahkan kutipan dari kitab Yahudi maupun Nasrani menambah alot cerita dalam novel ini. Ayat-Ayat Cinta 2 tak lain novel terlengkap pada tahun 2015!

– Ayat-Ayat Cinta 2 ini adalah karya sastra racikan Kang Abik yang mengejutkan. Lebih berani dan dinamis. Tapi tetap sarat makna dan pesan! – Melly Goeslaw.

Dibalik kesempurnaan Ayat-Ayat Cinta 2, Kang Abik – dengan penerbit – sangat kecolongan dalam beberapa hal. Alasan ini sepatutnya tak pernah terjadi karena penulis maupun editor bekerja sama untuk menghilangkan typo – kesesuaian EYD. Misalnya, dalam percakapan hadir “aku” padahal Kang Abik menulis dari sudut pandang orang ketiga yaitu Fahri. Fahri adalah Fahri namun satu kesalahan terjadi saat Fahri menjadi Fahmi. Lantas, saat berdialog dengan Heba, malah muncul Hulya.

Kesenjangan lain adalah sosok Fahri yang teramat sempurna. Bagi saya. Entah bagi Anda. Hidup Fahri sempurna dari segala rupa. Saya bahkan bertanya-tanya apakah ada di dunia nyata yang seperti ini adanya? Sulit sekali orang “membuang” materi dalam jumlah besar untuk orang tanpa ikatan keluarga. Urusan sedekah pun seadanya saja karena hidup ini bukanlah pada hari itu saja namun pada hari-hari berikutnya yang belum tentu gagah perkasa.

Jangan pernah bermimpi setting Ayat-Ayat Cinta 2 akan selembut, sedalam, sepeka, sedetail Ayat-Ayat Cinta 1. Kota Skotlandia hanya sepenggal-penggal yang merupakan loncatan Fahri berpindah dari suatu tempat ke tempat lain. Padahal, jika lebih fokus pada setting seperti novel pertama, novel ini akan lebih nendang bagi pembaca.

Fahri telah hadir dalam fiksi. Akankah Fahri akan lahir di dekat kita?

– Jadilah muslim yang hanif, penuh cinta, dan berakhlakul karimah pada siapa saja! Itulah pesan kuat novel dahsyat ini. – Fahmi Salim, MA., Wasekjen MIUMI dan Anggota Majelis Tarjih PP. Muhammadiyah.

10 komentar:

  1. Baca postingan ini saking lengkapnya jdi merasa gak perlu beli novelnya. Makasih mas, sudah menyelematkan uang saya. Hehehehe.. salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Vita, tentu nggak semenarik membaca bukunya. Salam hangat ya :)

      Delete
  2. Setelah dulu pernah baca ayat2 cinta ke 1 dengan mbrebes mili, ok fix pengen beli yg ke 2... XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajib baca Mbak, penasaran bngt kelanjutannya :)

      Delete
  3. Asyik membacanya,detil dan mengalun banget, apalagi ada iringan Rossa. Semoga ada banyak Fahri-fahri yang mewarnai dunia ini. Saya baru membaca kisahnya sekilas dalam potongan cerita bersambung di harian Republika, tapi tidak intens hanya sesekali...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Azhar, buku ini banyak sekali manfaatnya. Ilmu agama yang beda disajikan dalam karya sastra. Selamat berburu bukunya ya :)

      Delete
  4. Baca sinopsis buku ini sudah seperti baca keseluruhan isi buku. Xixixi, gak ada penasaran lagi buat beli bukunya. :D

    Sayang banget buku ini hadir pas saya udah gak keranjingan novel. Jadinya mikir lagi kalo mau beli buku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Anisa, semoga termotivasi untuk membacanya ya. Ini hanya bagian kecil tanpa bumbu pemikat yg bikin emosi diaduk :)

      Delete
  5. Bikin resensi untuk blog memang beda dengan resensi untuk koran atau media cetak. Di blog lebih bebas, sementara di media dibatasi ruang yang sempit. Saya masih belajar bikin review model begini. Sukses, ya. Moga menang.... #Amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Media sulit ditembus dan tidak mudah berekspresi. Media cendrung formal dan enggan memuat resensi model begini. Lagi pula blog telah menjadi sarana yg paling banyak dibaca daripada media. Saya menulis resensi spt ini hanya soal rasa dn membuatnya lebih menarik dibandingkan yg dimuat media. Terima kasih ya Mas Untung :)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90