Top Ad 728x90

Wednesday, March 30, 2016

, ,

Kehidupan Kelam Anak Jalanan

Kehidupan Kelam Anak Jalanan, Anak Jalanan, Anak Jalanan Terlihat Narkoba, Narkoba Jenis Lem,

anak jalanan ngelem
Anak jalanan ngelem - bnngarut.wordpress.com
“Kami ngelemlah, Bang!” ujar paras manis di depanku.

Deru kendaraan bermotor sayup-sayup menghilang. Hanya tinggal beberapa saja yang lalu-lalang di jalan utama kota kami. Menjelang  dini hari tak ada yang lebih menarik selain hawa malam yang semakin dingin, pemandangan penjual kaki lima sedang menutup dagangan mereka, beberapa lewat dengan sepeda motor; entah pria atau wanita dengan make up tebal dan rambut terurai sambil melambai-lambaikan tangan kepada siapa saja di jalan. Dan mereka yang sedang istirahat setelah memetik gitar, mendabuh wajan plastik, menggoyang tutup botol yang disatukan dengan kayu, maupun botol minuman sehingga membentuk irama comprengan.

Satu di antara mereka yang dengan penuh nikmat merokok adalah Wahyu – nama disamarkan. Perawakan remaja umur 15 tahun ini tampak gahar dengan kulit gelap dan rahang kokoh. Sinar temaram dari lampu jalanan membuatku bisa mengamati rupa dari Wahyu. Asap rokok yang mengepul ke udara tak menutupi watak keras yang tersirat dari anak sekolahan tersebut.

“Sejak kapan kamu ngelem?” tanyaku memakai istilah mereka.

Wahyu tidak langsung menjawab. Embusan asap rokok dari puntung kedua saat bertemu denganku menimbulkkan polusi. Aku terbatuk-batuk. Wahyu cuek saja dan bahkan tak menghormati orang yang lebih tua darinya. Kehidupan di jalanan membuatnya tak bisa membedakan lagi adab dan sopan santun, mungkin demikian.

“Tiga tahun lalu!” tegas Wahyu tanpa beban. Sepertinya, kebiasaan yang Wahyu lakukan bersama mereka di sini tak lain hal yang wajar. Usia belia telah terkikis akibat konsumtif terhadap barang-barang haram yang tak biasa. Kamu pastilah tahu soal narkoba – jarum suntik, pil atau sejenisnya. Kamu tahu bahaya narkoba yang sedang mengincar generasi muda. Narkoba jenis “populer” yang sering sekali aku dan kamu lihat di televisi atau baca di internet adalah barang mahal. Mereka yang ingin mencoba dan ketagihan narkoba mau tidak mau harus mendapatkannya dengan harga tak murah. Pengguna narkoba sangat mudah dilacak dengan berbagai cara oleh pihak berwenang. Namun ini tak berlaku pada Wahyu dan mereka yang sedang bercengkrama di depanku.
Jiwa-jiwa muda ini penuh semangat. Tawa mereka membahana di balik malam. Langkah mereka masih jauh ke depan. Cita-cita dan harapan bahagia seakan-akan telah terkubur dalam sekali hirup lem plastik.
“Rasanya bedalah, Bang!” kata Wahyu seperti pernah memakai narkoba jenis sabu maupun ekstasi. Candu terhadap lem plastik selama tiga tahun membuat Wahyu tak bisa berkutik. Selain murah, orang-orang tidak tahu lem plastik ini adalah jenis “narkoba” yang lebih mematikan. Bahkan penjual tidak curiga saat Wahyu membeli lem plastik dalam jumlah banyak.

Lepas ngamen lewat pukul 12 belas malam di tempat-tempat makan populer kota kami, Wahyu dan mereka yang masih berkulit lembut itu berjejer menanti malam penuh bidadari. Tempat nongkrong mereka adalah jalanan sepi yang jarang dilalui orang-orang. Mereka mulai menghirup. Meresapi. Merasakan kelezatannya. Terkapar penuh halusinasi. Mata berkunang-kunang menahan kehikmatan sesaat yang tiada tara. Tubuh yang sedang dalam masa pertumbuhan telah rusak hanya karena “wangi” lem plastik.

“Abang mau coba nikmatnya?” tanya Wahyu santai. Aku tak bisa membayangkan bagaimana mereka terbuai dengan aroma. Hanya dengan wangi lem plastik saja mereka dapat terbuai ke langit ketujuh, bagaimana dengan narkoba sesungguhnya?

Ngamen semalam adalah untuk membeli lem plastik buat kesenangan. Wahyu mulai mendekati mereka yang sebagian telah teler. Racauan yang keluar dari mulut mereka sudah tidak teratur. Tentang cewek, guru paling cantik, guru kiler, sampai guru olahraga yang celananya sobek di selangkangan saat latihan voli. Kondisi mabuk mereka benar-benar tidak teratur, seperti berada di antara alam nyata dan khayalan. Sebagian besar berbicara “normal” dan tahu apa yang diucapkan. Berbeda dengan teler narkoba sungguhan yang lupa diri.

Aku menarik lengan Wahyu. “Sampai kapan kamu akan ngelem?”

Alah, masih muda ni, Bang. Cuma ngelem doang kok!

Aku bertaruh pada diri sendiri. Maju mundur nggak berlaku di sini. Aku sendiri, mereka dengan jumlah banyak. Lagian, informan yang memintaku ke sini menasehati untuk tidak ikut campur urusan lain selain melihat dan mendengar cerita mereka.

“Mereka lebih beringas dari harimau!” sebut informan yang bekerja di LSM tersebut.

Tak bisa kutampik. Wahyu – mereka – itu adalah brondong-brondong yang punya nyali dan tenaga besar. Dalam keadaan ngelem pun bisa menghajar orang.

Aku mundur teratur. Tingkah aneh mulai kelihatan dari mereka. Peloncoan-peloncoan ala remaja terjadi. Di antara malam yang terus merangkak, senda-gurau mereka tak lagi syahdu. Mereka memang tidak lebih sepuluh orang namun jika “banyak” dari mereka ngelem tiap malam, bagaimana setelah hari ini?

*Jenis/merek lem plastik sengaja tidak disebutkan. 

Baca juga Aku dan Kamu dalam Aroma Samsung Galaxy S7

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90