Top Ad 728x90

Tuesday, March 22, 2016

, ,

Kisah Pengemis yang Tak Tahu Malu

Kisah Pengemis yang Tak Tahu Malu, Pengemis, Peminta-minta, Pengemis Kaya Raya, Pengemis orang kaya, Hasil mengemis,

pengemis kaya raya
Ilustrasi Pengemis - harisyuliana.com
“Kasihlah, Bang!” paksa dia. Langkahnya tidak ringkih, tidak pula tampak cacat dari fisiknya yang sempurna. Usianya sekitar sepuluh tahun. Bajunya berdebu dan robek di bagian ketiak sebelah kiri, lengan kiri, dan bagian bawah kanan. Wajahnya kusam seakan-akan hanya dia saja yang “bekerja” di bawah terik matahari sampai malam.

Sebentar lagi azan magrib berkumandang di kota kami. Walaupun aturan main negeri syariat ini setiap warung kopi tutup saat azan berkumandang, hal ini tidak sepenuhnya berlaku.
Denting piring, gelas, pelayan menabur pandang ke pelanggan yang datang, penikmat warung kopi tua muda bercengkrama tanpa beban, hampir semua sibuk dengan gadget milik mereka.
Dia hanya segelintir dari mereka yang jujur saya katakan pengemis yang keluar masuk warung kopi terbuka ini. Bukan cuma dia seorang saja yang nekad memaksa orang memberikan uang kepadanya. Dia memelas tanpa henti di depan orang-orang yang sebagian besar mengabaikan kehadirannya. Namun adapula yang kasihan, menitipkan selembar seribuan untuk didoakan kemaslahatan hidupnya oleh si pengemis itu. Padahal belum tentu doa pengemis lebih mudah diterima apabila kondisi mereka lebih beruntung. Saya tidak mau berspekulasi lebih tinggi, namun banyak kok pengemis itu kaya raya!

Saya terus memerhatikan gelagat si dia yang memaksa orang-orang memberikan “sedekah” untuknya. Sesekali tangannya dibuat gemetaran di meja yang lain. Bahkan, saat sebagian orang di warung kopi ini bergegas ke kamar mandi untuk wudu’ dan menunaikan salat magrib di salah satu ruang khusus yang dijadikan musalla, dia masih sibuk mengejar-ngejar uang “halal”untuk kesejahteraan kehidupannya.

“Sikit kali abang ni kasih!” pekik dia dengan suara lebih keras. Orang-orang yang belum beranjak ke musalla ada yang tercengang, ada juga yang menganggap biasa, mungkin sudah pernah menemukan kisah yang sama.

Dia masih berdiri di dekat orang yang barusan memberikan sedekah. Orang itu awalnya tampak ikhlas, namun berbalik kesal menerima umpan dari si pengemis. Dia kelihatan frustasi karena semua orang yang sedang bersenang-senang di warung kopi ini tak merasa penderitaan darinya. Sorot mata dia penuh dendam. Badannya bergetar menahan gejolak asmara yang tak tahu dialamatkan kepada siapa. Jari-jemarinya seperti ingin menggapai-gapai sesuatu namun tak pernah terulur karena ratusan mata sedang tertuju kepadanya.

“Kau mau dapat banyak, kerjalah!” ujar seseorang di meja itu. Keributan tiba-tiba mendera. Orang-orang mulai mencibir. Air muka dia tidak lagi jernih. Wajah kecil itu ingin menangis. Saya tidak tahu siapa yang salah dalam kondisi ini. Satu sisi, kami benar bukan? Memberi sedikit tetapi ikhlas daripada memberi banyak tetapi tidak ikhlas. Apalagi jika menemukan kondisi dia dijemput sepeda motor atau mobil. Bukan perkara manis lagi untuk urusan ini. Tetapi telah masuk ke urusan manja. Siapa yang tidak mau meminta-minta apabila sehari bisa dapat sepuluh juta?

Suasana yang memungkinkan terjadi sudah. Dia dipaksa keluar warung kopi di magrib yang ricuh itu. Karyawan warung kopi tentu tidak mau tempatnya bekerja terjadi keributan karena hal sepele.

Tak berselang lima menit dia menghilang. Seorang wanita dengan anak digendong di sebelah kiri masuk tertatih. Saya menghela napas. Wanita itu usia muda, langkah masih tegap, kulit masih kencang, wajah belum kerutan. Apa yang membuatnya meminta-minta?
“Jok seudekah bacut…,” ujarnya lirih – beri sedekat sedikit –
Ironinya beberapa wanita yang baru selesai salat magrib mengeluarkan isi dompet mereka. Mungkin memahami kondisi karena sama-sama wanita. Namun bapak-bapak yang mungkin mempunyai anak juga melakukan hal yang sama. Anak-anak muda yang mempunyai saudara wanita juga memberikan sedekah kepada pengemis ini.

Tiba dia menengadahkan tangan ke meja kami, saya langsung memberikan isyarat tidak ada.
Ureung krit reujang mate!” ujarnya kasar – orang pelit cepat mati! –
Ka lom!” teman saya emosi – maksudnya terulang kembali kisah yang sama dengan anak yang barusan diusir oleh karyawan warung kopi ini.

“Di mana urat malu pengemis itu?” tanya teman saya yang lain begitu wanita pengemis itu keluar warung kopi yang kembali penuh seusai magrib. Saat itu kami telah bergantian salat magrib.

Kami semua saling pandang. Masihkah pengemis itu punya rasa malu?


Catatan dari saya; bekerjalah selagi kuat, pekerjaan halal hasilnya juga akan membawa berkah walaupun cuma selembar rupiah!

Baca Juga Aku dan Kamu dalam Aroma Samsung Galaxy S7

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90