Top Ad 728x90

Saturday, March 26, 2016

, ,

Musisi Aceh Kehilangan Kreativitas dan Penganut Plagiarisme

Musisi Aceh Kehilangan Kreativitas dan Penganut Plagiarisme, Musisi Aceh Plagiat, Lagu-lagu Aceh hasil Plagiat, Lagu-lagu Aceh, Rafly musisi Aceh, Sabirin Lamno, Firsa Agam, musisi Aceh plagiat lagu, musisi Aceh plagiat lagu India,

musisi plagiat
Proses pembuatan lagu yang lama - kapanlagi.com
Bagaimana sebuah lagu diracik sehingga memiliki nada yang begitu enak didengar? Jangan lupa proses menemukan nada-nada yang seusai not tersebut tidak mudah. Ide saja tidak cukup apabila belum paham bagaimana petikan gitar dengan irama yang matang. Bisa memetik gitar saja belum dianggap profesional dalam bermusik apabila nada-nada lagu populer saja yang dimainkan. Seorang yang mengaku musisi semestinya harus lebih bisa dari itu. Petikan nada yang berasal dari imajinasi bukan dengan menjiplak karya orang lain kemudian ditambahkan voice saja.

Kata kreatif tidak hanya melekat pada mereka yang pandai merancang bangunan atau mereka yang bersungguh-sungguh menekuni pekerjaan. Kreatif dalam bermusik dimulai dengan menemukan nada-nada yang tepat sebelum dirangkai dalam bentuk lagu utuh. Butuh proses panjang untuk memastikan nada-nada tersebut diterima oleh pendengar.

Akhir-akhir ini, masyarakat Aceh disuguhi oleh lagu-lagu maupun drama seri yang dikatakan mempunyai nilai kedaerahan. Namun sesungguhnya, lagu-lagu tersebut merupakan remake dari lagu-lagu luar – kebanyakan dari lagu-lagu India. Proses remake ini tentu “tanpa” izin dari musisi India yang bersusah payah menciptakan nada. Hak cipta untuk lagu yang diremake ini masih berada di tangan musisi India maupun rumah produksi film yang lagunya dijadikan soundtrack. Ngomongin hak cipta, perilaku musisi Aceh tentu saja salah. Kesalahannya remake yang dilakukan bukan untuk “main-main” melainkan untuk mendapatkan keuntungan. Hasil rekaman kemudian dijual, disebarkan melalui media sosial seperti Youtube dan bahkan para musisi ini mengadakan konser di berbagai daerah Aceh.

Sebuah ragu tersirat karena untuk membeli hak cipta dari musisi asli bukanlah harga murah. Belum lagi apabila lagu-lagu yang diremake merupakan lagu populer dari soundtrack film box office. Harga yang mesti ditebus oleh musisi Aceh untuk membeli hak cipta tentu tidak bermain di angka puluhan juta saja karena ranah Bollywood tetap saja dipandang industri berskala internasional – lintas negara.

Apakah lagu yang diremake oleh musisi Aceh satu dua lagu saja? Sebagian besar lagu Aceh yang saya dengar – kecuali beberapa musisi – adalah hasil plagiat!

Sadarkah musisi Aceh bahwa mereka belum kreatif? Memang, hidup enak, dikenal dan dipuja-puji oleh masyarakat merupakan sebuah hal yang wajar. Namun lepas dari itu semua, ada hak orang yang diambil dari sebuah kesuksesan. Bagaimana dengan penulis asli yang tidak tidur demi sebuah lirik? Bagaimana dengan petikan gitar musisi yang tak sekali jadi untuk menghadirkan musik asyik? Bagaimana dengan penyanyi asli yang bersusah payah merekam suara mereka sehingga dinikmati banyak orang?

Menulis sebuah lirik itu gampang karena soal cinta-cintaan semua pasti bisa! Percaya atau tidak percaya cobalah lihat buku-buku catatan pelajaran anak-anak sekolahan (SMP atau SMA). Coret-coretan mereka adalah imajinasi sebuah lirik lagu yang tak mungkin terpublikasikan. Sedangkan nada-nada untuk memperindah lirik tersebut? Inilah yang lebih rumit dari yang dibayangkan. Butuh keahlian dan filling kuat sehingga nada yang tercipta enak didengar. Aransemen yang bagus tidak lahir dari sekali duduk saja. Aransemen yang indah adalah kolaborasi banyak alat musik sehingga ketukan nadanya pas.

Dan, kita cuma memasukkan voice saja? Ini mah sama dengan karoke keras-keras sampai di dengar semua tetangga. Bedanya, karoke ini menghasilkan uang dan dikenal banyak orang.

Sebenarnya, plagiatisme adalah isu lama. Tak cuma di musik saja. Di dunia kepenulisan bahkan lebih parah. Seseorang yang suka plagiat atau menjiplak karya orang lain tentu tidak berpikir jernih untuk kreatif. Bahkan, bisa dikatakan tidak kreatif, belum sampai ke arah sana. Kreatifitas apa yang dijual oleh mereka yang menjiplak karya orang lain? Artinya bahan baku telah disediakan oleh penulis asli sedangkan penjiplak hanya menyantap saja sambil terbahak-bahak.

Aturan main dalam hal hak cipta tidak main-main. Jika ketahuan menjiplak karya orang lain dan dituntut maka kurungan 5 tahun bahkan lebih bisa saja berlaku. Belum lagi uang miliyaran rupiah yang harus ditebus karena telah mengambil “otak” orang lain demi kesenangan hidup kita saja. Ini adalah aturan main dalam hukum negara. Bagaimana dengan hukum kreatifitas yang telah saya sebutkan di awal?

Demam kehilangan kreativitas dan penganut plagiatisme dalam darah musisi Aceh telah mengakar. Musisi Aceh terkesan sangat manja dan mudah saja membajak karya orang lain selama nggak ketahuan. Sesuatu yang tidak ketahuan memang nikmat namun jangan pernah lupa bahwa gunung es bisa meledak dalam sekejap mata. Masyarakat Aceh memang tidak mencemooh walaupun mengetahui lagu-lagu tersebut hasil plagiat. Sebelum terlambat, musisi muda Aceh tak ada salahnya berbenah dan mulai kreatif melahirkan karya. Jangan pernah lupa era kejayaan Sabirin Lamno, Firsa Agam maupun Rafly yang sukses dengan aliran musik masing-masing!

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90