Top Ad 728x90

Sunday, March 13, 2016

, ,

Penyemir Sepatu dan Sepiring Nasi Goreng

Penyemir Sepatu dan Sepiring Nasi Goreng, Kisah Penyemir Sepatu, Kisah Nasi Goreng, Kisah Inspiratif,

penyemir sepatu
Penyemir sepatu - tempo.co
Malam itu, seperti biasa, bersama tiga sahabat saya duduk di sebuah warung kopi berfasilitas internet gratis. Cuaca Banda Aceh yang panas membuat kami memesan minuman dingin. Hiruk-pikuk di sekitar semakin terasa. Kebanyakan sibuk dengan smartphone mereka. Pengemis yang meminta-minta, datang dan pergi begitu saja. Soal pengemis, kami telah sepakat untuk tidak memberi walau mereka memelas. Jika harus memberi, semua harus dikasih. Sudah tidak terhitung pengemis yang datang silih berganti.

Tiba pada seorang anak usia sekitar sepuluh tahun. Tangannya menenteng kotak persegi panjang. Badannya sedikit membungkuk karena beban yang dipikul. Matanya celingak-celinguk ke bawah meja. Kepalanya tunduk hormat pada siapa saja yang disapa. Tampaknya, anak itu sedang menawarkan sesuatu.

Langkah kaki anak itu terhenti di samping saya. Wajah yang kusut, pakaian yang lusuh, dan sandal jepit usang, menyapa dengan suara yang terdengar lebih berat dari usianya.

"Mau semir sepatu, Bang?"  

"Maaf, saya tidak memakai sepatu kulit, Dek," jawab saya sambil memperlihatkan sepatu sport warna putih kepadanya. Dua sahabat saya adalah wanita dan seorang pria juga tidak mengenakan sepatu kulit.

"Oh, tidak apa-apa, Bang," anak itu tersenyum.

"Kamu sudah makan, Dek?" tenya Erni.

"Belum, Kak," jawab anak itu polos.

"Kamu mau makan apa?" lanjut Erni.

Anak itu tampak bingung.

"Duduk saja," saya menarik kursi untuknya lalu memanggil pelayan.

"Kamu boleh pesan apa saja," kata Lia yang duduk berhadapan dengan anak itu.

"Makan sampai kamu kenyang ya," ujar Topan tak mau ketinggalan.

Anak itu tidak berani memesan sesuatu. Kami sepakat untuk memesan sepiring nasi goreng dan segelas juice alpokat.

Kami mulai mengobrol sambil menunggu pesanan datang. Anak itu menceritakan kesehariannya. Tinggal di panti asuhan membuatnya berpikir keras untuk tidak manja. Sekolah memang gratis tetapi untuk hidup mandiri – Ahmad, sebut saja namanya demikian karena saya lupa nama aslinya – harus bekerja. Ia mengatakan tidak mempunyai keahlian khusus. Seorang yang tidak ia kenal memberikan sekotak peralatan semir sepatu kepadanya dua tahun lalu. Orang itu berpesan untuk menjauhi sifat meminta-minta.

Ahmad cukup senang diajak bicara. Katanya, baru malam itu ia mendapat tawaran makan enak. Biasanya Ahmad hanya menyemir dengan imbalan tak lebih dari sepuluh ribu untuk sepasang sepatu. Selesai menyemir dan menerima upah, ia akan berkeliling lagi ke tempat yang lain. Tak pernah sekalipun ia berpikir untuk membeli makanan enak. Ia ingin menabung untuk masa depan. Ia berpikir bahwa tidak selamanya berada di panti asuhan. Ketika dewasa ia harus berjuang seorang diri dalam mencari nafkah. Tabungan yang telah dikumpulkannya akan dijadikan bekal untuk masuk perguruan tinggi nanti.

Pesanan untuk Ahmad datang lima belas menit kemudian. Ahmad menyantap nasi goreng dan juice alpokat dengan lahap. Matanya seakan-akan bercerita tentang sesuatu. Saya, Erni, Lia dan Topan menikmati saja pemandangan asing di depan kami. Kenapa saya katakan asing? Karena Ahmad berbeda dengan kami. Kami tidak mengusik kehidupan pribadi Ahmad. Tinggal di panti asuhan dan bekerja di malam hari di usianya yang masih belia, lebih dari cukup mendefinisikan segala sesuatu dari kehidupan keras anak ini.

Ahmad bekerja. Itulah porsi lebih dari anak kecil ini. Alasan ini pula yang mendasari kami memberinya makan dan minum. Walau tidak ada seorang pun dari kami berempat yang menyemir sepatu. Usaha Ahmad patut diapresiasi dibandingkan usaha orang lain yang masih meminta-minta.

Setengah jam lebih Ahmad duduk bersama kami, dalam waktu itu pula mata-mata di sekitar mengamatinya. Ketika Ahmad beranjak pergi, seorang pria memanggilnya. Pria itu tidak memberi makanan enak melainkan memintanya menyemir sepatu. Lepas dari pria itu, beberapa pria lain turut meminta Ahmad menyemir sepatu mereka.

Tatapan Ahmad begitu dalam kepada kami berempat sebelum ia meninggalkan tempat itu. Saya mencerna tatapannya sebagai ucapan terima kasih kepada kami. Saya tidak tahu berapa upahnya malam itu. Kemuliaan hatinya tanpa meminta-minta mendatangkan rejeki tidak sedikit. Saya melihat pria pertama yang meminta sepatunya disemir, memberi Ahmad upah sebesar lima puluh ribu rupiah.

Siapapun anak kecil itu, jika membaca tulisan ini, saya berterima kasihnya. Hidup ini tidak perlu meminta-minta, bukan?

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90