Top Ad 728x90

Tuesday, April 12, 2016

, , ,

Harumnya Cinta dari Janda Perawan

Harumnya Cinta dari Janda Perawan, Kisah Cinta Janda, Kisah Inspiratif, Cerpen Janda, Kisah Janda, Kisah Perawan, Janda yang masih perawan, masihkah ada janda yang masih perawan,

janda perawan
Ilustrasi - caracinta.com
Impian menjadi seorang istri sudah bukan rahasia lagi akan dirasakan oleh semua perempuan di tanah basah ini. Bulan-bulan yang dilalui penuh hujan tidak menyusut mimpi-mimpi dan harapan gadis dengan hidung mancung dan mata sipit, sedang duduk bersila di teras rumah mungil orang tuanya. Rumah itu masih kategori rumah lama, dibangun di atas tanah warisan kakek dari perempuan yang sudah melahirkannya, dengan tangga kayu di pintu depan. Sudah dapat dibayangkan arsitektur rumah ini, rumah panggung dua kamar yang sengaja dibangun untuk menghindari banjir yang meluap tiap tahun musim penghujan lebat. Kebanyakan rumah di kampung ini, semua seperti ini. Di bawah rumah ini ada lesung padi, tapi jangan salah, lesung itu bukan lagi untuk menumbuk padi menjadi beras tetapi menumbuk beras menjadi tepung. Tepung beras dengan banyak kegunaan selalu ditumbuk jelang dua lebaran, lesung itu di bawah kaki lentik gadis ini terayun.

Gadis itu mengepak selendang sampai ke bahu, ia melanjutkan merajut anyaman ilalang kering jadi tas cantik. Pernah beberapa bulan lalu kampung mereka ini kedatangan instruktur ilalang, begitu mereka menyebutnya, karena dua orang instruktur itu mengajar merajut ilalang kering jadi tas dan kerajinan tangan lainnya. Jadilah gadis ini sibuk sekarang, membuat tas desain tangannya sendiri.
Gadis ini juga menembang beberapa lagu bertema cinta. Kasih sayang. Lelaki pujaan. Tentu saja pernikahan yang tidak lama lagi akan ia jalani bersama pujaan hati membuat ia sangat bahagia. Gadis ini berniat merajut anyaman tas berbentuk hati, kali saja dapat dihadiahkan untuk pemuda yang sebentar lagi akan bersanding dengannya di pelaminan. Lucu memang. Ia pasti tahu pemuda itu tidak butuh tas anyaman ilalang kering ini, tas ini untuk pasa gadis. Hanya untuk pada gadis. Ada-ada saja.
Senyumnya berkembang laksana sinar mentari yang mengintip dari balik pohon kelapa di samping kirinya. Di depan, jalanan setapak yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua terlihat sangat ringkih. Mungkin usianya sudah sangat tua, dan sangat mendambakan diaspal rapi. Semenjak ia sadar kehadirannya dibutuhkan di dunia ini, jalan itu sudah begitu. Di seberang jalan padang ilalang terhampar luas, sudah banyak berkurang semenjak warga dapat menganyam ilalang menjadi tas-tas cantik.
Udara segar masuk ke aura penciumannya. Suasana kampung tidak jauh berbeda, hanya ada sedikit tambahan listrik menerangi kampung yang sekian lama gelap gulita di malam hari. Dan di sudut jalan depan musalla kecil kampung ini sudah dibangun sumur bor setahun lalu. Gadis ini, seperti gadis lain, sering mencuci baju di sana. Bahkan ada pula yang menjadikan air minum kalau air sumur di rumah sendiri tidak jernih.
Gadis ini, namanya Keumala, jika tersenyum lesung pipit di kedua pipinya merekah indah. Semakin mempercantik Keumala yang saban hari duduk menganyam ilalang kering setelah lulus sekolah dua bulan lalu. Keumala patut bangga, lulus sekolah menengah atas sudah prestasi paling gemilang di kampung petani ini. Kedua orang tuanya petani layaknya warga kebanyakan. Hasil panen empat bulan sekali kadang dijual, sisanya disimpan dilumbung padi keluarga. Sekali waktu akan digiling dengan pabrik penggiling di kampung tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Keumala masih gadis belia, menurutnya sendiri. Namun ia sangat bahagia, pemuda kampung seberang sungai dengan gagah datang menemui orang tuanya bulan lalu.
“Saya meminang Keumala dari Mak dan Ayah,” ujar pemuda tampan, di mata Keumala itu, tegas.
Lamaran diterima. Adat kebiasaan yang menuntut agar tidak berlama-lama pernikahan, membuat Keumala sangat gugup menghadapi datangnya lusa. Hari ia tidak akan sendiri lagi. Ia akan jadi milik orang lain, pemuda itu, pemuda idaman hatinya, kekasihnya, Ali Usman. Nama yang sangat gagah, seperti dua khalifah Ali bin Abi Thalib yang digelari Singa Padang Pasir sewaktu Islam berjaya di bumi Arab. Dan Usman bin Affan seorang khalifah yang mampu menyatukan keping-keping ayat Al-qur’an yang tercerai-berai jadi satu yang dinamai Mushaf Usmani. Keumala bangga, pemuda itu miliknya. Segagah kedua khalifah Islam maha kaya!
Burung berkicau di atas rumbia rumahnya. Burung itu tidak membawa kabar seperti pepatah lama, kabar burung justru datang dari seorang kerabat yang tergopoh-gopoh menghampirinya dengan napas masih tersengal-sengal.
Kabar yang dibawa bukan sembarang berita, kabar itu sangat dekat dengan Keumala, dengan Ali sang tercinta.
“Ali sakit keras,” pembawa kabar berkata sambil lalu, melintasi Keumala terus menjumpai orang tuanya di dalam rumah panggung mereka. Keumala dibayang-bayang semu, antara luka dan sedih. Gadis itu meninggalkan anyaman ilalang kering yang tinggal sedikit lagi usai dirajut. Keumala berlari ke dalam rumah, berdiam diri di kamar beberapa saat.
“Saya tidak akan meninggalkanmu sendiri di dunia ini, saya akan menikahimu, membahagiakanmu!” Keumala percaya kata-kata itu bukanlah bualan siang hari. Ali bahkan sangat serius dengan ucapannya. Dari sorot matanya terlihat tiada ragu sedikit pun. Pemuda itu patut menyandang dua nama besar dalam dirinya. Pemuda itu berani dan mencintainya penuh kasih. Tapi, benarkah Ali sakit? Seberapa kuat ia bertahan dengan sakitnya? Bisik Keumala dalam remang hatinya.
Pagi yang tadinya indah sekarang suram di mata Keumala. Ia masih belum percaya Ali sakit keras. Kemarin pemuda gagah itu baru mengantarnya Labu muda hasil berkebun. Pemuda itu tidak mungkin sakit, Keumala harus melihatnya sendiri!
“Kami tidak beralasan menunda akad nikah lusa, Ali benar-benar sakit,” pembawa kabar masih berbicara dengan orang tua Keumala. Raut wajah lelaki separuh baya itu tidak tenang. Ayah dan Mak Keumala masih ragu akan kabar itu, lebih-lebih Mak.
“Bukankah banyak pemuda sekarang mengelak dan mengulur waktu agar lama bisa menikah?” tambah Mak sedikit emosi. Prasangka Mak terlalu berlebihan. “Saya malah ragu dia bisa mengaji dan shalat dengan benar atau tidak,” Mak mencibir.
Keumala tidak terima omongan Mak, ia sangat yakin Ali bisa mengaji dan shalat dengan benar. Dulu, ia malah diajari panjang pendek baca Al-qur’an oleh pemuda itu. Mak sangat keliru menilai calon menantu. Keumala yang mengenal Ali bukanlah Mak!
“Apa sudah kau pastikan di ke KUA?” maksud dia dari omongan mak adalah Ali. Mak suka dengan Ali, kesopanannya jika berhadapan dengan orang lain nilai tak terhingga harganya. Kenapa juga Mak masih ragu dengan pemuda itu?
Keumala membuka mulu ingin menjawab pertanyaan Mak, namun ia rakut Mak malah tambah emosi. Ia kembali mengurung niatnya. Mungkin Mak lupa Ali menjemput Keumala seminggu lalu untuk ke KUA kecamatan, mengikuti wejangan sebelum pernikahan. Tata cara dalam berumah tangga, doa-doa penting termasuk doa senggama dan doa mandi wajib, adab jadi suami istri, hafalan dalam shalat dan mengaji. Jika ngaji belum bisa akan diberi waktu belajar bahkan tidak tertutup kemungkinan akan diajari juga.
“KUA sudah memberikan sertifikat pada Keumala dan Ali, Mak Cik bisa tanyakan ada Keumala kalau saya dianggap berbohong,” Keumala lega mendengar lelaki tua pembawa kabar memberi alasan. Ternyata Mak tidak puas. Menarik Keumala keluar kamar lalu mengintrogasi seperti telah berbuat kesalahan besar.
“Benar, Mak! Kami sudah mendapatkan sertifikat itu, Bang Ali malah lebih bagus mengaji dari Mala,”
“Kau masih membela dia? Mana sertifikatnya? Kau pikir menikah cuma senang-senang saja? Tidak bisa mengaji dan tidak shalat kau ajarkan apa nanti pada anak-anak kalian?”
Dalam panik Keumala berlari ke kamar mencari sertifikat penting itu. Dalam laci lemari pakaian, di antara buku-buku, tidak ada. Keumala pias, ia sangat yakin sertifikat itu ada disini,di dalam kamar ini.
“Tidak ketemu kau bilang?” Mak naik pitam. Amarahnya sampai ke ubun-ubun. “Bilang pada keluarga sana, kami tidak terima alasan, masalah tidak ada sertifikat saya sendiri yang akan mendengar dia mengaji dan hafalan shalat. Pernikahan tetap ada lusa!”
“Jangan begitu, Mak,” sela Ayah, “Kita tidak tahu kebenarannya, sebaiknya kita tengok dulu Ali ke rumahnya,”
“Saya tidak peduli! Berani melamar putri saya, berani juga menjawab akad nikah lusa!” Mak melangkah penuh emosi ke dapur. Perkataan Ayah dianggap angin lalu. Ayah memohon pada pembawa kabar bergegas pulang.
***
Ali benar sakit. Ayah sudah menjenguk ke rumahnya, Mak ngotot hari ini ada pernikahan. Sanak saudara jauh sudah berdatangan.
“Kita yang ke sana, menikahkan Keumala dengan laki-laki yang pura-pura sakit di rumahnya!”
Mak tidak main-main. Ayah terpaksa ikut bersama kerabat lain. Keumala ditinggal di rumah dalam penuh tanya dan cemas. Ia tidak menyalahkan Mak, juga tidak Ali. Mak mungkin benar, berbagai persiapan sudah disiapkan menyambut pernikahan putrinya. Menghias rumah, mengundang rekanan dan kerabat jauh dekat. Memasak untuk tamu undangan. Pelaminan sudah disewa dan terpasang di ruang tengah. Kamar Keumala sudah berkasur empuk, juga rumah yang sudah di cat dengan warna putih. Warna suci tanda ada kehidupan baru. Wajar Mak tidak menerima, tapi Ali benar sakit, Ayah yang mengatakannya.
Keumala menunggu. Ia sangat gundah. Pikiran kacau merasuki akal sehatnya. Ia ingin menyusul tapi tidak mau memperkeruh keadaan. Ia berdiam diri di rumah juga bukan waktu yang tepat, memandang pelaminan bisu tanpa kedua pengantin, rumah berhias, tikar pandan di gelas di lantai yang biasanya dibiarkan tak beralas. Hatinya miris, apalagi masuk ke kamar dalam suasana kamar pengantin. Dulu tidak ada kasur, sekarang sudah tersedia kasur bersprei bunga-bunga kecil warna merah jambu. Warna cinta!
Tengah hari rombongan Mak pulang. Keumala bergegas menghampiri. Mak tidak ada di tengah-tengah kerabat. Keumala bertanya.
“Sudah dijawab, Mala. Ali sudah jadi suaminya sekarang,” mendengar itu Keumala terharu. Perempuan muda sepupu Ayah terisak, “Dia berbaring tidak bisa bangun, cuma sebentar duduk waktu menjawab akad nikah. Tega sekali orang yang memaksa pernikahan ini!”
“Maksudnya apa?” Keumala tidak puas.
“Mala, Ali sekarat. Dia sakit keras, sekarang sudah dibawa ke rumah sakit,”
Keumala tidak bisa berpikir jernih. Bergegas ia menyusul. Penuh harap, penuh cemas dan kecewa. Keumala tidak tahan mendengar degup jantung yang berlari sangat kencang, sekencang motor yang ia tumpangi ke rumah sakit di kabupaten.
Ayah menyambut dengan pelukan. Mak duduk diam di lantai keramik putih. Keumala tidak menyapa. Ia juga tidak marah, ia kecewa dengan sikap Mak yang tidak mau mendengar. Coba kalau Mak mau sedikit bersabar tidak akan terjadi pernikahan seperti ini. Pernikahan itu bahagia, penuh tawa, penuh suka. Keumala yang menikah bukan Mak!
Kabar burung selalu saja tidak memihak pada Keumala. Nantti malam Ali akan di operasi, hernia yang dideritanya sejak kecil sama sekali tidak pernah tersentuh alat medis. Selama ini hanya pengobatan alternatif kampung, itu pun tidak tahu penyakit yang sedang diderita.
Keumala terpaku. Ali tidak pernah menyinggung sakitnya. Keumala tambah kecewa. Pemuda itu sangat gagah di matanya. Mungkin ada pertimbangan lain Ali tidak bercerita tentang ini. Keumala menerima dengan lapang dada, bersabar akan apa yang terjadi nanti malam dan besok.
***
Keumala terbangun, pusara di depan matanya belum kering sepenuhnya bahkan sebagian pun belum. Ali baru disemanyamkan kemarin karena hernia kronis tidak dapat tertolong lagi. Mata Keumala kosong, basah, wajahnya pucat, ia telah melewati hari yang sangat panjang penuh airmata. Ia lelah. Lelah sekali.
Dalam waktu sebentar saja, ia sudah menjanda. Bukan ini yang ia harapkan. Ia ingin bahagia dengan kekasih hati. Menikah dengan bahagia. Bersama dengan bahagia. Untuk apa pelaminan? Untuk apa kasur bagus? Untuk apa kerabat datang beramai-ramai? Ali tidak akan pernah duduk dan berbaring bersamanya di sana. Ali berbaring di tempat seharusnya setelah derita yang mungkin ia rasakan semenjak kecil. Ali masih mudah, belum genap dua puluh lima tahun.
Tidak ada salam perpisahan dari pemuda tercinta ini. Ia sudah menjanda, dalam usia muda, sembilan belas tahun, di hari kedua pernikahannya.


Baca Juga Payudara Lepuh Wanita Penuh Cinta 

3 komentar:

  1. makasih gan infonya dan salam sukses

    ReplyDelete
  2. Ceritanya cukup memukau, membuat aku terkesima hingga tidak sadar ikut berurai air mata. Paduan antara cerita tradisional modern, pokoknya keren banget. Sayang sepertinya tidak tuntas ceritanya...

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90