Top Ad 728x90

Friday, April 22, 2016

, , ,

Cerita Cinta di Balik Kelambu

Cerita wanita dalam Islam,

 
cerita wanita dalam islam
Ilustrasi - hijabnesia.com
Tamu wajib lapor dalam satu kali dua puluh empat jam.

Papan kecil tak lebih besar dari jendela kayu kebanyakan rumah di kampung ini, berdiri kokoh di depan pintu masuk kampung setelah jembatan besi yang baru siap dibangun dua tahun silam. Terlihat dari papan besar yang berdiri di samping papan kecil tadi, anggaran biaya dan tahun pembuatan jembatan ini. Papan kecil itu berwana putih, sedikit memudar merayap hujan, pertanda belakangan ini musim penghujan mengguyur kampung ini, juga kampung sekitar ini.
Kampung yang sangat indah, menurut lelaki pendatang baru itu. Di depannya jalan setapak yang belum teraspal licin lurus kira-kira satu kilometer ke depan sebelum sampai persimpangan, simpang tiga, satu arah ke kampung berikutnya dan satu arah lagi ke kanan adalah jalan setapak menuju hutan belantara, tepatnya kebun karet tempat mayoritas penduduk kampung mengais rupiah. Bayangkan saja, kalau hujan berkepanjangan bahkan sampai banjir tentu tidak akan mengalir rupiah di kampung ini.
Jalan setapak yang dilaluinya masih berkerikil, mungkin akan diaspal dalam waktu dekat ini. Lelaki berkumis tipis itu menghirup udara segar yang selama ini belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
Kampung yang sangat elok. Belum pernah terbayang dalam usianya yang sudah dua puluh delapan ini akan berada di kampung yang begitu sejuk begini. Sebelah kanan, hamparan sawah puluhan bahkan ratusan hektar menyapa pandangan, diikuti rimbun pepohonan perbatasan dengan kampung tetangga. Berpaling ke kiri, di antara pohon-pohon berbagai jenis, ada yang paling besar seperti mangga atau kelapa dan jenis ilalang yang tidak dikategorikan pohon, berdiri rumah penduduk dengan kokoh, dekat satu sama lain. Melirik ke bawah jembatan tempat ia berdiri saat ini, air sungai berwarna kecoklatan mengalir lambat. Perpaduan alam yang sangat menawan.
Lelaki muda itu mendayung langkah, menyusuri jalanan berkerikil. Mencari alamat seseorang di kampung sekecil ini pasti bukan hal yang rumit. Setiap orang tentu akan mengenal satu sama lain. Masalah yang justru ia khawatirkan, apakah semua warga kampung ini mengerti bahasa nasional? Penafsiran yang salah mungkin, sejauh ia melihat hampir semua rumah yang ia lewati memasang antena parabola, sudah tentu mereka bisa mengerti apa yang akan ia tanya. Tidak salah lagi, arsitektur beberapa rumah bahkan sangat berkelas, dibangun dengan gaya modern yang memperlihatkan gaya hidup mereka sehari-hari yang sudah maju pula.
Lelaki itu bertemu seorang perempuan berkurudung putih. Ia memperkenalkan diri. Satrio. Kening perempuan berumur sekitar empat puluhan itu berkerut. Bukan karena tidak mengerti bahasa, nama pemuda di depannya ini mempunyai nama yang tidak lazim di sukunya.
Satrio mengakui asumsinya beberapa menit lalu ternyata memang benar. Bahkan perempuan yang sudah berumur ini pun mengerti dan bisa memberi petunjuk sebuah tanya darinya. Firasat Satrio sebelum sampai ke kampung ini sebagai salah satu kampung terpencil dan terrtinggal sangatlah salah. Lihat saja di salah satu rumah bahkan terparkir mobil keluaran terbaru yang masih berplat merah. Sungguh memperliharkan keistimewaan kampung ini, di antara rumah-rumah mungil dan rumah besar bergaya modern bersanding pula masyarakat yang penuh pesona dan sopan santun. Pada pandangan pertama ia menilai seperti itu, semoga saja tidak salah.
Rumah yang dituju Satrio berada di tepi jalan besar kampung ini. Sebelah kiri. Di depannya ada sebatang pohon karet yang sudah tua, di halaman rumah dengan arsitektur masih kuno banyak bunga, ada mawar yang bunganya sedang mekar, anggrek bulan bahkan kaktus.
Ada bunga. Suatu isyarat penghuni rumah ini sangat suka keindahan dan romantisme juga akan ia jumpai disini. Awal yang indah. Sedikit gombal memang perlu di saat menegangkan seperti ini, agar tidak kaku bertemu dengan orang yang sudah sangat lama tidak ia lihat parasnya.
Lima tahun lalu, ia kenal dengan perempuan cantik jelita ini seperti kecantikan kampung yang ia lihat pertama kali berada di tengah kesejukan angin pagi tadi. Saat itu, masih kuliah di bidang berbeda. Perempuan ini di ilmu psikologi dan ia di ilmu hukum. Dua hal yang berbeda namun bisa mempersatukan hati mereka.
Tidak lama menjalin kasih, perkuliahan usai. Ia harus pulang ke kampung halaman sesuai perjanjian dengan orang tua, meninggalkan Aceh dan pujaan hati. Perempuan ini juga mengabarkan akan mengabdi di kampung halaman tercinta. Tanah merah bata tempat ia berdiri gugup disini. Menunggu pintu dibuka oleh orang yang selama ini sangat ia rindukan. Dalam hati ia berharap doa panjang agar tidak membawa kecewa. Dalam diamnya, ia meringis pilu mendengar tangisan bayi sebelum pintu terbuka setelah ia beri salam lima menit lalu.

Baca Juga Rahimku Bukan Hanya Menampung Benihmu 


“Senang juga melihat kau, kupikir kau tidak jadi datang,” ujar perempuan itu saat mereka duduk berdua di teras rumah. Memandang sang Matahari yang pelan-pelan menuruni jembatan yang airnya sering meluap jika hujan lebat semalaman saja.
“Aku rindu padamu,” Satrio masih menunduk lesu. Antara kecewa dan senang ia telah bertemu pujaan hatinya kembali. Ia belum bertanya apa-apa sesampai di rumah ini, ia langsung disuruh istirahat setelah perjalanan jauh semalam dari Banda Aceh melaju dengan kencang dalam ayunan angkutan antar kota ke Meulaboh melewati gunung dan pesisir yang dingin menggigil. Sebelumnya, pagi di Yogya, transit di Jakarta lalu Medan akhirnya sampai di Banda Aceh sore hari. Buru-buru ke terminal saking takut tidak ada angkutan antar kota yang mengantarnya ke sisi perempuan yang baru saja meletakkan kopi hangat di meja kayu dengan ukiran halus.
“Aku yakin kau masih suka kopi, minumlah,” perempuan itu, Inong, sama sekali tidak menanggapi ucapan rindu darinya. Satrio tidak bisa ditipu, Inong juga sangat rindu padanya, dari mata Inong ia dapat jawaban tanya itu. Ia juga banyak tahu dan rindu kampung perempuan ini, setelah perempuan itu cerita dari dulu semenjak pertama mereka berhubungan dalam ikatan cinta.
Malam berselimut hujan sampai pukul sepuluh. Dari balik kelambu berwarna putih yang Inong persiapkan, Satrio bisa mendengar suara nyamuk tertawa ricuh.
“Disini kita tidur dalam kelambu, kau juga tidur dalam kelambu ini agar tidak digigit nyamuk,” Perhatian Inong masih ada untuknya, seperti dulu. Satrio merasakan hal itu, berharap Inong juga sama dengan dirinya. Inong bergegas ke kamarnya, di sebelah kamar kakak ipar yang bayinya menangis begitu salam pertemuan rindu ia ucapkan tadi pagi. Inong tinggal bersama abang dan kakak iparnya, abangnya tidak pulang malam ini karena masih di Medan dengan urusan bisnis karetnya. Kedua orang tua sudah lama tiada jauh sebelum tsunami.
Aura pengap di dalam kelambu membuat Satrio tidak dapat tidur. Ruang tengah yang begitu luas ini juga membuat hatinya tidak tenang. Tengah malam suara nyamuk di luar kelambu bergemericik bagai gerimis yang belum juga reda. Bersamaan dengan itu pula suara pintu diketuk pelan, ada suara-suara lelaki di luar rumah. Bicara dengan bahasa yang tidak ia mengerti. Bertamu tengah malam begini?
Satrio melompat kaget. Inong keluar dari kamarnya diikuti kakak ipar dengan wajah pias. Ada yang salah?
Begitu pintu dibuka, Inong langsung ditanyai beberapa pertanyaan. Satrio diam kaku apalagi melihat banyak pemuda yang berdiri di depan rumah ini. Ia merasa ada yang janggal dari tatapan pemuda-pemuda itu.
“Kamu perempuan belum menikah, kamu juga tahu peraturan di kampung kita tamu wajib dilaporkan pada orang tua kampung,” mengetahui Satrio tidak mengerti ucapan pemuda yang kelihatan paling berpengaruh di antara yang lain, pemuda itu mengulang dalam bahasa Indonesia terpatah-patah.
“Maafkan saya Pak Cik,” Inong bingung mencari alasan. Pemuda yang dipanggil Pak Cik itu juga kelihatan bingung.
“Menidurkan laki-laki asing di rumah tanpa sepengetahuan kami bahkan abang kamu itu aib besar, Inong!” tambah Pak Cik itu geram.
“Pak Cik, saya yang bertanggung jawab,” bela kakak ipar, “Saya yang membiarkan dia menginap di rumah kami, dia baru datang dari jauh. Pak Cik lihat sendiri tidak terjadi apa-apa, kami memintanya tidur di ruang tamu,”
Pak Cik tidak puas mendengar alasan kakak ipar. Pemuda-pemuda lain ada yang memberi saran yang tidak sanggup Satrio pikirkan bagaimana malunya ia nanti. Inilah tradisi di kampung, Satrio ditangkap masa menginap di rumah gadis orang yang bukan saudara sedarahnya. Hukuman paling berat, Satrio bisa dinikahkan malam ini juga!
“Apa kamu mau menikah dengan dia?” tanya Pak Cik. Inong diam. Badannya sudah gemetar. Satrio melihat gelagat tidak baik.
“Maaf, Pak Cik,” ujar Satrio memberanikan diri, “Pada awalnya, niat saya kesini akan melamar Inong tetapi saya belum meminta karena menunggu abangnya pulang besok,” degup jantung Satrio kacau. Perasaannya belum lega. Firasatnya, Pak Cik itu akan marah besar.
“Kalau begitu, kita tunggu sampai besok,” kata Pak Cik masih belum puas, terlihat dari rauh wajahnya. “Dan kamu, tidurlah di pos ronda bersama pemuda lain!”
***
“Aku benar meminangmu,” suara Satrio lemah pagi ini, semalam ia tidak bisa tidur. Banyak nyamuk. Banyak argumen pemuda kampung, ada yang menyalahkannya, ada juga yang mendukung memberi semangat.
“Kamu sudah syukur tidak kami pukul ramai-ramai, kalau di kampung lain kamu bisa dipukul, diminta denda jutaan rupiah dan dinikahkah malam itu juga!” seorang pemuda berapi-api menjelaskan, seakan masalah seperti ini hal biasa terjadi di kampung ini, mungkin juga di kampung tetangga.
“Kamu menginap di rumah perawan, itulah salahnya, walaupun dia kekasih kamu!”
“Kamu belum salah semuanya, kamu tidak tahu kebiasaan kami, kamu pendatang wajar saja kamu terkejut ditangkap seperti malam ini!”
Pendapat terakhir membuat Satrio lega, sedikit. Sekarang ia membutuhkan pendapat Inong. Tentang pinangannya.
“Aku tidak mau membuatmu malu karena kejadian semalam,” ujar Satrio lagi. Hari ini gerimis, sama dengan semalam. Abang Inong belum juga pulang.
“Aku tidak malu!” tegas Inong.
“Kalau begitu, menikahlah denganku!”
“Aku tidak bisa!”
“Kenapa?
“Kamu jauh…,”
“Aku ada disini,”
“Sekarang, nanti?”
“Aku selalu disini, bersamamu!”
Satrio bangkit, meremas jemari Inong. Saat bersamaan sebuah pukulan mendarat di pundaknya. Inong terpekik. Satrio terpental menumbuk dinding.
Abang Inong pulang dengan penuh amarah. Ia sudah mendengar kejadian semalam. Kakak ipar datang melerai dan berusaha mereda emosi suaminya.
“Aku benar mencintainya, aku kesini untuk meminangnya, bukan dengan cara ini…” suara Satrio lemah. Inong terisak.
Cincin emas berkilau yang semula dipegang Satrio jatuh. Bukan tersarung di jari manis Inong, ke tanah basah, terkena gerimis pagi. Kali ini Satrio menangis. Bukan cengeng. Untuk sebuah keputusan berat yang telah ia ambil dalam hidupnya. Menikahi Inong, perempuan Aceh berkerudung biru, sangat cantik pagi ini!

Baca Juga Cinta Terhalang di Lautan Sabang

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90