Top Ad 728x90

Tuesday, April 5, 2016

, , ,

Dialog Brondong Simpanan

Dialog Brondong Simpanan, Brondong, Siapa Brondong, Kehidupan Gelap Brondong, Brondong bisa di Booking, Harga sekali main brondong, Harga sekali pakai brondong, harga sekali pake brondong, brondong dibeli om-om, brondong simpanan om-om, brondong ganteng homo, brondong ganteng gay, brondong gay, kehidupan gay brondong, brondong jual diri, brondong homoseksual, brondong nakal,

brondong simpanan
Ilustrasi brondong (Im Siwan) - soompi.com
 “Hidup kamu enak, semua disiapin orang tua!”
Kata siapa?
“Aku yang lihat sendiri, semua kebutuhanmu tersedia. Kamu butuh tablet terbaru, hari ini pun kebeli. Kamu butuh smartphone model terbaru, jam segini pun langsung kebeli. Kamu butuh baju, celana, jam tangan, sepatu, dengan mudah Kamu dapatin!”
Cerewet banget cowok ini?
“Aku heran, kehidupanmu nggak ada cacatnya di mataku sebagai penikmat masa remaja!”
Dari kacamata cowok kerempeng kayak kamu saja!
“Belum lagi fisikmu yang gagah. Kamu suka main bola, suka membentuk tubuh di gym tiap malam, suka berenang di minggu pagi, suka lari di pagi hari. Kamu benar-benar cowok sempurnalah!”
Sempurna?
“Jelas sekali. Karena kamu sempurna itu, cewek mana yang berani tolak ajakan ke warung kopi sama seorang lelaki idaman!”
Dulu pernah, ditolak. Kamu saja tidak pernah tahu hatiku yang pernah patah arah karena seorang cewek menolak cintaku. Cowok yang hanya melihat kelebihan orang lain sepertimu saja tidak akan peka terhadap hal-hal sensitif dalam hidupku.
“Ada yang tolak? Kurasa nggak pernah. Kamu nggak perlu berbohonglah, cewek tercantik di SMA kita sudah pernah kamu kencani semua. Cewek kelas sepuluh? Sebelas? Kakak kelas?”
Semua sudah, yang tercantik!
“Nah, apa kubilang. Semua cewek pasti mau sama kamu!”
Kamu tidak tahu ‘kami’ berbuat apa. Aku mengajak cewek-cewek itu jalan biar kegagahanku diakui semua kaum hawa di sekolah kita. Cewek-cewek itu kujemput, berjalan di remang malam, duduk di pojokan warung kopi berfasilitas internet gratis yang bersemak di tanah harum bunga Cempaka ini, cewek-cewek itu merajuk minta diperhatikan tingkah polahnya, aku diam sampai kopi panas menjadi dingin dan tinggal bekas di cangkir putih.
“Kamu pacari semua cewek cantik itu, kan?”
Menurutmu?
“Kupikir iya, kupikir juga tidak. Kulihat, mereka jadi berubah menjauh setelah kencan sama kamu!”
Benarkan? Kamu tidak tahu apa yang ‘kami’ lakukan.
“Tapi tetaplah, kawan. Pesona dalam dirimu tiada tandingnya!”
Hahaha, si kerempeng ini banyak kali cakapnya!
“Kamu ajak mereka ke rumah?”
Pemikiran apa itu? Apa kata orang tuaku?
“Otak mesumku, kalian pasti berbuat itu!”
Itu apa?
“Ya itu, wajahmu bukan tampang penipu, kawan!”
Aku memang bukan penipu. Kujemput cewek-cewek cantik itu, tak lebih satu jam kuantar kembali setelah menghabiskan waktu dalam raga tak bersuara. Kamu tahu kenapa? Cewek-cewek cantik itu jenuh berhadapan dengan pendiam sepertiku.
“Aku ingatin, kawan. Kamu bisa kena karma kalau macam-macamin cewek gebetanmu itu!”
Kamu tahu apa tentang macam-macamin itu? Cewek cuma satu macam. Kuperbanyak macam jadi terbelah berkeping-keping!.
“Ntar bunting mereka!”
Bunting? Ah, makin kacau saja pemikiran si kerempeng ini. Asal kamu tahu saja, setelah kuantar ke depan pintu rumah dan cewek-cewek cantik itu masuk ke dalam dengan raut wajah kecewa karena tidak kukecup. Aku berlari ke tempat lain, yang tidak ada seorang pun tahu selain aku dan ‘mereka’ yang ingin mengambil sisa kegagahan dalam diriku. Aku dan ‘mereka’ membuat episode selanjutnya tidak kamu selidiki lagi.
“Ah, kamu mudah saja. Mereka bunting, kamu tinggalin, siapa suruh mau diajakin berbuat itu!”
Itu lagi. Itu apa?
“Aku yang setia sama satu pacar saja tidak sering-sering amat berbuat itu!”
Kamu yang berbuat yang dimaksud dalam kata-katamu, kerempeng. Kamu ketahuan sudah menggauli pacarmu yang masih kelas sepuluh SMA kita.
“Hidupmu enak, mudah saa dapatin cewek dan mudah pula mainin itu mereka!”
Aku tidak pernah memainkan itu cewek-cewek cantik yang kamu maksud. Cewek-cewek cantik itu kuantar pulang secara baik-baik, seperti kujemput dengan sopan pula sesuai perjanjian karena aku tidak akan mengingkari janji. Tidak kamu lihat raut kecewa cewek-cewek cantik itu di pagi hari? Cewek-cewek cantik itu berpaling dariku setelah minum bersama di warung kopi kesukaan kami. Cewek-cewek cantik itu berubah tidak memedulikanku kami mengadakan kencan yang tidak kuingini terjadi.
“Karena mereka sudah merasakan tubuhmu yang macho!”
Segitunya pemikiran si kerempeng ini!
“Atau karena servismu tidak sedahsyat goyanganku!”
Parah benar si kerempeng ini!
“Makanya, kamu harus belajar dulu sama yang lebih berpengalaman. Fisikmu boleh rapi menawan, tapi permainanmu belum tentu sehebatku!”
Tahu apa kamu, kerempeng? Kamu lebih berpengalaman? Katanya tidak sering kamu mainin tubuh pacarmu!
“Karena mereka ninggalin kamu, kan?”
Cewek-cewek cantik itu benar meninggalkanku setelah kencan sesaat. Ada yang tidak pernah kamu ketahui, banyak ‘mereka’ yang lain mengejar permainan yang kamu ragukan dari fisikku. Aku gagah secara postur tubuh, aku tak kalah berang saat bermain di antara dua paha!
“Ah masa, mereka menjauh kok!”
‘Mereka’ yang kumaksud bukan cewek-cewek cantik yang kukencani, kerempeng! ‘Mereka’ adalah mereka yang tak terdefinisi dalam hidupmu.
“Jangan sampai kamu kecewa nggak laku-laku sampai tua!”
Tidak laku? Kamu yang bilang sendiri kehidupanku mewah. Kamu tahu? Karena aku laku sehingga aku hidup mewah di remaja kelas sebelah SMA. Kebutuhanku tercukupi karena aku laku bagi ‘mereka’ yang tidak cantik seperti cewek-cewek yang ingin berkencan denganku. Semua kebutuhan kubeli sendiri karena aku laku setelah mengantar cewek-cewek cantik itu yang ingin mengencaniku ke rumah masing-masing. Dan aku, menjumpai ‘mereka’ yang kamu tidak ketahui identitasnya.
“Kamu tidak bisa setia sih!”
Anggapanmu, kerempeng! Aku setia dalam arti tidak sebenarnya bagiku sendiri. Kesetiaanku tidak ada dalam kamus hidupmu. Aku setia pada ‘mereka’ yang kukencani setelah cewek-cewek cantik sekolah kita kuantar pulang. Memang aku berganti setia, paling tidak masa itu berganti setelah aku bosan atau setelah ‘mereka’ tidak mau lagi memenuhi materi yang kumaui.
‘Mereka’ memberi sisa penghasilan untukku, kerempeng! Banyak sekali sampai aku tidak mampu menyimpan di tempat tertentu karena takut orang tuaku curiga. ‘Mereka’ memberi karena aku juga memenuhi kebutuhan ‘mereka’ setiap saat ‘mereka’ butuh.
‘Mereka’ buas bagai serigala. ‘Mereka’ menyedot habis semua yang kumiliki sampai aku terkapar tak berdaya. ‘Mereka’ memakan semua hak milikku yang seharusnya tidak kuberikan kepada ‘mereka’ yang kesepian.
Aku bosan sama cewek-cewek cantik sekolah kita yang memanfaatkan fisikku tanpa memberi cinta. Aku butuh kasih sayang yang tidak bisa diberikan oleh cewek-cewek cantik yang sering mengajak kencanku. Aku butuh lebih banyak materi agar hidupku setara dengan kalian di sekolah kita. Aku pun sudah merasa nyaman menjadi diriku saat ini, semua inginku terpenuhi. Termasuk hasrat mendekap tubuh yang membiayai materi dalam nyawaku hingga badan kami berkeringat.
“Nanti malam ada yang ingin kamu kencani lagi? Kuharap kamu bisa setia, cukuplah berkelananya. Jangan pula kamu buang-buang keringat untuk banyak cewek!”
Tidak akan kubuang, kerempeng. Karena aku ‘sedang’ setia pada orang yang akan menjemputku sebentar lagi.
“Sekolah belum usai kamu sudah punya janji lagi? Berhentilah bolos sekolah, kawan!”
Kamu tidak tahu. ‘Mereka’ butuh. Dan aku juga butuh. Lihatlah ke seberang jalan itu! Ini hari Sabtu, di mana dia tidak mengerjakan tugas dari pekerjaan yang membayar gajinya. Dia bersandar pada mobil hitam mengilap. Memakai kemeja lengan panjang warna abu-abu dilipat sampai siku dan memasukkannya ke dalam celana jeans ketat yang membentuk pahanya. Sepatu hitam tak kalah mengilap dan runcing seperti Aladin. Rambutnya disisir rapi dan dibelah tengah. Kacamata hitam yang dipakainya menyamarkan bola mata biru kesukaanku.
Aku berangkat, kerempeng. Pelukannya lebih dahsyat dibandingkan mendengar letupan kata-katamu. Dadanya yang keras akan segera beradu dengan dadaku yang tak kalah berotot. Aku akan berbaring di sampingnya dan dia di sampingku. Mungkin – seperti yang sudah-sudah, aku akan naik ke atas tubuhnya dan dia akan merengkuh tubuhku. Aku akan membelai manja tubuhnya yang kokoh dan dia akan membalas mengecup tubuhku. Aku akan menaiki tubuhnya yang telungkup dan dia pun akan melakukan hal yang sama saat ragaku telah mencapai kenikmatan batin sesaat.
Kami sudah lama melakukan itu, kerempeng. Aku setia padanya, sampai dia berhenti menyisakan materi untukku!

Baca Juga Niat Ngeblog, Master Blog dan Blogger Paid View 

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90