Top Ad 728x90

Thursday, April 14, 2016

, , , ,

Karena Masakan Ibumu Harga Diriku Tercabik

Karena Masakan Ibumu Harga Diriku Tercabik, Harga Diri Perempuan, Istri di mata suami, Suami Manja, Suami gagal move on, Suami gagal move on dari masakan Ibu, Suami pemarah, suami emosional, suami tukang selingkuh,

suami selingkuh karena makanan
Wanita Memasak - tokopedia.com
Begitu?
Kau pikir setelah seharian menghabiskan banyak waktu di luar rumah aku tidak merasa lelah. Aku juga manusia, butuh istirahat lebih lama saat ragaku tak sanggup lagi menapaki kerasnya hidup kita. Bukan hanya kau saja menguras keringat dalam mengumpulkan harta berlimpah keluarga kita. Aku termasuk salah satu manusia penting dalam hidupmu. Gelar dokter spesialis belum menjamin hidup kita bahagia tanpa campur tanganku. Klinik bersalin di depan rumah terbangun karena hasil keringatku seorang diri, waktu itu kau belum apa-apa. Kau masih pria ingusan, masih mendambakan kasih sayang ibumu, masih berani di bawah bayang ibumu.
Kusadari, kau telah lahir dari keluarga kaya raya. Semenjak kuliah kau sudah mengendarai kendaraan roda empat sedangkan aku masih jalan kaki mengelilingi kampus kita. Bersama teman-teman berwibawamu, kau tampakkan bahwa dirimu juga sangat gagah. Kalian bahkan tidak mengubris sekelompok gadis kampungan duduk di samping meja kalian, di kantin kampus kita waktu itu. Apalah untuk sekadar berhubungan, melirik kami saja kau tak sudi!
Kini?
Kau berdiri dan lebih gagah dari teman-teman sesama dokter karena wanita yang dulu tak kau sadari kehadirannya. Pertemuan kita memang sudah lama, wajah tampanmu tersohor sampai ke seluruh kampus. Banyak temanku memujimu dan ingin berkenalan denganmu waktu itu, tetapi kasta kita berbeda. Antara mobil mewah dan jalan kaki. Antara calon dokter dan calon guru.
Aku sama sekali tidak menaruh hati padamu semasa kita satu atap di kampus yang sama. Selesai kuliah, wanita tidak dengan kulit lebih gelap darimu ini mendapat beasiswa ke luar negeri. Aku pun tidak mengingat rupamu lagi jika saja kita tidak pernah bertemu di bandara suatu sore. Kau menyapa, aku membalas.
Setelah itu, hubungan kita terjalin saatku sudah selesai mendapat gelar doktor bidang psikologi pendidikan dan kau masih belum selesai pendidikan spesialis.  
***
Waktu tidak pernah menipu. Dibalik semua mahakarya indah yang terpancar dari tubuh dan auramu, kau menyimpan misteri yang sulit kupecahkan. Kau lihat sendiri penatnya tubuhku melayanimu setiap waktu. Pagi sampai sore hari menghadapi mahasiwa di kampus, malam hari aku harus merampungkan beragam jurnal ilmiah. Kau melayani pasien di waktu tak tentu, dan perjalananmu hanya menyeberang jalan tanpa perlu menyetir sampai menghadapi kemacetan.
Dan begitulah, hampir setiap malam kau tidak pernah puas menerima pelayananku. Kau bahkan hafal jam berapa aku baru sampai di rumah. Menyiapkan makanan enak untuk menu makan malam dalam waktu singkat tidak mudah bagiku. Mungkin hanya perasaanku saja sebagai wanita menerima sifatmu yang semakin menjadi-jadi. Namun kau melakukannya berulang kali. Selalu, kau sisakan setengah makanan di piring lantas kau duduk manis di depan televisi atau memilih berkendara meninggalkanku seorang diri. Aku tidak pernah tahu ke mana langkah, karena aku tidak mau tahu. Pekerjaanmu seharusnya kembali ke klinik bukan membiarkan pasien diatasi perawat-perawat muda itu saja. Kau punya kontrol besar dalam kesembuhan pasien, dan aku pun juga mau peduli tanggung jawabmu itu.
Di sarapan pagi pun kau ciptakan ulah yang sama. Padahal, hanya telor dadar maupun nasi goreng. Sarapan standar di pagi hari, mungkin orang lain bahkan restaurant juga demikian. Kau sisakan pula di meja makan, tanpa bicara, tanpa menunjukkan sikap menolak, kau langsung meninggalkanku seorang diri.
Beda rasanya ketika kau undang teman-teman rupawan ke rumah. Kau mendikte untuk masak makanan kesukaan mereka. Kulakukan maumu tanpa protes walaupun kepalaku sudah tidak bersahabat. Dan lihat sifatmu? Kau makan semua hidangan bersama teman-temanmu sambil tertawa lepas. Padahal itu, masakanku juga. Tangan wanita ini juga yang meracik bumbu, menunggu matang, sampai teman-temanmu merasakan rasa enaknya.
Aku tidak habis pikir dengan sikapmu padaku. Saat ibumu berkunjung ke rumah kau malah memintanya memasak di dapur. Harga diriku sebagai istri seakan telah sirna. Mata sinis ibumu membuatku ingin lari ke kamar mandi, menyiram seluruh emosiku dengan air dingin. Dan ibumu akan mengatakan padaku, sebaiknya aku memanjakan dirimu sebagaimana dirinya mengistimewakanmu.
Begitukah?
Apa semua pria tampan di dunia ini seperti suamiku?
***
Sebagian besar waktuku telah habis mengerjakan tugas yang teramat banyak. Sesekali aku harus membeli makanan karena aku tidak sempat memasak. Kadang, kau tidak pernah mengerti etika orang lelah bekerja. Meminta ini itu terkadang membawa emosi teramat parah. Pulang dalam lelah, aku malah menerima tatapan protes dari dirimu. Dalam diam kau letakkan makanan yang kubawa pulang, lantas kau pergi dengan mobilmu.
Seperti biasa, besoknya ibumu datang ke rumah. Kau senang bukan kepalang saat ibumu masak makanan kesukaanmu.
“Makananmu tidak seenak ibuku!” katamu malam itu. Kepalaku mendadak berputar-putar. “Kau tidak bisa memasak seperti ibuku!”
Sudah cukup aku bersabar.
“Jangan pernah banding-bandingkan aku dengan ibumu! Kau mau makan masakan ibumu silahkan pulang ke rumahmu. Aku tidak peduli lagi dengan hidupmu. Mau kau lakukan apa terserah, kau mau bawa semua barangmu ke rumah ibumu silahkan, kau tidak mau pulang lagi ke rumah ini juga tidak masalah, kau mau cari wanita lain pergilah!”
Sudah lama aku menahan emosi. Lihatlah, kau melongo di depanku.
“Sayang, aku tidak bermaksud menyakitimu,”
“Tidak kau sakiti? Berulang kali kau mencampakkan harga diriku, kau sisakan setengah makanan, kau ajak ibumu masak di rumah kita, kau cari makan di luar, mungkin juga kau sudah ada wanita simpan entah di kamar gelap mana!”
“Tidak ada, aku tidak demikian!”
“Kau tidak demikian, menurutku kau demikian! Apakah aku berarti sebagai istrimu?”
Kau diam.
“Aku juga bekerja sepanjang hari, tidak hanya kau yang mengurus pasien di klinik kita. Aku lebih lelah dibandingkan denganmu menghadapi banyak orang. Aku juga mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri tanpa kau bantu sedikit pun. Aku memenuhi kebutuhanmu sampai kau lupa bahwa aku masih hidup sebagai manusia bernyawa. Kau lelah, aku juga sangat lelah!”
Aku sudah tidak selera menyentuh piring yang masih terisi penuh. Kali ini, kutinggalkan kau seorang diri di meja makan seperti kau tinggalkanku tiap malam.
***
Kau sungguh tidak pernah romantis seperti aktor dalam drama. Wajahmu saja yang rupawan tetapi watakmu jauh dari itu. Malam ini hatiku sangat teriris. Rasa bersalah telah melanggar peraturan dalam ikatan perkawinan membuatku sangat terhina sebagai wanita berpendidikan tinggi. Tidak seharusnya aku membentakmu dengan kata-kata kasar, tetapi kau tidak pernah menghargai posisiku sebagai kekasih dalam hidupmu selama kita bersama. Kau masih mengagung-agungkan orang tuamu dan ketampanan yang kau miliki. Kerja kerasku mengumpulkan harta untuk menservis hidupmu agar terus berkuasa bagai angin lalu.
Malam yang panas akhirnya menurunkan petir dan hujan lebat. Aku merebahkan diri di kursi memanjang ruang keluarga. Mataku menerawang ke langit-langit. Lampu berbentuk bunga mawar memancarkan cahaya temaram. Sesekali aku memejamkan mata. Tetap saja aku tidak bisa melupakan luapan emosi yang membuat suamiku terluka. Mungkin saja, kau belum pernah mendengar suara kasar. Keluargamu selalu mengajarkan kedamaian dan kelembutan, sehingga kau butuh perhatian lebih dari orang yang menyayangimu.
Kali ini aku telah salah langkah!
Kau masih duduk menunduk di meja makan. Entah apa yang kau pikirkan. Aku tidak memberimu kesempatan membela diri lebih jauh. Barangkali kau punya alasan lain yang bisa membuatku lebih tenang. Barangkali juga kau butuh waktu merenung sebelum memutuskan baik buruk masalah kecil ini. Kita belum pernah bertengkar sekecil apapun selama usia pernikahan mendekati tahun kesepuluh, karena cita rasa masakan membuat hubungan kita bisa jadi renggang.
Aku lelah memikirkan ini. Kupejamkan mata dan mencoba membayangkan sesuatu yang indah-indah saja. Pikiranku masih tidak tenang sebelum meminta maaf kepada suamiku.
Aku bangkit dan membuka mata. Rupanya sudah gelap gulita. Listrik negara sudah mati lagi di kota kami yang semakin metropolitan. Niatku menghampirimu yang masih duduk di meja makan terhenti sampai di sini. Kurasa, perkara maaf itu akan menjadi sangat sulit bagiku.
Aku meraba-raba dalam gelap, berharap menemukan sesuatu yang bisa menyala. Tanganku memegang sesuatu yang keras, memanjang, hatiku sudah tidak karuan, menerka-nerka, benda apa yang berada di samping kananku, padahal sebelumnya kosong tidak terisi.
Kuremas dengan erat. Gempal. Berotot. Bereaksi.
Kubelai, malah berubah digerak-gerakkan. Aku menduga-duga.
Kuremas sekali lagi dengan sangat erat.
“Auw! Jangan begitulah, sakit itu!” kau berteriak sangat kencang saat pahamu berhasil kugenggam sampai jemariku merasakan otot keras berkat latihan kerasmu selama ini. Secepat itu kau duduk di sampingku tanpa kusadari. “Tidurmu nyenyak sekali,”
Ah, kupeluk erat tubuh dalam balutan kaos oblong tipis itu. Sudahlah, mungkin kita harus sama-sama mendalami isi hati masing-masing dalam suasana gelap ini.

Baca Juga Harumnya Cinta dari Janda Perawan

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90