Top Ad 728x90

Thursday, April 14, 2016

, ,

Kisah Sejati Guru Mengajar di Daerah Terpencil

Kisah Sejati Guru di Daerah Terpencil, Kisah Guru Mengajar di Daerah Terpencil, Guru di Daerah Terpencil harus menikah, Guru mengajar di daerah terpencil penuh tantangan, cara guru mengajar di daerah terpencil, tantangan guru mengajar di daerah terpencil,

 
cara guru mengajar di daerah terpencil
Guru mengajar di daerah terpencil (ilustrasi karena tokoh tidak mau dipublikasikan) - bangsaku.web.id
Aku mendengar kata-kata temanku, selesai kuliah langsung menikah. Awalnya aku tidak begitu percaya jodoh itu cepat sekali bisa kudapat. Ternyata, jodoh itu tidak jauh harus kucari sampai jungkir balik di tanah seperti anak minta mainan baru. Jodohku tak lain kakak laki-laki teman dekatku. Ada yang aneh, mungkin. Sering sekali aku bersama temanku, sering sekali juga aku bertatap muka dengan lelaki ini. Namun tidak terlintas dibenakku akan bersama dia seperti hari ini. Antara sadar dan tidak aku sudah menikah!

Memang, aku tidak akan berkisah percintaanku dengan lelaki yang sudah menjadi suamiku kini. Kisahnya pun tidak seperti dongeng Putri Tidur atau buaian manis Cinderella Sepatu Kaca. Kisahku biasa saja, sekilas mungkin kau harus tahu. Aku tidak menjalin hubungan khusus dengannya, hanya kenal sebagai kakak laki-laki teman dekatku. Lalu menikah seusai kuliah.
Tempatku berpijak kini tidak sama dengan yang pernah kujalani beberapa tahun lewat. Aku kini sudah berstatus nyonya dan seorang ibu. Benar sekali. Aku belum mempunyai momongan, baru sebulan lalu menikah. Aku adalah seorang ibu untuk anak-anakku yang lain. Di tempatku menatap fajar dan disenjaku mengantar matahari terbenam sekarang. Aku menjadi panutan untuk mereka. Anak-anak baruku. Siswa-siswa sekolah menengah pertama. Jauh di pedalaman selatan Aceh.
Berbekal tekad dan semangat kuat, aku menjadikan ini sebagai profesi dan tantangan. Kenyataan yang aku hadapi sangat menantang. Aku lulus sebagai guru muda di pemerintahan daerah tahun 2010. Terlempar ke pedalaman. Perbatasan Aceh dengan Medan. Sunyi. Sepi. Kiri kanan gunung. Jalan setapak licin karena sering hujan. Perkebunan terhampar luas. Siang bagai malam. Malam bagai tak berpenghuni. Jalan ke pusat pemerintah kabupaten Aceh Selatan[1] menempuh perjalanan sekitar lima jam. Sedangkan ke kabupaten tetangga Subulussalam hanya lebih kurang satu jam. Aku berdiri di antara gunung dan bukit. Jalan lintas provinsi. Dindin menusuk. Perkebunan besar. Sebagai guru. Pendidik. Panutan. Di Kecamatan Trumon Timur, Aceh Selatan.
Syah Loetan pernah melantunkan syair begitu syahdu dalam lagunya Aceh Selatan. Mungkin kau bisa cari di internet lagu ini. Instrumen yang indah sekali. Gelombang laut, angin semilir, cicit burung, gesekan daun bermula sangat menawan dalam senandung bahasa Aceh. Beberapa kali kuputar lagu tersebut sebelum sampai di negeri yang kata lagu ini banyak pegawai memancing. Aku yang lahir dan besar di Banda Aceh, pusat pemerintahan Aceh yang sangat modern sekarang terdampar ke kampung senyap. Bagaimana rasanya? Tidak bisa dipercaya, aku sudah menjalaninya.
Menjadi bagian dari masyarakat Trumon yang notabene hampir semua tidak bisa berbahasa Aceh membuatku bingung. Kebiasaan yang hampir semua berbeda dengan kebiasaanku. Semua dimulai dengan kehati-hatian. Salah melangkah, akan menimbulkan malapetaka. Masyarakat yang belum terbiasa dengan karakter orang kota akan mudah menindas. Aku serba hati-hati.
Aku seorang guru perempuan, sebelum pengangkatan ke daerah terpencil ini aku sudah diwanti-wanti untuk segera melepas masa lajang. Karena aku perempuan, jauh dari keluarga yang kutinggal pergi di Banda Aceh akan membuatku tidak aman. Prasangka buruk cepat menghinggapi begitu melihat aku seorang perempuan. Apalagi medan perang yang aku tempuh tidak semulus kebanyakan teman-temanku.
Mengajar di daerah terpencil tentu saja membutuhkan pengorbanan. Setelah menikah, aku memboyong suami untuk ikut bersama. Kami tinggal di sebuah ruangan khusus yang disediakan sekolah. Pagi hari aku ke sekolah yang hanya beberapa langkah. Aku guru Fisika, namun aku juga mengajar Biologi, Kesenian dan Muatan Lokal. Aku juga dipercaya menjadi wali kelas tiga. Sebuah tanggung jawab besar untuk guru baru. Aku hanya memiliki empat rekan kerja, itu pun sudah termasuk kepala sekolah. Dan aku seorang perempuan!
Jika kau tanya berapa siswa di sini? Seminggu bersekolah aku sudah hampir hafal semua siswa. Hanya seratus dua belas orang. Sebagian dari mereka, bisa dikatakan tidak layak lagi untuk siswa menengah pertama. Umur mereka mungkin sudah menengah atas, namun banyak alasan sehingga masih bertahan di sini. Aku tidak begitu paham mengenai hal ini, kalau sudah berhubungan dengan masalah pribadi aku memilih diam. Takut terhadap hal-hal yang tidak aku inginkan. Lebih baik berdamai dalam diam dengan warga setempat dari pada berharap masalah sensitif terjadi. Kau tahu sendiri, warga pedalaman sangat tidak senang kita ikut campur urusan mereka. Mungkin hal ini juga masih berlaku di perkotaan. Tidak hanya untuk urusan sekolah. Juga hal-hal lain. Sekecip apa pun.
Tugasku sebagai guru, hanya mengajar. Sesekali kumpul-kumpul dalam acara ibu-ibu yang tinggal di dekat lingkungan sekolah. Berbagi cerita kota untuk mereka. Belajar banyak hal. Termasuk bahasa isyarat yang kerap aku gerakkan. Masyarakat di sini kebanyakan bukan orang Aceh asli, sehingga susah melafalkan bahasa Aceh. Bahasa Indonesia juga masih terbata-bata. Mereka hanya menggunakan bahasa Singkil.[2] Mereka yang sudah tua sama sekali tidak mengerti bahasa Indonesia apalagi bahasa Aceh.
Tiap pagi aku mengajar. Kadang lupa mandi saking dekatnya sekolah dengan tempat tinggalku. Suami mencari-cari kerja sambilan. Namun sudah setahun ini belum juga mendapatkan pekerjaan yang cocok. Seminggu sekali kami belanja kebutuhan sehari-hari ke Subulussalam, karena lebih dekat dibandingkan ke Tapak Tuan.
Berbagai cerita kuukir, mulai dari anak-anak yang membandel. Terlambat masuk sekolah. Jarang bersekolah. Keterbatasan sarana dan prasarana. Aku mengajar seadanya, beberapa buku sempat aku beli di Banda Aceh. Namun kebanyakan siswa tidak mempunya buku paket pelajaran. Mereka hanya mengandalkan penjelasanku saja.
Aku seperti memikul beban yang sangat berat. Satu pandangan aku merasa sangat bersalah. Mengajar dengan pemahamanku semata. Mereka tidak membaca atau mempelajari dari buku-buku bacaan lain. Pandangan lain, aku seperti mengajari diriku sendiri akan kerasnya hidup di pedalaman. Tidak pernah terbayangkan sebelum ini aku akan berhadapan dengan siswa-siswi yang begitu polos. Menerima saja pemberian guru. Benar salah tidak diperhitungkan. Berinteraksi dengan masyarakat yang kerap tidak mengerti ucapanku.
Banyak yang bertanya, apa aku betah? Kadang aku hanya tersenyum simpul. Kondisi yang aku jalani jelas tidak membuatku bertahan lama. Namun untuk pindah tugas ke daerah dekat Tapak Tuan sangatlah susah mengingat aku masih pegawai baru.
Bersabar merupakan kunci utama untukku dan suami. Hari-hari yang aku jalani diiringi canda tawa siswa-siswi. Mereka adalah pengobat rindu keluarga dan teman-temanku. Sebagian teman ada yang saling kasih kabar. Aku masih bersyukur sinyal telepon seluler menyala. Paling tidak sesekali aku bisa mengakses internet dan berjejaring sosial dengan teman-temanku. Membuang bosan. Berbagi kisah.
Aku datang untuk mengajar dan kembali belajar. Mengajar ilmu yang sudah empat tahun lebih aku pelajari di kampus. Belajar kembali literatur dan budaya lokal yang kental di pedalaman. Aku terdampar ke sini karena aku yang memilih. Menjadi pegawai itu menjanjikan, mungkin itu persepsi sebagian orang, termasuk aku.
***


 [1]Ibu Kota Aceh Selatan adalah Tapak Tuan. Aceh Selatan merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi Aceh. Pemekaran Aceh Selatan menjadi tiga kabupaten yaitu, Aceh Selatan (Tapak Tuan), Aceh Barat Daya (Blang Pidie), dan Aceh Singkil (Singkil). Aceh Singkil dimekarkan kembali menjadi Aceh Singkil dan Subulussalam.
[2]Bahasa Singkil adalah sebuah bahasa yang tergolong dalam kelompok bahasa-bahasa Batak Utara bersama dengan bahasa Karo, Alas, Kluet, dan Pakpak. Bahasa ini dipakai oleh penduduk asli Subulussalam dan Kabupaten Singkil Daratan.
***
Thank's to Kajol telah berbagi. 

Baca Juga Karena Masakan Ibumu Harga Diriku Tercabik

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90