Top Ad 728x90

Wednesday, April 20, 2016

, , ,

Pariwisata Cinta Terhalang di Lautan Sabang

Pariwisata Cinta Terhalang di Lautan Sabang, Pariwisata Sabang, Lomba Blog Sabang, Kisah Cinta di Sabang, Pantai Sabang yang indah sekali, Wisata ke Sabang murah dan hemat, Laut Sabang sangat indah,

Ombak menderu sangat kencang. Desir angin menghentak-hentakkan aura panas sampai ke ubun-ubun. Aku tergopoh-gopoh memburu waktu. Langkah-langkah di belakangku tak kalah repotnya. Mereka mengejar langkahku. Aku mengejar jadwal kapal penyeberangan dari Pelabuhan Ulee Lheue menuju Sabang.

Senyum mereka di belakangku merekah. Lelah tak seberapa dibandingkan dengan apa yang akan mereka dapatkan setelah ini. Berpacu bersama kericuhan kami telah menukar tiket untuk masuk ke kapal yang akan melayari jiwa dan raga kami ke titik nol kilometer Indonesia. Rombongan dari Malaysia yang kupandu kali ini tak terlalu cerewet dibandingkan rombongan sebelumnya. Mereka cukup antusias menerima arahan dan cerita apapun tentang Sabang yang kusampaikan sebelumnya.

Tak lama kami berdiri menghadap lautan lepas di atas desk kapal penumpang, nahkoda mengarungi lautan yang tampak sangat angkuh. Laut di belah begitu saja. Ombak-ombak yang tak seharusnya berada di tengah lautan terjadi akibat deru mesin kapal ini. Goyangan demi goyangan bagaikan panggung hiburan yang menghadirkan penyanyi dangdut kenamaan. Teriakan-teriakan gembira membahana di mana-mana. Berada di tengah-tengah lautan antara Banda Aceh dengan Sabang adalah sesuatu. Sesuatu yang aku sendiri belum mampu mendefinisikannya, walaupun telah puluhan kali berada di kondisi yang sama.
Angin laut. Ombak di tengahnya. Air yang bening. Awan bergulung. Biru membentang. Atas dan bawah. Perpaduan yang angkuh namun indah.
Mana mungkin aku mau melewatkan begitu saja keindahan ini. Laut Aceh yang tenang setelah tsunami adalah semerbak untuk menghanyutkan rasa kembali pada sesuatu yang hilang. Rombonganku sibuk dengan aktivitas foto-foto mereka di tengah lautan ini. Aku bersandar di tempat seharusnya penumpang melakukan hal ini. menghadap ke Sabang, di depan sana, yang indah begitu saja tanpa harus kujabarkan karena tak akan sama jabarannya antara aku dan kamu yang sudah maupun belum menginjakkan kaki ke pulau ini.

“Sendiri saja?” sapa seseorang yang tiba-tiba telah berdiri di samping kananku. Di tangannya sebotol air mineral telah habis seperempat.

“Oh, hai. Sama rombongan,” jawabku agak kikuk. Pria yang berdiri di sana adalah sosok yang cukup menarik perhatian gadis sepertiku. Tinggi pasti. Putih dan kulitnya lembut seakan-akan seperti susu kental manis. Rambutnya dibelah tengah tampak rapi. Kemeja biru lengan panjang dilipat selengan dan dimasukkan ke dalam celana. Celana jeans biru tua dipadukan dengan sepatu cokelat cukup membuatnya fashionable.

“Baru pertama ke Sabang?” tebaknya sok tahu, masih dalam takaran ramah.

“Hm, sebenarnya saya guide,” jawabku jujur sambil nyengir.

“Wow! Fantastis!” matanya terbelalak. “Jarang-jarang saya menemukan guide seorang wanita” dia tampak tidak percaya.

“Saya di sini!” ujarku dengan bangga. “Kamu sendiri?”

“Saya asli Sabang!”

Cerita berlanjut ke suasana yang semakin renyah. Pesona pria yang menyebutkan nama sebagai Hamas tak berhenti sampai kami lupa kedudukan masing-masing. Kupikir, akan seperti penyeberangan sebelumnya, rombongan yang kubawa sibuk sendiri dan aku pun sibuk sendiri, termenung dan bermain bersama rencana-rencana sampai di Sabang.

“Kenapa kamu mau jadi guide?” Hamas langsung menghunus pedang ke urat nadiku. “Maksudnya, jarang-jarang lho di sini, kamu tahu, guide seorang wanita!” aku mengerti, maksud Hamas jarang ada wanita Aceh yang mau menjadi guide. Profesi ini barangkali lebih kepada pria yang mampu melakukan hal-hal menantang atau bahkan mereka yang mau meninggalkan rumah dalam waktu tak tentu.

“Wanita juga berhak jalan-jalan, bukan?” aku balik bertanya.

“Betul,”

“Lihat mereka di sana,” tunjukku kepada rombongan berjilbab dan berpakaian dengan gaya negeri Jiran. “Mereka tergiur dengan pernak-pernik dari Sabang. Keindahan pantai di Pulau Weh, Kilometer Nol Indonesia, jalanan Sabang yang berliku, dan tentu wisata Islami yang diagung-agungkan oleh pemerintah kita!”

Semilir angin terlalu kencang untuk sebuah ucapan setelah itu.

“Mereka butuh guide wanita,” kata Hamas seperti membaca pikiranku.

“Tepat sekali!” aku girang bukan main. “Wisata ini benar-benar harus Islami. Kita harus membuat mereka yang datang menjadi nyaman dan terlindungi. Saya sih nggak peduli orang ngomongin apa. Saya memandu wisatawan wanita dan mereka layak mendapatkan pemandu sesuai keinginan mereka. Mereka telah menghabiskan waktu, tenaga dan biaya untuk menikmati keindahan negeri kita. Inilah saatnya kita menghadirkan suasana yang aman dan nyaman sehingga mereka yang datang akan mempromosikan kepada mereka yang belum datang untuk bergegas ke Aceh, ke Sabang!”

“Aman dan nyaman,” Hamas bergumam. “Dua poin penting dalam menggalakkan wisata Islami. Tapi, apakah kamu keberatan jika wisatawannya rombongan pria?”

“Tentu, saya keberatan,” jawabku tegas. “Soal selera sudah berbeda. Saya tahu wisata fisik seperti menyelam dan sebagainya, tetapi saya tak akan melakukannya untuk rombongan wanita. Belum lagi jika kita bicara keamanan si guide wanita ditengah-tengah para harimau. Saya lengah, langsung diterkam!”

Kami sama-sama tertawa.

“Apa yang menarik dari Sabang?” pertanyaan Hamas tak mengejutkan. Sama seperti rombongan yang selalu kubawa, mereka bertanya hal yang sama dengan Hamas. Bedanya, mereka tidak tahu apa-apa tentang Sabang. Hamas jelas menjebakku dengan pertanyaan itu.

“Apa yang tidak kamu dapatkan di tempat lain, itu ada di Sabang!”

“Titik permulaan Indonesia. Biota laut yang ramah. Terumbu karang yang indah. Laut yang tidak ganas walaupun telah diterjang tsunami. Masyarakat yang ramah. Biaya yang murah dan lebih hemat. Alam yang bersahabat mulai dari temperatur di darat dan di laut. Pilihan penginapan yang terjangkau dan dekat pantai. Tempat wisata yang penuh tata krama sesuai syariat Islam….”

“Tinggal kamu mau pilih keindahan dari sisi yang mana?”

“Betul!”

Kami sama-sama menebar senyum ke daratan yang tampak mendekat. Sebentar lagi nahkoda akan menurunkan layar. Kami akan menepi. Menjejaki segenap keindahan terselubung di segala sisi. Aku dan Hamas berpisah begitu saja. Aku memboyong rombongan ke rute-rute yang telah kami catat dan Hamas ke rumahnya entah di sudut mana. Terbersit dalam hati untuk bertanya mengenai alamat, rasa malu terlanjur membuih sehingga hanya nama saja yang kugenggam pasti. Percakapan dengan Hamas cukup membekas dan aku tak tahu ke mana akan bermuara. Saat kisah ini terurai, aku sama sekali tak pernah bertemu Hamas lagi. Aku masih bolak-balik ke Sabang namun tak pernah sekalipun aku satu kapal dengannya.

Sabang sebagai wisata Islami bukan hanya mimpiku. Ini adalah mimpi kita. Mimpi mereka yang datang. Mimpi untuk membedakan kita dengan tempat lain yang semerbak harum piasan malam. Darat, laut, semuanya sama. Hanya kita dan mereka yang membedakan soal selera dan rasa. Aku bersama mereka dengan penuh canda tawa. Datang dan pergi. Perkenalan dan perpisahan. Rekomendasi dan sapaan baru dengan mereka yang lain. Inilah cinta yang kusuguhkan untuk Sabang, untuk semilir angin yang enggan kujabarkan jika ia adalah rindu pada sosok itu.

pariwisata sabang
Pesona Sabang di malam hari - Photo by Citra Rahman (hananan.com)
keindahan pulau weh sabang
Laut yang damai di Pulau Weh, Sabang - Photo by Citra Rahman
pesona keindahan kota sabang
Surga yang tersembunyi di Pulau Weh, Sabang - Photo by Citra Rahman
Jika kamu ke Sabang nanti, bertemu dengan sosok yang sama seperti dalam kisah ini, sampaikan salamku untuknya.
“Aku seorang guide wanita di sini. Aku siap memandu wanita-wanita di luar sana untuk bertemu sosok sepertimu yang mengagumkan!” 
***
Thanks to Kazoel; ceritamu mengagumkan buatku, kini dan nanti!
***

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90