Top Ad 728x90

Friday, April 22, 2016

, , ,

Pernikahan yang Tak Terurai

Pernikahan yang tak ada, pernikahan yang gagal, pernikahan yang galau, kisah gagal menikah, kisah pria yang gagal menikah, pria yang ditinggal tunangan,

tunangan kabur
Ilustrasi - merdeka.com
Dia lelaki. Berparas tampan. Berbadan tegap. Dada bidang. Senyum menawan. Tinggi menjulang. Dan mapan!
Tiada mata yang akan berpaling pada lelaki ini pada pandangan pertama. Sosoknya menginspirasi hampir semua pemuda untuk ikut jejak langkahnya dalam mengatur pola hidup dan kesehatan. Sosoknya juga menjadi idaman setiap perempuan yang sedang di mabuk cinta ingin segera melebur diri dalam pelukan seorang lelaki. Laki-laki ini punya karisma yang membuat hati terseret dalam aura kelelakiannya. Laki-laki ini tak perlu banyak tingkah untuk memikat semua pandangan terhadapnya. Lelaki ini hanya perlu duduk, terdiam bahkan menutup mata saja sudah ada banyak mata meliriknya.
Ternyata, tidak hanya perempuan saja yang memikat lawan jenisnya. Laki-laki ini membuktikan bahwa dirinya pun mampu menarik minat berpasang mata hanya untuk menengok kelebihan dalam dirinya. Jika pun laki-laki bernafsu melihat perempuan seksi, maka perempuan seksi akan lebih bernafsu melihat laki-laki ini.
Dia Adam. Seorang lelaki mapan yang kini duduk termenung di bawah atap sebuah kafe pinggir kota. Pandangannya kosong, seperti sedang memikirkan banyak hal dalam hidupnya. Tidak seperti biasanya Adam selalu membuang senyum palsu pada semua pandangan yang membutuhkan buaian auranya. Adam juga merasakan perih seperti manusia lain. Kali ini, sore ini, sepulang kerja di salah satu lembaga pemerintah Adam memilih sendiri.
Berkali-kali pandangan matanya tertuju pada jalan basah bekas gerimis lima menit lalu. Pandangan itu pun hampa tak bergelora. Adam seperti sedang berada di atas awan dengan banyak kabut memayungi matanya. Setiap kali kerdipan matanya, Adam melihat pekat yang tidak bercahaya. Adam sendiri dalam ramai sore di kafe langganan anak muda kota. Banyak pandangan yang sedang mencari celah agar bisa bersapa dengannya. Adam mengabaikan semua harapan mata itu, bahkan Adam lupa dirinya dalam keramaian.
Mungkin, Adam tidak akan bahagia sampai kapan masa berakhir di dunia kiamat. Orang-orang boleh saja memandang Adam seorang lelaki sempurna tanpa celah cacat sedikit saja. Mulai dari fisik, pekerjaan sampai kehidupan luar lainnya Adam sangat cukup. Hanya kebutuhan batin yang sampai kini belum terpenuhi.

Baca Juga Pariwisata Cinta Terhalang di Lautan Sabang


Adam menenguk secangkir kopi panas…
Tidak ada masalah dalam hidup Adam. Semua baik-baik saja. Keluarga menjadikannya raja. Teman-teman menjadikannya lawan andal. Dan banyak perempuan mengejar cintanya walau satu pun tidak digubris. Adam lebih memilih jalan hidup lain yang tak wajar dalam kehidupan nyata. Adam merasa lebih senang dan nyaman berada dalam lingkaran yang membuat nafsunya memuncak setiap saat berhadapan dengannya. Adam hanya perlu sekali klik lalu bergegas menggelar aksi kepuasaan sesaat. Tiada resiko yang akan membuat Adam merugi setelah kepuasan nafsunya usai. Adam hanya perlu tersenyum, lalu meninggalkan tubuh berselimut udara dingin dalam kamar sepi.
Adam tersenyum, dalam galau tetap saja menawan…
Sore semakin beranjak. Adam memainkan smartphone berukuran lima inci. Memperhatikan foto mesra di layar telepon pintar miliknya tersebut. Lagi-lagi Adam galau dan entah memikirkan apa melihat pelukan dan kecupan sayang dalam foto tersebut.
Cinta?
Bukankah laki-laki juga berhak jatuh cinta? Selama ini Adam sama sekali tidak percaya cinta semu yang dielu-elukan kekasih gelapnya. Adam hanya butuh kehangatan sesaat lalu pergi mencari pelukan lain. Adam sadar, bahwa dirinya mampu menarik banyak kalangan untuk mau bersanding dengannya walau dalam waktu tak lebih setengah jam. Apalagi remaja masa kini yang haus kasih sayang, butuh materi dan kepuasan nafsu. Adam punya segala, fisik mendukung setiap pandangan melahap seluruh tubuhnya. Materi bisa dibuang percuma untuk kepuasan sesaat di tempat tersembunyi tanpa mata lain menyaksikan. Tidak ada yang berani menolak ajakan Adam bermain dalam dekapan asmara tak wajar. Karena Adam punya segala.
Adam sudah melakukan. Berkali-kali. Tanpa cinta. Dan kini, saat umur lewat empat puluh tahun Adam tersadar bahwa orang yang pernah disakitinya begitu dicintai. Banyak tubuh yang Adam sayat dengan nafsu menggelora, namun mata dalam foto di layar smartphonenya berbeda. Orang lain cukup untuk memuaskan hasrat lalu ditinggal, namun orang dengan senyum di layar smartphonenya tidak demikian. Seminggu lalu Adam tersadar, saat semua hancur lebur, setelah bertahun-tahun Adam menyakiti perasaan pemilik senyum di layat teleponnya, bahwa Adam mencintai orang itu!
Cinta yang tak wajar!
Cinta bukan kebutuhan Adam. Dengan fisik dan kemapanan hidup Adam bisa mendapatkan siapa saja menjadi pasangan hidupnya, tanpa cinta. Cinta hanya milik orang-orang yang butuh kasih sayang. Adam merasa baik-baik saja. Sangat baik. Bahkan lebih baik tanpa cinta karena tidak akan menyakiti.
Benar. Hidup Adam selalu berhadapan dengan kehidupan tak wajar. Sejak dulu, saat Adam sadar bahwa laki-laki punya kepuasan tersendiri dalam memuaskan nafsunya.
Adam kembali menenguk kopi yang hampir dingin…
Kehidupan Adam tidak wajar, untuk pandangan normal. Hidupnya sudah dibumbuhi hubungan dengan mengutamakan nafsu. Pasangannya adalah lelaki, tak bernama dan beridentitas jelas. Nama hanya sebatas sebutan tanpa sadar keaslian. Identitas lain pun tak perlu karena orientasi pertemuan yang dibangun Adam hanya untuk saling puas sesaat.
Inilah Adam. Laki-laki berparas rupawan yang sampai kini belum pernah bersentuhan dengan perempuan. Kehidupan malamnya selalu dihiasi dengan berganti laki-laki. Masa yang terus berganti, saat kehidupan laki-laki menyukai laki-laki bukan lagi hal tabu Adam merasa sejahtera. Tak perlu mencari pasangan sekasur tiap malam sunyi untuk memenuhi nafsu Adam, mereka akan datang!
Sekali bertemu satu orang di dunia maya atau di jejaring sosial, berkali-kali pula nama samaran lain menyapa. Bertukar nomor kontak pribadi. Bertemu. Jika cocok dan saling berhasrat maka pilihan berikutnya adalah kamar sepi. Jika tak suka, terlampau di bawah standar karena Adam istimewa dari fisik, cukup saling sapa dan lupakan.
Berkali-kali pula Adam melakukan hal itu sejak dirinya lulus SMA. Masa yang sangat jauh meninggalkan dirinya. Teman-teman sepermainan sudah menikah dengan perempuan, punya keturunan dan terlihat bahagia. Adam malah mencari pasangan laki-laki untuk ditiduri tiap malam. Kepuasan batin selalu memuaskan badan dan mata Adam begitu mendapatkan laki-laki menawan. Sekali lagi, tak ada cinta dalam hubungan ini!
Dulu tidak, sekarang?
Keadaan Adam berbalik ketika bertemu dia, yang kini tersenyum di layar smartphone mewah miliknya. Laki-laki yang sudah disakitinya. Laki-laki yang terpaut umur sepuluh tahun darinya. Laki-laki polos yang sudah ditidurinya. Laki-laki manja yang meminta jawaban atas hubungan mereka. Namun Adam abai. Membuang semua hubungan yang ingin dibangun laki-laki itu, Adam tak bisa setia. Karena tiap malam, banyak laki-laki muda lebih menawan mengajaknya memadu asmara tanpa ikatan.
Adam memaling keseluruh penjuru, banyak tawa di kafe langganannya. Kafe tempat pertemuan pertama dan terakhir. Tempat transaksi. Bukan, karena laki-laki yang dicintai Adam tidak pernah mau bertransaksi, hanya mengajak berhubungan layaknya kehidupan normal!
Adam mendengus. Kehidupan normal? Tidak akan pernah terjadi. Mereka sama-sama lelaki. Kehidupan normal apa yang ditawarkan orang yang dicintai Adam kini?
Adam kembali memandang seluruh kafe. Banyak suara tawa. Begitu Bahagia.
Kehidupan seperti laki-laki dan perempuan? Saling menyayangi dan memadu kasih? Entahlah. Dulu Adam tak ingin, laki-laki yang tidak mau Adam sebutkan nama itu mengejar setelah mereka menghabiskan suatu malam sunyi. Laki-laki yang selalu Adam buang ingatan tentangnya itu meminta kepastian hubungan, karena laki-laki tak bernama itu baru pertama sekali ditiduri dengan paksa oleh lelaki. Adam tak mempersoalkan, nafsunya sudah terobati dalam hasrat meniduri laki-laki itu. Dulu, jauh sekali waktu itu, Adam tidak mau. Dan kini, Adam mengingat semua permintaan tersebut. Saat semua hampir jatuh pada bayangan lupa sebenarnya. Saat orang cinta menjadi benar definisinya. Saat semua menggebu memaksa Adam menyudahi masa lajang yang sebenarnya sudah jatuh ke puluhan lelaki berbeda. Saat orang tua berusia semakin renta. Saat keluarga memaksa Adam menikah setelah lewat angka empat puluh!
Laki-laki berparas remaja di layar teleponnya mengubah senang menjadi sakit hatinya. Adam tak pernah cinta pada lelaki yang ditidurinya apalagi pada perempuan mana pun. Adam tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan. Tidak ada alasan Adam membenci perempuan, hidup Adam sudah terpenuhi tanpa ada perempuan pun di sampingnya.
Laki-laki yang sedang tersenyum di layar teleponnya? Menikahi laki-laki itu? Orang-orang akan mencemooh Adam sampai ke kerdipan mata sekali pun. Masyarakat akan mengabaikan kedudukan Adam dalam hidup ini. Jabatan sebagai atasan yang baru saja disandangnya akan redup dan melayang ke tangan lain jika hal ini terjadi. Orang tua akan meninggalkannya dalam sepi. Teman-teman akan merekam semua kenangan bersama Adam sebagai petaka bagi mereka.
Adam memiji-mijit kening yang tak pusing….
Menikahi perempuan? Tidak pernah terbayangkan dalam benak Adam. Perasaannya sangat hambar terhadap perempuan. Perjodohan yang dianjurkan keluarga berakhir pada keputusan kosong. Adam tidak mau menipu, setelah menikah dirinya akan meniduri banyak lelaki. Sakwasangka terhadap dirinya membuat Adam urung menikahi perempuan.
Laki-laki yang kini membayangi angannya? Yang pernah disakiti? Adam baru tahu sebesar apa perasaan laki-laki itu. Pertemuan mereka sudah lama sekali, Adam selalu mengabaikan keberasaan lelaki itu. Baru setahun terakhir lelaki itu tidak pernah lagi memberi kabar karena Adam tidak pernah menerima telepon dari wajah yang selalu tersenyum dalam angannya. Pesan-pesan penuh harap juga diabaikan Adam, hanya sesekali membalas dengan kata yang tidak bijaksana. Terakhir, Adam membalas pesan dengan mengatakan dirinya sedang bersama laki-laki lain.
Bagaimana perasaannya kala itu? Mata Adam berlinang.
Kehidupan dirinya sungguh tidak wajar, Adam sudah abai terhadap orang yang selama ini sangat mencintainya. Cinta yang tidak pernah terartikan dalam benak Adam. Cinta yang tidak benar. Cinta yang tidak ada. Cinta yang tidak seharusnya. Cinta antara laki-laki dengan laki-laki! Adam sudah membuat salah, karma sudah berlaku pada hidupnya yang terlanjur salah. Cinta yang selama ini tidak dipercayainya menghantui setiap helaan nafas.
Adam menimbang-nimbang. Tidak ada salahnya memulai kembali; meminta maaf; membangun hubungan tanpa ikatan pernikahan; seperti mau orang yang dicintainya dulu!
Adam mendial nomor yang belakangan dihafalnya. Menunggu beberapa detik. Belum ada sambungan. Senyap. Tak lama suara operator menegaskan nomor tersebut tidak dapat dihubungi. Adam mencoba sekali lagi, jawabannya sama. Sekali lagi, terputus begitu saja.
Tatapan Adam kosong
Kehilangan? Begitu sakitkah? Hubungan yang tak wajar lalu tersakiti, rasanya tidak bisa Adam jabarkan dengan kata-kata. Inilah yang dulu dirasakan orang yang kini Adam butuhkan.
Sekali saja! Biarkan maaf terburai dalam rintihan. Biarkan hubungan tak wajarnya terjalin kembali, mengisi jiwa yang hampa!
Adam bangkit dari jenuh. Wajahnya kusut. Berpasang mata di kafe sore itu masih terbinar memandangnya. Pesona laki-laki berparas menawan dan badan tegap masih menyisakan harap ingin dimiliki. Adam mengutuk, mereka tidak mengerti. Hidup Adam sudah tidak sempurna!
Fisik, materi, nafsu tidak ada yang menandingi rasa ingin memiliki dan kehilangan. Adam seakan jadi kerdil di hadapan banyak pandangan bergelora ingin memilikinya. Cinta yang selama ini dibuangnya, sudah menjauh pergi. Tinggalkan Adam dalam hidup yang tak wajar dalam bentuk fisik gagah memesona!

Baca Juga Refleksi Hari Kartini 

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90