Top Ad 728x90

Thursday, April 21, 2016

, , ,

Refleksi Hari Kartini Tanpa Apresiasi untuk Cut Nyak Dien

Refleksi Hari Kartini Tanpa Apresiasi untuk Cut Nyak Dien, Hari Kartini, Perayaan Hari Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, Surat-surat Kartini, Ibu Kita Kartini, Raden Adjeng Kartini, Cut Nyak Dien,

 
Kartini dan Cut Nyak Dien
Raden Adjeng Kartini dan Cut Nyak Dien - Wikipedia Indonesia
Dua wanita. Dua wajah. Dua perjuangan. Jawa dan Aceh. Perang dan diskriminasi. Surat dan pedang. Kota dan hutan. Berada di antara Belanda dan Belanda. Raden Adjeng Kartini dan Cut Nyak Dien.

Perbedaan yang signifikan namun abadi sampai kini. Seorang mendapat apresiasi teramat lebih di negeri ini. Bahkan Belanda pun lebih menganakemaskan Kartini daripada Cut Nyak Dien yang pada dasarnya sangat ditakuti oleh mereka kala itu. Keduanya memang Pahlawan Nasional Indonesia namun keduanya berbeda pada penghargaan tak seimbang dari negeri ini kepadanya. Apakah karena Kartini seorang Jawa? Apakah karena Cut Nyak Dien seorang Aceh? Apakah karena Kartini memiliki karya dalam bentuk tulisan – surat – sehingga ia abadi? Apakah karena Cut Nyak Dien tak menulis apa-apa sehingga hanya nama diucap saja sesekali tanpa perayaan “ulang tahun” sama sekali.

Bagaimana jika ulang tahunmu tidak dirayakan? Kamu sedih, wajar saja. Kamu ngambek, lumrah kok. Kamu merasa dicuekin karena tidak mendapatkan hadiah, itu hak kamu. Bagaimana dengan kedua wanita yang telah tiada ini? Keduanya menempati porsi yang sama di cawan bernama Indonesia. Satu dirayakan tanggal lahir tiap tahun. Satu tak ada perayaan apa-apa. Jangan tanya perasaan, karena mereka telah tiada. Hanya saja, manusiawi jika saya terenyuh dengan kondisi ini sampai abad teknologi tinggi begini.

Baca Juga Cinta Terhalang di Lautan Sabang


Kartini lahir 21 April 1879. Jauh sebelum itu, 31 tahun sebelumnya, 1848, Cut Nyak Dien telah lahir di Aceh. Kartini memulai hari dengan pendidikan layak, katakannya demikian, di bawah ketiak darah biru dan keangkuhan Belanda. Cut Nyak Dien mengasah pedang, mengikuti tipu muslihat Teuku Umar dalam menghalau kegigihan Belanda menjarah negeri Aceh. Dua wanita yang memiliki pertalian darah konglomerat – bangsawan – dengan asa yang berbeda. Pemikiran modern Kartini membawa perubahan kepada pendidikan wanita hingga kini. Kartini membuka cakrawala dengan surat cinta kepada kekasih entah di mana agar wanita berhak mendapatkan pendidikan dan terhindar dari diskriminasi. Cut Nyak Dien berada di alam bebas, bagai burung yang kehilangan sangkar, lebih ganas, lebih garang, lebih menantang, kelaparan, mengungsi ke mana-mana hingga dikucilkan. Sampai akhirnya wafat di negeri terasing, Sumedang, pada 6 November 1908 setelah rangkaian penyiksaan dan keperihan sebagai tahanan perang. Kartini wafat empat tahun sebelum itu, 17 September 1904 namun abadi dalam karya Habis Gelap Terbitlah Terang yang sampai kini masih menjadi pondasi pendidikan khususnya untuk kaum wanita.

Aceh mengabadikan nama Cut Nyak Dien sebagai rumah sakit umum di Meulaboh, Aceh Barat. Nama Cut Nyak Dien juga diabadikan menjadi nama tempat dan jalan di beberapa daerah lain. Nama Kartini juga dimiliki oleh jalan dan tempat seperti di Utrecht maupun Amsterdam. Memang keduanya abadi, tetapi Kartini lebih abadi karena tiap tahun, tanggal 21 April dirayakan sebagai Hari Kartini. Apakah pahlawan wanita di Indonesia cuma Kartini seorang yang dianggap benar-benar hebat? Bagaimana dengan Cut Nyak Dien yang saya tulis ini. Bagaimana dengan Dewi Sartika, Cut Meutia atau nama-nama wanita lain yang turut mempejuangkan kemerdekaan Indonesia dalam segala sisi.  Di mana hari untuk mereka dikenang? Atau mereka tidak layak untuk diingat. Atau mereka hanya abadi di buku-buku pelajaran sejarah saja? Atau mereka, ah, sudahlah tak penting mengingat itu. Begitu?

Tiap tahun ada hari untuk merefleksikan pendidikan untuk kesetaraan wanita. Kartini dikenal sebagai pejuang cita-cita wanita sehingga layak dirayakan ulang tahunnya. Oh, karena Cut Nyak Dien bukan penggerak pendidikan maka dari itu ulang tahunnya nggak penting untuk ditiup lilin. Kehidupan selalu diawali dengan pendidikan layak bagi siapapun sedangkan perjuangan melawan penjajah hanya terjadi di masa itu. Namun pendidikan tak akan pernah berlangsung jika selalu dalam keadaan perang. Negara-negara yang masih berperang, bagaimana pendidikan di sana. Bagaimana bangku sekolah berdiri kokoh, atau telah peyot kena bom. Bagaimana guru mengajar di tengah rentetan peluru. Bagaimana anak-anak dibiarkan keluar rumah oleh orang tua saat para serdadu berkeliaran mencari mangsa, tanpa pandang bulu. Bahkan negara yang tidak lagi dalam keadaan perang pun terbengkalai dalam kesedihan seperti Korea Utara. Pejuang seperti Kartini memang ada di masa kini, sebut saja Malala, tetapi anak-anak Timur Tengah yang melihat bom meledak hampir tiap saat, senapan laras panjang di mana-mana, kekerasan di segala sudut, pendidikan bukan lagi kewajiban karena rasa aman dan nyaman tak dirasa. Mereka harus melawan hidup dengan bertahan tanpa pendidikan layak. Akhirnya mereka menjadi Cut Nyak Dien maupun Teuku Umar di usia belia yang berusaha mengusir penjajah di tanah lahir, memainkan tipu muslihat saat melihat tentara sekutu dengan pongahnya menjarah kebebasan mereka.

Apakah tanpa Kartini pendidikan wanita Indonesia di masa kini tak akan ada? Saya keliru soal ini. Ada atau tidak adanya Kartini pendidikan wanita tetap berjalan seperti saat ini. Perubahan zaman akan berkata lain dan wanita berada di antara perubahan tersebut. Cut Nyak Dien menggusur penjajah, melepas kungkungan dari doktrin-doktrin kejam, memberi kebebasan untuk makan minum dengan santai, menyediakan ruang untuk semua orang tanpa melihat jenis kelamin. Negara lepas dari penjajah maka semua orang bebas melakukan apapun, termasuk soal pendidikan. Apakah perjuangan Cut Nyak Dien masih dianggap kurang sampai-sampai tanpa ada perayaan ulang tahun? Apakah lelah Cut Nyak Dien berlari ke sana-ke mari mencari perlindungan bukan sebagai pengorbanan?

Banyak kondisi yang membuat keduanya berbeda. Namun masyarakat lebih mengagungkan Kartini karena banyak alasan. Termasuk lagu Ibu Kita Kartini yang masih dinyanyikan di sekolah-sekolah. Kartini lebih abadi dalam segala hal. Cut Nyak Dien tidak demikian. Kartini boleh dikatakan sangat bahagia sejak dulu sampai kini. Cut Nyak Dien tidak bisa merasakan hal-hal demikian. Kartini bebas belajar bahasa Belanda dan bergaul dengan mereka tanpa takut akan dibunuh seketika. Cut Nyak Dien bahkan tak akan dapat bersitatap dengan kompeni karena wanita ini adalah peluru yang ditakuti. Kartini menghabiskan masa-masa indah dengan karya-karyanya. Cut Nyak Dien terasing, terbuang, terbengkalai, entah bagaimana rupa penyiksaan kala itu.

Mereka dua wanita perkasa di Indonesia, sama-sama layak untuk dihargai. Kartini seorang pejuang, Cut Nyak Dien juga demikian. Terlepas dari ada atau tidaknya perayaan ulang tahun ini, sejatinya mereka ada di hati kita. 

Baca Juga Cara Optimalkan Blog Lifestyle

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90