Top Ad 728x90

Monday, May 2, 2016

, ,

Benarkah Mahasiswa Aceh Banyak yang Menjadi LGBT

Benarkah Mahasiswa Aceh Banyak yang Menjadi LGBT, Mahasiswa Menjadi LGBT, Mahasiswa Aceh kerja di warung kopi, mahasiswa aceh kerjanya di warung kopi, warung kopi di Aceh, mahasiswa LGBT,

mahasiswa homo
Ilustrasi - islamedia.id
Ngomongin LGBT nggak bakal ada habisnya. Di Aceh pun demikian. Kiri kanan adalah mereka yang dianggap penganut paham ini. Meriah dan bersenang-senang karena ini adalah sebuah having fun. Lagi pula, LGBT ini memang sebuah kesenangan hidup yang nggak ada duanya. Siapapun yang berkelakuan LGBT akan aman-aman saja. Nggak bakal hamil, itu yang terpenting. Nggak bakal ketahuan, itu penting kedua. Nggak bakal dihujat orang, kecuali ketahuan dan bikin malu.

Akhirnya, banyak orang memilih menjadi LGBT karena itu adalah gaya hidup masa kini. Kamu nggak jadi bagian ini, kamu akan dianggap kurang pergaulan. Kamu mencemooh gaya hidup ini, kamu benar-benar orang-orang yang hebat sekali. Karena apa? LGBT itu diagung-agungkan di seluruh dunia, lho. Mereka membelanya. Mereka membuatnya diakui sebagai sebuah hukum. Mau pejabat yang cari aman. Mau anak muda. Mau pengusaha. Mereka make LGBT ini.

Dan, di Aceh, menurut pejabat negeri ini, bukan cuma sekali pendapat ini muncul. Mahasiswa Aceh itu adalah penganut LGBT terbesar abad ini. Benar atau tidak mungkin saja hanya survei mereka saja. Toh, para pejaka yang menjabat aparat LGBT ini belum tentu seperti yang terlihat dari luarnya saja. Di luar benar digadang-gadang sebagai LGBT abadi dengan jahatnya bermain “kelamin” ke sana-sini. Dari dalam nggak ada yang tahu bahwa “kelamin” mereka masih tersimpan rapi sampai sejauh ini. Eh, tahu-tahunya pejabat negeri ini yang malah bermain LGBT beneran!
Mahasiswa Aceh itu senang bermain-main, itu pasti. Nongkrong di warung kopi itu adalah cikal-bakal berkenalan dengan LGBT. Pesona warung kopi di Aceh memang tiada duanya. Kamu bisa dapat apa saja, termasuk kenalan baru untuk kencan rahasia. Namun jangan juga lupa, mahasiswa yang kencan LGBT di warung kopi itu cuma cekikikan dengan “pacarnya” saja tanpa melakukan apapun. Sebagai gambaran umum saja, saat ini Google memiliki “karyawan” tanpa SK pengangkatan. Bisa jadi salah seorang karyawan Google ini adalah mereka di kalangan LGBT ini.

Terkadang, orang-orang sangat mendewakan mereka yang kerja kantoran, punya SK atau sejenisnya sebagai orang terhebat dalam pekerjaan. Sehingga orang-orang berpengaruh ini mengkotak-kotakkan tanpa melihat sisi terdalam. Penganut LGBT yang dimaksud ini nggak akan berkoar-koar mereka dapat ratusan juta tiap bulan dari internet, misalnya. Mahasiswa LGBT ini nggak mungkin membela diri di depan dosennya bahwa ia sudah menjadi karyawan freelance nyambi kuliah.

Itulah bahayanya menilai seseorang dari penampilan fisiknya saja. Bukan urusan pembelaan diri atau sejenisnya, namun lihatlah bagaimana seorang mahasiswa LGBT bertempur siang malam untuk mendapat pengakuan dari dosen mereka yang “manja” dan mudah membangun argumentasi. Masa yang telah berubah membuat orang mampu melakukan pekerjaan apapun, termasuk LGBT. Urusan salah atau tidak salah kembali ke perkara halal dan haram. Baik mana menikung dana di kantor daripada tidak tidur semalaman suntuk dengan status LGBT?

Banyak kok mahasiswa Aceh menjadi LGBT karena kebutuhan hidup. Mereka bekerja dalam diam. Nunggu bookingan dari pejabat-pejabat atau penyedia jasa layanan murah dan mahal. Mau dibayar berapa saja asalkan biaya kuliah lunas, kontrakan terbayar, makan tiga kali sehari tercukupi.

Pilih mana, membangun argumentasi tanpa disertai survei atau bekerja dalam diam tanpa harus ada pengakuan? Pemetaan untuk urusan argumentasi lebih penting daripada ngomong-ngomong saja. Satu dua mahasiswa itu memang LGBT beneran, tiga empat mahasiswa itu le gaya but tan (lgbt) – bahasa Aceh banyak gaya tidak ada kerjaan – lima enam mahasiswa bisa berprofesi sebagai pekerja fotocopy, tujuh delapan mahasiswa bisa jadi kuli bangunan, sembilan sepuluh bisa jadi blogger terkenal, sepuluh sampai seterusnya mana bisa dijabarkan tanpa kamu tanya langsung ke orangnya. Status mahasiswa nggak bisa digeneralisasikan. Isu ini akan menjadi pedang berbisa jika dihunus oleh pejabat negeri yang cuma nganggap mahasiswa nggak bisa apa-apa! Padahal, kerusuhan Mei 1998 adalah ulah mahasiswa, penguasa negeri ini jatuh ke kolong terendah karena mahasiswa, kamu hidup enak karena mahasiswa meruntuhkan rezim pengerus kekayaan dan kepongahan, mahasiswa tetap makhluk yang ditakutkan oleh penguasa. Kok kamu lupa? 
Baca Juga 5 Cara Optimalkan Blog

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90