Top Ad 728x90

Wednesday, May 11, 2016

, , , ,

Catatan Istri Diselingkuhi Suami Mata Duitan

Catatan Istri Diselingkuhi Suami Mata Duitan, Suami Mata Duitan, Suami matre, Suami selingkuh, suami minta cerai, suami jahat,

suami matre, suami mata duitan, suami selingkuh
Ilustrasi - webmuslimah.com
Aku cukup bahagia hidup sejauh ini. Pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri. Suami yang tampan dan sangat perhatian. Bahkan, dia begitu cemburu kepadaku. Apapun yang aku lakukan selalu diketahuinya tanpa kuketahui bagaimana cara dia mengetahui hal itu. Bisa kukatakan, aku adalah wanita terbahagia saat ini. Walaupun kami belum dikaruniai seorang anak tetapi kami sangat menikmati masa-masa indah selama delapan pernikahan.

Suami masih belum memiliki pekerjaan tetap meskipun dia baru saja menyelesaikan megister. Dia bekerja ini dan itu sesuai dengan passion dan bisa menghasilkan uang untuk menunjang aktivitasnya yang semakin hari tampak beken di mata orang. Padahal, sifat perlente dalam dirinya tak lain karena aku menyuapi semua kebutuhan dia sebagai suami tercinta. Gajiku sebagai pegawai negeri lebih dari cukup. Bisa kukatakan sembilan puluh persen biaya kuliahnya adalah aku yang tanggung. Pakaian mahal dan bermerek yang dikenakannya adalah aku yang membeli. Dia merengek ingin memiliki mobil karena teramat malu dengan kawan-kawannya yang telah mengendarai kendaraan roda empat. Aku tak mau menyia-nyiakan waktu, kuturuti keinginan suami. Aku mengambil kredit di bank dan mencolek sedikit simpanan lalu kuboyong mobil plat merah ke rumah.

Kebahagiaan suami adalah bahagia aku juga. Begitupun saat dia sakit lambung kala itu. Kami bahkan pulang pergi ke Kuala Lumpur untuk mengobati penyakitnya. Bukan tanpa alasan aku dan dia ke luar negeri untuk berobat. Desas-desus yang kudengar di sini, banyak orang yang sembuh setelah terbang ke negeri jiran. Aku tak mau membuang kesempatan ini. Dia adalah sesuatu yang tak mungkin kuabaikan. Pucat wajahnya sama dengan pucat wajahku juga. Kurus badannya akan menular ke kurus badanku juga. Dia tidak tidur menahan sakit, aku pun melakukan hal yang sama.

Namun tiba-tiba, setelah semua kumiliki sempurna dia mulai bertingkah. Semula kukira wajar dia kirim pesan maupun telepon tiap saat. Nanyain apa yang aku lakukan dan dengan siapa padahal dia sangat tahu bahwa aku sedang dalam pekerjaan. Sifat posesifnya semakin hari semakin menanjak naik. Tak hanya itu, uang jajan yang kukasih tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Dia bahkan memegang kendali kartu ATM milikku. Aku nggak ambil pusing karena sangat percaya kepadanya. Kepercayaan yang kemudian kusesali karena tabiat dia yang ternyata tak pernah puas.

Di sini kuakui, kekurangan dalam diriku karena gemuk. Dia bosan dan malu menggenggam tanganku ke mana suka karena orang-orang akan berprasangka tak baik. Dia mencari kesenangan di luar rumah dengan memamerkan semua milikku. Dia mengendarai mobil dengan angkuhnya di belakangku bersama wanita yang belum kuketahui jelasnya. Dia tertawa-tawa di pusat perbelanjaan maupun rumah makan mahal dengan tabungan di rekeningku.
Baca Juga
Kisah Pria Skizofrenia Menikah dengan Bayangan Wanita Dicintainya
 
Wisata Mati Lampu di Aceh
Aku curiga kenapa tabungan cepat terkuras padahal dia sudah selesai kuliah. Aku diamkan mungkin memang dia butuh. Aku curiga kenapa mobil kami selalu membekaskan aroma berbeda dari parfum yang kusemprotkan pada diriku atau dirinya. Begitu sebuah tanya kulontarkan, dia memetik emosi sampai ke langit ketujuh. Dia marah-marah tanpa sebab padahal aku cuma mengeluarkan sebuah pertanyaan saja.

Kok agak beda ya wangi mobil kita, Bang?”

Dia tak menenangkan istrinya. Dia pula tak beralasan mengganti aroma pengharum di mobil, misalnya. Dia hanya berkata, “Kau terlalu cemburu!”

Cemburu yang bagaimana menurutnya? Aku tak membalas sikapnya yang posesif. Bahkan terhadap rekanku yang masih muda dia menahan cemburu buta. Padahal jelas-jelas rekanku sebentar lagi akan menikah dengan kekasih wanitanya. Namun aku tak membesar-besarkan masalah itu.

Mungkin aku teramat sensitif kepada hal-hal sepele yang menyangkut suami, yaitu dia. Aku mencium aroma berbeda karena ketakutan tersendiri dalam diriku. Dia selalu curiga aku selingkuh. Dan kemudian dia sering menerima telepon lalu membual tawa membahana sampai larut malam. Tanpa kutanya, dia mengatakan seorang teman menelepon karena ingin curhat. Curhat yang akhirnya selalu terjadwal. Aku masih percaya – setengah percaya – dalam waktu yang lama sampai sebuah pesan kubaca tak sengaja. – Abang kapan pulang ke mari? Adek kangen banget lho! – Begitu kira-kira pesan yang kubaca saat dia tertidur pagi hari. Aku teriak sekuat tenaga. Tak kupedulikan tetangga mengangga. Tak kuhiraukan apapun selain sebuah kepastian.

“Apa maksudnya ini, Bang???” pekikku.

Dan, kamu tahu apa jawabnya? Dia benar-benar telah berubah menjadi manusia paling beringas, tamak, rakus, emosional dan segala jenis keburukan lain yang ada di dunia ini. Semua melekat kepadanya.

“Aku bosan sama kamu!”

Segitukah hati seorang pria? Apakah pria lain juga demikian?

Pengakuan yang selanjutnya adalah sebuah pernikahan. Dia menikah tanpa sepengetahuanku. Dengan wanita itu. Seorang pekerja swasta. Seorang janda beranak dua. Seorang wanita tinggi semampai. Seorang wanita cantik jelita menurutnya. Seorang wanita yang lembut kasih sayangnya, baginya. Seorang wanita yang telah memberikan semua hasrat kepadanya. Sedangkan aku?

Mesin uang saja baginya?

Semua telah kuberikan kepadanya. Apakah dia tidak terbuka hati untuk itu? Tak sempat kubalik pertanyaan demi pertanyaan aku malah terusir dari rumahku sendiri. Itu juga rumahku, aku yang membeli rumah itu dengan simpanan yang tak kukasih tahu kepadanya waktu itu.

“Kuantar kau ke orang tuamu. Aku tak sudi melihat rupa kau yang begitu saja tak berubah!”

Aku tertatih. Pulang ke rumah orang tuaku. Ke Ayah. Pria yang juga telah melakukan tabiat yang sama dengan suami – enggan kusebut namanya kini – semasa mudanya. Ayah menduakan ibuku sewaktu aku masih di dalam kandungan. Menikah dengan ibu tiri yang kini merajuk kepadaku jika tak ada pemasukan dari usahanya membuka kios kelontong.

Aku terpuruk. Itu sudah jelas. Aku tidak makan. Histeris setiap saat. Bekerja tak semangat. Aku dilanda frustasi teramat dalam. Rasanya mau kubanting semua yang ada di dalam diriku. Kucabik-cabik raga untuk melupakan semua yang kurasa. Aku tak lagi senang. Aku tak terbungkus lagi dalam bahagia. Semua telah usai. Dan gemuk badanku turun drastis.

Proses yang tak kuingini berjalan begitu cepat. Semua harta dibagi dua. Dia ngotot untuk tidak membagi padahal jelas-jelas rumah, mobil dan bahkan seluruh tubuhnya berisi uang dari kerja kerasku. Dia membantai aku dengan kalimat demi kalimat yang tak bisa diterima akal sehat. Naif sekali pria berpendidikan pascasarjana mengeluarkan kata-kata tak berbobot. Aku terima umpatan-umpatan itu. Aku terima saat dia mengatakan aku mandul. Dia seakan-akan lupa perkataan dokter kandungan yang mengatakan dirinya tak kuat untuk bertarung dalam perang sesungguhnya untuk mencapai mulut rahim.

Aku tidak masalah. Aku masih punya gaji. Biar aku egoistis tetapi aku tak pernah menggantungkan hidup kepadanya. Aku survive untuk melanjutkan hidup tanpa dia. Kulihat kiri dan kanan yang terus mengabdi pada hidup, aku pun demikian. Tekadku kemudian adalah mempercantik diri. Terserah orang mau bilang aku balas dendam karena dikata tak cantik dan gemuk oleh pria yang pernah menjadi suami itu. Aku benar-benar butuh sesuatu yang baru.

Beban psikologis dan latihan rutin seperti lari dan gym membuat bobotku turun cukup banyak. Aku sudah bisa tertawa saat bersama rekan kerja atau di tempat gym. Aku memulai hidup yang baru. Aku telah move on walau belum penuh seutuhnya. Dan dia?

Datang menjengukku. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Di mana pula wanita yang dia bangga-banggakan? Kenapa pula dia membuntuti langkahku?

“Kamu kekurangan uang, Bang?”

Seandainya berani, kulabrak dia dengan pertanyaan itu. Namun aku tak pernah sudi. Kulihat wajahnya saja sudah muak. Aku tak mau berhadapan lagi dengannya setelah sekian aroma perih yang ditebarkan sampai aku tak mampu beranjak. Salah dia sendiri memulai apa yang sebelumnya dia yakini aku yang berbuat. Deritanya jika tak punya uang setelah mencampakkan aku. Pulang saja ke istri kedua itu jika butuh pelukan hangat. Tak usah tebar pesona pada kehangatanku yang dianggap angin lalu tak berbekas.

Catatan ini kutulis untukku yang tertipu dengan tabiat manja dari pria. Sekarang siapa yang lemah di antara kita?
****
Untukmu, terima kasih telah mengizinkan kisah ini dibagi.
Baca Juga Kisah Wanita Berzina Karena Ditolak Lamaran Ibunda

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90