Top Ad 728x90

Tuesday, May 31, 2016

, ,

Hebatnya Wali Kota Banda Aceh Main Film Saat Bioskop Haram di Aceh

Hebatnya Wali Kota Banda Aceh Main Film Saat Bioskop Haram di Aceh, Wali Kota Banda Aceh main film Surga Menanti, Film Surga Menanti, Film Surga Menanti tentang hafiz quran, Film religi Surga menanti, review film Surga Menanti, ulasan film Surga Menanti, film Surga Menanti Ummi Pipik,

aceh tidak punya bioskop
Illiza Sa'aduddin Djamal, Wali Kota Banda Aceh main film Surga Menanti bersama Ummi Pipik - jawapos.com
Anak diperkosa oleh seorang ayah yang bejat. Sekelompok pemuda memperkosa seorang gadis yang masih perawan. Seorang anak membunuh orang tua karena harta warisan. Orang tua mengurung anak yang diduga depresi akibat tak kunjung dapat pekerjaan. Eh, tapi ini berita fakta lho. Di media massa cetak maupun online ramai memberitakan ini. Bahkan media sosial populer paling kebakaran jenggot untuk share berita terkini.

Saya pikir ini hanya ada di negeri dongeng saja. Kayak di film-film. Tahunya di Aceh juga kejadian, tidak hanya di kota saja namun di pelosok yang katanya media informasi kurang beruntung di sana. Namun jangan salah, internet bisa lebih kencang di pedalaman jika BTS 3G telah terpasang. Belum lagi televisi yang semarak dengan kekerasan melalui berita resmi maupun sinetron-sinetron tak mendidik. Kamu search deh berita itu di internet, pasti ketemu!
Kasus-kasus yang saya sebutkan di atas kamu tahu. Saya tahu. Mereka tahu. Film hanya menampilkan seolah-olah kekerasan terjadi. Sinetron yang katanya lulus sensor eh kecolongan minta ampun. Jika di film masih bisa diatasi dengan nggak semua orang mau nonton dan boleh nonton film ini dan itu. Contohnya untuk film Ada Apa dengan Cinta 2 khusus untuk mereka yang 17 atau 18 tahun ke atas. Film Captain America: Civil War dan X-Men: Apocalypse, siapa saja boleh nonton toh cuma berantam-berantam saja kayak di negeri khayalan. Adapula film-film sejenis Suster Bunuh Diri, Dokter Nyesot, Malam Jumat Kliwon yang berbau seks dari A sampai Z tentu anak-anak di bawah umur dilarang masuk bioskop dan tidak semua bioskop boleh tayang. Giliran sinetron di televisi, balap-balapan kendaraan bermotor, sepeda terbang biasa saja, siapa pun boleh tonton.

Bioskop itu lebih aman lho dari yang dibayangkan. Katanya, bioskop itu ladang mesum. Memang ada orang yang hamil karena bioskop? Ada orang yang berhubungan seks di dalam bioskop dalam remang-remang, ramai orang, bising suara film. Oh, cuma pegang-pegang tangan, ciuman saja, kamu saja yang ganjen. Belum lagi kita masih memegang teguh adat ketimuran. Tahu malu dong berbuat mesum di tempat ramai walaupun itu gelap-gelapan. Saya pria lho, nggak bangun “itu” saat konsentrasi ke film dan ke orang lain di depan, belakang, kiri dan kanan!

Namun Pemerintah Aceh itu memang sesuatu lho. Cetar membahana badai, istilah Tante Syahrini. Sebelum tsunami – mungkin konflik – Banda Aceh pernah berdiri bioskop yang cukup terkenal. Tsunami menggulung Aceh, pendapat ini itu muncul bahwa nggak boleh ada lagi bioskop di Aceh karena: rawan mesum!

Ampun DJ! Tuh di pedalaman yang nggak ada bioskop bentar-bentar sudah hamil anak SMA. Di kos-kosan yang jauh dari pemilik kos tahunya sedang loncat-loncat di atas kasur. Pantai yang tersembunyi di Aceh tahunya sedang banyak yang bahenol. Banyak jalan menuju Roma, banyak cara pula mau berbuat salah. Salahnya saat ini adalah mereka yang terlanjur meletakkan pemikiran di antara selangkangan sehingga kabur antara nyata dan ilusi.

Baiklah. Aceh memang haram bioskop. Kata ulama. Kata pemimpin negeri ini. Kata DPR. Kata merekalah, pokoknya. Tapi kan, baru-baru ini Wali Kota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, main film lho, Surga Menanti, bersama istri almarhum Uje, Ummi Pipik, Agus Kuncoro dan lain-lain. Bahkan, Bunda – sebutan akrab wali kota cantik ini – baru saja menggelar premiere film ini di Jakarta bersama kru film dan tentu saja pejabat-pejabat Aceh. Mesum nggak tuh?

Film Surga Menanti adalah sebuah film religi. Bagus untuk menyasar masyarakat Aceh. Film ini tentang seorang anak yang menjadi hafiz al-Quran. Skenario film ini ditulis oleh Dyah Kalsitorini dan disutradarai oleh Hastobroto. Film yang diproduksi oleh Khanza Film Production dan Yayasan Syekh Ali Jaber membawa semangat hapal al-Quran untuk generasi saat ini. Nggak ada yang salah dengan film ini, bahkan sangat bagus untuk di tonton oleh banyak orang seperti halnya Laskar Pelangi.

Salahnya itu di Aceh nggak ada bioskop. Di Aceh haram ada bioskop. Tetapi, film Surga Menanti itu syuting di Aceh dan dibintangi oleh orang nomor satu di Banda Aceh. Kok bisa dapat izin syuting film di Aceh? Katanya bioskop itu tempat mesum. Atas nama film layar lebar itu tayangnya di bioskop bukan di televisi atau layar tancap. Terus kok mau Wali Kota Banda Aceh ikut main? Pencitraan? Dapat honor besar? Karena naskahnya bagus? Karena pemainnya bagus? Karena soal agama?

Lho? Film-film sebelumnya apa yang kurang? Coba deh kamu sebutin berapa banyak film religi yang telah diproduksi oleh pegiat film Indonesia. Kalau mau berpikiran mesum di mana-mana saja mentok di situ. Setingkat film Harry Potter bisa saja dibilang mesum. Film-film kartun Disney dikatai ngajarin hal jelek. Apa kata jengkrik yang ikut main?

Ini nih yang buat kecewa penonton. Apa benar untuk sekadar nonton Ibu Wali Kota yang cantik itu kami harus ke Medan – yang terdekat dengan Aceh. Itu sama saja melempar devisa ke “negara” tetangga. Bioskop itu nggak salah sama sekali. Hanya perilaku orang-orang yang salah. Sudah banyaklah orang-orang Jakarta hamil di luar nikah karena bioskop menayangkan ratusan film tiap tahun!

Ilusi para pemangku kebijakan di Aceh teramat tinggi setingkat dewa. Masyarakat yang nggak punya biaya cuma diminta tonton televisi dengan drama-drama impor penuh manipulasi. Giliran pejabat Aceh tercinta duduk manis manja di dalam bioskop tiap kali “sidak” ke luar daerah. Di Aceh omongannya mendayu-dayu dan merajuk-rajuk bahwa bioskop banyak mudharatnya dibandingkan manfaatnya. Nah, kok ikut nonton juga?

Sisi mudharat mana yang disasar oleh mereka yang buta terhadap perilaku mesum di depan mata? Perilaku mesum tanpa sangkut paut dengan bioskop sama sekali. Bioskop dan mesum belum memiliki kesamaan sejauh ini. Di Barat saja yang lebih moderat hanya secuil orang berbuat “jahat” di dalam bioskop. Siapa yang mau itu yang ikut. Toh, malu itu manusiawi sekali. Pemikiran mesum itu kan milik mereka yang mengangkatnya ke layar lebar. Nggak ada yang bicarakan, nggak ada yang peduli dan nggak ada yang cari.

Bioskop di Aceh tak ada dengan berbagai argumentasi mereka yang mungkin saja belum pernah masuk ke dalam bioskop dan merasakan “kengerian” di dalam sana. Wali Kota Banda Aceh yang terlibat aktif dalam film ini kenapa tidak dicekal? Mau nggak mau setelah 2 Juni 2016, beliau akan tampil manis di layar lebar. Bioskop dipandang haram sama saja mengatakan film yang sedang tayang itu haram!


Film Surga Menanti - movie.co.id
Saya, kamu, anak-anak, orang tua, remaja, dewasa, konsentrasi ke depan layar dengan suara gaduh luar biasa. Setingkat nonton Hunger Games: Mockingjay Part 2 saja bersama Citra Rahman, saya “ketakutan” minta ampun begitu aksi berkelahi dengan suara menggelegar atau saat Katniss Everdeen – diperankan oleh Jennifer Lawrence yang nggak tampil seksi dalam konotasi sebenarnya di film ini – mengendap-endap masuk ke ruangan bawah tanah yang rawan ranjau, saya hampir pipis dalam celana. Mau keluar bioskop rugi telah bayar dan malu sama penonton lain. Deg-degan, ngeri, nyeri, penasaran, campur aduk jadi satu. Kapan mau menyaluri hasrat seksual saya saat kondisi ini jika sedang bersama pasangan?

“Tapi, Bang, coba nonton film yang agak gimana di bioskop. Pasti akan…,” kata kamu.

Akan saya nggak tonton. Saya pemilih lho, sama dengan kamu. Masa film hantu penuh gairah di tonton juga, nanti hilang deh selera makan. Dan kamu tahu dong, nggak semua film bisa tayang di bioskop. Jika Aceh ada bioskop, tim seleksi berhak untuk menayangkan atau tidak sebuah film. Film yang mengarahkan ke adegan dewasa, kembalikan ke distributor. Film sejenis Iron Man atau Pirates of the Caribbean yang banyak lucunya masa dikembalikan juga? 

Baca Juga
ZenFone 3 Naik Kelas ke Metal dan Lebih Gahar

45 komentar:

  1. �� buatnya lagi emosi ya, jadi banyak kalimat yang ..... btw blog kita juga judul2nya pernah saya komentari. Trima

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emosinya stabil, sesekali buat yang lebih serius bang :)

      Delete
  2. Iya betul, mestinya filmnya saja yang diseleksi bukan bioskopnya yg ditutup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ada yang mendengar Mbak Hana.

      Delete
  3. hmmm saya baru tahu kalau di Aceh bioskop dilarang keberadaannya... :)

    ReplyDelete
  4. Hehehhehehe, hayeee leuh tulisannya..
    Namun saya 'sedikit' bingung dengannya bg. Apa karena ditulisnya dalam keadaan emosi tidak stabil mungkin yaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sengaja dibuat labil biar pembaca juga ikut labil, Aula.

      Delete
  5. Ubai.. Kamu lagi ngomel2 ya? Hahaha sabar bai.. Sabar.. Nanti saya jadi walikota ya

    ReplyDelete
  6. Ulasan yg keren. Lah tapi pertanyaannya sama, kok bisa walikotanya main film. Kok ga dicekal juga. Terus kalau pesan filmnya bagus kok ga dibolehin diputar di aceh. Apa harus ke medan? Hahaaa... ngulang lagi kan pertanyaannya. Makanya aturannya yg jelas dan konsisten aja. Ya ga bang? :-)

    ReplyDelete
  7. Lagi musim banget pemerkosaan, aku takut juga kalo keluar malam
    Aku yg tampan ini takut di culik dan diperkosa ihik ihik





    Eh gimana ????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hati-hati lho, MasCum, ntar ada yang gituan hahaha

      Delete
  8. Nah! Mewakili seluruh pemikiran saya. Heran sih apa2 disangkutin ke maksiat, padahal kepikiran aja ngga T,T
    Lebih heboh lagi masalah ini di socmed karna ini tentang Bunda Illiza sih yang pendukung dan pengkritisi (ga mau bilang haters) sama banyak. Hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini masukan aja Mulia, semoga ada yang dengar dan menelaah lebih lanjut.

      Delete
  9. bheeuuu panas. Berasap nih Bai. Hahahaha
    Payah tarik nafas, bacanya. Banyak-banyak minum timun Bai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Panas banget bang, bagai disetrika :)

      Delete
  10. sebagai pecinta film saya setuju dengan postingan diatas, lagi pula dengan mempekerjakan orang2 sebagai tim sensor mungkin dapat menjadi andil dalam upaya menurunkan jumlah pengangguran nantinya, *inisih kalo seandainya bioskop dapat berdiri diaceh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, devisa masuk lagi ke kas Aceh :)

      Delete
  11. hahahaha, jangan terlalu dilampiaskan banget bro.
    kesel ya gara" tiap kali mau nonton bioskop harus datang jauh" ke medan? Sama bro, aku juga ngerasain.
    Kalo mau protes, langsung aja ke Bunda Eli nya.

    ReplyDelete
  12. Hebat sekali mas jadi dapat inspirasi nih.

    ReplyDelete
  13. Menurut hematku, persoalan ada atau tidaknya bioskop di Aceh bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hiburan masyarakat semata, atau sekadar untuk melengkapi 'fasilitas' penunjang pariwisata di Aceh, tetapi juga untuk menunjukkan 'kedewasaan berpikir' para pembuat kebijakan. Tugas pemimpin adalah mengakomodir semua kebutuhan masyarakat agar berjalan selaras dengan aturan dan norma/perda/qanun yang berlaku di suatu daerah, tanpa perlu mengabaikan salah satunya. Jika saja pemerintah mau sedikit capek hal ini pasti ada solusinya, selalu ada win win solution bukan? dan tidak akan menjadi polemik berkepanjangan. Tetapi apa hendak di kata, pemerintah memilih membanting pintu, dan masyarakat menggedor-gedornya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alasannya apa yang akan dilakukan selalu dinilai dari sisi negatif yang belum tentu semua orang memikirkannya.

      Delete
  14. tulisan yang boleh jadi mewakili emosional sedikit banyak warga kota, terutama kalangan muda tentunya!
    disekian banyak tulisan serupa tentang ini, hampir semua isi yang saya baca bahwa ada penolakan dari semua stakeholder (kecuali masyarakatnya sendiri) termasuk walikota, pemko dan jajarannya tentang keberadaan bioskop di aceh!
    nah, harusnya agar tulisan ini juga bisa lebih berisi dengan data, atau setidaknya informasi yang valid, tidak hanya opini semata! harusnya juga dirunut dengan berita valid bahwa ada "Pengharaman Bioskop" yang dilakukan oleh pemerintah kota ataupun pemerintah Aceh!
    jadi kita pun bisa dengan jelas melihat siapa sosok yang hipokrit!

    dan harusnya juga menjadi pembelajarannya adalah, jangan2 karena kita sebagai masyarakat yang hipokrit, sehingga investorpun mikirnya seratus x untuk bangun bioskop di aceh!
    jangan kan bisokop, dimesjid aja ada yang bikin rusuh hanya karena beda pemahaman dalam beribadah!
    sebagai penikmat Film, saya pun selalu masih memikirkan format bioskop apa yang cocok diaceh, supaya kita gak di cap kaum hipokrit! karena mendapatkan keistimewaan sebagai nanggroe Syariah adalah nikmat yang harus disyukuri!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga pihak kepentingan membaca dan memberi solusi terbaik untuk masyarakat.

      Delete
  15. dendam x ya sm ibu illiza? Hahahaha, Gk blh bgtu lah, gini aja kan lgi musim pilkada ne ubay ikut aja jd cawalkot, siap tau keplih trus bgun deh bioskop, nah keren kan ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masukan aja Za, ada atau tidk ada bioskop di Banda kita nggak ngaruh kan?

      Delete
  16. saia suka gaya tulisannya, dan harusnya aceh berubah, ngak mikirnya mesumm terus, n walikotanya ngak ngurusin syariah trus kalo hanya sekedar untuk pencitraan, diluar sini khusunya dijakarta orang aceh haek pike do... ( ngak smua ya )kadang teukejet2 takalon ... smua kembali pada diri sendiri. ai mau nonton aje males karna walikota ikot maen... beh atau pergi aja kali ya direkam trus kita share di fb biar orang kita aceh bisa nonton.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, semoga diterima masukan ini dan membangun Aceh lebih baik, ada atau tidak ada bioskop.

      Delete
  17. Saya baru dua tahun di Banda Aceh. Sebelumnya saya di Langsa sejak lahir. Selama itu, saya juga baru sadar kenapa tidak ada bioskop di ibukota Aceh. Jika ingin buat mesum mah, kayaknya ga mesti di bioskop deh. Tuh di pantai-pantai sepi begitu banyak pasangan muda-mudi yang mesra-mesraan. Di siang hari pula. Kembali ke pengatur kebijakannya deh, yang mikir jorok dan negatif itu rakyat Aceh apa otoritas di atas? Saya mah lebih menikmati filmnya itu sendiri daripada mesra-mesraan di kelilingi orang-orang lain di dalam bioskop. Mesra-mesraan itu butuh privasi, ga di dalam bioskop juga :D Anyway tulisan yang bagus, Gan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Bang Gani, semoga ini menjadi bagian utk refleksi diri.

      Delete
  18. Berkumpul bersama2 yg buka mahram itu dosa,, deket deketan lah,, apa aja,,
    Dan mnyediakan tmpat dosa itu juga dosa... itu pikiran dri pejabat di aceh,,
    Dan knapa yg di pantai2 itu tdak d tutup,, krn kuat skali tuk mlwannya,,, kokoh x bntengnya,,,
    Jadi yg ditutup,, yg memank pemerintah sanggup,, udah ada beberapa yg d tutup, baik itu pntai maupun tmpat2 mkan kyak resto gitu,,, dan tuk yg blum d tutup,, skrg lagi di usahain...

    Cek list

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di depan mata ada ya tp kok khawatir dr yg belm nyata.

      Delete
  19. Replies
    1. Hai Unknown. Boleh dishare saya dr partai apa hehehe

      Delete
  20. Gak usah sok sucilah, udah bagus buk illiza itu yg mimpin gak juga bersyukur kalean, klu orang lain banda aceh ney udah dijual kemisioneris kristen, tau gak lu, jangan isi perut otak lu aja yg lu pikir, banyak2 lah dulu lo baca apa yg sedang berkembang di aceh ney, terutama banda aceh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Evo. Udah baca artikel utuh belum?

      Delete
  21. Saya sangat setuju dgn kebijakan bu illiza,
    Memang y buat yg sudah dewasa sudah tau memilah milah mana film yg layak ditonton mana yg tidak.
    TApi buat remaja masi memilki sifat labil,suka coba-coba,dan itu ga baik buat mreka

    Tapi untuk film2 baik,seperti "Ketika Cinta Bertasbih", "bulan terbelah dilangit amerika" dll,itu pemutarannya di AAC DAYAN DAWOOD selama ini.

    Untuk film "Surga Menanti", Alhamdulillah bu illiza bsa berpartisipasi,karna film tsb jg dana yg dihasilkan akan digunakan utk dana "AL QUR'AN BRAILLE" Utk anak2 yg buta menghafal al-qur'an di Indonesia oleh syekh ali jabier,

    ReplyDelete
  22. Saya pribadi sangat setuju dengan peraturan yang sekarang, sudah sepantasnya di aceh tidak ada bioskop karena di lihat dari beberapa segi tidak bermanfaat paling yg bermanfaat bagi mereka yg pengusaha ingin mendirikan biskop dan juga bagi muda-mudi yang masih kekurangan hiburan .
    Karna kita ambil contoh
    Seperti salah satu fenomenal konser bergek walaupun sudah perjanjian tidak boleh di gabungkan laki" dan perempuan tapi apa dikata tetap mereka sebagai panitia tidak mengindahkan apalagi penonton.
    Maka dari itu saya sangat setuju bioskop atau apalah yang tidak bermnfaat bagi umat pemerintah daerah khusus nya aceh tidak perlu memberikan izin

    ReplyDelete
  23. Saya pribadi sangat setuju dengan peraturan yang sekarang, sudah sepantasnya di aceh tidak ada bioskop karena di lihat dari beberapa segi tidak bermanfaat paling yg bermanfaat bagi mereka yg pengusaha ingin mendirikan biskop dan juga bagi muda-mudi yang masih kekurangan hiburan .
    Karna kita ambil contoh
    Seperti salah satu fenomenal konser bergek walaupun sudah perjanjian tidak boleh di gabungkan laki" dan perempuan tapi apa dikata tetap mereka sebagai panitia tidak mengindahkan apalagi penonton.
    Maka dari itu saya sangat setuju bioskop atau apalah yang tidak bermnfaat bagi umat pemerintah daerah khusus nya aceh tidak perlu memberikan izin

    ReplyDelete
  24. Kalau memang biokop gak boleh ada karena alasan inilah atau itulah, sekalian aja tegakkan syariat yang sebenarnya terus, jangan setengah2. Konser haramin, nonton tv haramin, di aceh gak boleh ada unsur berbau musik sama sekali. Karena musik itu haram

    ReplyDelete
  25. kenapa ya di aceh nggak ada bioskop,di malaysia,brunai,turki,saja yg negara berazas islam bioskop banyak tuu

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90