Top Ad 728x90

Sunday, May 22, 2016

, ,

Kisah Pria yang Tak Pernah Jauh dari Cinta Pertama

Kisah Pria yang Tak Pernah Jauh dari Cinta Pertama, Kisah Cinta Pertama, Cinta Pertama ditolak, Cinta pertama tak jauh, Cinta pertama selalu gagal, gagal move on dari cinta pertama, cinta bertepuk sebelah tangan,

cinta pertama tak jauh
Gagal move on dari cinta pertama - bintang.com
Cinta pertama. First love. Selalu gagal move on dari kericuhan hati ini. Aku mengalami hal yang sama. Aku sama sekali nggak mau dianggap lemah terlahir sebagai seorang pria. Aku selalu membuka hati untuk mereka yang mau menerima posisiku sebagai pria yang belum mapan. Arti mapan sih lebih kepada kecukupan ekonomi; punya penghasilan bulanan, memiliki kendaraan tanpa kredit, rumah layak ditempati, isi dompet tak pernah kosong sepersen pun. Ini definisi seseorang yang layak untuk dijadikan pacar bahkan suami!

Dalam waktu yang cukup panjang aku lewati. Kembali ke masa yang nggak mau kuingat sungguh teramat sulit. Aku bukan tidak berpaling. Berulangkali malah kuabaikan perasaan yang mendera untuknya. Seseorang yang telah menjadi cinta pertama tanpa sengaja dan sampai kini nggak pernah mau mengakui keberadaan cintaku. Ingat ini membuatku merasa sangat terhina sebagai pria dari sisi manapun. Karena aku belum mempunyai sisi yang cukup lebih untuk mendongkrak cinta dari seorang wanita untuk benar-benar nyaman bersamaku. Orang lain cukup sering mendapatkan bahagia dari cinta pertamanya. Aku tidak. Hingga dewasa kini aku nggak pernah bercakap-cakap lebih serius dengan cinta pertama, karena dia nggak mau meneduhkan pandangannya untukku.
Baca Juga 
Kisah Pria Menikah dengan Bayangan Wanita Kisah 
Seorang Pengangguran di Tanggal Tua
Aku kira, sekian waktu, lebih sepuluh tahun tidak bertemu, aku telah move on dari cinta pertama. Sayangnya, aku gagal meresapi hal ini. Dia kembali ke daerah setelah kuliah di ibu kota. Aku juga di sini bukan untuk menunggunya tetapi karena aku nggak bisa ke mana-mana. Aku hanya mempunyai keahlian sedikit sehingga nggak mampu bersaing jika keluar dari rumah!

Pertemuan yang tidak sengaja itu, hatiku kembali berdebar. Tidak susah pula untuk mengetahui seeorang di lingkungan kami. Walaupun kampung berbeda namun semua bisa didengar dengan gamblang. Dia, cinta pertamaku itu masih berhubungan dengan pacarnya yang dulu, sejak SMP. Mengapa bukan denganku? Oh bukan, ini pertanyaan bodoh. Mengapa aku harus kembali bertemu dengannya? Jelas-jelas aku telah melupakan semua waktu yang terburai untuk memikirkannya sekian lama. Aku mengkhayal bahagia hidup bersamanya padahal dia sama sekali tidak memikirkan aku. Aku selalu mendamba duduk manis di dekatnya padahal dia sangat enggan menegur bahkan melirik wajah lesuku. Aku berhasrat menjadikannya pasangan hidup sampai nggak bisa makan dan minum dengan baik tetapi dia tak pernah tahu bahwa cintaku teramat dalam.

Aku dibuai cinta. Tapi aku tak ingin kembali ke waktu itu. Aku memang tidak kembali ke masa SMP kami, tetapi aku bertemu dengannya di masa kini sama saja dengan bertemu dengannya di masa itu. Sekuat tenaga aku berpaling darinya karena harga diriku teramat dalam tercabik. Pertemuan ini memurungkan kembali hatiku yang mekar sekuntum. Apakah dia melihatku dengan tatapan penuh senyum? Dia tidak sebaik itu. Dia tahu aku mencintainya tetapi dia tidak ingin aku memilikinya.

Jawaban apa yang harus aku tunggu. Aku ingin jauh tetapi cinta pertama tak pernah jauh dariku. Mungkinkah di dunia ini hanya aku saja yang tidak bisa mendapatkan cinta pertama?

Aku kaku untuk memulai cinta. Aku tak pernah lagi bisa membaca seutas cinta atau hanya sahabat saja dari seorang wanita di dekatku. Aku sadar diri bahwa cinta tak semudah menulis kisah ini. Aku telah jatuh cinta, pada cinta pertama, tak berpaling sampai kini untuk mendapatkan cinta yang lain.

Kemudian, aku menutup mata untuk melihat cinta pertama bermanja dengan pasangannya. Aku tidak ingin tetapi aku bertemu secara tidak sengaja. Aku ingin kabur namun tak kutahu dunia mana yang mau menerimaku. Aku merasa duniaku teramat sempit untuk mencari tempat bersembunyi dari cinta pertama yang tak bisa kuraih. Kisah menunggu jandamu pun tak bisa kutafsirkan terlalu jauh. Jika pun dia janda belum tentu wajahnya mau menatap wajahku yang tak pernah berhenti mengerut. Jika dia janda, belum tentu dia akan menemuiku untuk membuat hatiku senang. Jika dia janda, hanya kisahnya dan pasangannya adalah cerita terindah sepanjang masa. Bukan kisahku yang tidak diterimanya sebagai seorang tercinta.

Aku akan membahagiakan cinta pertama, seandainya aku bisa memilikinya. Itu dulu. Kini aku menyangsikan pendapatku sendiri. Aku saja tidak bahagia bagaimana mungkin membahagiakan cinta pertama itu? Aku saja yang egois mengejar cintanya sedangkan dia ogah menarikku ke dalam pelukannya. Seandainya,  itu memang kata sebuah permulaan yang bagus untuk memulai kisah fiktif.

Cinta pertamaku tak pernah fiktif. Aku merasakannya sampai napasku tersengat-sengat. Dia ada di depanku. Aku saja yang tak bisa meraihnya!

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90