Top Ad 728x90

Friday, May 20, 2016

,

Kisah Seorang Pengangguran di Tanggal Tua

Kisah Seorang Pengangguran di Tanggal Tua, Kisah Tanggal Tua, #JadilahSepertiBudi, Tanggal Tua, Hemat di Tanggal Tua, apa yang harus dilakukan di tanggal tua, Tanggal dua dilema, Tanggal tua galau, lomba blog tanggal tua, belanja murah dan hemat, belanja gratis ongkos kirim, belanja murah dan gratis ongkos kirim di mataharimall, hemat di tanggal tua,


kisah tanggal tua
Kisah tanggal tua - Ilustrasi dari PicsArt for Android.

Angka pengangguran di Indonesia tak bisa dibendung!

Siapa yang beruntung itu yang untung mendapatkan pekerjaan tetap. Bagi yang kurang beruntung dirinya divonis tersangka oleh hukum alam, yang tak tertulis tetapi diucapkan dengan fasih di dalam masyarakat.

Kamu mau beli kebutuhan sekunder seperti ponsel mahal kayak orang-orang, jari cuma bisa digigit sampai terjadi luka. Kamu mau melamar saja butuh mahar yang jumlahnya nggak sedikit jika kamu tinggal di Aceh. Alasan kamu membela diri sebagai seorang freelance berpenghasilan, tetap nggak sampai masuk ke hati terdalam di orang-orang sekitar. Orang lain tuh cuma butuh tahu kamu perlente tiap hari. Orang kerja tuh orang yang rapi!

Nah, tiap pagi kamu nggak pakai pakaian rapi. Kerja kamu bukan di kantor dengan pendingin ruangan. Akhir pekan kamu tetap “nyangkul” untuk memenuhi kebutuhan dapur. Akhir bulan aka tanggal tua tetap angkat lengan juga, saat orang lain bersenang-senang dengan sisa gaji. Mau beli ini itu galaunya sampai ke taraf mencekik leher. Mau teriak-teriak emang siapa yang peduli. Tapi serius ada yang peduli dengan kondisi kamu? Orang pada sibuk nyusahin diri sendiri. Tanggal tua itu adalah hari di mana pas-pasan se dunia!

Aku duduk manis seperti biasa, ngeblog dengan kisah manja atau ulasan yang idenya datang tiba-tiba. Oh, curahan hati penting nggak penting sih. Tapi bukan berarti aku nangis tersedu-sedu karena tanggal tua. Mau tanggal tua atau tanggal muda, biasa saja mah bagi pengangguran banyak acara. Benar lho, aku bebas ngerjain ini dan itu. Aku nggak terfokus pada gaji bulanan. Aku nggak ngarap di satu tabungan saja. Aku nggak bisa berleha-leha sepanjang hari jika masih ingin perut terisi. Aku juga ingin lho pakai smartphone mahal, bermerek, berprosesor tinggi, kamera mendekati kualitas DSLR, kayak kamu agar nggak ketinggalan informasi maupun pamer-pamer hasil foto sesekali ke media sosial.

Tanggal tua sih tanggal tua, bentar lagi bakal muncul tanggal muda. Roda berputar. Benar sangat berpengaruh kepada seorang pengangguran? Dibilang penggangguran sejati nggak juga sih, sebulan masih ada beberapa lembar rupiah yang nyantol. Siapapun itu, yang mengatasnamakan diri pengangguran bersyukur saja dengan apa yang telah dimiliki sampai sejauh ini. Toh, kamu nggak kelaparan juga, kan?

Aku galau? Kentara sekali jika kamu ingin melihatnya. Tapi segalau-galaunya manusia itu ceria tetap ada. Aku paham betul bahwa gaji bulanan sampai jutaan rupiah tidak ada. Aku tahu kebutuhan semakin meningkat. Aku ingin memiliki barang-barang mewah seperti milikmu saat ini. Aku perlu sesekali refreshing ke tempat-tempat eksotis. Aku nggak mungkin ngebiarin si dia seorang diri terus tiap malam minggu, tepatnya aku nggak mungkin terus-terusan beralasan sakit saat waktu kencan. Aku begini dan begitu. Terkadang, kebutuhan kita sama, antara aku dan kamu. Cuma, bagaimana mewujudkannya di akhir bulan, tanggal tua yang nggak mungkin kabur!

Ngaku seorang blogger sejati, aku tuh lebih banyak menghabiskan waktu di warung kopi. Murah sih cuma lima ribu perak. Mau aku duduk dari pagi sampai malam nggak masalah. Internet tetap kencang. Tapi jika tiap hari selama sebulan, jelang tanggal tua aku nggak bisa ngandalin meja dan kursi warung kopi lagi. Aku juga nggak mungkin terputus dengan internet semenit saja, bagaimana jika tiba-tiba masuk email kerjasama dan harus dikerjakan dalam waktu cepat. Bagaimana jika grup media sosial sedang gencar-gencarnya diskusi suatu masalah. Bagaimana jika terjadi bencana alam, musibah di dunia luar. Bagaimana aku sidak pengunjung blog. Bagaimana mungkin aku abaikan pesan masuk di media sosial dalam waktu 24 jam, apalagi jika si penanya segera butuh jawaban. Alih-alih mau berhemat dengan cuma terhubung ke internet saat ngopi saja, aku malah aktifin paket internet unlimited. Ini utang pertama dalam hidupku.

Kamu tahu kebutuhan yang paling urgent? Semua orang butuh. Bensin kendaraan. Aku nggak tahu bagaimana di daerahmu. Di sini, aku cuma bisa ngandalin kendaraan roda dua alias motor. Kotaku yang kecil nggak punya lagi kendaraan umum semenjak tsunami. Ke mana-mana kamu akan pakai kendaraan pribadi. Salah satu alternatif itu becak dan aku nggak mungkin menggunakannya. Dari satu tempat ke tempat lain, butuh berapa kali ganti becak. Dengan sekali naik jarak dalam kota sekitar sepuluh ribu maka lebih baik aku ngisi bensin motor sampai penuh. Ini utang kedua dalam hidupku.

Sama kayak kamu, aku akan berkumpul dengan teman-teman, sesekali. Tiap kali ngumpul nggak mungkin minta ditraktir terus-menerus. Aku mesti sadar diri dong kalau sudah dewasa dan sarjana – yang katanya orang hebat gitulah. “Reuni” ini perlu biaya yang cukup besar bagiku. Teman ajak makan mi bakso, nggak mungkin aku tolak. Kali lain mau duduk di bibir pantai sambil menikmati sunset, kacang rebus dan jagung bakar nggak bisa tak dibeli. Di lain kesempatan ingin makan makanan cepat saji di restoran ternama skala nasional. Waktu yang berbeda katanya di sana itu ada nasi goreng paling enak. Mau teman tuh harus dituruti. Jika tidak, aku bakal ditinggal pergi. Ini utang ketiga dalam hidupku. Ngomongin utang nggak akan habisnya jika ingin dikalkulasikan. Berwujud maupun tidak. Hanya saja, dengan pangkat tertinggi sebagai pengangguran budiman, aku harus bijaksana mengelola segala kebutuhan. Pemasukan memang nggak jelas sih, kadang ada kadang tidak. Tetapi aku harus menyiapkan budget untuk apa yang ingin aku beli atau nggak terduga. Hal yang tak terduga itu misalnya, ban motor kempes di tengah jalan. Hal yang aku rencanakan misalnya, belanja di situs online.

Sadar diri nggak ada penghasilan berlebih, aku menghindari beberapa bagian penting di tanggal tua. Walaupun terkadang kecolongan juga.

Hemat di Awal
Aku sudah terbiasa merencanakan beberapa kebutuhan di awal bulan. Walaupun belum jelas berapa pemasukan yang aku terima, rencana ini penting. Bila nggak terealisasikan di bulan ini, coba bulan depan, dalam tiga bulan nggak dapat juga, rencana tersebut dibuang. Begitu pemasukan masuk, berapapun itu, aku sisihkan untuk biaya makan, ngopi, pulsa dan bensin serta biaya tak terduga. Jika ada pemasukan lainnya di tengah bulan, aku akan tambahkan di post yang tadi atau simpan dulu untuk kebutuhan lain.

Ngandalin Paket Internet Unlimited
Ada untungnya juga sih aku aktifkan paket unlimited. Kebutuhan internet yang nggak terbendung membuatku hati-hati. Aktivitas yang lebih sering berhubungan dengan internet tak lain ngisi konten di blog. Saat tidak berada di warung kopi dengan fasilitas internet kencang, aku teramat sering mengandalkan hotspot dari smartphone. Kuota yang dimakan nggak sedikit jika harus upload foto, beberapa foto tepatnya. Bagaimana pun, paket internet ini harus cukup sebelum aku kembali ke warung kopi untuk mendapatkan internet lebih stabil.

Takut pada Pinjaman
Aku paling takut dengan yang satu ini. Bukan takut nggak dikasih pinjaman, aku takut lupa membayarnya. Pinjam-meminjam memang dibolehkan dalam agama. Hanya aku yang fobia mengenai ini. Ditambah kondisi yang nggak memungkinkan, aku lebih sering nggak pinjam walaupun sangat sekarat di tanggal tua. Aku khawatir, sekali meminjam akan terbiasa di bulan depan, bulan depannya lagi dan seterusnya sampai menumpuk dan aku bingung mau melunasinya dengan apa.

Godaan dari Sales Toko Online
Kecolongan yang aku sebutkan ya ini. Beberapa kali aku belanja di toko online dengan pelayanan yang cukup baik, rupanya berlanjut ke ranah marketing. Nomor telepon dari Jakarta beberapa kali masuk dengan menawarkan diskon tambahan sampai 10%. Jelas saja aku tergoda karena nggak mungkin aku berpaling dari beberapa produk yang ingin kumiliki. Godaan yang besar ini aku siasati dengan membeli produk yang kuincar, dengan catatan tak lebih dari 500 ribu. Budget yang kupakai biasanya dari biaya tak terduga tiap bulannya. Iya sih nggak lebih setengah juta tapi nggak sekali kejadiannya jika aku hitung-hitung sampai juga ke angka tersebut. Gagal fokus anak muda saat tangan klik produk yang ingin dibeli.

Tanggal tua pasti akan berlalu. Kisahku akan terulang kembali di bulan berikutnya. Yang penting sih, aku santai menjalani “keperihan” ini. Rencana hidup yang lebih baik akan mengarahkan ke sesuatu yang menarik. Kamu pakai pakaian bermerek, aku juga bisa. Kamu baca buku terbaru, aku juga segera mendapatkannya. Kamu pakai smartphone berspesifikasi tinggi, lambat-laun aku pun mengoperasikannya. Intinya sabar, intip-intip jenis produk yang diincar di salah satu toko online, atau searching perlu untuk cuci mata. Pada masanya, sesuai rencana, sesuai budget yang disimpan, done! Produk itu jadi milikku!

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90