Top Ad 728x90

Friday, May 13, 2016

, ,

Kisah Wanita Dinikahi Pria Lain sebelum Jatuh Cerai dari Suami

Kisah Wanita Dinikahi Pria Lain sebelum Jatuh Cerai dari Suami, Kisah inspiratif wanita, Istri selingkuh, suami diselingkuhi, wanita dalam Islam, kisah wanita dalam Islam, hukum wanita menikah sebelum cerai dengan suami pertama, wanita boleh poligami, wanita tak boleh poligami, wanita dilarang poligami, suami setia, ciri-ciri suami setia, suami tak bisa ereksi,

Kisah Wanita Dinikahi Pria Lain sebelum Jatuh Cerai dari Suami
Ilustrasi - dream.co.id
Aku telah menikah dengan pria yang kucintai, sekarang. Duniaku tak lagi kacau seperti dulu, di mana rumah tangga hanya sebatas mainan bagiku dan baginya. Pria yang kini enggan kusebut suami, bahkan sampai kapanpun ia bukanlah laki-laki macho dalam beragam definisi remaja sampai dewasa. Aku butuh sesuatu yang nendang dalam berumah tangga. Aku nggak butuh yang melow karena hatiku teramat dalam merasakan hal-hal berbau kegalauan sepanjang sejarah usia tiga puluhan.


Aku ingin bahagia. Manusiawi kan karena aku adalah makhluk yang nggak pernah puas dengan sesuatu yang menganjal, sedikit saja itu terjadi dalam kehidupanku. Aku sadar diri bahwa setiap tindakan yang kujalani tak selalu benar. Namun satu hal yang pasti, aku benar-benar ingin kehidupan yang normal, happy ending dalam segala sisi.

Bukan pernikahan yang basi!

Oh, beginilah nasib jika terlalu manja menerima keadaan dan kondisi yang sebenarnya mungkin untuk membentak dan mencaci-maki. Aku dijodohkan dengannya karena di usia lebih tiga puluh tak satupun pria datang melamar. Pernikahan kami sangat semarak. Kedua belah pihak bahagia. Pria yang kemudian kusebut suami juga merasakan bahagia teramat dalam, dari tatapan matanya maupun dari cara ia bersikap kepadaku dan kepada keluarga kami. Bahagiaku benar-benar telah terbengkalai semenjak ijab kabul disahkan oleh penghulu dan saksi-saksi. Hidupku mulai tidak sempurna, sejak hari itu sampai dua tahun ke depan!

Aku terus ditipu oleh rasa bersalah karena menikah atas perjodohan kedua orang dua. Aku percaya perjodohan bisa mendatangkan bahagia. Cinta bisa datang kapan saja dan dengan cara tak terduga. Bukan tidak pernah aku mencoba untuk mencintai, istilah beken dari zaman ke zaman. Aku belajar banyak untuk menerima pria yang telah tidur seranjang denganku. Aku menarik diri agar tidak meledak-ledak saat sikapnya begitu dingin meresapi setiap masalah yang mendera. Aku menahan segala rasa saat ia hanya menganggukkan kepala atau menggeleng begitu sebuah tanya kuloncarkan. Ia jelas-jelas tidak bisu. Ia tak juga tuli. Ia tak juga cacat dari fisik manapun. Tapi, ia tak menjamahku sejak kami menikah sampai aku merana didera hawa napsu teramat tinggi.

Aku tersalah akan hal ini? Aku mempunyai napsu sedangkan ia mungkin hanya mempunyai cinta atau apalah namanya itu. Pernah aku bertanya di mana hasratnya kepada istri, ia hanya menjawab, nanti ada masanya. Di lain waktu ia akan menjawab, “Saya lelah sekali hari ini.”

Suamiku itu, pria itu, ia terlalu sibuk dengan pekerjaan pagi sampai malam hari. Aku pun demikian. Kami disibukkan dengan berkas-berkas di kantor masing-masing. Kadang, aku membawa pulang sebagian pekerjaan ke rumah untuk menghilangkan suntuk jika bersamanya yang dingin dan kaku. Ia juga teramat sering di depan laptop dibandingkan meraba-raba tubuhku yang meliuk-liuk di depannya. Ada manusia yang enggan menyentuh hak miliknya yang telah sah di dunia ini? Ada manusia yang sanggup menahan napsu teramat panjang? Ada manusia yang terlalu membuat hidup ini rumit?

Benarlah. Hidupku telah rumit. Sejak aku menikah dengannya. Pucuk masalah tiba saat dia menegurku salah menyetrika. Baju kantornya memiliki dua garis di bagian lengan kanan. Ia tak terima bajunya nggak rapi itu. Ia selalu ingin tampil sempurna di hadapan rekan-rekan kerjanya. Tidak di depanku yang selalu berusaha mencuci dan menyetrika bajunya dengan rapi dan wangi.

Perang mulut itu berujung fatal. Ia diam. Aku berang. Kubungkus sebagian besar pakaian lalu kutinggalkan ia dalam diamnya. Aku sudah tidak nyaman dengan kondisi yang dibuat-buat oleh dirinya. Mudah saja ia melampiaskan kemunafikan kepadaku yang telah menjadikannya raja di saat aku belum mencintainya seutuhnya. Ia sama saja dengan orang asing yang singgah di dalam kehidupanku yang damai. Saat sendiri aku sungguh lebih bahagia dibandingkan dengannya yang hanya memamerkanku kepada orang-orang, aku adalah istrinya yang perfect.

Kujalani kehidupan sebagaimana mestinya. Pertanyaan demi pertanyaan dari orang tua dan tetangga akhirnya hilang dengan sendirinya. Waktu tak pernah menipu. Aku sering mengurung diri di dalam kamar sepulang kerja dan cukup jarang berinteraksi dengan aktivitas warga tempat tinggalku. Ia tanpa malu datang ke rumah dan meminta maaf. Aku tak sudi menerima maaf dari hal-hal sepele yang ia hadirkan sendiri. Sifat lemah lembutnya, santun perkataannya tak lantas menjadikan alasan untukku kembali ke rumahnya. Aku bebas terbang ke mana suka karena kami belum memiliki apa-apa untuk dibelah dua. Rumah tempat tinggal kami adalah miliknya. Mobil miliknya. Aku cuma numpang sebagai tamu tak diundang, barangkali begitu. Ia masih sering mengirim pesan. Sekadar bertanya kabar. Mengingatkan akan kesehatan dan pola makan. Atau pemberitahuan uang – jatah istri – telah dikirim ke rekeningku. Aku tak minta tapi aku terima. Aku tak menolak tapi aku memakai tanpa sisa. Semakin hari ia bosan mengirim pesan dengan nada-nada perhatian. Sampai akhirnya, pesan mengenai kiriman uang pun tak pernah masuk lagi walaupun aku dapat notifikasi dari bank yang berisi nominal rupiah telah masuk ke rekening.

Aku sengaja tak merespon. Aku tak mau memulai kembali hubungan yang telah retak. Keretakan yang tak mau kuulang pada kisah berikutnya. Di waktu yang tak terduga, aku berinteraksi dengan seorang pria bermata teduh. Pertemuan pertama aku telah merasakan nyaman dan terlindungi bersamanya. Hubungan kami semakin hari berbuah manis. Aku membuka lebar-lebar aroma dan kukipasi wanginya sampai menusuk hidung pria itu. Pada batas perkenalan kami di ujung enam bulan, pria itu terpanah asmara. Pria itu mengungkapkan cinta dengan cara romantis anak muda. Setangkai bunga dan cincin permata dalam kotak berwarna pink.
Kamu tebak bagaimana bahagia wanita dimanja sedemikian rupa. Di usiaku yang segini dan telah bersuami, belum pernah kurasakan langit berubah menjadi merah muda. Angan-angan hidup bahagia telah terurai dengan sendirinya. Kusimpan rapat-rapat mengenai masa yang telah kulewati dengan suami kepada pria itu. Aku pun tak sakit hati bahkan melepas pria itu begitu mengetahui dia duda beranak dua. Bahkan, dengan gamblang aku mengutarakan isi hati di depan pria itu.

“Aku akan merawat kedua anak Abang!” tegas dan bijaksana, menurutku yang terbuai cintai. Aku tak mau berhenti. Aku telah terbuai. Aku ingin memulai yang belum pernah kuawali. Cinta itu nyata, tak menipu atau ditipu. Dari tatapan mata pria itu kuselami cintanya teramat dalam kepadaku. Hingga satu permintaanku kepada pria itu, nikahi aku secara diam-diam. Pria itu menyanggupi dan aku benar-benar telah terbang menjadi bidadari. Saat keluargaku menyelidik tentang suamiku, ia yang telah kuduakan, aku berdalih bahwa kami telah bercerai secara agama. Ia telah menjatuhkan cerai dalam ucapannya sehingga aku boleh menikah dengan pria manapun.

Kamu ingin mengetahui fakta tentang ini? Aku sama sekali tak dicerai. Ia tak pernah mengeluarkan kata-kata kasar. Ia lebih memilih diam jika ada masalah dalam keluarga kami. Ia selalu bersikap biasa-biasa saja walaupun aku merasa masalah itu telah sampai ke ubun-ubun. Ia menganggap masalah kami tak pernah ada dengan bersikap wajar di hari berikutnya.

Sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga. Buah nangka yang disimpan, lama-kelamaan pasti akan tercium wanginya. Pernikahanku dengan pria itu juga terendus ke mana-mana. Pada rekan-rekan kerja, pada siapapun yang bertanya, aku selalu mengatakan telah bercerai dengan suamiku, ia yang pada saat tak sengaja bertemu denganku di satu kesempatan menunduk dalam. Aku dengan kokoh meninggalkannya tanpa menyapa. Sekilas tatapan itu membekas sampai relung hatiku tak dapat menerima dengan baik.

Aku tentu tak mau peduli dengan matanya yang merajuk. Ia tetap tersalah telah mengabaikan aku. Kubandingkan semua yang telah kudapat dari pria itu. Hal terindah yang diidam-idamkan semua orang adalah keturunan dan aku telah memilikinya, mungkin akan bertambah di tahun-tahun mendatang. Bahagia mana yang kuingkari? Sampai mataku perih. Terbelalak. Tangis mendadak datang. Sesal menyesak dada.

Pada sebuah pesan, ia, suamiku yang sah secara keyakinanku, membubuhkan luka yang telah lama terpendam.

“Saya tidak bisa ereksi…”

Hanya itu. Namun semua terlambat. Aku telah dinikahi oleh pria yang kuyakini begitu mencintaiku. Aku telah mempunyai anak berumur satu tahun dari pernikahan yang tak sah dari segi agama karena aku belum bercerai dari suami. Lebih tepatnya, suamiku belum menjatuhkan cerai kepadaku. Aku pun tak memfasakh suamiku sejauh ini. Hanya aku yang telah menjadi pengecut. Terlalu membawa emosi dalam setiap langkah. Tak pernah mencoba menelaah isi hati suami yang pada dasarnya sangat menderita. Karena aku, ia merana. Aku mencabik harga dirinya sebagai pria. Aku tidak menerima sifatnya yang dingin. Aku tak suka kekakuan dalam dirinya. Aku selalu menyalahkannya, berpikir negatif terhadap sikapnya.

Ia jelas-jelas malu. Untuk mengaku. Untuk segala rasa yang kini ia tanggung sendiri. Dan aku? Bahagiakah setelah tahu ia begitu?

Pesan setelah berikutnya, cukup berat untuk ia kirim dan mencabik-cabik bahagia yang kubangun dengan pria itu, yang seharusnya menikahiku ulang. Mau tidak mau harus menikah denganku kembali karena selama ini aku belumlah menjadi istri pria itu. Dalam pandangan Islam, keyakinanku yang entah memaafkan aku sebagai istri yang menelantarkan suami.

“Bersama pesan ini, saya jatuhkan talak tiga untukmu, agar kamu bahagia dengannya di masa mendatang!”
***
Untukmu, semoga maaf itu segera diraih darinya dan dari-Nya!
Baca Juga Catatan Istri Diselingkuhi Suami Mata Duitan

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90