Top Ad 728x90

Friday, May 27, 2016

, ,

Kisah Wanita Diperkosa dan Hamil Seorang Diri

Kisah Wanita Diperkosa dan Hamil Seorang Diri, Kisah Wanita Diperkosa, Wanita Diperkosa dengan Keji, Wanita Diperkosa, Wanita Diperkosa, Anak Wanita Diperkosa, Wali Anak Wanita Diperkosa,

wanita diperkosa
Ilustrasi - loop.co.id
Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Aku tidak ingat dan tidak tahu apa yang terjadi padaku dalam konsep ilmiah. Aku banyak lupa. Kata orang aku tidak waras. Orang-orang lebih banyak menjauhiku karena pikiran selalu tidak seimbang dengan badan. Aku mengerjakan ini tetapi pikiranku berada di tempat lain. Aku sedang bersama seseorang tetapi kemudian aku lupa pernah mengenalnya.

Kukisahkan tentang ini setelah 16 tahun. Aku malu? Oh tidak. Rasa malu itu tidak pernah kurasa karena aku selalu memandang sama apa yang terjadi. Aku cuma tahu orang-orang membicarakan tentangku dan tak lama setelah itu aku akan lupa. Orang-orang bilang aku mengidap suatu penyakit, aku tidak merasa sakit apapun. Jiwaku baik dan badanku sehat.

Enam belas tahun lalu, pada malam yang enggan memihak kepadaku. Aku seorang diri di rumah karena kedua orang tua sedang bepergian ke rumah saudara mereka. Jangan kamu tanya saudara dari sebelah siapa, Ayah atau Ibu, aku sungguh tidak mengingatnya. Aku tidak hapal saudara dari pihak Ayah dan Ibu dengan baik sebelum melihatnya langsung. Aku hanya tahu mereka telah pamit usai magrib dan tiba-tiba gerimis mulai turun. Saat itu rumah kami belum ada aliran listrik. Aku duduk di sudut menghadap ke jendela dalam remang. Aku menunggu Ayah dan Ibu pulang. Gerimis yang mulai panik turun dengan sangat lebat. Malam yang pekat tampak putih oleh hujan. Pohon-pohon bergoyang di depan rumahku. Sebuah bayangan melintas dan tiba-tiba telah ada di dalam rumah.

Dia Amir, tetanggaku yang telah menikah. Istrinya sedang hamil dua bulan. Amir datang bercakap-cakap dengan panjang lebar. Ia ingin menghiburku yang ketakutan seorang diri. Aku cukup senang dengan kedatangan Amir karena kami memang sudah sering bermain bersama, sejak kecil kami biasa berdua ke mana-mana. Ia seperti menerima kekuranganku dan membelaku jika ada anak-anak lain menghujat. Perhatian Amir kemudian baru kupahami betul sebagai seorang teman setelah ia menikah dengan Mala. Aku, Fatimah yang malang ditinggal Amir karena pria itu memilih wanita yang sempurna. Aku berbicara saja tidak begitu jelas di hadapan banyak orang.

Amir duduk bersila di sampingku. Menghiburku yang sendiri. Aku tidak khawatir ketika Amir mulai meraba-raba dan menjamah apa yang seharusnya tidak boleh dilakukannya. Aku pikir itu biasa saja dan tidak membawa pengaruh besar dalam kehidupanku kemudian hari. Baru setelah Amir pulang, saat hujan reda, aku merasakan sakit yang luar biasa di selangkangan. Darah bercucuran dan aku mulai panik. Aku takut kedua orang tuaku tahu apa yang telah terjadi. Aku mulai membersihkan diri dan menangis menahan gejolak ini.

Pagi hari yang dingin itu, aku cukup bahagia dan ingin segera menemui Amir. Namun kuurungkan niatku karena begitu pintu terbuka, di depan sana Amir tengah bercengkrama dengan Mala. Sedikitpun Amir tidak melirik ke arahku. Aku tidak tahu sakit seperti apa yang kuderita. Aku merasa dada sangat sesak. Aku tak mampu menangis atau pun berteriak. Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjelaskan apa yang terjadi hingga dua bulan setelah itu aku mual-mual, panas dingin dan ingin makan banyak.

Ibu menghardikku dengan pertanyaan-pertanyaan. Sama seperti hari-hari sebelumnya, Ibu tak pernah mengeluarkan kata-kata terindah kepadaku. Ibu hanya mengeluarkan kata-kata yang sama. Selalu itu saja.

“Saya malu punya anak seperti kamu!” entah sudah berapa kali Ibu mengeluarkan kalimat ini. Aku kemudian paham itu kalimat pamungkas karena Ibu malu telah melahirkanku sebagai seorang anak abnormal.

Malu Ibu semakin tersirat di wajahnya begitu mengetahui anaknya hamil. Aku hamil tetapi aku biasa-biasa saja melihat ini. Aku mendengar orang mencemooh tapi aku tidak tahu maksudnya bagaimana. Aku mendengar bentakan-bentakan Ibu tetapi aku tidak mampu mencernanya dengan baik. Aku menerima tamparan Ayah tetapi aku tidak mampu membalas, dan untuk apa kubalas. Aku cuma bisa berujar satu kata.

“Amir..,”

Itu saja. Dalam lirih dan perih. Dalam keadaan bahwa aku tidak sadar seutuhnya, menurut mereka yang mendengar. Aku dibilang mengada-ada. Aku tidak mabuk alkohol tetapi pikiranku benar-benar tidak bisa kujalankan sebagaimana kamu jalankan dengan benar.

Aku terasing di rumah sendiri. Ibu dan Ayah telah menganggapku sebagai anak durhaka. Dan Amir? Kamu ingin tahu tentang pria itu. Amir sama sekali tidak menggubris aku yang telah dinodainya. Amir tidak mengakui bahwa dirinya yang telah merenggut keperawananku. Aku juga tidak punya bukti untuk menjelaskan kepada siapapun bahwa Amir yang telah berbuat hina kepadaku. Aku tahu orang itu adalah Amir. Aku cukup mengenal Amir. Amir satu-satunya teman pria yang dekat denganku dan hanya dia yang datang ke rumah malam itu.

Mala melahirkan dan tak lama setelah itu aku juga melahirkan. Mala melahirkan anak laki-laki, aku pun demikian. Anak laki-laki Mala banyak yang timang-timang tiap waktu. Aku laki-laki ku yang malang hanya ada di dalam pelukanku setiap waktu. Perlahan-lahan Ibu iba. Ibu kemudian menaruh benci kepada Amir walaupun tidak diucapkan secara terang-terangan. Ibu mulai menutup pintu, menutup jendela, memalingkan muka bayi tak bersalah itu, jika Amir melintas di depan rumah kami.

“Aku tahu dia tak ikhlas!” selalu kata-kata itu yang keluar dari mulut Ibu jika Amir melintas di depan rumah kami, sengaja atau tidak. Aku tidak paham maksud ikhlas dari kalimat Ibu. Aku akan lanjut menyusui agar bayi itu sehat dan cukup gizi. Aku pun tidak tahu berapa lama bayi itu cuma berada di dalam rumah dan tak keluar sama sekali. Aku tidak mengadakan pesta aqiqah dan turun mandi besar-besaran seperti Amir dan Mala. Aku bersabar di balik jendela mengintip kericuhan tamu undangan di rumah Amir. Anak laki-laki itu cukup senang dan bahagia dipangku oleh banyak orang. Anak laki-laki ku, cuma menatap langit-langit dengan mata berkedip dan bibir menyebutkan sesuatu.

Aku tidak pernah mampu berkomunikasi dengan baik, tak akan pernah sampai kapan pun. Aku lebih sibuk dengan dunia sendiri daripada mengurusi banyak urusan orang lain. Bayi itu menangis aku diamkan saja sampai Ibu yang menenangkannya. Semua kebutuhan anak itu hanya Ibu yang tahu.

Aku baru kelimpungan saat usia anakku tiga tahun. Ibu meninggal karena penyakit yang aku tidak tahu namanya. Aku harus membesarkan anak seorang diri. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak bersawah seperti orang lain. Aku tidak punya kebun di belakang rumah. Aku tidak punya keahlian tangan seperti Mala yang pintar menjahit. Aku tidak punya apa-apa selain Ayah. Ayah juga mulai sakit-sakitan. Tanggung jawabku terbagi dua antara anak kecil dan orang tua. Anakku, Imam, tidak rewel dan lebih banyak diam. Imam seperti menyimpan rahasia cukup besar dan menanggung beban teramat berat. Ayah lebih banyak maunya dan butuh dalam waktu cepat. Aku sangat kelelahan menghadapi tabiat Ayah dan sedih melihat Imam yang tak banyak bicara. Hati kecilku merasa Imam akan sama denganku. Keturunan tak akan jauh berbeda. Aku memiliki IQ jongkok – begitu kudengar dari orang-orang – dan Imam mungkin saja menerima harta karun itu dariku. Tanda-tandanya sudah ada sehingga aku merasa sangat bingung untuk membuat Imam berharga.

Perlahan, waktu terus bergulir. Aku kehilangan Ayah pada usia Imam tujuh tahun. Imam masih seperti biasa, tidak banyak bicara dan akan mengeluarkan kata-kata jika ia benar-benar butuh bantuanku. Aku tidak bisa berdiam diri saja. Tidak ada yang bisa kuharapkan selain bekerja lebih giat karena Imam telah masuk sekolah dasar. Aku bekerja apa saja. Aku mencuci dan menyetrikan baju orang lain yang membutuhkan bantuanku. Dari satu rumah berpindah ke rumah lain. Tiap hari aku mencuci dan menyetrika, kadang juga memasak.

Imam tidak pernah bertanya tentang ayahnya sampai usia sepuluh tahun. Belakangan aku tahu, Imam telah bosan dihina-hina teman-temannya di sekolah. Anakku itu sangat jauh berbeda denganku. Semua di luar kekhawatiranku. Sejak kelas satu sudah peringkat pertama. Imam unggul dalam berbagai bidang studi dan olahraga, khususnya sepakbola. Anak-anak yang sering mengejek Imam kebanyakan perempuan. Hatiku terasa begitu sesak begitu mengetahui Imam berteman baik dengan Aris, anak Amir dan Mala. Aku tidak tahu bagaimana cara melarang karena tiap kali ingin kusampaikan, Imam dan Aris telah bermain di depan rumah. Mereka main hujan bersama. Mereka main mobil-mobilan berdua. Mereka saling menendang bola di depan rumah jika tidak bermain di lapangan kampung yang jaraknya dua ratus meter.

“Benarkah ayah Imam sama dengan ayah Aris, Mak?”

Imam yang pendiam selalu mengeluarkan kalimat tepat sasaran. Imam tidak akan mengulang pertanyaan yang sama atau mengganti dengan pertanyaan lain sebelum aku menjawab. Imam akan bersabar menunggu jawaban dariku bahkan sampai berhari-hari aku belum memberi penjelasan. Imam yang pintar dalam banyak hal sangat dewasa dan mudah mencerna apa yang disampaikan orang kepadanya. Imam tentu percaya omongan di luar sana dan melayangkan pertanyaan kepadaku untuk memastikan saja. Tak lebih dari itu. Sebuah kepastian. Mau tidak mau aku harus menjawab walaupun di kemudian hari, sampai kapanpun, Amir tidak akan pernah menjadi wali untuk Imam. Amir tidak pernah mengakui Imam anaknya walau ia tahu itu darah dagingnya. Amir tidak menikahiku sampai kini sehingga tidak ada pertalian antara aku dengannya. Dan terakhir, Imam lahir di luar pernikahan yang sah.

Aku diperkosa!

Oh, baru di umur Imam 16 tahun aku berani mengeluarkan kalimat itu. Saat Imam tahu ia lahir dari sebuah kekerasan. Saat Imam mengetahui lebih banyak persoalan dariku. Saat Imam menanggung beban seorang diri mengenai perwalian. Saat Imam seharusnya dengan bangga mengenalkan kedua orang tua kepada calon istrinya nanti.

Aku menyelami apa yang ada di dalam pikiran Imam dari kerut di keningnya. Imam tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun. Imam mewarisi tabiat entah dari mana. Bukan dariku atau dari Amir. Imam lebih banyak berdiam diri saat harus melakukan sesuatu yang berhubungan dengan seorang ayah. Imam bahkan berani tegas kepada siapapun yang bertanya mengenai ayahnya. Sorot mata Imam sulit kuartikan jika melihat Amir. Imam tanpa memberikan isyarat benci atau suka kepada Amir. Imam juga tidak pernah mau bertegur sapa lagi dengan Amir begitu ia mengetahui fakta sebenarnya. Tatapan mata Amir yang sungguh berbeda. Amir tampak menyesal dan aku tidak butuh lagi karena Imam telah besar, kubesarkan seorang diri!

Hubunganku dengan Amir tak pernah baik. Hubungan Imam dengan Amir tidak bisa kujelaskan, mungkin Imam pernah berbicara dengan Amir di luar pengetahuanku. Hubungan Imam dengan Aris biasa-biasa saja. Mereka berdua tahu satu ayah. Mereka berdua berbeda. Aris hidup dalam kemewahan. Imam sebaliknya. Aris memenuhi segala kasih sayang. Imam hanya memilikku seorang. Di sisi lain, mereka saling melengkapi. Mungkin pengaruh pertalian darah, mungkin pengaruh psikologis karena sejak kecil sering berdua. Entahlah. Aku tidak tahu.

Aku wanita malang di mata banyak orang. Aku seorang yang memiliki IQ rendah. Berhakkah aku hidup bahagia? Paling tidak dengan Imam, anakku! 
Baca Juga
Song Joong Ki, Mimpi dan Kekuatan Imajinasi dari Negeri Teknologi

4 komentar:

  1. emang zamannya sekarang kayak gini, banyak wanita hamil di luar nikah. untung cowoknya mau tanggung jawab, kalau engga mau tanggung jawab, melarikan diri, bisa berabe kan. hehe

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90