Top Ad 728x90

Wednesday, May 18, 2016

,

Mau Di bawa Ke mana Pertelevisian Indonesia?

Mau Di bawa Ke mana Pertelevisian Indonesia?, Sinetron Indonesia tidak mendidik, sinetron Indonesia plagiat, Indonesia tukang plagiat, uttaran tidak mendidik, uttaran tidak bermoral, ganteng-ganteng serigala tidak mendidik, tujuh manusia harimau tidak mendidik, sinetron Indonesia tidak masuk akal, episode sinetron Indonesia sampai ribuan, sinetron Indonesia tidak ada akhir, anak jalanan tidak mendidik, anak jalanan ajarkan kekerasan, sinetron Indonesia bikin rusak moral, sinetron Indonesia bikin generasi muda mudah galau,

 
sinetron indonesia plagiat
Sinetron Indonesia rata-rata tidak mendidik mulai dari dialog sampai kekerasan yang sering terjadi kemudian ditiru anak-anak dalam kehidupan nyata - muvila.com
Ibarat anak-anak, orang dewasa kadang lebih latah dalam menyikapi masalah hidup. Contoh nyata bisa kita lihat di beberapa tayangan televisi. Saat salah satu televisi swasta menyiarkan tayangan bernuansa vampir, manusia serigala, manusia harimau dan sejenisnya, televisi lain ikut arus melakukan gebrakan yang sama. Saya tidak bisa pungkiri bahwa akar permasalahan ini dari kisah cinta romantis Bella Swan dan Edward Cullen dalam seri Twilight. Apakah “kita” pegiat seni di Indonesia tidak bisa lebih kreatif dari itu?

Saya rasa bisa. Toh, kisah cinta vampir dengan manusia diangkat dari buku bestseller Stefanny Mayer. Pegiat seni di barat lebih menghormati hak cipta orang lain ketimbang di Indonesia yang mentah-mentah mengolah kembali tema yang sama dengan alur cerita tak masuk akal. Di sinilah peran pegiat seni peran dalam menciptakan harmoni positif bernilai edukatif. Pertelevisian di negeri ini punya hak melakukan apa pun untuk menaikkan rating sebuah tayangan, apalagi persaingan semakin sengit dengan makin banyaknya televisi swasta yang memiliki ide-ide brilian untuk sebuah tayangan. Sayangnya nilai-nilai edukasi terabaikan bahkan terganti dengan iringan dongeng semata. Dunia dongeng memang menarik sebagai pengantar tidur, sebagai penikmat hidup yang berat, tetapi kehidupan nyata tak seindah dalam dongeng yang selalu happily ever after.

Produser drama seri (sinetron) dan film punya andil kuat dalam menanamkan nilai moral pada sebuah tayangan. Televisi maupun layar lebar merupakan sarana yang mudah sekali menipu penonton untuk mengikuti tabiat karakter di dalamnya. Siapa yang lupa dengan Cinta maupun Rangga dalam Ada Apa Dengan Cinta?? Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra hadir membawa angin segar terhadap perfilman Indonesia. Film ini sudah 14 tahun lamanya, namun tetap diingat oleh penonton walaupun tema besarnya lebih kepada roman picisan ala remaja.
Baca Juga 
Kisah Pria Menikahi Bayangan Wanita 
Kisah Wanita Dinikahi Pria Lain sebelum Dicerai Suami 
Catatan Istri Diselingkuhi Suami Mata Duitan 
Layar lebar punya segmen tersendiri sehingga tidak semua orang bisa menontonnya, apalagi di pedalaman. Namun drama seri yang ditayangkan pada jam-jam urgen bagi anak-anak justru di hampir semua televisi swasta. Drama seri ini memiliki pengaruh besar sekali di saat orang tua menjadi penonton budiman dan anak-anak mereka ikut nimbrung di dalamnya. Orang tua punya hak dalam menentukan pilihan tayangan untuk anak mereka, tetapi produser lebih punya andil dalam mengemas sebuah tayangan beredukasi tinggi maupun memindahkan jam tayang.

Sinetron Dongeng
Zaman terus berputar, era teknologi semakin menjadi patokan kesuksesan suatu bangsa. Sayangnya, pertelevisian Indonesia malah mundur ke zaman purba. Sinetron yang tayang lebih banyak menceritakan kisah pengantar tidur; kesaktian yang terlihat nyata, bongkahan api keluar dari hembusan napas atau tangan manusia, manusia bisa berubah wujud menjadi binatang, kekuatan yang berasal dari binatang dan lain-lain. Tanpa sadar, binatang jadi lebih hebat dari manusia!

Inilah krisis pertelevisian kita. Di mana sinetron ditayangkan pada jam prime time. Pada jam tersebut anak-anak Indonesia di wilayah waktu barat masih belum tertidur, bahkan baru pulang mengaji dari surau.

Apa yang diharapkan oleh produser atau televisi tersebut? Apa pun orientasi mereka, penayangan ini berdampak negatif pada anak-anak. Nilai edukasi yang diharapkan malah berganti menjadi peniruan terhadap manusia harimau maupun vampir. Dampak ini memicu kekurangan kecerdasan pada diri anak yang sedang dalam masa belajar. Peniruan adalah cara terbaik anak-anak mengadaptasi pengetahuan mereka ke dalam nyata. Ayolah produser tersayang, berikan sentilan yang memicu adrenalin anak-anak berpikir hal-hal positif. Telepati yang bisa dilakukan sekarang adalah voice dan video melalui jaringan internet dengan aplikasi khusus dari smartphone. Telepati seperti dalam tayangan televisi; manusia bisa terbang, manusia bisa langsung berada di tempat kejadian padahal posisi awal sangat jauh, dan contoh lain hanya siasat yang tak pernah ada di dalam nyata.

Sejarah boleh diajarkan melalui tayangan di televisi, namun yang masuk akal saja. Anak-anak mudah terpengaruh sehingga merugikan diri mereka dan lingkungan sekitar saat bermain bersama teman-temannya. Seolah-olah tayangan di televisi benar adanya, anak-anak mencoba-coba gigit leher temannya, atau panjat tembok, atau mengeluarkan jurus-jurus tertentu. Tidak pernah ada yang mengetahui jika di pelosok tertentu ada anak kecil mencoba-coba loncat dari ketinggian karena si serigala, harimau maupun vampir di televisi bisa melakukannya. Kerugian apa yang muncul setelah praktek ini?

Apakah pihak televisi melakukan survey sejauh itu? Indonesia sangat luas lho, setiap pelosok memiliki televisi di rumah masing-masing.

Sinetron Adaptasi
Kita tinggalkan sinetron berbau mistik. Sinetron adaptasi menjadi salah satu tayangan menarik berikutnya. Sinetron adaptasi lebih bisa dipertanggungjawabkan karena membeli lisensi tayang dari negara asal. Sinetron adaptasi juga sudah melalui proses editing dan dubbing terlebih dahulu.

Drama seri dari India sempat mengalahkan drama seri dari Korea Selatan. Namun belakangan, drama seri dari Korea Selatan kembali kokoh di mata masyarakat walaupun tidak sekuat dulu. Televisi swasta kembali berlomba menayangkan drama Korea Selatan. Wajar saja mereka melakukannya karena jika terlambat maka televisi tersebut akan tergilas oleh televisi lain. Dampak lainnya tentu saja sinetron luar malah lebih menarik dibandingkan sinetron dalam negeri. Drama seri India yang berputar-putar alur ceritanya sampai tidak bisa diterima logika malah eksis dan memiliki rating tinggi.  

Selera memang beda. Banyak alasan produser memilih drama seri dari kedua negara tersebut. Satu hal yang paling penting, pengemasan cerita dari India hampir sama dengan sinetron Indonesia yang bertele-tele dan berepisode panjang. Berbeda dengan drama seri dari Korea Selatan yang berusia pendek, padat, dan berisi. Kenapa saya katakan demikian, lihat saja beberapa drama Korea Selatan yang tak ubah sama persis seperti di kehidupan nyata. Tidak hanya itu, selain kisah cinta romantis, Korea Selatan menyelipkan kehidupan sosial di negara mereka, kecanggihan teknologi, keindahan alam, tempat-tempat indah, ketimpangan hidup orang kaya dan miskin, kemakmuran negara dan hal-hal kecil lain yang luput dari pandangan kita karena terlanjur terpana dengan aktor tampan dan artis cantik. Dan, pernahkah sinetron Indonesia memberdayakan keindahan alam maupun budaya di negeri sendiri?

Sebagai penonton kita terperangah. Sebagai televisi mendapat keuntungan besar jika ratingnya tinggi, paling tidak cukup melunasi lisensi.

Kembali ke pertanyaan saya di awal, apakah orang-orang Indonesia kurang kreatif? Saya rasa tidak. Hanya enggan beranjak dari hal-hal susah, dan takut berbuat. Saya tidak tahu, apakah membeli sebuah lisensi buku untuk dijadikan sinetron lebih mahal dibandingkan membeli lisensi drama seri yang sudah usai tayang di negara lain. Jangan pernah lupakan sinetron fenomenal yang diangkat dari buku. Salah satunya, Catatan Hati Seorang Istri karangan Asma Nadia. Saya melihat Hilman Hariwijaya bersama pegiat seni lainnya, mengubah buku menjadi menarik dan apa adanya sesuai fakta. Walaupun sebagian alur diubah, sinetron ini malah sukses.

Produser yang hebat adalah mereka yang mencari celah mengubah ide menjadi menarik. Rating dan keuntungan akan datang belakangan. Tidak mesti dari buku, jika ide itu menarik dan dekat dengan kehidupan nyata maka skenario yang ditulis akan menjadi fenomenal pula.

Televisi adalah guru terbaik saat ini. Ditonton tiap saat. Salah mengajarkan maka salah pula pemahaman di masyarakat. Semoga produser drama seri/sinetron lebih selektif memilih tema yang mengarahkan perubahan dalam masyarakat yang semakin kritis. 
Baca Juga 
Kisah Wanita Berzina Karena Lamaran Ditolak Ibunda 
Mr. Jali Leonardo DiCaprio dari Aceh

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90