Top Ad 728x90

Saturday, May 7, 2016

, ,

Petani Ulung itu Bernama Orangutan

Petani Ulung itu Bernama Orangutan, Punahnya Orangutan di Aceh, Punahnya Orangutan di Indonesia, Orangutan makin punah, Orangutan di Aceh telah punah, Kebun sawit di Aceh, Orangutan sebagai petani, seed desperser,


Sore itu sedikit mendung, kami bergegas ke Tripa, Kabupaten Nagan Raya. Katanya, ada orangutan yang nggak tahu jalan pulang. Ngomong-ngomong jalan, di sana memang sangat berliku dengan keadaan yang demikian ramainya perkebunan sawit. Kiri kanan adalah pohon-pohon sawit yang siap panen. Teduh sekali berada di sekitar daerah ini karena sinar matahari seperti malu-malu memantik panas ke tanah yang sebagian kering dan basah. Tripa telah jadi sebuah daerah dengan penghasil sawit terbesar untuk kawasan Nagan Raya.

Orangutan yang kami lihat adalah “sosok” yang gagah menurut ukuran seekor binatang. Menjuntai dari satu pohon ke pohon lain dalam keadaan kalut. Meloncat ke sana-ke mari karena takut diburu oleh kami, manusia-manusia rakus. Padahal, belum tentu kami akan “membunuh” sosoknya yang lemah. Bulu-bulunya telah bermandikan keringat. Warna bulu orangutan tak bernama itu telah kusam. Matanya liar ke mana-mana – entah apa yang ada di benaknya saat itu. Saya menyaksikan orangutan itu diburu untuk dikembalikan ke habitat sebenarnya, agar dia tidak kesepian dan meradang karena luka yang tak mampu diungkapkan dengan suara yang dimengerti manusia.

Orangutan dan hutan adalah perbaduan yang tiada banding sampai kini. Disadari ataupun tidak, orangutan termasuk habitat yang melestarikan lingkungan secara alamiah. Saya boleh mengatakan, orangutan adalah petani ulung dan tangguh dalam menebar benih tanpa sengaja sehingga tumbuh-tumbuhan hidup dengan sejahtera. Orangutan dikenal sebagai binatang seed disperser di mana secara naluriah orangutan membantu regenerasi tumbuh-tumbuhan di dalam hutan. Biji tumbuh-tumbuhan yang dimakan oleh orangutan akan dibuang melalui kotoran apabila biji tersebut tidak dapat dicerna. Biji tumbuhan yang telah mengalami “fermentasi” alami mengandung karbohidrat dan protein dan zat lainnya yang tidak terdapat di alam manapun. Orangutan akan membuang biji-biji tak dapat cerna tersebut secara sembarang sehingga lahir tumbuhan dengan gizi cukup. Hutan-hutan terlindungi dari erosi karena tumbuhan liar tumbuh sempurna. Kecil memang urusan ini namun jika ditelaah lebih jauh tak ada petani yang benar-benar ulung selain orangutan itu sendiri.
punahnya orangutan di indonesia
Nasib orangutan di Tripa, Nagan Raya, Aceh, sangat tergantung kepada pembukaan lahan perkebunan sawit. Populasi orangutan di sini semakin punah akibat kurangnya makanan dna krisis tempat tinggal. Foto di atas adalah orangutan yang diburu saat berada di kebun petani. 
Salah satu orangutan itu ada di depan kami saat ini. Petani-petani di Tripa merasa cukup dirugikan dengan hadirkan orangutan di tengah-tengah perkebunan mereka. Berdasarkan data yang ada sekitar 62.000 hektar hutan di daerah ini hanya tersisa 13.000 hektar saja yang benar-benar masih murni. Sisanya adalah perkebunan sawit milik perusahaan dan orang-orang cukup berada. Lahan sawit yang ada di daerah ini dipanen dengan sukacita dengan mengesampingkan kedudukan habitat lain. Satu sisi memang benar kebun sawit menghadirkan kehindahan tersendiri jika dilihat dari udara bahkan dari darat. Namun saat berbicara punahnya ekosistem alam lainnya, kebun sawit yang terus dibuka lahan barunya menjadi mubazir.

Imbas dari pembukaan kebun sawit berlebihan tersebut adalah orangutan yang tak dapat bertani secara sukarela. Populasi orangutan diperkirakan hanya tinggal sekitar 250 ekor dari ribuan yang pernah hidup bahagia di sini. Punahnya orangutan karena tempat tinggal mereka telah terusik dengan keberadaan kebun sawit yang menguntungkan satu pihak dan merugikan banyak pihak.

Orangutan berlarian mencari perlindungan ke daerah-daerah yang padat makanan lezat. Tentu, bertahan di dalam hutan yang hanya terdapat kebun sawit akan membuat mereka kelaparan. Orangutan adalah konsumen yang sangat konsumtif terhadap makanan di sekitarnya. Semakin berkurang jatah hidup mereka di dalam hutan semakin berkurang pula perkembangbiakan orangutan. Tak ada makanan artinya tak akan ada kehidupan setelah hari ini.

Orangutan yang telah ditangkap di depan kami, satu di antara ratusan orangutan yang menggantungkan nasibnya pada kebun petani. Bau makanan lezat di perkebunan yang menu makanannya masih bisa disantap membawa naluri orangutan untuk menjumpainya. Tak ada harapan bertahan di dalam hutan dengan kondisi mengenaskan.

Hati saya cukup teriris menikmati penderitaan orangutan yang telah dibungkus bagai pakai kiriman kilat. Sekonyong-konyong, orangutan itu berbicara dalam bahasa yang benar-benar dimengerti. Ia minta tolong namun tak tahu siapa yang benar-benar akan menolongnya. Jepretan kamera menandakan bahwa hidupnya hanya akan abadi di layar kaca atau halaman-halaman berita maupun media sosial. Sorot kesedihan dalam dirinya tak akan berujung ke mana-mana. Saya kemudian mengerti satu hal, jika orangutan itu dapat berbicara ia akan mengatakan ini kepada kami semua.

“Di mana balas budimu wahai manusia? Aku telah menebar benih tanpa pamrih sehingga tumbuh tumbuhan untuk kau petik. Aku telah lelah bertani untuk melestarikan lingkungan tempat tinggalmu. Mengapai pula kau usik tempat tinggalku yang asri?” 

Baca Juga Sejenak Bersama Mr. Jali, Leonardo DiCaprio dari Lembah Leuser 


1 komentar:

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90