Top Ad 728x90

Friday, May 6, 2016

,

Wisata Mati Lampu di Aceh

Wisata Mati Lampu di Aceh, Aceh Mati Lampu, Mati Lampu, Pemadaman Bergilir di Aceh, Pemadaman Listrik di Aceh, Aceh selalu mati lampu, Aceh tak pernah hidup lampu, malam hari di Aceh mati lampu,

aceh mati lampu
Mati lampu di Aceh telah jadi kebiasaan yang wajar, masyarakat sudah paham betul tabiat listrik negara ini. Kehidupan di Aceh seperti kembali ke masa sebelum ada listrik karena mati lampu memakan waktu lama dan teramat sering dalam sehari semalam - energytoday.com
Biasanya, wisata itu identik dengan tempat menarik, kuliner sedap, maupun keelokan dan keunikan manusia yang ada di daerah tujuan. Wisata yang demikian sih kayaknya terlalu basi. Di mana-mana ada. Nah ini, wisata yang tak biasa. Itu ada di Aceh!

Tahu dong istilah Earth Hour? Selebrasi mengenai ini rutin dilaksanakan pada Maret. Orang-orang tuh pada bangga adanya dunia tanpa lampu pada jam-jam tertentu. Kayaknya baru merasakan dunia gelap di malam hari pada saat itu saja. Padahal, di Aceh istilah beken kayak gitu bukan lagi kebanggaan namun malapetaka. Bayar listrik sih mahal – tiap tahun naik, bahkan ada yang pemakaian sekadarnya eh giliran bayar malah bengkak sampai jutaan rupiah – tapi urusan kehidupan sejahtera dengan adanya listrik percuma saja diomongin karena Aceh hampir selalu gelap gulita, apalagi menjelang bulan Ramadhan begini.

Kami tuh sudah catat dengan benar kapan jadwal mati lampu. Jam-jam penting dan genting adalah waktu yang pas banget berada dalam gelap gulita. Jam-jam ini disinyalir sebuah kemewahan bagi kami yang butuh sesuatu untuk asupan makanan sebelum maupun sesudah beraktivitas. Jam pertama mati lampu itu magrib. Hampir tiap magrib adalah wajar kehidupan di Aceh gelap gulita. Azan sedang berkumandang eh listrik padam. Lima menit saja lampu padam kayak pertanda larangan untuk menunaikan ibadah salat magrib. Jam padat lain adalah waktu subuh. Kebiasaan memang di pagi hari itu lampu mati. Geram sih iya karena ibu-ibu kudu tanak nasi di rice cooker. Anak-anak perlu air penuh di bak untuk mandi. Nggak mungkin dong ke sekolah dengan bau badan dan kucek begitu.

Mati lampu lima menit saat magrib bisa dimaklumi saja. Namun saat mati lampu nggak keruan bikin kepala puyeng. Untung rugi ada di masyarakat Aceh nan permai ini. Masyarakat diminta bayar iuran tepat waktu dan selalu bayar penuh bahkan jika telat kena denda. Keluhan demi keluhan dari masyarakat saat mati lampu nggak dihitung sebagai denda. Emosi meningkat karena iuran bengkak padahal di rumah cuma ada rice cooker, setrika, dan televisi saja, pihak berwenang malah adem ayem bahkan meminta untuk melunasi iuran tersebut. Giliran mati lampu 8 jam? 12 jam? Bahkan 24 jam? Kami ngadu ke mana? 


Kamu yang bosan banget di kotamu yang terang-benderang, mampir deh ke Aceh. Dijamin hidupmu sejahtera banget karena tak ada hari tanpa mati lampu. Pokoknya Aceh itu akan mati lampu, kapanpun! Tinggal kamu siapkan mental saat hal ini terjadi, termasuk ngisi daya power bank sampai penuh.  

Mati lampu telah jadi wisata paling menarik dan unik karena cuma di Aceh yang demikian eloknya. Mati lampu jadi keasyikan tersendiri karena kamu nggak bisa ngapa-ngapain selain nongkrong sambil menikmati malam kayak zaman prasejarah. Syukur-syukur jika kamu banyak teman. Kamu yang nggak punya banyak teman, tidur saja sehabis isya karena toh lampu itu megap-megap sampai nggak ketulungan.

Apa yang menarik dari wisata mati lampu ini? Nggak ada sih. Semua keluhan. Dari kelas atas sampai kelas bawah. Anak-anak sampai dewasa. Sinkronisasi hidup sangat tergantung pada lampu. Kecuali masyarakat diminta nggak bayar ya boleh-boleh saja mati lampu sesuka hati. Masyarakat pun nggak bakal ngeluh mati lampu tiap saat. Padahal jika dilihat dari APBD atau apalah istilahnya itu – besar jumlahnya bukan ukuran sejahtera – Aceh termasuk sangat sejahtera. Persoalan listrik ini bukan main-main kayak letusan mercon malam tahun baru. Lampu dari negara telah jadi kebutuhan sehari-hari masyarakat bahkan secara global. Nggak indah jika suatu daerah dengan dana berlimpah lalu istana “negara” triliunan eh malam hari gelap gulita.

Orang-orang yang datang ke Aceh tuh silih-berganti. Hari ini bisa si A, besok di B. Giliran di A datang Aceh terang-benderang. Giliran si B, baru turun dari pesawat saja sudah mati lampu dan nggak hidup-hidup sampai dia naik pesawat pulang. Si A tentu bercerita Aceh itu indah banget lho. Giliran si B, nggak ah, Aceh itu gelap kalau malam hari!

Aceh mau di bawa ke mana dong kalau sudah begini? Ya nggak ke mana-mana. Manusianya saja yang harus dipermak. Kalau perlu ke Thailand atau Korea Selatan, jangan cuma jalan-jalan, tapi operasi plastik.

Hidup ini nggak cuma senang di satu sisi saja. Sisi lain perlu diperhatikan juga. Saat masyarakat bermufakat dalam gelap gulita, para pejabat malah minum kopi dalam terang lampu karena ginset mahal memutar rodanya tak henti walaupun listrik telah berpulang ke mati suri.

Saat mati lampu memiliki kekesalan tersendiri. Sayangnya masyarakat yang  terlanjur cinta kepada listrik negara ini nggak tahu harus melampiaskan ke mana. Tapi, kalau kamu suka yang unik dan ikon zaman dahulu, Aceh adalah pilihan wisata saat ini. Wisata mati lampu itu sesuatu lho. Kamu bisa meraba-raba dalam gelap. Terserah mau ngapain. Yang pasti, kamu nggak bakal ditangkap polisi syariat. Orang-orang Aceh itu pada males dan mules karena mati lampu. Saat mati lampu semua sendiri-sendiri. Apalagi kalau malam mati lampu dari magrib sampai nggak tahu hidup kapan, lebih baik tidur. Habis mau ngapain?

Aceh ini sesuatu banget pokoknya. Yang nggak ada di daerah lain, di sini mudah saja kamu dapatkan. Ayo datang ke mari! 

Baca Juga Sejenak Bersama Mr. Jali, Leonardo DiCaprio dari Lembah Leuser

3 komentar:

  1. Baru tahu ada wisata mati lampu, hahaha
    Tapi emang unik beda dari biasanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beginilah Aceh, yg unik gampang di sini.

      Delete
  2. makasih bos infonya dan salam sukses

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90