Top Ad 728x90

Sunday, June 19, 2016

,

Cerita Foto Seindah Matahari Terbenam

Cerita Foto Seindah Matahari Terbenam,


Sore itu, bermendung. Saya sudah duduk dengan manis di bibir pantai.


Penantian yang paling mengharukan adalah saat-saat matahari menukik ke barat. Rona keemasan yang dipancarkannya merupakan suatu keajaiban manakala hari semakin senja dan panasnya masih terasa. Tiada syukur selain mengagumi betapa dahsyat ciptaan-Nya untuk membahagiakan kehidupan di dunia.

Bagaimana jika matahari telah mati? Teori apapun – ilmiah dan agama – menjabarkan ketika matahari mati maka dunia akan berhenti beraktivitas!

Aktivitas sore itu tidak bisa saya buang begitu saja. Smartphone Asus ZenFone Selfie yang masih tersimpan di dalam saku celana seakan enggan untuk ditarik keluar. Matahari terbenam kali ini tidak sesuai harapan untuk diabadikan dalam sebuah hasil kamera. Namun adakala sebuah objek benar-benar harus diabadikan meskipun tak seindah yang diinginkan. Selain matahari yang kian menurun dalam mendung berkelebat, ada anak-anak bermain di bibir pantai, ada ombak yang menghentak-hentak dan pemancing orang menarik kail dengan sabar.

Itu yang harus saya abadikan. Orang memancing di antara deburan ombak yang tidak bersahabat. 
 “Foto terbaik bercerita sehingga membuat yang melihat penasaran” – Eric Kim, 100 Things I Have Learned About Photography
Bang Eric, seorang fotografer profesional yang saya tak kenal hanya membaca dari blog miliknya, sedikit tidaknya telah menyentil saya untuk membidik kamera ke arah manapun yang menurut filling bahwa itu akan menjadi sesuatu. Tante Syahrini saja yang kerapkali mengeluarkan kata “Sesuatu” akhirnya dibikin lagu dan membludak. Sesuatu dibalik kamera tanpa diceritakan maksudnya orang yang melihat akan membaca dengan sendirinya.

Saya hanya perlu mengeluarkan smartphone dari dalam saku yang seakan menyalak bagai suara anjing di tengah malam buta. Hari tak akan pernah kembali. Besok bisa saja hujan lebat. Besoknya lagi kemungkinan saya tidak sempat. Besoknya lagi – kapan-kapan – mereka yang sedang memancing tidak lagi memancing di tempat yang sama.

Sekali klik kamera ponsel pintar itu tidak menemukan tendangan sampai saya harus terbahak. Saya mengubah posisi dari jongkok menjadi duduk sempurna. Saya rebahkan tubuh membentuk sudut tiga puluh derajat, lalu kembali mengunci objek yang terlewat begitu saja jika lalai. Suara jepretan berulang kali dikeluarkan dari smartphone dengan mengabaikan blitz karena membuat gambar buram akibat cahaya yang dikeluarkan dari ponsel berbenturan dengan sinar matahari.

Saya menunggu. Pinggang terasa sakit. Karang-karang sebagai alas seperti menusuk-nusuk sampai membuat saya ngilu. Namun ini tak akan apa-apa jika sebuah ombak meledak tepat saat pemancing menarik kail. Saya masih mengeluh dalam hati. Lewat lagi sebuah ombak yang pecah di saat pemancing itu menarik kailnya. Saya arahkan kembali kamera ponsel ke tempat semula ombak itu pecah.

Ombak sudah mulai berkejaran, menggulung, berbentuk kecil. Saya mendengus. Pecahan air asin itu hanya sejumput dari harapan. Tak ada apa-apa. Saya masih mempertahankan posisi yang sama saat ombak besar tampak begitu nyata. Itulah waktu untuk saya bersiap-siap. Ombak berlari kencang ke karang. Menghantam ombak lain berbentuk kecil yang baru pulang dari bibir pantai. Meliuk-liuk membentuk formasi untuk menyerang daratan. Dengan mengabaikan pemancing yang duduk di atas pokok kepala – dia tidak akan berpindah – saya jepret kamera berkali-kali. Saya harus tetap fokus pada kamera, pada tombol klik agar tak terlewat apa yang akan meledak di depan sana.

Ombak pecah. Meledak bagai bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki era Perang Dunia Kedua. Ledakan yang dahsyat itu membuat sepatu dan celana bagian bawah basah. Pemancing yang jadi objek utama bersama ombak tadi, masih duduk mengangkang ke arah laut dengan celana dan bajunya yang basah kuyup. Tampak ia tertawa sambil mengamati sekujur tubuh. Pengalaman yang luar biasa dan saya sendiri tidak menyangka akan berhadapan dengan ombak sebesar itu.

Saya terkekeh. Haru dan bahagia bercampur menjadi satu kesatuan yang sulit saya jabarkan karena inilah waktu yang tepat untuk saya benar-benar merasa telah memulai sesuatu dalam memotret. Butuh sabar yang sama dengan pemancing ikan untuk menangkap hasil bidikan kamera berbicara.

Foto akan selalu berbicara. Bahasa dari foto tentu berbeda namun maksud dan tujuan dari bingkai bisu ini tersampaikan manakala kita mau untuk mencari celah dari makna tersembunyi ini. Jika orang lain tidak mampu memahami, paling tidak kita sendiri yang memahaminya.

Saya mengabaikan teori fotografi karena memang tidak memilikinya. Kamera ponsel saya arahkan ke mana suka secara otodidak. Hasil yang ditangkap itulah adanya. Saya menikmati setiap foto karena jiwa saya berada di dalam foto tersebut saat mengambilnya. 

Ini hasil karya saya. Ini mahakarya. Ini sebuah kenangan, yang tak akan pernah saya dapatkan kembali di lain kesempatan!

Bergegas, saya mengambil Galery. Dalam hati begitu berharap ada sebuah foto yang benar-benar abadi untuk kemudian dipamerkan ke orang-orang. Tahukah kamu apa yang saya dapatkan? Saya terbahak. Meloncat kegirangan. Bersikap bodoh dengan orang-orang di sekitar pantai yang sedang menikmati sunset. Saya mendapatkan sebuah bidikan yang tak akan saya buang begitu saja.

Ombak pecah di karang saat pemancing menarik kail yang entah telah dimakan umpan oleh ikan atau kail meradang tersangkut di karang - Photo by Bai Ruindra diambil menggunakan Asus ZenFone Selfie
“Pada umumnya, sebuah foto diambil dengan teknik yang baik. Meskipun pada sebagian foto, pemilihan objek dan ide foto mudah ditemukan. Ada pula foto yang cenderung “bisu” sehingga harus diperkuat dengan keterangan. Idealnya foto tanpa caption (keterangan) harus tetap bisa bercerita…” – Denny Herliyanto, Fotografer Femina Group –
Pendapat Herliyanto membuat hasil bidikan kamera smartphone ini menjadi sesuatu. Walaupun belum tentu menjual namun sesuatu ini adalah hasil yang berbicara tanpa perlu saya jabarkan maknanya. Saya kemudian tidak lagi mengabaikan sesuatu itu karena akan menjadi sesuatu yang lain. Begitu juga dengan foto-foto lain yang saya abadikan sebelum dan sesudah ombak pecah tersebut.
Seorang pemancing menarik kail dengan gagah, padanya ia berharap bahwa ikan telah memakan umpan - Photo by Bai Ruindra diambil mengunakan Asus ZenFone Selfie
Pemancing pulang penuh harapan membawa bekal ikan yang telah dipancing - Photo by Bai Ruindra diambil menggunakan ZenFone Selfie
Dua orang pemancing, dua sabar, dua harapan, dua kail yang menanti dua ikan memakan dua umpan - Photo by Bai Ruindra diambil menggunakan ZenFone Selfie
Pemancing menarik kail. Pemancing pulang memangku kail. Dua pemancing berjajar di tepi pantai. Penuh sabar. Penuh imajinasi. Penuh harap. Pada ikan yang bersenang-senang di bawah ombak dan terumbu karang. Perpaduan yang menarik akan sebuah makna kehidupan lainnya. Saya membiarkan kamu untuk mendalami makna yang tersimpan ini. Apapun definisi dari penerawangan tersebut itulah arti sebuah kesabaran dalam bidikan kamera.  

Foto matahari terbenam tergolong biasa-biasa saja karena di mana-mana mudah ditemukan, asalkan dekat pantai. Bagi saya, pengambilan gambar dengan ombak pecah tepat pada waktu klik itu tidak mudah. Berulangkali saya mencoba untuk klik tetapi ombak telah duluan pecah atau tidak jadi pecah di atas karang, sehingga hasil bidikan hanya menampilkan air laut surut dengan matahari yang sedang turun.
Seorang anak bermain sendirian - Photo by Bai Ruindra diambil menggunakan ZenFone Selfie
Kamera jenis apapun akan menghasilkan foto yang menawan apabila dibidik sesuai rasa. Saya merasa bahwa sunset selalu menyimpan kenangan. Saya merasa bahwa ombak akan meledak. Saya merasa bahwa pemancing itu penuh sabar. Saya merasa bahwa anak-anak girang bermain di bibir pantai. Saya merasa bahwa karang memancarkan aura tersendiri dalam kamera. Proses akhir adalah bagaimana mengolah apa yang saya rasa menjadi patut dirasa oleh orang lain. Kamera ponsel yang diarahkan tidak langsung instan mendapat objek menarik. Permainan perasaan justru berlebihan sehingga klik menghasilkan nyawa pada sebuah foto.

Kamu telah siap bermain dengan kamera ponsel?

Artikel ini diikutsertakan dalam “Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com

22 komentar:

  1. asus zenfone selfi memang memiliki camera yang cukup bagus..
    saya pun juga menggunakannya. engga rugi kalau beli asus zenfone..

    ReplyDelete
  2. Bai telaten ya nungguin momen sampai dapet gambar bagus gitu.

    Thanks ya sudah ikutan GA #AkudanKameraPonsel
    Good luck.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menunggu dan sabar sampai akhirnya dapat. Semoga bermanfaat ya :)

      Delete
  3. Hasil jepretannya luar biasa :) bagus bangettttt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas Didik, semoga bermanfaat :)

      Delete
  4. Foto yang pertama itu keren kali bai, membutuhkan ketepatan dan kecepatan saat menjepretnya, moga menang ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampai pegal nunggunya, pengalaman menariklah ini Ihan :)

      Delete
  5. Tulisan yang menarik. Rasanya tuh berasa. Dan fotonya..wow. Kereeeen banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih bang, semoga bermanfaat ya.

      Delete
  6. matahari dan pemandangan yang indah sekali mas :) untung ada kamera ponsel yang berkualitas ya jadinya bisa tangkap momen seperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, momen yang pas dan kamera yang mendukung.

      Delete
  7. Menganga gan liat gambar2nya. boleh dong bagi ilmu fotografinya :D hehe.

    Salam blogger! smoga menang gan, nice artikel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas Khuluq, semoga menginspirasi ya :)

      Delete
  8. Cakep tuh Mas foto yang orang mancing disambut ombak. Klo gak cepet ngambilnya, momen itu akan terlewat..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Nukti, nungguinnya yang lama hehehe :)

      Delete
  9. Fotonya keren, ASUS Zenfone Selfie gitu loh. Bukan apa, kebetulan saya juga pake tipe yang sama Mas Bro. Good luck ya, semoga menang. Aminnn... Salam dari Pontianak Kota Bersinar... :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas, salam kenal kembali dari Aceh :)

      Delete
  10. Ikut deg-degan nungguin ombak pecah dan jepret. Hasilnya membayar lunas perjuangannya.

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90