Top Ad 728x90

Saturday, June 4, 2016

, ,

Ketika Masyarakat Aceh Modern Meninggalkan Tradisi Menjelang Ramadhan

Ketika Masyarakat Aceh Modern Meninggalkan Tradisi Menjelang Ramadhan, Gadis Aceh Cantik Sekali, Meugang di Aceh, Tradisi Meugang di Aceh, Pengantin Baru Meugang di Aceh, Idang kue di Aceh, tradisi yang ditinggalkan di Aceh, Ramadhan di Aceh, Ramadan di Aceh, Bulan Ramadhan, Bulan Ramadan, Bulan Puasa Penuh Berkah, Ramadhan Penuh Berkah, Ramadan Penuh Berkah,

gadis aceh cantik sekali
Gadis Aceh sedang menari - kaskus.id
Ini nggak boleh lagi. Itu nggak boleh lagi. Yang ini haram. Yang itu mubazir. Doa itu nggak dianjurkan. Doa ini nggak nyampe ke orang dimaksud…

Sering, masyarakat Aceh modern berkilah bahwa sesuatu yang telah dilakukan oleh nenek moyang sejak turun-temurun banyak yang tidak berfaedah. Alasannya berbagai macam, ada yang mengacu dengan dalil kuat agama, ada yang beragumentasi semata, ada yang berpegangan pada aktivitas sosial, ada pula yang ikut-ikutan sehingga tradisi yang sejak lama ditanam itu “hilang” sama sekali dan nggak lagi mengakar pada kebiasaan masyarakat Aceh.

Tradisi adalah pembeda. Tradisi adalah identitas suatu daerah sehingga ia mempunyai nama di daerah lain, atau dikenal dengan cara khusus oleh orang lain. Tradisi sama dengan nama yang melekat dalam diri kamu. Tradisi lebih tepatnya adalah karakter seperti yang tertanam di dalam watak kamu. Kamu dapat membedakan seseorang karena nama dan karakternya. Jika nama sama maka karakternya tentu berbeda. Si kembar saja yang memiliki telepati cukup kuat akan mempunyai perbedaan karakter jika diamati dengan teliti.

Setiap daerah mempunyai tradisi masing-masing. Karena tradisi ini – yang unik – maka daerah tersebut layak untuk dikunjungi, jika berbicara atas nama wisata. Orang-orang tahu rasa mi Aceh itu nikmat, maka saat ke Aceh mereka wajib mencicipi mi yang dibuat di Aceh oleh orang Aceh. Kamu ke Palembang tentu sangat ingin merasakan empek-empek. Kamu ke Bali ingin melihat orang beribadah sesuai ajaran Hindu atau dupa yang memancarkan aroma kemenyan. Kamu ke Papua ingin melihat orang-orang yang masih memakai koteka.

Tradisi apa yang hilang di masyarakat modern bisa kita lihat sendiri. Alih-alih ingin memperbaiki dengan menanamkan pemahaman agama, tradisi ini malah dibuang jauh-jauh karena berbau musyrik atau mubazir atau tidak sesuai kaidah Islam atau karena nggak mau melakukannya sama sekali. Padahal tradisi yag dijalankan sesuai dan searah dengan kekuatan agama jauh lebih bagus dibandingkan membangun debat yang nggak ada tahu benar atau abu-abu. Imbasnya generasi muda saat ini malah lebih hapal nama aktor dan aktris yang main sinetron penuh kekerasan dibandingkan jenis tradisi apa saja yang ada dan berkembang di masyarakatnya.

Tradisi itu unik dan menarik. Walaupun sebagian besar menghabiskan uang namun sepatutnya disesuaikan dengan kadar kemampuan. Dari tradisi ini pula masyarakat kemudian mengenal daerah dengan lebih baik dan menjadikannya pelajaran apabila mendapatkan ilmu pengetahuan di dalam sebuah tradisi.

Aceh memiliki banyak tradisi. Namun perlahan-lahan pudar karena intelektual seseorang semakin maju dan berkembang. Jika terus-menerus tradisi ini ditinggalkan maka generasi akan datang hanya tinggal generasi modern. Padahal, kehidupan modern seperti ini yang berlaku di dunia barat sangat dicecar oleh masyarakat Aceh itu sendiri.

Daging Meugang
Meugang itu sangat identik dengan masyarakat Aceh.
Baca Juga
Meugang di Aceh yang Menjadi Tradisi
Jika biasanya pengantin baru akan membawa pulang kepala kerbau/sapi atau paha ke rumah mertuanya, sekarang ada yang tidak melakukannya lagi. Pengantin pria yang baru menikah ini seakan-akan telah dihasut untuk menuruti gaya hidup modern. Masih syukur jika ia membawa pulang sekilo atau dua kilo daging untuk merayakan kebersamaan bersama istri dan mertuanya.

Daging meugang dianggap mubazir karena hanya menguras isi dompet seorang pria. Masyarakat Aceh bukan juga orang yang nggak pernah makan daging. Namun daging di hari meugang sangat berbeda dengan daging di hari biasanya. Meugang adalah pesta pora, bersenang-senang sebelum berpuasa.

Nggak ada yang benar dan salah dalam persepsi pengantin pria tidak membawa pulang daging dalam jumlah besar ke rumah mertua. Tetapi jangan lupa bahwa sekali saja selama pernikahannya, di meugang pertama ia harus melakukan hal tersebut. Soal mubazir atau tidak, apakah daging itu dibuang? Nggak juga. kepala atau paha kerbau yang dibawa pulang pengantin pria ke rumah istrinya tak hanya disantap oleh mertuanya semata. Sanak famili dari pengantin wanita akan diundang untuk memotong daging di kepala atau paha kerbau. Sebagian di masak bersama, sebagian di simpan dan sebagian lagi dibagi-bagikan untuk keluarga pengantin wanita sebagai “cendera mata” di hari meugang. Keanehan ini yang kemudian menjadi unik dan menarik karena hanya di Aceh keadaan ini berlaku!
daging meugang di aceh
Paha kerbau yang dibawa pulang pengantin pria ke rumah pengantin wanita di hari meugang - diliputnews.com

Kue Hari Raya
Jika pengantin pria wajib membawa pulang daging meugang, maka jauh sebelum itu pengantin wanita wajib mengantar kue meugang dan Hari Raya ke rumah mertua. Nggak main-main, kue yang diantar dalam jumlah besar. Ada yang memasukkan ke dalam idang – sejenis tempat yang dihias khas Aceh. Ada yang memasukkannya ke dalam kotak kayu besar.
Baca Juga
Ini Buah Tangan Menantu Wanita ke Mertua Saat Hari Raya
Tradisi ini masih berlaku namun pada masyarakat modern tradisi ini dianggap nggak begitu penting. Mereka yang cukup pintar ini menganggap bahwa kue meugang dan Hari Raya itu hanya menghambur-hamburkan uang. Pengantin wanita setidaknya membuat dua tempat kuat untuk meugang dan Hari Raya walaupun diantar bersamaan sebelum puasa. Kue-kue ini terdiri dari kue tradisional yang dibuat oleh pengantin wanita bersama kerabatnya.

Memang, jika semua dikalkulasikan dengan uang pasti akan mahal. Apapun itu. Namun waktu tak akan pernah memihak kepada kita. Pengantin baru nggak wajar lagi melakukan tradisi ini di Ramadhan kedua. Lebih tepatnya dianggap telah melanggar tradisi. Tradisi ini hanya berlaku pada Ramadhan pertama dan mau tidak mau harus dilakoni.

Pengantin wanita yang lelah membuat kue tak akan menerima tempat kosong begitu pengantin pria mengembalikannya. Semua ada imbalannya. Idang atau kotak kue yang dikembalikan oleh pengantin pria biasanya telah diisi oleh emas, pakaian, kain dan lain-lain semampunya. Bagaimana jika masyarakat modern kemudian bela-belain diri nggak menunaikan hajatan ini? Tentu nggak ada pembeda dengan daerah lain.
idang di aceh
Idang kue di Aceh -rapaisaman.blogspot.com
Saya akui, masyarakat modern memiliki pemikiran yang sangat kuat dibandingkan sebuah artikel ini. Namun, bagi saya dua hal di atas cukup menggambarkan identitas Aceh secara keseluruhan. Aceh tak pernah berhenti dengan keunikan. Beda tempat, beda cerita. Pembeda inilah yang membuat mata dunia tertuju kepada kami! 
Baca Juga
Hebatnya Wali Kota Banda Aceh Main Film Saat Bioskop Haram di Aceh

14 komentar:

  1. Pengantin membawa pulang kepala atau paha kerbau? Ini saya baru tahu, mas kalo di Aceh ada budaya demikian.

    Terimakasih sharingnya, mas. Salam hangat dari Bondowoso..

    ReplyDelete
  2. Mohon maaf yg bikin tread, Anda tahu apa tentang aturan agama Islam? Orang aceh meninggalkan hal2 tersebut bukan asal2an begitu saja pastinya. Sudah dikaji bersama dan bukan keputusan perorangan. Toh..saya yakin masih banyak budaya yg dipertahankan, tentunya yg tidak berpotensi merusak aqidah agama rakyat Aceh.

    Mohon jangan menyalah2kan aturan agama..cuma demi kepentingan dunia.
    Mungkin Anda seperti itu..
    Tapi tidak bagi kami yg taat beragama

    Makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai yang tidak ada nama. Sudah baca dengan cermat blum artikelnya? Saya tulis kok solusinya. Lain kali ucapkan salam ya, katanya paham betul agamanya.

      Delete
    2. Kita harus belajar banyak lg ni Izhari

      Delete
  3. wawww tradisinya unik, beda sama di jawa sini :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas Ali, beda dari yang lain :)

      Delete
  4. seneng dengan tradisi daerah2 yang berbeda-beda, meskipun sekarang sudah banyak yang masyarakat yang meninggalkan tapi sejarah gak akan lupa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mbak, semakin maju semakin berubah pola pikir sehingga tidak menyesuaikan tradisi dengan yang lain.

      Delete
  5. Kalau bicara tradisi, lia pribadi gak sanggup ikutin semua. Terkadang pengen terus melestarikan budaya daerah tapi saat pelaksanaannya seringkali terkendala dengan waktu, materi, dsb. Contohnya adat pas pernikahan, kalau dijalankan sesuai tradisi akan jadi lebih seru dan unik memang, tapi terkadang cuti yang diberikan kantor sangat minim, jadinya prosesi pernikahan dipercepat dan dihilangkan beberapa bagian. Tapi di lain sisi lia sendiri sangat ingin budaya kita terus dilestarikan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau diikuti memang gak sanggup ya, tapi jangan dilupakan aja :)

      Delete
  6. sangat menarik mase,membahas tentang budaya daerah yang mulai terkikis.
    Biasanya adanya budaya semacam itu, pasti banyak mengandung filosofi. Sayang sekali jika lambat laun budaya ini menghilang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kehidupan modern yg membuat demikian Mas.

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90