Top Ad 728x90

Monday, June 20, 2016

, ,

Memaafkan Obat dari Stres dan Sakit Kejiwaan

Memaafkan Obat dari Stres dan Sakit Kejiwaan, Maaf Memaafkan di bulan Ramadan, Maaf memaafkan di Idul Fitri, Keutamaan Maaf memaafkan, Memaafkan, pemintaan maaf, maaf urusan manusia dengan manusia,

saling maaf memaafkan dalam islam
Maaf kata kunci kehidupan bahagia - pembelajar.com
Bulan Ramadan tentu telah dihiasi dengan momen maaf-memaafkan di awal bulan, bahkan di hari raya nanti momen ini berlangsung lebih khitmat. Namun, apakah memaafkan itu dilakukan pada momen tertentu saja?

Di awal Ramadan saling memaafkan agar amal ibadah selama bulan puasa langsung diterima oleh Allah. Hubungan manusia dengan manusia tidak akan diampuni oleh Allah sebelum manusia mencari maaf kepada manusia yang lain. Di awal Syawal momen memaafkan lebih bernyawa karena Idul Fitri satu-satunya hari kembali ke suci setelah berpuasa – dan bisa dikatakan setelah beraktivitas selama satu tahun.

Kata maaf tidak akan berlaku jika kehidupan yang dijalani biasa-biasa saja. Kamu nggak bersinggungan dengan orang lain maka untuk apa perlu minta maaf. Kamu sibuk dengan kehidupan sendiri maaf itu tak perlu diucap. Kamu nggak pernah membicarakan orang lain di kursi belakang, maaf itu tak perlu tersirat dan tersurat.

Kapan maaf itu perlu diucap? Saat kamu memulai sesuatu yang berkaitan dengan hidup orang lain. Kamu membicarakan kejelekan teman. Kamu mencemooh usaha teman telah bekerja keras dalam mengais rejeki. Kamu merendahkan nasib hidup teman yang masih di bawah garis kemiskinan. Dan sebagainya.

Maaf itu hanya perlu untuk orang yang iri hati. Orang yang demikian memiliki kelainan dalam jiwa sehingga tidak tenang apabila belum mengatakan tentang sesuatu. Sesuatu yang saya maksud adalah yang berkenaan dengan orang lain, kejelekan demi kejelekan. Walaupun di awal Ramadan dan di Idul Fitri telah saling memaafkan namun lepas dari itu tetap memulai lagi kesalahan yang serupa.
Secuil saja hati orang lain tersakiti, minta maaflah kepadanya!
Hal terkecil bisa membuat hati panas. Tetangga baru beli sofa baru, suara sumbang akan datang.

“Uang dari mana?”

“Dia nggak bekerja kok beli sofa mahal!”

Dan seterusnya. Tentang apapun yang semula dianggap remeh namun menjadi kebiasaan. Memaafkan itu tidak memandang hari baik dan bulan baik. Setiap hari adalah memaafkan jika telah berbuat salah. Budaya orang Korea Selatan yang tercermin dalam drama seri cukup kental sekali dengan sifat maaf-memaafkan. Sedikit saja salah maka aktor atau artis akan menunduk sambil mengucapkan kata maaf. Drama memang tayangan televisi yang diangkat dari cerita fiktif atau benar nyata. Namun itu adalah cerminan kehidupan secara universal di suatu tempat. Begitu terus-menerus sampai menjadi kebiasaan secara sengaja ataupun tidak. Budaya memaafkan memang sangat enteng. Manakala telah banyak berbuat salah, sifat menunggu momen memaafkan dijalankan . “Nanti sajalah,” atau “Lebaran saja,”

Menanti-nanti momen membuat maaf yang terucap tak lagi wajar. Masalah yang semula muncul terlupakan. Diganti dengan masalah yang lain. Padahal satu masalah adalah satu maaf. Banyak masalah adalah banyak maaf. Maaf itu adalah utang yang harus dilunasi secara tunai. Utang seribu bayar seribu. Jika salah sudah tak terhitung bagaimana cara meminta maaf dan maaf mana yang perlu dilunasi?

Namun, sifat manusia memang saling memaafkan. Manusia mudah memaafkan walaupun sebagian masih menyimpan luka di dalam hati. Kepala memang mengangguk tetapi hati belum tentu mengiyakan. Belum lagi jika berbicara perkara yang besar, sampai menyangkut dengan harga diri.
“Ketika dalam diri kita ada luka batin yang disimpan, dan karena kesombongan kita untuk tidak memaafkan, rasa marah itu akan tertanam dalam dan menggerogoti tubuh.” – Psikolog Susetyo dari GMS HRD Consultant –
Itulah iri dan dengki. Seakan-akan kita selalu merasa benar dengan apa yang dijalankan. Kita merasa yang dilontarkan untuk orang lain adalah sebuah kebenaran. Orang lain telah berbuat salah tanpa melihat kronologis kejadian. Kita menghujat, mencaci-maki, membiarkan semua amarah menumpuk. Giliran untuk meminta maaf kita berada di garis batas keegoisan karena pembenaran atas pola pikir yang keliru.

Kata maaf yang bertumpuk membuat kepala berat memikulnya. Pada suatu masa setelah itu kita akan memikirkan terlalu banyak kesalahan. Sama tetangga depan rumah. Sama tetangga kiri dan kanan. Sama teman di kantor. Bahkan, sama orang tua – keluarga – di rumah. Sama orang lain yang tak mungkin dicatat dengan baik di dalam kepala karena manusia memiliki sifat pelupa.
“Jika Anda tidak memiliki keinginan untuk memaafkan, stres akan memperburuk kesehatan mental Anda secara tidak tanggung-tanggung, yang akhirnya memperburuk kesehatan fisik juga. Sehingga, Anda tidak memiliki penangkal stres.” – Loren Toussaint, Profesor Psikologi Universitas Luther –
Stres muncul akibat menunda-nunda maaf karena penyakit jiwa telah dipelihara. Iri yang masih berkepanjangan. Dengki tak pernah putus dan egois membuat gigi gemerutuk.

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” – Q.S. Al-Baqarah ayat 263 –
Coba kita praktekkan permintaan maaf dari drama Korea. Tiap salah, minta maaf. Begitu salah minta maaf. Beban itu kemudian tidak tertumpuk. Kita lepas dari cengkraman manusia. Urusan dimaafkan bukan lagi tanggung jawab kita. Urusan sesama manusia telah terselesaikan.
Baca Juga
Cerita Foto Seindah Matahari Terbenam

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90