Top Ad 728x90

Friday, July 1, 2016

, ,

Jeritan Rakyat Kecil Menikmati Kenaikan Harga Gula Pasir Jelang Idul Fitri

Jeritan Rakyat Kecil Menikmati Kenaikan Harga Gula Pasir Jelang Idul Fitri, harga gula pasir naik jelang idul fitri, harga gula naik, gula naik, harga gula pasir naik, harga gula pasir mahal, rakyat butuh keadilan,

harga gula pasir naik jelang idul fitri
Harga gula pasir naik jelang Idul Fitri - konfrontasi.com 
Siapa yang berada di jajaran garis terdepan rakyat kecil di negeri ini?

Gula Pasir Naik - Mereka yang mengemis di pinggir jalan. Mereka yang mengais rejeki dari tumpukan sampah. Mereka yang pantas menerima santunan. Mereka yang layak diberikan jaminan kesehatan gratis. Mereka yang mendapatkan uang saku dari pemerintah melalui program BSM atau KIP. Mereka yang tidur di kolong jembatan. Mereka yang mencangkul sawah tak pernah lelah. Mereka yang menjerit saat semua barang yang mesti dibeli naik tiba-tiba bagai tensi darah sehingga menyebabkan strok, penyakit kronis lain, sampai akhirnya terkapar di rumah sakit.

Beginilah nasib. Saat Pegawai Negeri Sipil goyang-goyang kaki menerima bonus tahunan berupa gaji ketiga belas dan Tunjangan Hari Raya (THR) atau gaji keempat belas, rakyat kecil yang lupa didefinisikan dengan benar, bahkan tak tertera di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tercekat dan dipaku dengan palu sampai napas enggan keluar. Suasana tercekik menghantam seluruh tubuh karena anggota keluarga butuh banyak aroma, makanan enak untuk berbuka dan sahur maupun pakaian baru untuk lebaran.

Satu jenis sembako mendadak naik membuat rakyat kecil tanpa gaji bulanan dan tunjangan apapun, melompat ke tangga paling tinggi sebelum jatuh sampai patah di kaki dan lengan. Sorotan gula naik oleh media massa cetak, elektronik maupun online menjadi satu-satunya kecemasan. Di beberapa daerah gula dijual pada kisaran Rp.17,000 dan bahkan di Aceh sampai naik menjadi Rp.20,000.
Gula memang sangat manis, kawan. Makanan dan minuman yang dicampur gula terasa sangat nikmat sampai ke ubun-ubun. Gula itu adalah candu yang tidak pernah dibuang sampai akhir hayat. Satu sen saja gula naik maka semua akan keteteran. Pedagang kue yang menjual jajanan berbuka mau tidak mau harus menaikkan harga satu potong kue mereka. Es cendol yang dijual pinggir jalan terlihat lesu saat ngabuburit karena satu bungkus telah naik harga maupun dikurangi volumenya.

Menaikkan harga sembako sepertinya juga sebuah candu. Pemerintah terlalu santai dalam menindaklanjuti proses demi proses yang dilalui rakyat kecil. Pemerintah berdalih bahwa uang santunan yang tercantum di dalam BSM atau KIP, uang fakir miskin, bahkan dana sosial dari Kementerian Sosial, lebih dari cukup untuk membuat rakyat kecil hidup sejahtera. Data-data yang ada itu terkadang hanya baku di satu tempat tetapi tumpul di tempat lain. Coba lihat di sekeliling, berapa banyak rakyat kecil yang tinggal di rumah kumuh, makan nasi secuil namun tidak memegang kartu BSM atau KIP, tidak terdata sebagai penerima bantuan sosial dari program Keluarga Harapan.

Uang jaminan hidup dari pemerintah pun jika ada yang menerima bukan diberikan bulanan namun caturwulan bahkan semesteran. Berapa besarnya? Rp.300,000? Rp.600,000? Sampaikah ke tarif Upah Minimun Provinsi? Dengan uang segitu “banyaknya” apa yang didapat oleh rakyat kecil apabila cahaya lilin tiba-tiba menyala di sebuah ruangan. Seluruh ruangan itu akan terang, terimbas, terinfeksi virus cahaya, perlahan-lahan menggegoti tubuh sampai benar-benar padam dalam waktu lama.

Sembako yang naik – saat ini gula – akan bertahan lama setidaknya baru turun setelah Idul Fitri 1 Syawal 1437 H. Jika benar-benar turun. Jika tidak rakyat kecil tak tahu ke mana akan menjerit. Rakyat kecil kembali ikut arus mengikuti pergulatan oleh pemerintah dengan iming-iming akan ada dana bahagia dari berbagai simpanan kas negara.

Gula naik memang perkara kecil, kawan. Tetapi tahukah bahwa kopi itu terasa sangat nikmat saat sahur? Aroma kopi saja sudah membuat tidak mengantuk bagaimana setelah meneguk secangkir lalu mulai beraktivitas di pagi buta. Rakyat kecil yang ke sawah, ke ladang, ke laut, ke hutan, tak luput dari sejumput gula untuk mengaduk kopi agar kafein itu menambah tenaga mereka.

Rakyat kecil akhirnya benar-benar menikmati permainan ini seperti yang sudah-sudah. Saat semua harga sembako naik, semua kebutuhan lain ikut-ikutan gelombang tersebut. Jeritan mereka tertahan. Hanya nikmat yang tertekan saat mulut-mulut besar berkhotbah bahwa hidup ini akan sejahtera di bawah pemerintahan nyata. Dari tahun ke tahun, berlalu begitu saja. Pernahkah sekali harga sembako turun ke titik terendah setelah naik mendadak?

Nyawa rakyat kecil itu ada pada sembako, kawan. Dapur mengebul tiap hari walaupun cuma menanak air untuk membuat kopi. Rakyat kecil bahkan cukup meneguk satu kali tegukan kopi untuk menarik pukat, untuk menarik cangkul, untuk menanam sayur-mayur yang kemudian di jual dengan harga murah, bahkan tak cukup untuk membeli satu kilogram gula, atau mungkin hanya cukup untuk membeli satu kilogram gula tetapi tanpa dipenuhi oleh pernak-pernik lain di dalam kantong plastik itu.

Pada siapa kemudian mereka mengadu? Hanya wartawan yang datang silih berganti meliput berita. Berita tayang di mana-mana. Rakyat kecil menonton dirinya sendiri dengan bangga telah masuk televisi. Tetapi di sudut hati yang lain, rakyat kecil mengeluh, suaranya hanya untuk sebuah tayangan, untuk kebutuhan siar, untuk dipertontonkan tetapi bukan untuk mengambil kesimpulan.

Berapa banyak tayangan dan berapa orang narasumber yang telah bersuara. Di Sumatera, di Jawa, di Kalimantan, di mana-mana. Beda suara tetapi satu tujuan, keluhan saja, sambil tertawa tertahan, mendesah penuh harap, merayu dalam iba, lepas dari tayangan begitu itu nama mereka diabadikan sebagai orang yang pernah masuk televisi oleh orang-orang sekampung.

Adakah petisi saat gula naik? Berapa yang akan tanda tangan petisi tentang sembako naik? Apakah akan ada orang baik hati untuk menggalang dana dalam rangka mensejahterakan rakyat kecil yang berjumlah jutaan di negeri ini? Akankah terkumpul dana sampai ratusan juta? Apakah mengorbankan satu orang lebih baik dari orang banyak?

Harga gula naik seminggu lalu. Harga sembako lain bahkan telah naik di awal Ramadhan. Tak ada petisi. Tak ada aksi galang dana. Tak ada isu bahwa ini bencana nasional. Tak ada aksi tanggap darurat. Tak ada penyelesaian karena ini bukan bencana alam yang menimbulkan kelaparan, walaupun di dapur rakyat kecil hanya ada bongkahan lantai dari tanah tak bisa dijadikan makanan halal. Cuma tersisa soalan harga sapi yang menanjak menyengsarakan rakyat di kelas mereka yang sanggup beli daging saja, itu yang kemudian dicari solusi terbaik dan sebaik-baiknya. Hanya ada kisah anak pejabat ke luar negeri dengan fasilitas negara dan memamerkan keangkuhan yang ada di dalam diri mereka.

Bagaimana dengan kami rakyat kecil ini?” 
Baca Juga Gara-gara Kafe Jamban Saya Tidak Makan

6 komentar:

  1. Dilema memang mas... Alasan klasik adalah inflasi.. Yg jadi korban tetap rakyat kecil.. Harga turun yg diuntungkan kaum berduit lainnya..

    Entah yang salah sistemnya atau rakyatnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. Nggak tahu siapa yang harus disalahkan.

      Delete
  2. Semoga harga-harga sembako lekas kembali turun. :(

    ReplyDelete
  3. Jadi kalau sudah begini siapa yang harus di salahkan mas.. sebagai rakyat kecil juga saya turut prihatin terhadap kenaikan kenaikan semacam ini..

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90