Top Ad 728x90

Saturday, July 30, 2016

,

Seribu Saja Tak Cukup untuk Ibunda

Kisah Pahlawan Keluarga, Pahlawan Keluarga, Definisi Pahlawan Keluarga, Pahlawan dalam Keluarga, Makna Pahlawa dalam Keluarga, Lomba Blog Kudo Indonesia, Lomba Blog Kudo Pahlawan Keluarga,

Mungkin, ini hanya sebuah kisah galau untuk kamu yang belum mendengar curahan hatiku. Teramat panjang debat dalam batin sehingga aku benar-benar menorehkan kenangan dalam sebuah tulisan ini. Ada perasaan malu dalam diri sendiri begitu sebuah rahasia terbongkar di dunia maya, walaupun di kehidupan nyata, di dunia dekatku bernapas, kisah ini telah menjadi abadi.

Aku kuliah seperti orang lain, setidaknya dapat menaikkan derajat hidupku walaupun sekarang belum bisa kumaknai derajat yang mana bisa terangkat.

“Ekonomi makin susah, harga karet turun terus, harga sirih tak pernah naik…,” Ibu memberi sinyal bahwa aku kemungkinan tak bisa menerima uang bulanan lagi.
Ibu segala rupa yang ada, kebahagiaanku bermuara dari tatapan mata Ibu. Mata itu selalu berbicara walaupun ucapan tak keluar dari bibirnya. Ibu meminta dengan caranya dan aku memberikan dengan caraku yang terkadang belum masuk ke dalam ketegori memuaskan batinnya.
Perkuliahan yang biasa dan penuh semangat di awal 2004 namun hambar begitu tsunami tiba dan sebetulnya setengah kacau pada titik akhir 2009. Waktu yang teramat panjang untukku memenuhi kewajiban tersebut. Saat teman satu bangku kuliah yang tergolong mahasiswa IPK biasa mendapatkan jadwal sidang, aku tersibuk dengan kegiatan penyuluhan kesehatan ke sekolah-sekolah. Saat teman dekatku merayakan hari yudisium, aku masih berkutat di lembaga bimbingan belajar mengajarkan komputer dasar. Saat teman-teman satu persatu memakai toga, aku masih terkantuk-kantuk siaran radio hingga dini hari.

Aku sudah terbiasa dengan ritme itu. Lari ke LSM di pagi hari, balik ke kampus untuk masuk kuliah tambahan atau perbaiki nilai semester yang lalu, kemudian ngos-ngosan ke lembaga bimbingan belajar di sore hari dan pontang-panting ke radio sampai malam. Sejauh mataku menerawang waktu itu, orang tua sama sekali tidak lagi mengirimkan uang saku bahkan SPP dan untuk sewa kamar tahunan.

“Biarkan saja adik kuliah di Banda,” ujarku dengan mantap. Tiga pekerjaan sampingan itu sudah lebih dari cukup untuk ukuran ekonomi mahasiswa tingkat akhir.

Dan, apa yang kamu pikirkan itu dimulai dari sini. Aku mahasiswa hampir abadi karena kejar setoran. Jadwal mengajar komputer bertambah. Jadwal siaran pun demikian. Skripsi tersentuh sesekali dan hampir usang di bawah kasur. Aku tidak lagi memikirkan bagaimana SPP dan uang sewa kamar untuk diri sendiri. Aku tidak lagi bersenang-senang dengan perut sendiri begitu menerima gaji. Ada orang lain yang telah menjadi tanggung jawabku di saat yang sebenarnya belum tepat di mana orang tua masih memiliki wewenang menyekolahkan anak-anak mereka.

Aku menjalani kehidupan yang rumit begitu adanya. SPP untuk diri terpenuhi dan untuk adik juga demikian. Uang sewa kamar tahunan kadang tersendat di bagianku, tidak di jatah adik di kosan perempuan yang memiliki ibu kos lebih cerewet. Di hari-hari tak henti, makan nasi dengan lauk benar seadanya.

Kemudian, aku ditendang dari kampus dengan tahun yang menyedihkan. Orang tua tentu sangat senang karena aku telah selesai dan mungkin akan mendapatkan pekerjaan. Namun seiring waktu, tes masuk pegawai negeri sipil pun tak kunjung kugenggam. Lamar di pekerjaan lain selalu ditolak. Orang tua meminta aku pulang kampung dan melepas tiga pekerjaan yang dianggap tidak memberikan masa depan cerah. Aku takut kualat dan menuruti perintah Ibu. Sedangkan biaya kehidupan adik semakin meningkat karena pengaruh ekonomi yang belum memihak kepada masyarakat kelas bawah. Mau tidak mau aku harus bekerja apa saja. Tiap bulan aku harus mengirim sedikitnya Rp.600.000 untuk adik. Kalkulasi dari apa yang pernah kurasa di Banda waktu itu, sehari Rp.20.000 untuk semua kebutuhan. Cukup tidak cukup.

Aku mulai menulis banyak hal. Aktif di blog. Dan tentu ngajar di sekolah sebagai guru honorer yang dibayar tak berapa. Aku bersyukur pada satu titik, dari menulis aku mendapatkan banyak kesibukan, rejeki dan jalan-jalan gratis setidaknya ke dua kota, Lombok dan Jakarta. Semakin aku rajin menulis, uang makan, uang sewa kamar dan SPP adik selalu terpenuhi tiap tanggal yang ditentukan. Begitu uang dipindahbukukan oleh bank secara otomatis melalui mesin ATM, aku masih bisa mencukupi pulsa internet, bensin, makan mi ayam sesekali, ngopi hampir tiap hari di warung kopi dengan internet gratis dan tentu saja beli sabun mandi atau deodoran dan minyak wangi.

“Ini untuk Ibu simpan,” sesekali aku juga memberikan tip untuk Ibu. Tak seberapa tetapi sangat berarti untuk Ibu.

Uang memang segalanya. Simpanan yang kuberikan kepada Ibu lebih banyak digunakan untuk beli kado ke pesta, beli gula atau sabun cuci. Memang tidak rutin aku memberikan kepada Ibu karena pemasukan sebagai freelance tidak pasti. Namun apabila Ibu meminta Rp.5000 atau Rp.10.000 di hari-hari tak tentu, tetap saja aku memberikannya walaupun di dompet cuma tinggal selembar itu saja.
Ada uang, ada kasih sayang. Di mana-mana, kamu akan menerima anggapan demikian. Setingkat kamu mau ke kamar mandi terminal bus saja, setidaknya Rp.1000 atau Rp.2000 wajib kamu titipkan ke penjaga di sana. Bagaimana dengan kondisi perut kamu yang keroncongan? Kebutuhan ongkos kendaraan? Pulsa handphone, paling tidak untuk mengabarkan kerabat terdekat terjadi sesuatu. Belum lagi untuk beli beras, beli lauk, beli gula, garam, cabai, kopi…
Perjalananku sudahkah berakhir? Satu batu tersandung, satu lagi belum tersentuh. Adik bungsu, si laki-laki yang suka nonton bola, masuk kuliah tahun ini. Rasanya, aku tidak tahu kapan berhenti untuk dapat berenkarnasi. Seperti yang telah kukasih tahu, kehidupan ini belum memihak kepada mereka di pinggir kali. Biaya perkuliahan di tahun ini, tak lagi sama dengan tahun-tahun lalu. Biaya makan naik karena semua bahan baku tak berhenti melaju ke tingkat menyedihkan bagi masyarakat menengah. Biaya sewa kamar akhirnya ikut-ikutan kena getah. Adik yang tidak menerima beasiswa masuk terpaksa dilempar ke golongan orang “kaya” dengan biaya masuk mahal. Mahal dalam definisiku memang berbeda denganmu. Namun angka Rp.2.000.000 persemester begitu mahal untukku yang belum tentu menerima masukan sebesar itu, tidak termasuk uang makan harian dan sewa kamar tahunan.

Aku memutar otak, seperti roda, seperti jam tak berhenti berdetak. Kondisi ekonomi keluarga semakin tidak baik. Apa-apa mahal. Aku berlari lebih kencang, seperti kuda kencana, mengais segalanya agar terpenuhi apa yang diminta adik bungsu. Aku lupa pada kondisi diri sendiri, cuma ingat harus mengirimkan uang begitu pesan singkat dari adik masuk ke ponsel.

Pahlawan bagiku berperang di masa sulit. Aku masih berperang. Entah kapan akan merdeka. Pada 17 Agustus tahun ini tentu tidak mungkin. Tahun depan, tahun depannya lagi, tiga tahun kemudian, entahlah

Apakah kamu menganggapku sebagai pahlawan keluarga kami? Bagaimana definisi pahlawan keluarga bagimu?

4 komentar:

  1. andai saja adik mas Bai Ruindra membaca ini pasti tersentuh.. jujur, ketika membaca artikel ini saya agak merinding.. bagaimana jika 2 atau beberapa tahun kedepan kejadian ini terjadi pada saya.. harus plontang panting untuk menghupi keluarga.. hm..
    --
    semoga menang mas.. sampai saat ini, menurutku ini artikel yg paling berkesan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga dapat diambil manfaatnya Nisful. Tetap semangat ya :)

      Delete
  2. Tetap semangat, menjadi pahlawan keluarga memang tugas abadi ya, dan inshaallah menginspirasi generasi selanjutnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Terima kasih semangatnya mbak Prita :)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90