Top Ad 728x90

Friday, August 5, 2016

, , ,

Bolehkah Aku Mencintaimu Saja Tak Lebih dari Itu?

bolehkah aku mencintaimu saja
Ilustrasi - gambar-katakata.com
Bolehkah Aku Mencintaimu Saja Tak Lebih dari Itu - Sebagai perempuan dia memang terlahir cantik, sampai saat ini dia dipanggil dengan nama Cantek! Mungkin masa mudanya perempuan ini memang sudah cantik sehingga orang-orang memanggilnya demikian. Cantek belumlah tua, belum sampai empat puluh. Beban hidupnya yang menjadi Cantek tua, menikah di usia tujuh belas membuat Cantek jauh dari orang tua. 

Cantek sudah punya dua orang anak, keduanya perempuan. Si bungsu baru kelas satu SMA dan si sulung masih kelas empat SD. Cantek terlihat sangat tegar dengan hidupnya yang semakin tak terurus. Cantek tetap bangun di pagi hari, ke sawah ketika musim tanam maupun panen. Selebihnya Cantek ke kebun karet, menjadi penarik karet bukanlah pilihan tepat untuk warga kampung Cantek. Rata-rata penghasilan mereka tidak tercukupi dengan harga karet yang rendah, belum lagi jika musim hujan tiba harapan menjadi kaya tertinggal sudah. 

Dalam benak Cantek, hidup terus berjalan dengan pasti. Kedua anaknya butuh tempat berlindung dari kerasnya dunia yang semakin galau. Cantek kemudian bekerja di salah satu rumah orang terkaya di kampungnya. Orang kaya ini banyak anak, banyak pula pakaian kotor yang musti dibersihkan. Di sinilah keberadaan Cantek sepulang dari kebun karet. Cantek mengumpulkan sisa tenaga menyempurkan hidup keluarganya dari lapar. Cantek menampakkan wajahnya begitu cantik di hadapan semua orang, sampai rasa lelah mengakhiri sepanjang waktu di setiap hari. 

***

Petaka besar itu datang sepuluh tahun lalu. Cantek tak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berakhir sebagai tulang punggung keluarga. Mengurus anak-anak dan suami. Benar! Suaminya sendiri! 

Cantek mendengus. Seharusnya laki-laki yang disebut suami itu yang mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka. Tidak perlu dicari alasan apapun, karena musibah itu Cantek jadi perempuan tersabar di kampung ini. Ke mana langkah Cantek dan kedua anaknya selalu mengharap iba dari orang lain, sebenarnya orang yang memberi iba pada mereka. Seakan kedua anaknya sudah yatim, orang-orang berdatangan memberi sedekah di hari besar untuk kedua anaknya. Padahal di dalam kamar pengap, suaminya terbaring sendiri. 

Cantek duduk termenung, waktu tidak bisa ditarik kembali menjadi sebuah penghalang dari masalah keluarganya. Waktu pula yang telah merenggut bahagia yang diingini semua perempuan saat sudah menikah. Cantek sudah menjalani hari-hari penuh bahagia bersama suami dan anak-anaknya. Bahagia yang tidak sembarang bahagia. Bahagia yang membuat seluruh persendian lemas dan ingin segera diistirahatkan. Cantek tidak bisa melakukan itu, jika Cantek istirahat panjang seperti suaminya maka kedua anaknya akan merana seumur hidup mereka. 

Katanya, suami Cantek kena karma. Entah karena apa. Katanya, kutukan keluarga. Katanya penyakit keturunan. Cantek tidak percaya begitu saja, suaminya menderita luka yang tak terperih. Cantek mengenal laki-laki yang kini dia sebut suami sebagai laki-laki yang sangat gagah, tidak pernah terlintas dalam benak Cantek suaminya akan cacat seperti sekarang. Dulu, bahkan Cantek sangat bangga bersuamikan laki-laki yang kini terbaring tak berdaya di kamar sepi tak bersuara. Untuk makan sesuap nasi saja suaminya sudah tidak sanggup, bagaimana untuk mencari sebutir beras di tanah sering basah lantaran hujan sepanjang tahun! 

Cantek berdiam diri saat semua mata menuduh dirinya membawa petaka. Cantek bersabar pada keadaan yang menuntut dirinya melupakan luka merubah jadi suka. Seandainya Cantek bukan perempuan baik-baik, sudah dari dulu Cantek tinggalkan suami dan anak-anaknya. Baiknya Cantek menikah lagi dengan laki-laki yang sempurna dari fisik dan batin. Cantek masih muda, Cantek bisa melakukan itu. Cantek masih meletakkan semua nafsu akan kepuasan dirinya di pilihan terakhir saat semua harus diakhiri. 

Biar pun keluarga suami memandang sebelah mata usaha Cantek merawat suami seorang diri, Cantek tidak mengeluh. Sejak dulu, saat mereka pertama membina rumah tangga Cantek sudah tahu bahwa keluarga suaminya tidak begitu menerima kehadiran dirinya. Modal cantik bukanlah aturan utama dalam keluarga suaminya yang petani ulung. Modalnya tak lain adalah mampu bekerja sebagai buruh kasar di sawah dan kebun karet. 

Sebelum suaminya masih mampu menjelajah isi kampung mencari rezeki, Cantek tak pernah bekerja. Cantek hanya duduk di rumah menemani tubuhnya agar terus terawat cantik. Dalam keseharian Cantek hanya menunggu suami pulang membawa bekal makan mereka. Mertua yang sering mengecoh asal kata sering mengumpat kelakuan Cantek. Cantek menulikan semua ratapan mertuanya. Sampai akhirnya Cantek pindah ke rumah sendiri, sebuah rumah kecil berdinding kayu dan atap rumbia. Di sinilah Cantek bersama suami memulai musibah besar dalam hidup mereka. Musibah yang tak pernah akan dilupakan Cantek sampai kapan pun. 

Suaminya jatuh di kamar mandi. Itu sebab! Cantek tahu itu awal mula perkara itu. Beberapa hari sebelum kejadian itu, suaminya berkali-kali mengeluh sakit dipergelangan kaki dan tangan. Cantek masih terus memaksa untuk ke kebun karet di pagi hari, lalu ke sawah sampai menjelang senja. Sedangkan Cantek mempercantik diri di rumah bersama kedua anak mereka yang semakin tumbuh besar. 

Kejadian itu berlanjut pada sesuatu yang tidak pernah Cantek pikirkan. Suaminya tidak pernah bangun dari jatuhnya. Cantek memekik. Kedua anaknya histeris. Tetangga berdatangan. Hari sudah semakin senja, tak lama azan magrib berkumandang! 

***

Cantek melihat laki-laki yang disebut suami terbaring lemah di kasur berjamur. Laki-laki itu tak berdaya. Berbagai usaha sudah dilakukan Cantek untuk mengobati suaminya. Hasilnya tidak pernah merubah suaminya menjadi laki-laki gagah seperti pertama kali mereka bertemu. Laki-laki itu tetap terbaring lemah. Tetap tak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya. Tetap tak mampu melafalkan kata-kata menjadi kalimat panjang meminta pertolongan. Akhirnya, Cantek berinisiatif sendiri. Pagi hari waktu sarapan, lalu buang air besar maupun kecil. Siang hari makan siang dilanjutkan dengan tidur. Sore hari makan malam sebelum kembali terlelap, walau Cantek tahu mata suaminya tak pernah terpejam. Suaminya terus memadang kosong ke seluruh penjuru, membuat Cantek teriris. 

Tatapan mata suaminya tidak bisa ditipu. Tatapan yang meminta pertolongan. Namun tidak hanya itu saja, tatapan itu lebih kepada permohonan maaf atas ketidak-berdayaannya dalam mengendalikan perekonomian keluarga. Cantek selalu memaling dari mata suaminya. Tubuh suaminya memang tidak bisa bergerak, tapi hati dan perasaan tetap merasa suasana alam nyata! 

Sepuluh tahun lalu bagai waktu yang sangat lama sekali. Hari-hari yang sangat melelahkan. Hari-hari yang penuh beban fisik dan batin. Satu dua keluarga suami yang awalnya rajin membantu sekarang hilang satu persatu. Cantek sadar bahwa kebutuhan hidup mereka juga harus tercukupi. Keluarga Cantek sendiri sesekali datang berkunjung, itu pun tak lama karena kehidupan keluarganya juga tak lebih baik dari dirinya. 

Waktu tidak membuat suami Cantek sembuh dari rapuh tubuhnya. Simpanan terus terkuras habis membiayai pengobatan, mulai dari pengobatan alternatif hingga ke dokter. Sembuhnya tidak cepat, butuh bertahun-tahun. Sampai sepuluh tahun kini, suami Cantek baru bisa mengerakkan telunjuk meminta sesuatu yang diingininya. 

Cantek memilih mundur dari penglihatan suaminya, kedua anaknya sering menemani ayah mereka. Cantek tidak lelah mengurus suaminya. Cantek tak sanggup berlama-lama menatap mata laki-laki yang sangat dicintainya terbaring lemah. Laki-laki itu tidak berdaya, memandang dengan tatapan penuh makna. 

Cantek menyibukkan diri lebih banyak pada pekerjaannya. Hari-hari lewat lebi cepat, namun suaminya tidak pernah menampakkan perubahan akan sembuh. 

***

Laki-laki itu, suami Cantek dikata dokter sakit lumpuh. Jika orang-orang pintar itu mengatakan strok. Bagi Cantek suaminya tidak sakit apa-apa. Suaminya hanya butuh waktu istirahat lebih panjang setelah lelah menghidupi keluarganya di masa muda lalu keluarga kecilnya bersama Cantek dan anak-anak. Hanya saja, Cantek yang menerima musibah ini, karena setelah menikah dengan Cantek suaminya lumpuh. 

Cantek berprasangka baik pada keputusan Tuhan. Selama Cantek berusaha maka semuanya akan ada jalan. Suaminya terlihat sangat putus asa jika melihat Cantek bersedih. Tidak ada pegangan lagi jika Cantek menghindar dari masalah ini bagi suaminya. Keluarga suaminya sudah pada aktivitas mereka yang tak tentu. Bertani dan berkebun. Melepas tanggung jawab dengan meninggalkan suaminya serta anak-anak dalam luka bukanlah pilihannya. Cantek belum menutup mata untuk itu. 

Dalam setiap sujud, Cantek mengemis pada Pencipta. Mungkin Dia sudah bosan memberikan senang pada Cantek dan keluarga. Mungkin juga Dia sangat tahu akan sehat suaminya, bisa saja keluarganya tak terjaga dengan baik. Cantek menepis prasangka tidak baik akan keputusan Tuhan terhadap keluarganya. Biarkan waktu yang menjawab semua tanyanya!

Dan malam itu semakin larut, Cantek diam di dekat pembaringan suaminya. Sepuluh tahun sudah. Tidak ada tanda-tanda laki-laki itu bisa menyuapi sendiri nasinya. Laki-laki itu merengek dengan suara tak jelas. Sekujur tubuhnya tak merespon tangan Cantek yang menyentuh. Laki-laki itu mengucap kata-kata tak bermakna. 

Sesekali Cantek melihat wajah sayu suaminya. Cantek bertahan dalam diam. Sebagai perempuan Cantek terlampau abai akan dirinya sendiri. Cantek masih termasuk perempuan muda yang bisa punya keturunan lagi. Cantek pun masih bisa mencari laki-laki lain. 

Cantek menepis semua galau. Baginya, merawat suami yang tak sehat sudah memuaskan segala rasa yang dimiliki. 

Tak akan lama lagi, semua ada batasnya!
***
Bolehkah Aku Mencintaimu Saja?

6 komentar:

  1. wah saya kirain cerita mengenai cintanya.. ternyata seperti sebuah fiksi..hehe

    ReplyDelete
  2. artikelnya sangat inspiratif gan :D

    Happy blogwalking ya, ditunggu kunjungan baliknya di http://www.dzikirsm.web.id/2016/08/takut.html #Happyblogging #blogwalking

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas Dzikir, semoga bermanfaat ya:)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90