Top Ad 728x90

Tuesday, August 2, 2016

, , ,

Cerita Seorang Keturunan China yang Rindu Kota Beijing

perempuan china berjilbab
Ilustrasi -  cepologis.com
"Rindukah kamu kepada Cina, Mei Ling?"

Rindu? Dia mengutarakan sebuah rindu padanya. Ia tidak perlu tertegun dengan pertanyaan yang sama. Dia bertanya sejak mereka masih kanak-kanak, sehingga sebuah cinta mengikrari hubungan mereka menjadi dekat. Dia bertanya seolah-olah, ia tidak pernah ingin ke sana. Ke tempat yang jauh sekali dan entah bagaimana rupanya, mungkin saja hanya dihiasi oleh orang-orang berkulit putih dan bermata sipit saja. 

"Jika kamu rindu, mari kita rayakan kerinduan itu!" 

Oh, apakah itu berupa ajakan. Ia tahu benar maksud tersirat itu. Dia tidak pernah terang-terang mengajak atau meminta pendapatnya untuk berlibur ke sana - tahulah maksud sana itu. 

"Mungkin, jika aku berbohong, kamu pun tak akan percaya," ujar Mei Ling tanpa berpaling dari pria yang duduk di hadapannya. 

"Ayo kita realisasikan rindu itu!" tegas pria yang telah serumah dengannya lebih lima tahun lalu. Seorang anak berusia empat tahun telah menyemai rumah tangga mereka menjadi lebih semarak. 

"Untuk apa?" pertanyaan Mei Ling terkesan terpaksa. Ia sering bertanya pada diri sendiri, tentang itu, tidak perlu jawaban karena ia tidak pernah dapat. 

"Kita lihat Beijing!" 

"Aku tak dilahirkan dan dibesarkan di sana," ujar Mei Ling masih ketus. 

"Nenek moyang kamu berasal dari sana," suaminya tak menyerah. 

"Aku lancar berbicara bahasa Aceh dari pada bahasa Mandarin," 

"Itu hanya alasan. Lagi pula itu terjadi karena kamu tinggal di tanah Aceh," 

"Aku tidak mau membahas itu," 

"Kenapa?"

"Karena aku tak tahu mau ke mana jika ke Beijing!" nada suara Mei Ling berbeda. Pria yang duduk di depannya menatap teduh. 

"Anggap saja liburan panjang,"

"Aku tak bisa menganggapnya, karena aku keturunan orang itu, seperti katamu," 

Pria yang masih mengenakan kopiah hitam usai menunaikan salat magrib di masjid depan rumah mereka, tertegun sesaat. Dia tidak putus asa untuk meyakinkan istrinya supaya berlabuh sebentar ke tanah Beijing. 

"Kamu tahu orang tuaku pun lahir dan besar di sini, nenek kakekku juga serupa. Orang tuaku saja tak pernah bermimpi dan bercita-cita berlayar ke negeri Cina. Karena kami tahu, tak ada saudara yang bisa kami kunjungi di sana. Kami telah sebatang kara dan beranak-keturunan di tanah asing. Tak ada sepetak tanah tersisa untuk kami di Cina!"

Dia memahami. Paham betul ucapan istrinya karena dua manusia ini adalah teman masa kecil di kampung Cina, di Banda Aceh. Dia main hujan, Mei Ling ikutan. Dia belajar mengaji, Mei Ling ikut juga walaupun orang tuanya melarang. Dia ke sekolah agama, Mei Ling mengekor di belakang walau kedua orang tuanya telah mendaftarkannya di sekolah umum. Mei Ling lebih paham Islam dibandingkan agama nenek moyang. Bukan cuma karena dia seorang, tetangga dan kawan sepermainan lain juga mendukung hal demikian. Saat Mei Ling memutuskan yakin terhadap Islam, kedua orang tuanya tidak melarang. Kehidupan dewasa Mei Ling akan tetap di Aceh, walau rindu tidak terperi selalu menghantui langkahnya untuk ke tanah Cina. 

"Aku bisa ambil cuti dari kantor," dia kembali bersuara dengan penuh semangat. 

"Tak usah kamu lakukan itu, Agam!" suara Mei Ling setengah berteriak. Cut Nyak Mutia tertidur pulas di ruang keluarga tak jauh dari mereka. Mei Ling menyebuti suaminya dengan nama jika ia telah berada di atas sabar. Suaminya tidak memprotes karena pun usia mereka hanya berbeda dua bulan lebih tua dari Mei Ling. 

"Aku butuh refreshing, Mei Ling," tegas Agam tersenyum simpul. 

"Tak musti juga ke Cina!" putus Mei Ling sambil menarik piring nasi di depan Agam dengan terpaksa. Ia tak habis pikir dengan suaminya yang lebih memilih merayu ke Cina dibandingkan menghabiskan sepiring nasi dengan lauk udang dimasak santan kesukaan Agam. 

"Tidak takut kamu durhaka kepada suami, Mei Ling?" Agam mengedipkan mata. Pria itu selalu punya cara meluluhkan hati istrinya. Kelembutan dan kehangatan yang tersimpan dalam diri Agam yang mengantarkan cinta berlebih di hati Mei Ling. 

"Apa aku akan durhaka dengan paksaanmu?"

"Aku tidak memaksa, Mei Ling. Aku menyampaikan ini karena aku pun ingin menikmati keindahan negeri nenek moyang istriku," sifat Agam tak lebih seperti Mutia saat anak mereka merajuk meminta sesuatu. 

"Kamu menyebut durhaka, seakan ini perintah yang tak boleh kubantah," Mei Ling meletakkan piring kotor ke tempat khusus, dicuci besok pagi sebelum ia berangkat ke toko elektronik warisan keluarga dan sedikit tambahan modal dari Agam. 

"Mana tahu malaikat mengaminkan, Mei Ling,"

"Abang....," bentak Mei Ling. Jika sebutan telah menuju ke pengungkapan lebih hormat, Mei Ling telah kehilangan akal sehatnya dan butuh belas kasihan dari suaminya. "Tiket pesawat sedang promo besar-besaran lho," Agam tidak mau kalah menyemangati semangat Mei Ling yang entah telah berada di tingkat mana. Barangkali telah sembunyi di bawah tempat tidur.

"Aku tak mau,"

"Kamu rindu, Mei Ling,"

"Abang tak tahu perasaanku," airmata wanita bermata sipit itu mulai tumpah. "Sejak kecil aku selalu bertanya pada orang tua, kapan kami ke Cina. Mereka tak pernah menjawab. Lama-lama aku baru sadar, tak ada rumah kami di sana, tak ada saudara, tak ada tempat tinggal yang kami kunjungi...,"

"Kamu mempunyai darah Cina, Mei Ling!" Agam berkata lebih tegas. "Semua orang Cina saudara kamu. Sama halnya dengan semua saudara seiman adalah saudara kita. Kamu tak perlu takut melangkah dan berharap lebih jauh. Aku tahu kamu tidak mengetahui apa-apa tentang Cina. Kamu tak tahu jalan. Kamu tak tahu tempat indah. Kamu tak tahu tempat suci agama kita. Tapi kamu punya lidah yang bersilat bijaksana dalam bahasa orang-orang Cina. Itulah kunci yang kita pegang. Kita bisa mengelilingi Cina dengan bekal bahasa yang kamu kuasai. Kita bisa mengambil sedikit waktu ke sana. Kamu akan baik-baik saja," 

"Apa yang akan kita lihat di sana?"

"Apa yang kamu mau,"

"Aku tidak menginginkan apa-apa,"

"Kamu ingin, hati kamu yang menjawabnya!"

Mei Ling terdiam. Mana mungkin ia membohongi suara hatinya. Mana mungkin ia menyembunyikan hasrat itu terus-menerus kepada Agam. Agam bukan satu-satunya pria yang berteman dengannya. Kebetulan jodoh mempertemukan mereka. Pria lain di luar sana. Bertanya semenjak ia masih kanak-kanak. Tentang Cina. Tentang perekonomian Cina yang hampir selalu stabil. Tentang Tembok Besar yang belum pernah ia kunjungi. Tentang ekspansi besar-besaran perusahaan-perusahaan teknologi Cina yang memakan dunia global dengan rakus. Tak ada yang bisa dijawabnya dengan mudah. Ia terbata-bata. Tak ada kepastian. 

"Aku ingin ke sana, sangat ingin...," Mei Ling sesunggukan. 

"Aku tahu," Agam memeluk istrinya. Dia tidak mau memperpanjang masalah. Dia tahu Mei Ling sering membaca tentang Cina. Dia melihat Mei Ling mendekatkan diri dengan komunitas Cina di Banda, lalu antusias mendengar cerita mereka yang pernah ke Beijing. Dia meradang saja saat Mei Ling membentak Mutia karena anak semata wayang mereka tidak rajin belajar bahasa Mandarin. Dia sering mendengar laporan dari karyawan toko jika Mei Ling menerapkan aturan Cina dalam berdagang, satu saja angka kurang atau lebih, Mei Ling tahu kesilapannya. Dia juga sering mendengar omongan mertua yang menceritakan keinginan ke Cina, paling tidak Mei Ling bisa sampai ke Cina selagi masih muda dan kemudahan rejeki. 

"Kita akan memenangi rindu itu," ujar Agam sambil memeluk istrinya dengan erat. 

"Aku tak yakin," 

"Aku yakin!"

"Kenapa kamu begitu yakin?"

"Karena Cina sangat dekat dengan hati kita, hati kamu," 

Mei Ling membenarkan. Tiap ada perayaan acara Cina yang tidak bertentangan dengan Islam selalu ia rayakan bersama keluarga kecil. Tahun Baru Cina yang telah ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh pemerintah ia rayakan dengan semarak. Ia pun tidak lupa membagi-bagi angpao pada hari raya Cina kepada sanak-famili walaupun ia sendiri tidak merayakannya lagi semenjak usia 18 tahun. 

"Ibarat penyakit yang tak pernah diobati rindu juga bersifat kronis. Rindu itu penyakit hati yang buat pikiran kamu terbeban,"

"Rindu ini adalah rindu yang jauh...,"

"Rindu ini dekat dengan kita, Mei Ling. Karena kamu merasa, kamu menyelami rasa itu sampai melakoninya dalam hidup. Aku pun menerima rindu itu dengan masakan yang kamu sajikan, dengan pakaian yang kamu rapikan, dengan pernak-pernik rumah ini yang kamu sematkan aroma Cina,"

"Itu karena aku masih bagian dari Cina...,"

"Dari bagian terkecil itu pula rindu ada dan tidak bisa dilupa. Apa kamu berniat membuangnya?"

"Tidak,"

"Jika tidak mari kita sampaikan rindu itu,"

"Tapi aku takut...,"

"Apa yang kamu takutkan?"

"Aku takut tidak bisa kembali...,"

"Kamu akan kembali, kami di sini adalah cinta yang menemanimu!"

Mei Ling memaknai setiap kata dari Agam. Ia percaya pada ucapan, pelukan dan harapan yang lahir dari suaminya. Ia mendekap tubuh suaminya dengan erat. Tidak ingin pula ia melepasnya. Tubuh itu penuh kehangatan. Penuh rindu yang selalu ingin ia kembali berlabuh padanya. 

Mei Ling rindu. Rasa yang tidak bisa dibohongi. Tidak apa jika ia menjadi wisatawan ke negeri nenek moyang. Wisatawan yang mengobati luka batin teramat sulit diobati tanpa menjenguk. Cina akan ia jenguk, akan ia jejak, akan ia tapaki tangga demi tangga Tembok Besar, pun akan ia tanya nenek buyut yang kerap keluarganya agung-agungkan. Waktu tidak pernah bisa ditebak, mana tahu jodoh bertemu keluarga bisa terpenuhi karena rindu. 

"Kita berangkat, Abang...," Mei Ling menatap mata Agam dengan penuh harap. 

"Pasti! Angin segar Cina telah menanti kita!"

Mei Ling dan Agam bersitatap. 

Cina yang jauh, tunggulah sebentar lagi...
***
*Penulisan kata Cina karena masyarakat Aceh belum familiar dengan Tiongkok.

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90